Sayla [17]
Danger! Balita dilarang baca bagian tengah bab ini. Yang cukup usia, selamat membaca.
***
"Ya ampun! Kenapa bau banget sih rumah ini?" geram Sayla ketika mencium aroma tak sedap.
Sayla berdiri dari bangku untuk mencari sumbernya. Ditinggalkannya laptop tanpa dimatikan terlebih dahulu. Ketika sampai di ruang tamu, terdengar suara Putra memanggil nama Sayla dengan riang gembira.
"Adek ... Kakak bawain kesukaan kamu nih."
Putra menyerahkan dua cup minuman yang ia tenteng kepada wanita yang dipanggil adek. Girangnya Putra Buana ketika membawa pulang es alpukat durian yang baunya semerbak dalam rumah membuat dia tidak memperhatikan raut wajah sang istri. Sebab dalam imajinasi Putra sewaktu membeli, Sayla pasti senang dibelikan minuman favoritnya. Setelah pegangan gelas yang berbahan plastik berpindah ke tangan Sayla dan senyum Putra masih tersungging, bawaan Putra yang dirasakan istimewa itu dibanting Sayla ke lantai keramik.
Cangkir bening dan tipis tanpa logo terbelah menjadi beberapa bagian. Minuman hijau di dalamnya terempas secara mengenaskan. Putra menatap bongkahan biji durian yang bergulingan menuju kolong meja dengan pandangan kasihan.
"Kamu tidak suka durian?" Suara sekuriti itu lemah saat bertanya. Ia sangat iba kepada minuman yang terbuang di lantai. Apalagi dia memiliki ekspektasi terlalu tinggi tadinya.
Sayla dengan cepat menjawab, "Bau tahu nggak! Bukannya makan, aku jadi ingin muntah!"
Sayla meninggalkan kekacauan yang dia buat. Sisanya Putra yang mengurus. Satpam muda itu mengambil alat pel dan ember berisi air.
Kenapa lagi sekarang?
"Bukannya kamu cinta mati sama alpukat, Dek? Aku sengaja beli untuk kamu!" teriak Putra masih penasaran. Dia membuang rasa sedih di kala menatap cairan yang tergenang dengan aroma yang menggelitik penciuman.
"Bersihkan lantainya! Pel sampai bersih dan wangi! Kamu datang-datang bikin kacau otakku aja."
Blam! Daun pintu kamar tertutup rapat.
Bukankah sikap Sayla semenjak mereka ke akuarium mulai membaik? Jika boleh diistilahkan jinak, maka wanita itu mulai menyimpan taringnya. Sekarang Sayla kumat lagi.
Oh, aku tahu!
Secara umum sensitifitas seorang wanita diakibatkan oleh periode bulanan mereka. Putra berasumsi bahwa Sayla sedang dalam masa merahnya. Putra ingat Yesi tidak memakan buah durian selama datang bulan. Entah karena alasan apa, wanita pecinta buah berduri itu rela berjauhan apabila haidnya datang. Dengan pemikiran itu, sang Pelindung merasa bangga telah mengerti kondisi sang istri. Pekerjaan mengepel sepulang kerja tanpa duduk terlebih dahulu terasa lebih ringan. Putra bahkan melakukannya sambil bersiul.
Malam merangkak semakin tinggi. Udara pun makin dingin. Ketika membiarkan Sayla tertidur lebih dahulu, Putra biasanya akan memainkan ponsel di ruang tengah. Dia tahu Sayla tidak ingin mereka bertemu dalam kondisi sadar. Putra juga bisa lebih leluasa melingkarkan tangannya di pinggang istri saat mata perempuan itu terpejam. Setidaknya, dalam pernikahan mereka Putra mengalami mimpi semua orang tentang tidur memeluk orang yang dicintai dan bangun tidur dengan menatap wajahnya pertama kali.
Pintu terbuka secara perlahan setelah Putra memutar kenopnya. Pelaku mengintip ke dalam sebelum betul-betul masuk. Ia menutup kembali daun pintu setelah memastikan perempuannya tengah bergelung nyenyak di balik selimut. Putra nyaris melakukan hal itu setiap malam karena takut perbuatannya akan mengagetkan Sayla kecuali mereka bersama-sama masuk kamar.
Pemuda berseragam pdh itu menanggalkan pakaiannya, mengambil handuk, dan masuk kamar mandi. Jika pagi, Putra pasti diusir ke kamar mandi di dekat dapur. Putra dilarang menggunakan kamar mandi dalam kamar entah karena alasan apa. Padahal Sayla selalu bangun dan mandi terlebih dahulu darinya.
Putra tidak dapat membaca jalan pikiran Sayla yang aneh itu. Semua perbuatan Putra akan menjadi biang masalah dan menyebabkan Sayla marah-marah. Sebagai suami yang sabar, Putralah yang bersedia mengalah. Telinganya lelah mendengar gerutuan Sayla saban hari.
Dengan handuk yang melingkar di pinggang, perhatian Putra tercuri oleh kerlap-kerlip lampu laptop. Kalau bertanya kepada istrinya, pasti takkan dijawab. Maka Putra melakukan pengecekan sendiri. Kira-kira Sayla sedang mengerjakan apa ketika ia pulang? Setelah menekan sembarang tombol pada keybord, layar hitam itu menampilkan warna. Putra mengeklik bagian tengah layar dan langsung dihadapkan pada barisan tulisan dalam halaman word. Pemuda itu menggaruk leher bagian belakangnya.
Sial! Putra jadi pening melihat pekerjaan istrinya. Lelaki itu memutuskan untuk menghentikan kekepoan. Bikin sakit kepala saja. Pantas tadi Sayla marah-marah karena Putra mengganggu wanita itu saat sedang berkonsentrasi pada tugas kuliahnya.
Tak lupa mengenakan celana trening tanpa baju, Putra Pelindung berjalan perlahan ke arah ranjang. Hati-hati Putra naik ke tempat tidur. Bagian yang Putra duduki langsung melesak akibat menampung berat badannya. Lelaki itu meringis pelan saat Sayla sampai mengubah posisi karena ulahnya. Wanita itu jadi menghadap Putra sekarang.
Otak Putra langsung memperingati mata agar tidak mengamati sang istri lama-lama. Ini siksaan, bisiknya mewanti-wanti. Sayangnya keadaan tidak mendukung apa yang Putra rencanakan. Sayla bergumam tak jelas. Tidurnya gelisah. Bibir yang merah tanpa pulasan lipstik itu merapat yang bagi Putra terlihat amat menggoda.
Api-api mulai menyala dalam tubuh sang Pelindung. Sial lagi! Haruskah ia kembali ke kamar mandi? Nasib ... nasib. Berbulan-bulan lamanya ia hanya bisa berfantasi di kamar mandi dan di dalam mimpi. Jangan untuk malam ini! Ia lelah dan ingin langsung tertidur. Ya, Putra baik-baik saja. Ia telah terbiasa. Akhirnya, Putra merebahkan tubuh jauh dari Sayla. Bergerak sedikit saja, Putra akan jatuh ke lantai. Itu lebih aman bagi mereka berdua.
***
Putra menarik tubuh Sayla merapat. Dengan mata terpejam dia cium kening wanita itu lalu turun ke pipi, puncak hidung, dan bibir. Putra mengecup-ngecup kecil, menggoda supaya Sayla merenggangkan bibirnya. Ketika diberikan akses sedikit saja, lidah Putra bagaikan kawanan rampok saat menembus rumah kosong. Bebas. Jika ini mimpi, dia memohon agar jangan bangunkan ia terlalu cepat.
Sayla mengerang! Itu berbeda dari biasanya. Dalam mimpi Putra, Sayla pasif. Tidak membalas ciuman Putra. Satpam itu membuka matanya pelan-pelan untuk memastikan benarkah istrinya yang dia cium. Takutnya ia mencium sembarang perempuan.
Tepat ketika kedua kelopak merenggang, bola mata Putra bertabrakan dengan iris cokelat milik Sayla. Masih dalam suasana shock Putra mengikuti arah pandangan wanita di bawahnya. Putra juga menurunkan pandangan hingga pada bagian di mana tangannya berada.
"PUTRA! AAARRG!" Wanita yang baru tersadar itu seketika berteriak. Tangannya refleks memukul dada Pelindung.
Putra segera menyingkir dari wanita yang mulai mengamuk. Dia berharap itu semua hanya mimpi. Dengan polosnya Putra memperhatikan Sayla ketika si wanita membenahi piyama tidurnya. Dari tempat Putra berdiri, terlihat jelas apa yang berada di balik kain berwarna baby pink itu.
"MATAMU ITU, YA, AKU COLOK SINI! MUKA MESUM!"
Ketahuan. Putra yang tak sadar sedang memperhatikan segera memekik ketika Sayla memukulnya dengan hanger.
"Apaan sih? Main pukul aja."
Sayla berteriak lagi melihat Putra dan memperkirakan sudah sejauh mana tangan kurang ajar itu menjelajahi tubuhnya. Kepalanya memutar mimpi yang ia alami sehingga membuat seluruh bulu romanya berdiri. Sayla berjalan dengan kekuatan super ke kamar mandi dan menutup daun pintu dengan kuat. Dia menahan napas sejenak. Oh, tidak. Sayla menggeleng-geleng untuk menenangkan pikirannya. Dia hanya bermimpi. Ia memimpikan kejadian yang dahulu. Kejadian yang dia alami dalam keadaan sadar dan tidak sadar.
Sayla menelan ludahnya sambil memejam. Pelan-pelan Sayla mengangkat baju tidurnya di depan cermin. Jika bunga tidur, kenapa terasa nyata? Rangsangan itu masih memengaruhi dadanya. Sayla menggeleng lagi untuk menenangkan perasaan.
Seingatnya seseorang memberikan kecupan yang kuat di sekitar putingnya. Kalau mimpi, pasti tidak akan meninggalkan tanda seperti yang terakhir kali. Dia meyakini kali ini hanya mimpi. Sayla membuka mata dan menatap bayangannya di cermin. Harapan berbanding terbalik dengan kenyataan karena bukti ada di depan mata di balik cermin.
Dengan membawa wadah cuci muka yang ia ambil secara acak, entah itu miliknya atau punya Putra, Sayla keluar dengan langkah lebar. Begitu menemukan tempat berdiri Putra, Sayla melemparkan botol sabun itu ke kepala Putra hingga menyebabkan korbannya berteriak kaget.
Telunjuk Sayla teracung ke wajah Putra. "Kamu ambil kesempatan karena isi kepala kamu ini kotoran semua. Pikiran kamu pasti adanya di selangkangan! Sampai tangan enggak kamu jaga! Berani-beraninya mencari kesempatan waktu orang tidur! Otak kamu digadai buat cari uang jadi enggak dipak—hem ... lwefas!"
Teriakan Sayla terhenti karena Putra mengunci tubuhnya. Satu tangan membekap bibir si wanita. Tangan lainnya memeluk perut rata wanitanya.
"Otak aku? Ada kok belum digadaikan. Kamu mau lihat isi kepalaku? Ayo kita buka. Jangan kaget setelah melihat semua isinya adalah kamu. Dari posisi kamu yang paling aman sampai posisi seperti tadi. Kamu betulan mau membuka kepalaku? Asal kamu tahu, Sayla, otak kami laki-laki memang mudah sekali berpindah ke selangkangan. Berapa bulan kita menikah? Kamu masih aman karena aku menghargai permintaan kamu. Tapi ... setelah kejadian tadi yang kukira hanya mimpi, sepertinya aku tidak bisa main sendirian lagi. Apa gunanya ada istri?"
"Kamu enggak berani," sergah Sayla saat Putra membebaskan wajahnya dari bekapan.
"Kenapa tidak? Kamu berani nantangin aku? Sepertinya kamu juga mau. Kamu suka iyakan, Sayla? Kamu menikmatinya tadi. Ayo kita lakukan secara sadar!"
Sayla mencari benda terdekat dari jangkauannya dan melemparkan kepada Putra. Putra yang tak sempat menghindar kemudian meneriakkan nama Sayla saat botol deodoran mengenai dadanya.
Putra memungut benda itu. "Kalau kena kepalaku, bisa bocor ini, Dek. Gila, ya! Kamu tega banget sih. Aku hanya bercanda kok."
Sayla mendengkus kasar. "Kalau memang sudah enggak bisa mengontrol nafsu—"
"Aku boleh minta jatah kalau gitu?" Putra telah melesat ke sebelah Sayla.
Kepala pemuda itu mendapatkan geplakan dari sang istri. "Kamu punya banyak wanita untuk melakukannya."
Dia yang Sayla lihat di mal bersama lawan jenis. Mereka terlihat akrab. Keduanya tertawa bersama seakan pria itu belum terikat pernikahan. Sayla amat menyesal karena tidak melabrak pelaku di tempat umum. Lalu bisa-bisanya dia menginginkan Sayla saat bisa menyentuh wanita mana pun.
"Maksudnya?"
Sayla merasa telah cukup membahas hal tersebut bertepatan dengan suara azan dari pengeras masjid. Dia bermaksud ingin mandi.
"Jelaskan kenapa kamu bilang aku punya banyak wanita! Berani kabur, aku akan seret kamu ke kamar mandi."
Sayla menggoyangkan lengan agar Putra melepaskan dirinya. "Pikir saja sendiri."
"Kamu memang bermaksud nantangin aku, ya? Oke." Putra melepaskan treningnya, sehingga lelaki itu hanya memakai celana dalam saja sekarang.
"Kamu apa-apaan lepas celana?" teriak Sayla, tetapi matanya sempat melirik ke bagian di antara pusar dan lutut sang suami. Sayla mengipas-ngipas wajah dengan telapak tangan setelah membelakangi pemandangan tak senonoh tersebut.
"Kita mandi bareng. Kamu lagi dapet 'kan? Tenang aja, aku nggak akan macam-macam kok."
"Stop jangan bergerak!" Sayla mundur dengan tangan terangkat ke depan.
"Udah deh nggak usah malu sama suami sendiri."
"Aku akan jelaskan."
Putra memiringkan kepalanya. Ia sudah melupakan urutan percakapan mereka. Maksud Sayla, menjelaskan apa?
"Jangan bawa-bawa istilah suami jika kamu bisa memuaskan nafsu dengan perempuan lain. Dan kalau satu orang masih kurang, kamu bisa cari yang lain. Aku belum mau jadi salah satu wanitamu dalam tanda kutip. Cukup tidur dalam arti yang sebenarnya di kamar yang sama dan aku tidak menoleransi perbuatan lebih." Seperti tadi.
Putra tertawa keras di awal kemudian semakin hambar di ujung. "Suami orang lain pasti akan kesenangan mendengar penuturan kamu barusan, Sayla. Sayangnya aku suami kamu, bukan suami orang lain. Aku tahu membedakan mana perbuatan yang dibenarkan dan mana yang tidak. Aku minta maaf untuk segalanya. Kita membahas hal yang tadi sampai di sini saja."
"Kamu harap aku percaya?" Sayla mencemooh dan tidak menghiraukan kerutan di kening Putra akibat tanggapannya.
Putra menyarungkan celananya dan merebahkan diri ke tempat tidur. Lebih baik ia memejamkan mata. Semoga saja mimpi yang nyata kembali hadir.
Sialan! Diingatkan akan mimpinya, pusaka yang mungin telah berkarat jadi tegang. Dia betul-betul akan memakan Sayla sebadan-badan sehabis ini!
Kenapa mereka sama-sama sadar di waktu yang tidak tepat sih?
***
Muba, 7 September 2021
Meet Sayla and Putra jom.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro