Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Sayla [31] Selesai

Hello, seperti yang udah KaSev bilang kalau part terakhir munculnya agak lama. Semoga habis ini masih update lagi. Selamat menyelam.



Idot mengusap-usap perut bola akibat kekenyangan menyantap semur jengkol. Dia bersendawa keras, memamerkan kepada laki-laki jangkung yang berbaring di sofa bahwa dia puas makan sendirian. Pasalnya, sahabat yang pipinya sedikit mengecil tidak mau diajak makan bersama. Idot mencibir pemuda tukang selfie yang beberapa minggu ini kehilangan gairah kealayan.

"Kenapa lagi tu anak?" Istri Idot meletakkan es teh manis secerek beserta cangkir tiga buah.

"Masih masalah yang sama. Kagak kelar-kelar kayak sinetron tontonan elu."

Yesi memukul perut Idot, sedangkan Idot balas mengusap perut Yesi dengan sayang. Wanita itu menampar tangan suaminya.

"Gue nggak menyesal."

Yesi dan Idot berpandangan. Putra mulai pandai mengoceh sendiri. Beberapa waktu yang lalu ketika sekuriti yang lebih muda dari mereka itu menangis, Yesi dan Idot membiarkan saja. Kedua suami istri itu tidak mendiamkannya dengan sebungkus permen atau pun eskrim. Putra tenang sendiri. Pemuda itu tidak menceritakan apa pun masalahnya kepada tuan rumah yang diganggu setiap hari. Yesi dan Idot juga tidak menuntut. Masalah rumah tangga bukanlah siaran berita yang disebarkan ke khalayak.

"Gue bingung gimana ke depannya. Seandainya gue bisa nggak cinta lagi, pasti lancar banget mengucapkan talak."

"Astaga, Put!" Idot memukul kepala Putra dan menatap lelaki yang kehilangan berat badan itu sengit.

"Dia kembali karena perintah bokapnya. Apa gak ada alasan lain, demi gue gitu?"

"Lo ngarep dia datang lagi karena cinta? Kalo mengkhayal, tau diri dikit kenapa!"

Idot mengangguk kencang karena setuju dengan Yesi.

"Dia udah mau kembali tanpa elo minta setelah lo pulangkan. Meskipun sebetulnya itu juga keinginan elu, Bucin! Seharusnya itu aja udah cukup. Kesempatan ini gunakanlah baik-baik, bikin dia suka sama elo."

Idot mengangguk sesi dua.

"Lu mending sekarang pulang deh terus lu peluk dia. Minta maaf karena sering ninggalin dia sendirian di rumah kalian. Ambil hatinya."

Idot menyela, "Bukannya itu bikin dia lebih kelihatan bucin? Bahaya, Mak, kalau Sayla sampai ngerasa Putra bisa diinjak karena kebucinannya. Gue menentang sahabat alay gue dinistakan."

Yesi berdecak. "Perempuan gampang tersentuh. Jangan menyerah menunjukkan rasa sayang kalian," sindir Yesi kepada dua makhluk adam tersebut.

"Akhirnya sampai juga. Gara-gara Abang Emon nggak mau mengantar ke sini, aku hampir tersesat. Alhamdulillah. Assalamualaikum, Kak Putra Pelindung!" teriak suara wanita dari pintu depan.

Lelaki yang namanya dipanggil tersentak dan langsung duduk. Putra melotot kepada tersangka pemanggilan makhluk jadi-jadian. Idot menepuk paha sambil bernyanyi pelan seolah tidak merasa salah.

"Lu, ya!" Yesi menjewer suaminya dan menarik ke ruangan pribadi mereka.

"Kalian pada ke mana?" teriak Putra tidak sudi ditinggal berdua dengan gadis yang telah menyengir indah di hadapannya.

"Gua kasihan ama anak gadis orang. Dia nggak punya siapa-siapa di sini. Lo yang bawa dia, seharusnya menjaga dia." Idot bersuara tanpa ada raganya karena dirinya dikurung istri di kamar mereka.

"Anjing lo, Bangsat!" Putra betul-betul emosi karena keputusan temannya mengundang gadis itu datang. "Ngapain lagi lo?!" bentaknya kepada si gadis Aceh.

Mentari terkejut sampai matanya merah. "Mau ketemu Kak Putra."

"Lo bisa berhenti nempelin gue? Gue nggak suka lo dekat-dekat gue."

"Aku hanya main karena Kak Putra ada di sini."

"Gue nggak suka lo beredar di sekitar gue. Paham nggak sih lo?"

Mentari tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Aku suka Kak Putra. Aku ingin melihat Kak Putra lebih sering."

"Ganjen banget lu jadi perempuan. Gue bilang jangan mendekat, ya, lonya pergi. Lo hanya bikin masalah lebih besar dalam hidup gue. Lo itu bencana!"

Mentari terguguk. Air matanya menganak di pipi.

"Aku suka sama Kak Putra jadi aku ingin membantu Kak Putra."

"Ck drama. Terima kasih atas niat baik lo, tapi gue tidak butuh."

"Aku sudah berkorban demi Kak Putra."

"Gue enggak nyuruh."

"Hiks hiks." Mentari mengelap matanya yang terus berjatuhan air mata.

"Pulang ke rumah emak lo. Nggak jelas banget hidup lo." Putra mendorong punggung Mentari.

Lalu, tangan Putra ditarik oleh tenaga lain. "Stres banget lo, Put. Masalah lo sama bini lu, kenapa anak orang yang lo bikin mewek? Lampiasin kemarahan ke sumbernya, bukan ke orang yang enggak bersalah."

"Apa? Dia nggak salah kata lo? Dia main nyelonong aja ke rumah gue sampai bikin Sayla nyangka gue macam-macam itu apa? Pikir pakai otak, kalau bini lo ngeliat ada perempuan lain ke rumah ini?"

"Dia nggak apa tuh melihat Mentari."

"Aku ... aku akan menikah dengan Bang Emon." Mentari menyela.

Idot menganga. Putra menaikkan alisnya. Keduanya kebingungan dengan keterangan baru dari bibir wanita bertunik oranye.

"Doraemon?"

Mentari menggeleng. "Papi Dik Syahda."

"Diapain lo sama dia?"

Idot melirik ekspresi Putra yang lebih terkejut dibandingkan dia sampai-sampai Putra memegang siku Mentari akibat pernyataan gadis muda itu.

"Nggak diapa-apain. Aku mau aja," jawab Mentari kalem dan membuat Putra makin gusar.

"Emang sinting nih anak. Gampang banget ngajak orang lain menikah." Putra mendorong Mentari sudah tidak ingin peduli.

"Emang dia mau?"

Mentari menggeleng.

***

"Masih tidak mau ngomong sama aku?" serbu Sayla sewaktu Putra pulang pada pukul sembilan malam. Seharusnya pria itu kembali di sore hari.

Sang suami tidak peduli. Dia melirik sebentar lalu melangkah lebar-lebar ke kamar-nya.

"Putra! Kamu itu seperti anak kecil. Kamu nggak bisa membawa diam suatu masalah. Kalau ada yang ingin kamu dengarkan, tanya aku. Masalah kita tidak akan selesai jika kamu biarkan begini."

Putra membuka pintu dengan tampilan diri yang minimal tepat di hadapan Sayla. Tidak ada baju melekat di badannya yang cokelat dan berkeringat. Pemandangan tersebut membuat Sayla bungkam. Sayla mundur perlahan memberikan jalan. Celana bahan yang pas di kaki panjang Putra menimbulkan desir asing ketika lelaki itu berjalan membelakangi Sayla. Spontan saja tangannya mengipasi wajah.

"Put-" Setelah menguasai diri, Sayla ke kamar mengejar Putra.

Dia ingin melanjutkan perkataannya dan terputus begitu melihat pakaian Putra semakin minim. Celana panjang seragam kerjanya sudah tidak lagi dipasang. Langkah yang salah. Seharusnya, Sayla ingat bahwa sepulang bekerja Putra akan mandi. Dia sebaiknya menunggu bukannya menodong seperti ini.

Laki-laki yang hanya memakai celana kolor biru yang sangat pendek itu duduk dalam keadaan yang membuat Sayla malu sendiri. Kedua paha melebar khas gaya duduk pria. Kasur yang diduduki membentuk cekungan ulah berat sang manusia.

"Kenapa?" Putra bertanya. Mata yang penuh canda itu telah hilang. Sayla tidak melihat Putra Pelindung pada diri lelaki di hadapannya itu.

Sudah terlanjur dimulai, Sayla terpaksa meneruskan dengan keberanian yang menciut semakin ke belakang.

"Aku waktu itu terpaksa pergi. Mereka menjemputku di sekolah karena Syahda yang meminta untuk pergi bertiga."

Putra mengangguk. Lelaki itu berdiri dengan menyandang handuk di bahu kanan.

"Kamu tidak mau percaya. Aku sungguh tidak mengerti dengan kamu. Apa yang aku jelaskan waktu itu tidak ada arti apa-apa untuk kamu. Aku tidak berbohong saat aku bilang tidak memanfaatkan dia lagi untuk mendapatkan anakku. Aku sudah memilih bersama kamu. Tapi kamu memperlakukan aku seperti ini. Kamu ingin mempermainkan aku."

Putra menghela napas. Badannya berbalik berhadapan dengan Sayla. Tiga jengkal jarak mereka saat ini. Putra merundukkan lehernya untuk berbicara.

"Mempermainkan kamu? Kurang ngerti gimana lagi aku selama ini? Aku juga pernah bilang sama kamu kalau hidupku tergantung kamu. Aku terima apa saja keputusan kamu. Aku memang tidak meminta dihargai, cukup dicintai, tapi ternyata berat untukmu. Lebih baik begini saja karena keduanya tidak bisa kamu lakukan. Kamu bilang kamu memilih aku dibanding mempertahankan dia, walaupun dia yang kamu cintai. Dan coba kamu pikir sendiri, bagaimana rasanya melihat kenyataan yang sebaliknya? Sekarang terserah kamu saja."

"Kamu berubah." Sayla mendongak, menatap Putra dengan mata yang mulai berkabut. "Kamu tidak percaya. Kamu tidak ingin percaya."

"Aku manusia dan bukan polisi tidur. Tentu saja aku berubah."

"Kamu membenci aku. Kamu berubah sejak aku menceritakan kesalahan kelamku."

"Serah kamulah." Laki-laki yang mengalami fluktuasi emosi tersebut kembali mengabaikan kekasihnya.

"Sekarang mau kamu apa, Put? Aku harus bagaimana biar kamu tidak seperti ini?"

Sayla dan Putra sama-sama terdiam karena keadaan yang tidak mereka sangka-sangka. Tangan Sayla berada di dada telanjang Putra ketika dia menghadang langkah laki-laki itu. Sang Pelindung pun merasakan debar dalam dada melonjak-lonjak seperti air didih nasi.

Sang tersangka tergagap mengucapkan kata-kata. Dia merasa tidak lagi punya muka karena bukannya menarik tangan, Sayla justru terdiam.

"Pergi," usir Putra dengan nada rendah. Dia memalingkan wajahnya ke tempat lain.

Karena aku kotor? Seharusnya aku tahu, aku tak sebanding sama kamu. Aku yang menganggap diri ini superior karena kamu hanya junior kenyataannya kebalikannya. Aku tidak pantas menjadi istri. Ayla pernah mengatakannya dan sekarang aku melihat sendiri. Kamu berubah sejak tahu.

Pengendalian diri yang terbangun baik kini hancur akibat emosi yang belum stabil. Sekali sentakan saja, Putra membaringkan tubuh Sayla di atas tempat tidur. Dia mengurung perempuannya dengan tubuhnya sendiri. Putra melihat luka dalam mata Sayla. Dia yang tadinya membawa kekesalan sejak di rumah sahabatnya, kini secara magis menjadi peka. Tak susah untuk mengartikan keterdiaman Sayla. Nyatanya, wanita yang sering memarahinya memiliki kepercayaan diri yang rendah.

Putra menunduk kepada wanita yang berbaring di bawahnya. Ia mencari telinga sang istri dan berbisik, "Kamu misteri untukku. Aku gagal memahami kamu setelah mencintai kamu bertahun-tahun. Dan aku tidak ingin salah lagi sekarang. Dengar, ya, masa lalu hanyalah masa lalu. Tidak perlu menyalahkannya karena dia tidak bisa kamu ubah. Yang bisa kamu lakukan adalah mengubah pikiran kamu untuk masa depan." Putra menyentuhkan ujung hidungnya di belakang telinga Sayla. Aroma sampo dari rambut Sayla membuatnya lebih berani. Bibirnya mengecup lembut leher istrinya.

Sentuhan itu dipindahkan ke kening Sayla. Mata keduanya terpejam meresapi kehangatan yang merayap di hati. Putra melihat bulu mata Sayla perlahan terbuka kemudian iris mereka bertemu. Setelah kening, kini tulang pipi tepat di bawah mata yang mendapat giliran. Kecupan ringan seperti itu lalu menurun ke puncak hidung Sayla.Tanpa menarik kepalanya Putra mencari bibir Sayla.

Putra Pelindung merasa Sayla menerimanya ketika istrinya membalas ciuman Putra. Kecupan itu semakin dalam. Gairah Putra terpantik ketika Sayla meraba dadanya yang tanpa perantara. Telapak tangan Sayla bersentuhan langsung dengan kulit Putra. Detakan Putra yang mengencang mereka rasakan bersama. Kehangatan tersebut tidak mencuri kewarasan Putra. Sang Pelindung tidak bisa mengikuti nalurinya. Dengan paksa dia menyudahi ciuman itu.

Sayla memindah tangannya ke pipi Putra. Ia mengusap wajah Pelindung yang sedikit kurus dari sebelumnya. Perasaan sayang mengaliri jiwa Sayla ketika melihat wajah suaminya. Tanpa sadar tangannya terus menyentuh muka Putra. Kemudian, Sayla mengalungkan tangan di leher Putra dan menarik Putra hingga dia bisa mencium laki-laki itu. Tak ingin membuat luka lain di mata istrinya, Putra membalas dengan lebih agresif.

"Say," bisik Putra dalam hela napas yang terdengar berat. "Aku minta izin. Izinkan aku memilikimu, Sayla."

"Hm." Sayla mengangguk.

***

TAMAT

Sungai Lilin, 27 September 2021

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

MASIH ADA SAMBUNGAN KOOOK. MASALAH BELUM TUNTAS KAN?

EKSTRA PART?

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro