Sayla [19]
Sepanjang 26 tahun hidup Putra Pelindung baru sekali ini lelaki berdarah Sumatra itu jatuh cinta dan patah hati secara bersamaan. Pelabuhan rasa yang telah ia halalkan secara hukum dan agama tak bisa membalas perasaannya. Apakah Putra kurang berjuang? Mana terpikir oleh pemuda bertampang remaja SMA itu soal cinta tak berbalas. Seingatnya, jika ijab telah dilangsungkan, dua manusia akan hidup berdampingan di bawah satu atap dengan cinta di antara keduanya. Ternyata azam Putra Buana terlalu tinggi melebihi kecintaannya terhadap Pencipta. Ulahnya hanya membikin anak bungsu Pak Hadi naik tensi sepanjang hari.
Sebuah keberuntungan Putra dapatkan setelah mengikuti mobil Sayla dengan menggunakan sepeda motor kebanggaannya. Andai tadi Putra tetap tinggal. Mungkin Putra tidak akan sadar bahwa istrinya lebih bahagia bersama orang lain dibandingkan dirinya sebagai suami sah Sayla. Lihatlah betapa lebar senyuman wanita cantik itu di tengah-tengah seorang pria dewasa dan keponakannya. Setelah memastikan Sayla baik-baik saja, Putra bergegas menaiki sepeda motornya untuk kembali pulang. Ia harus bekerja.
Pria yang terlalu percaya diri melamar anak gadis seorang ayah itu kini menyadari kekeliruannya. Seharusnya Putra tidak boleh terburu-buru melamar Sayla sebelum perasaan wanita itu menetapi hati Putra. Kalau begini, mana janji Putra yang katanya akan membuat Sayla bahagia? Jangankan bahagia, tersenyum tipis saja Sayla tidak melakukannya untuk Putra. Dan kini barulah pelindungnya Sayla itu menyadari bahwa selama ini Sayla mau tertawa dan tersenyum apabila berada di dekat keluarganya saja, bukan di hadapan Putra. Lalu Putra semakin kecewa begitu melihat ada pria lain yang mampu mengukir indah senyum di bibir Sayla. Itu bukan dirinya. Entah siapa pria berjaket biru yang ia lihat tadi.
"Lo kayak orang yang enggak punya gairah hidup. Nikah udah berapa lama sih lo? Sebulan, dua bulan? Tampang lo kayak orang kurang kawin," komentar wanita berseragam sama dengan Putra. "Duit lo udah banyak dari pas masih jadi bawahan, tapi gaya hidup makin kayak orang susah aja," tambah wanita itu. "Ah, karena sudah nggak punya followers sepuluh ribu?" ejeknya.
"Diem lo. Idot beneran ambil cuti buat tunangan sama calon dari keluarganya? Lo kapan, Yes? Lupa kalo lo butuh suami? Atau perlu gue cariin?"
"Elo nyariin gue laki? Lo aja salah ngambil bini. Sorry, Put, lo harus dengar kejujuran gue ini. Sebaiknya lo hati-hati sama anaknya Pak Bos. Dia jinak-jinak merpati. Walau udah berhasil lo tangkep, dia bisa pergi kapan aja tanpa menimbang posisi dan perasaan lo." Putra mendelik dengan dada berdesir ketika mengingat Sayla dan seorang pria tanpa mencerna apa hubungan kelakuan merpati dengan Sayla.
Yesi meneruskan, "Gue mergokin Sayla sama cowok waktu lo minta temenin beli es alpukat. Pandangan gue yang bukan orang bener ini, kelakuan dia ntu kagak baik. Atau lonya yang bego kasih izin bini lo jalan sama jantan lain?"
"Gue ke sini mau meriksa laporan tim elu, bukan gosipin rumah tangga gue." Selanjutnya Putra pura-pura sibuk meneliti buku mutasi dari Yesi, melihat apa saja yang terjadi pada shift pagi yang akan ia tindak lanjuti pada shift sore bersama pasukan regunya yang akan bertugas.
"Pak Bos mertua lu gembar gembor mau bikin pesta gede untuk cucu pertamanya!" teriak Yesi setelah Putra berjalan memunggungi wanita itu. Putra tak heran lagi jika Pak Hadi melakukannya kepada Yesi sebab wanita jadi-jadian itu cukup dekat dengan Pak Bos. Pak Bos bilang Yesi mirip Ayla, meskipun Putra tak pernah percaya omongan sahabatnya itu. "Lo jadi menantu atau sekuriti ntar di sana? Maksud gue, petugas keamaan bini lo biar nggak kabur!"
Telinga Putra panas, tetapi tidak ia hiraukan ejekan Yesi yang semakin menjadi sejak Putra menikah. Putra menduga si Yesi sedang patah hati karena Putra memilih Sayla. Sang Pelindung lantas menggeleng akibat pikirannya yang mulai kacau.
***
"Mondy, kok bisa?" bisik Sayla saat mendengar Syahda memanggil pria itu dengan sebutan 'papi'.
"Challenge yang waktu itu enggak jadi."
Alis Sayla bertaut lantas Mondy langsung menjelaskan.
"Kita tebak-tebakan warna baju pengunjung yang baru masuk kafe. Aku nebak lima dan kelimanya benar, sedangkan Syahda cuman bisa betul dua. Dia enggak ngelihat dari dinding kaca sih. Yang dia perhatiin cuman pintu aja."
Setelah pulang berjam-jam kemudian, Sayla masih ingat seluruh percakapan yang terjadi antara Mondy dan Syahda tadi siang. Bahkan tanpa sadar, saudara serahim Ayla Lovelya itu tersenyum sendirian.
"Aku pikir kamu tidak bisa tersenyum, Dek."
Sayla menoleh lalu mendapati Putra Pelindung sedang melepaskan kemejanya. "Kamu bilang apa?" tanyanya.
Kalau dijawab, Sayla akan menjadikan alasan untuk ribut. Putra mengalihkan ke hal lain, "Kenapa kamu belum tidur? Udah tengah malem." Putra yang baru pulang bekerja itu mengambil handuk dari gantungan di belakang pintu kemudian keluar lagi untuk memakai kamar mandi lain.
Perasaan bahagia yang ia rasakan sejak siang tiba-tiba menguap. Sayla menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya hingga muka. Ia mendengar Putra mandi tanpa lagu sebagaimana biasa dilakukan satpam muda itu. Tak berapa lama suara langkah ringan menyapa gendang telinga Sayla. Sayla berusaha tidak menghiraukan karena enggan bertegur sapa dengan Putra. Buat apa? Mood-nya akan bertambah buruk saja. Kehadiran Putra selalu menyedot seluruh kebahagiaan di hati Sayla.
"Selamat tidur, jangan lupa berdoa. Doakan aku masih kuat," ujar Putra setelah Sayla merasakan kasur di sebelahnya ditiduri.
Sayla menangkap makna negatif dari perkataan Putra. Segera ia buka selimut dan duduk menghadap pria yang berstatus suaminya. "Pikiran kamu enggak jauh-jauh dari syahwat. Cari di luar banyak perempuan yang rela dibayar dengan menjual tubuhnya."
Putra yang tadinya telah menutup kelopak segera membukanya kembali. Sayla melihat mata pria itu memerah. Marahkah Putra? Hal itu membuat Sayla tersulut emosi. Kenapa Putra yang marah, sedangkan Sayla sudah nyaris menjadi korban nafsu pria itu.
Putra ikut duduk dari pembaringan, sedangkan Sayla mundur. "Aku lagi capek," kata pria itu yang kemudian tidur lagi. Putra memunggungi Sayla.
Jantung Sayla yang tadinya akan melompat dari rongga akibat takut mulai normal kembali. Sayla memiliki dua opsi kenapa ia bereaksi demikian. Pertama, takut kepada Putra. Kedua, takut kepada dirinya sendiri. Keduanya sama-sama tidak ada yang bagus.
"Katanya cinta dan benci itu sekatnya tipis banget, Dek. Jangan terlalu benci sama Kakak. Nanti kalau aku sudah tidak di sisi kamu, kamu akan menangis karena kehilangan. Aku enggak minta dihormati, ya tapi Kakak ingin dicintai sih. Masalahnya, Kakak juga manusia biasa. Manusia itu kalau capek, ingin istirahat. Seperti mesin, kalo panas bakalan berasap lalu mati."
Putra berhasil membungkam Sayla, meskipun dia tak mengerti apa yang dimaksud Putra. Sayla tidak berniat melawan pendapat Putra tentang Sayla yang akan menangisi pria itu jika mereka berpisah.
Sejak kalimat sakti yang Putra ucapkan, Sayla merasakan perbedaan sikap Putra kepadanya. Sayla mengabaikan pikirannya dan mencoba menghilangkan nama Putra dari kepalanya. Beruntung kali ini Ayla membolehkan Sayla turut campur dalam persiapan pesta ulang tahun Syahda. Mondy juga ikut ambil peran melalui Sayla. Dia menemani Sayla membeli bahan kue ulang tahun yang akan Sayla buat sendiri. Kata-kata Mondy bahwa ia sebenarnya ingin menemani dan membantu Sayla membuat kue menggusur Putra dari pikiran Sayla. Bahkan ketika hari pesta tiba, Sayla sangat terkejut melihat kehadiran Mondy dan melupakan ketidakhadiran Putra dalam acara tersebut.
Ayla dan Mondy terlibat percekcokan yang dimenangkan oleh Mondy. Ayla terpaksa merelakan Mondy ikut merayakan ulang tahun Syahda daripada pria itu mengatakan siapa dia bagi Syahda. Sayla menggeleng sambil tersenyum karena menurutnya Mondy tidak akan melakukan hal itu. Ayla sendirilah yang terlalu berburuk sangka terhadap Mondy.
"Aku udah cukup puas dipanggil papi walaupun anak itu tidak mengenalku sebagai papi yang sebenarnya."
Itu pengakuan Mondy. Pria itu tidak ingin membuat Syahda bingung apalagi sampai sedih karena Ayah yang sangat dia cintai ternyata bukan ayah kandungnya.
"Lo seneng 'kan, Say? Pangeran lo dateng sampe lo lupa kalo si imut adek ipar gue tidak ada di keramaian ini. Kira-kira kenapa dia enggak datang? Lo pernah penasaran sama Putra?" tegur Ayla ketika Sayla nyaris berkaca-kaca melihat Syahda menyuapkan potongan kue pertama kepada Ergi.
"Dia ada shift katanya, Ay."
Ayla tertawa kecil. "Dia kerja di tempat mertuanya punya usaha. Dia kerja sama Papa kalau lo lupa."
"Putra emang jadi lebih rajin akhir-akhir ini."
"Jangan-jangan saking rajinnya dia jadi jarang tidur di rumah—"
Sayla menggeleng. Beruntung Ayla segera ditarik oleh Syahda untuk mendapatkan suapan kue berikutnya. Ayla kemudian digantikan oleh kedatangan Papa yang menatap Sayla dengan pandangan tak terbaca.
"Papa kira kamu sudah tidak berhubungan dengan pria itu," kata Pak Hadi pelan. Hanya satu kalimat lalu ayah kandung Sayla itu kembali membawa kereta bayi Rista pergi.
"Suami kamu mana?" tanya Mondy sebelum Sayla bangun dari rasa kaget akibat kalimat yang diucapkan papanya.
Sayla hanya menggeleng. "Terima kasih sudah datang," kata Sayla dan pergi meninggalkan Mondy. Sayla melihat tatapan mamanya dari jauh. Mama memandangnya dengan rasa kasihan.
Sekitar pukul sebelas malam Sayla sampai di rumah. Itu pun ia berusaha keras menolak niat baik Mondy untuk mengantarkannya.
"Aku ikut di belakang mobil kamu, mastiin kamu aman sampai di rumah." Akhirnya, Sayla mengalah.
Setelah menyalakan lampu ruang tamu, Sayla menghampiri Putra yang sedang duduk di sofa dengan mata terpejam. Kepala petugas keamanan itu bersandar di punggung kursi.
"Kamu ... aku nggak mengajak kamu untuk ikut bukan berarti aku tidak ingin kamu datang. Kamu harusnya punya inisiatif untuk hadir karena seluruh keluarga aku nanyain kamu. Kamu sengaja bikin aku kesal setiap waktu?"
Kelopak Putra Pelindung terbuka. "Gimana acaranya tadi?" tanya Putra santai.
Sayla membanting tas di meja depan Putra. "Ada hal yang lebih penting dari itu yang harusnya kamu tahu. Bukan acara yang harusnya kamu khawatirin. Dengan kamu enggak datang seperti tadi, Papa berpikiran buruk sama aku."
Putra mengangguk. Namun, bukan perkara itu yang dia bicarakan selanjutnya, "Kakak mikir lama banget untuk memutuskannya. Lagian bukan kamu yang ingin Kakak ikut acara itu 'kan? Keluarga kamu."
"Itu keluarga kamu juga, Putra. Kamu bicara seakan-akan kamu orang lain yang nggak ada kepentingan berada di sana. Kamu tidak menghargai Papa dan Mama?"
Putra menjauhkan punggungnya dari sandaran. "Ya aku anggeplah. Orang tua kamu itu mertuaku karena aku suami kamu. Tapi apa kamu anggap aku ini suami kamu?"
Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Sayla.
"Aku mikirnya lama banget. Sekarang aku udah pertimbangin masak-masak. Walau aku bakalan sedih terus, demi kamu enggak apa-apa." Putra berhenti sejenak dan melihat wajah Sayla yang masih marah. "Sebaiknya kita pisah aja, Dek."
***
Muba, 9 September 2021
Follow IG @vaiden_ali yuk.
Serbuk-serbuk spoiler Kasev post di sana. 🙃
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro