Sayla [15]
Yey akhirnya ketemu bapaknya Syahda di sini. Mondy buntelan daki mulai jadi bapak yang baik. Yuk langsung aja baca.
"Sayla."
Pemilik nama yang disebut kontan menoleh ke arah si pemanggil. Dua alis Sayla hampir menyatu akibat keanehan yang baru saja terjadi. Wanita yang tengah berjongkok itu lantas berdiri, dan berbicara kepada anak kecil di hadapannya.
"Udah nggak apa-apa. Sudah Bunda kasih obat. Lukanya sebentar lagi pasti sembuh," bujuknya kepada anak didiknya. "Nah, pas sekali! Tuh maminya datang. Sini salim Bunda dulu. Hati-hati, ya."
Sayla menghadap Putra yang menatapnya dengan wajah takjub. "Ngapain ke mari?"
"Surprise! Kita jalan-jalan, yuk!" Putra berkata dengan intonasi keras. Kamu nggak bisa menolak, Dek!
Sayla menjawab dengan mengatupkan gigi-giginya, hanya bibir saja yang bergerak. "Aku bilang nggak mau, ya, nggak mau. Kok maksa sih?"
Putra tertawa enteng, sudah biasa dengan keketusan istrinya.
"Aku nggak mau!" kekeh Sayla.
"Ada yang mau ikut kami nggak?" Putra berbasa-basi kepada dua rekan Sayla yang baru lewat menuju kendaraan masing-masing.
"Mau ke mana?" Rara terlihat tertarik lalu menggeleng ketika Lisa membisikinya sesuatu. "Gua ada janji habis dari sini. Kalian aja deh. See you, Say."
"Sekali aja, Say."
Sayla berdecak keras, tapi tak urung menyerahkan kunci mobil ke tangan Putra.
"Yes!"
Wanita bergamis abu-abu itu hanya memutar bola mata. Putra menarik pergelangan Sayla ke mobil. Meskipun disentakkan, Putra mengeratkan pegangannya. Sayla tak sempat protes sebab dia telah didorong masuk ke bangku mobil.
"Sayla."
Mobil telah berjalan dan Sayla menoleh ke samping pada pemuda yang menyebut namanya.
"Syalalala." Putra bernyanyi-nyanyi. Tentu saja suasana hatinya sedang girang. Sementara Sayla merasa menahan berang.
Sayla sangat penasaran, ke mana ia akan dibawa? Namun, egonya terlalu besar untuk bertanya. Jadi, Sayla bersedekap dan bersandar dengan pandangan tertuju ke balik jendela.
Setiba di tempat tujuan, mulut wanita itu terbuka. Sayla langsung berdeham agar tidak ketahuan kalau dia sempat tercengang.
"Ayo, Dek!"
Panggilan itu lagi! Sayla mendesis. Ketika Putra menyebut namanya, entah kenapa perasaan Sayla tidak begitu dongkol seperti saat ini. Sayla menyadari satu lagi alasan kenapa dia membenci Putra. Kakak! Adek! Sayla merasa konyol karena secara de facto dialah yang lebih tua di antara mereka.
Lagi Sayla berdeham dan berjalan ikuti langkah Putra di depannya.
"Gandengan, yuk!" ajak Putra.
Sayla kembali menganga. Dia belum bertemu makhluk seaneh ini. Sejak kapan ada ajakan untuk jalan bergandengan?
"Ck. Ayolah, Say!" hela Putra pada pergelangan tangan Sayla seperti akan naik ke mobil tadi. Tak sampai di situ saja. Putra menautkan jemarinya pada jari-jari Sayla.
"Kamu pernah ke sini?" Pertanyaan Putra terdengar jauh sebab kini perhatian Sayla tersedot ke pemandangan di sekelilingnya.
Mereka berada di akuarium. Saat ini bukan weekend. Ada rombongan anak TK memakai seragam olahraga kuning dan trening hijau daun. Mereka diikuti oleh wali masing-masing. Sementara itu, sang guru memberikan intruksi kepada para murid. Di antara rombongan itu tampak seorang tour guide tengah menjelaskan jenis-jenis ikan.
"Kami belum mengajak anak-anak ke sini," gumam Sayla ketika matanya memperhatikan siswa TK tersebut. "Sepertinya bisa dijadikan program." Tanpa sadar Sayla menceritakan isi kepalanya, sedangkan Putra merasa amat bahagia mendengar suara Sayla yang bicara normal.
"Wah!" Sayla takjub, namun gamang. Ia bagaikan sedang berjalan di atas laut yang banyak ikan di bawahnya. Sayla merasa kakinya akan terperosok atau kaca akuarium akan pecah saat dipijak. Jadi ... Sayla memeluk lengan Putra. Matanya menjelajahi beragam makhluk bahari yang dipindahkan ke dalam kolam raksasa itu.
Putra tersenyum mengamati paras sang istri yang terlihat seratus kali lebih cantik. Pemuda itu bukan menikmati pemandangan yang sama dengan Sayla, melainkan mewisatai wajah istrinya.
"Yang itu cantik, ya?" tunjuk Sayla dan Putra langsung berkata ya.
"Kamu mau melihat mermaid show?"
Kepala Sayla tertoleh. Nada suara Putra terdengar tidak lebay seperti biasa. Beda dari Putra yang selalu menaikkan suhu otak Sayla. Secara perlahan kepala Sayla terangguk. Pemuda yang diberikan anggukan tersenyum. Dua tangan mereka tertaut lebih erat.
Pertunjukan sedang berlangsung ketika mereka tiba. Tiga mermaid menari di antara ikan-ikan. Tangan mereka bergerak serentak ke kanan dan kiri. Kemudian dua mermaid berputar membentuk bundaran, saling memegang ekor. Mermaid lainnya berenang di tengah lingkaran yang terbentuk. Di luar akuarium, muncul dua kepiting raksasa berwarna biru. Agak ngeri melihat kaki-kaki panjang yang mengingatkan Sayla pada laba-laba.
"Syahda pasti suka ke sini." Lagi tanpa sadar Sayla bergumam.
Putra mengerutkan keningnya. "Syahda sudah SD 'kan? Kalau masih di TK, kita ajak dia."
Sayla mengatupkan bibir-bibirnya. Sadarlah dia sejak tadi tangannya tak lepas dari Putra. Sayla segera menarik tangan itu.
"Ay pasti sudah pernah mengajak Syahda ke sini sih," katanya getir. Tentu saja! Ayla amat menyayangi Syahda. Anak itu menjadi satu-satunya sebelum ada Rista. Tiba-tiba Sayla sudah tak mood lagi berada di sana.
"Pulang." Sayla berjalan ke arah pintu keluar.
Putra yang sempat terdiam melihat perubahan raut Sayla berlari-lari kecil hingga berada di sebelah si guru TK.
"Bosen, ya. Kita mau ke mana lagi?" Putra enggan cepat pulang.
"Pulang." Sang istri masih pada pendiriannya.
Takut Sayla tidak jinak lagi, Putra pun mengangguk sambil tersenyum lebar. Tidak apa-apa, Put. Jangan dipaksa. Ajari dia pelan-pelan. Tarik dia dengan lembut pakai perasaan. Yang terjadi di akuarium tadi merupakan peningkatan terbesar dalam hubungan kalian. Jadi, turuti apa maunya sekarang.
"Lapar nggak sih? Kalau aku, keroncongan ini," kata Putra mengusap-usap perutnya.
Mungkin karena tak ada kakak-adek, Sayla pun menurut saja saat Putra mengajak ke resto dalam mall yang sama.
Begitu tiba di rumah, Putra menepuk keningnya kuat-kuat.
"Kenapa sih?" bentak Sayla melihat kelakuan suami alay itu.
"Kita tidak punya foto satu pun!" seru Putra kemudian melipat bibirnya.
Sayla mendengkus. Dia kira sesuatu yang penting. Saat meninggalkan Putra yang mengomeli dirinya sendiri, Sayla menggeleng-geleng. Dia pun tak menyadari hal itu. Kenapa Putra tidak melakukan siaran langsung? Jangankan live instagram, membidik satu gambar pun tidak.
"Nanti Kakak nggak akan siaran langsung. Kakak sudah nggak main IG lagi. Kakak akan fokus sama kamu aja, tapi kita harus mengambil beberapa foto untuk kita koleksi."
Oh, betul!
***
"Sayla."
Sayla mendongak ketika namanya dipanggil. Kali ini dia betul-betul kaget serta heran kepada laki-laki yang datang dan memanggil namanya dengan irama yang sama. Kemarin Putra. Sekarang Mondy. Sayla berhenti melangkah dan melihat ke sekitar halaman sekolah. Memastikan tidak ada seorang pun selain mereka.
"Mau apa?"
"Ada yang mau aku tanyakan."
Sayla membuang arah pandangan ke tempat lain. "Hm ...."
Dua alis Mondy perlahan terangkat. "Kamu kenapa, Say?" Jutek banget, lanjutnya. Terakhir kali bertemu tidak seperti ini.
"Paling tidak, Sayla sekarang sudah tidak menangis lagi melihat kau," bisik batinnya.
"Bukannya kamu bilang akan pergi jauh dan tidak akan muncul lagi?"
"Heh?" Mondy ternganga dengan cara bicara Sayla yang baru kali ini dia dengar. "Kan enggak jadi, Say. Lagian aku bilang, mau ngintip dari jauh 'kan?"
"Ya sudah, tanya apa?"
"Kamu ini kenapa?" Mondy betul-betul dibuat bingung dengan tingkah Sayla.
"Tidak kenapa-kenapa."
"Takut suami kamu marah, ya?" tebak Mondy dan membuat kedua bola mata Sayla melebar. "Aku cuma sebentar karena mau bertanya satu pertanyaan saja." Mondy kini merasa ragu untuk mengungkapkannya.
Sayla membuang napas. Pergi tak diminta, datang tak dijemput! Sayla tidak menyadari jika selama tiga bulan ini dia selalu bertanya-tanya ke mana lelaki itu tanpa kabar. Mondy menghilang sejak perpisahan di rumah sakit itu. Dengan tegas Sayla menolak kalau ada yang mengatakan bahwa dirinya rindu. Tidak. Sayla hanya kesal.
"Aku ... boleh bertemu Syahda?"
Sayla menggeleng.
"Kenapa? Aku hanya ingin melihat anak kita."
"Tidak bisa!" Sayla membentak. "Syahda tidak denganku."
Mondy semakin bingung. Sayla yang pada awalnya kelihatan kesal, kini terlihat sedih. Bahkan mata wanita itu mulai berkaca-kaca.
"Karena Syahda tidak tinggal denganku."
***
Sejak pertemuan di rumah sakit dengan Ayla, Mondy mengalami patah hati yang kedua. Dia hanya mencintai dua perempuan sampai usianya mendekati angka tiga puluh. Si kembar Ayla dan Sayla. Tidak satu pun dari kakak adik itu ditakdirkan dengannya.
Bagaimana kalau kau ambil Sayla dari suaminya?
Mondy memang berengsek, tetapi dia tidak pernah berniat merusak rumah tangga orang. Bisikan seperti itu selalu dia buang jauh-jauh. Makanya, selama tiga bulan itu Mondy hanya fokus kepada pekerjaan dan perbaikan ekonomi. Dia mencari pekerjaan, memulai dari nol. Dengan begitu patah hatinya tidak begitu terasa. Namun, saat malam hendak menutup mata dia akan membayangkan kehidupannya bersama Sayla dan anak mereka. Pasti hidupnya akan terasa sempurna. Sayang, dia takkan pernah merasakan kesempurnaan itu.
Walau Sayla bukan jodohnya, Syahda tetap anak kandungnya. Mondy sangat ingin bertemu anak perempuan yang kata Sayla mirip dengannya itu. Mondy memang tidak pernah bertemu dengan Syahda, tetapi dia merindukan gadis kecilnya. Untuk itulah, Mondy saat ini berada di depan rumah Ayla. Sayla telah menjelaskan segalanya. Sayla pun seperti dirinya. Sama-sama tidak dikenal Syahda. Luka itu dapat Mondy tangkap dari mata ibu anaknya. Mondy ingin membantu Sayla membalut lukanya.
"Eh, apa-apan ini? Kenapa lo bisa masuk rumah gue?" teriak Ayla menyambut Mondy yang telah duduk di sofa ruang tamu.
"Aku yang bukain pintu, Bunda. Bik Ira lagi buang air besar," lapor seorang anak perempuan berambut hitam panjang.
Mondy tidak dapat mengalihkan matanya dari sosok tersebut.
"Ayah nggak di rumah. Jangan terima tamu sembarangan!"
"Kata omnya dia teman Bunda. Kalau gitu, dia bukan tamu sembarangan dong, Bunda."
"Alah. Bisa aja dia bohong!" sergah Ayla.
"Nama kamu Syahda, 'kan?" Mondy tidak menghiraukan Ayla.
Ayla sepertinya mulai waspada sebab dia segera meminta Syahda ke dalam dengan alasan menemani dede yang lagi tidur.
"Gua ingin mengajak Syahda jalan-jalan minggu ini."
"Lo waras?" lengking si tuan rumah.
Mondy menautkan kesepuluh jari di atas paha dan menopang sikunya ke lutut hingga tubuhnya agak membungkuk. Pelan ia bicara, "Hanya halan-jalan, Ayla. Gua belum gila. Enggak mungkin tiba-tiba bilang gua bapaknya. Gua juga punya otak untuk mikir baik dan buruk."
"Batok kepala aja yang gede. Otak nggak ada!"
Mondy menekan kedua bibirnya, gemas. "Lu nggak berubah-berubah kenapa sih? Gua datang baik-baik untuk minta izin. Dan ... gua mau ucapin terima kasih karena lo sudah merawat dan membesarkan anak gue dengan penuh kasih sayang."
"Princess anak gue!" geram Ayla.
Mendengar itu, perasaan Mondy menghangat. Anaknya sangat dicintai.
"Ayla. Please? Kasih gue kesempatan. Gua rindu Syahda."
***
Muba, 5 September 2021
Mirisnya tuh, ini lapak Sayla dan cast Sayla sendiri belum ada. 😌
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro