Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Sayla [14]

putrapelindung Kita tidak tahu kapan pertemuan akan berakhir.

Komentar untuk status Putra Pelindung Buana beberapa detik setelah dipublikasi diramaikan oleh emoticon sedih. Mereka sepertinya tahu apa yang dirasakan Putra saat ini. Putra tidak setuju dengan kalimat yang berjamuran dalam media sosial yang mengatakan jika 'cowok itu kuat'. Secara fisik, ya, mereka lebih dari wanita. Namun ketika perpisahan di depan mata, mereka juga bisa sedih.

Selama ini Putra telah menemukan banyak hal yang menyebabkan ia harus selalu tangguh. Salah satunya saat melihat dengan mata kepala sendiri saat jasad kedua orang tuanya dievakuasi. Putra pun ingin ikut dikubur bersama ayah dan ibu.

Dia kelas satu SMA dan sedang mencatat pelajaran Geografi saat seorang guru memintanya keluar dari kelas.

"Putra! Ikut pulang dengan Bapak. Bapak baru dapat kabar buruk. Ayo, cepat kemas bukumu!"

"Rame nian, Pak. Ada apa di situ?" tunjuk Putra ke pinggir jalan yang merupakan parit besar.

Pak Hendri turun lalu mengunci setang sepeda motor. "Bapak memang mau ajak kau ke sini, Put. Lihat, mendekatlah."

Putra berlari menengok ke dalam parit sekitar satu meter dari jalan. Seketika dunia bagai kiamat. Anak lelaki berseragam putih abu-abu dengan kemeja dikeluarkan dari pinggang celana itu berteriak hingga pita suaranya nyaris putus. Putra turun ke bawah tak peduli dengan tanah yang licin akibat habis hujan paginya. Kemeja putih Putra bebercak kecokelatan dan celananya pun sama. Tapak sepatunya tebal oleh tanah basah.

"Maak! Kenapa ini? Pak jangan mejam terus! Bangun, Pak! Umak luko tu na! Payu bangun, Pak, angkat Umak ke atas. Pamit kau tadi nak jualan, Pak, bukan nak mati! Bangun, Pak Mak!" Putra memeluk tubuh ayahnya yang bersimbah darah. Baju ayahnya yang berwarna kuning telah berubah merah. Pun dengan ibu yang matanya terbelalak tak kalah mengenaskan dengan tubuh ayahnya. Luka sayatan—bacokan—melintang di kening ibu.

"Kenapa ninggalin aku di waktu yang sama? Gimana aku bisa hidup, Pak Mak? Uang masukku belum lunas. Kau janji besok kasih aku duit sebelum ditagih lagi sama pihak sekolah."

Orang tua Putra bekerja sebagai pedagang sayuran keliling. Hanya itu pencaharian mereka sehingga uang sekolah sekitar lima ratus ribu tidak bisa langsung dilunasi. Mereka menyicil seratus-seratus ribu. Ayah dan ibu berangkat ke pasar subuh-subuh. Sekitar pukul tujuh seharusnya mereka mulai berjaja ke kampung-kampung. Lihat, kenapa orang tua Putra malah menjajakan tubuhnya kepada begal? Mereka mau-mau saja disabet dengan parang.

Di sekitar tubuh kedua orang tuanya berserakan sayur-mayur. Tahu yang putih bagaikan jamur yang tumbuh di kayu lapuk. Menjamur di tanah. Keranjang tempat membawa dagangan tergolek sekitar tiga meter. Sementara itu, sepeda motor biru milik kedua orang tuanya tak tampak di mana-mana.

Setelah polisi datang, barulah para penonton mau membantu Putra menaikkan jasad kedua orang tuanya ke jalan. Putra Pelindung Buana menjadi yatim piatu saat itu juga. Beragam rasa Putra rasakan. Sedih sudah pasti, tetapi air mata hanya bertahan selama tiga hari. Setelah itu, Putra menjadi pendiam. Dia berubah. Sang Pelindung tak pernah lagi menakali anak perempuan sehingga ia dikejar dengan sapu pel. Tak tampak lagi Putra Buana tertawa keras melihat anak perempuan menangis sebab ia mengambil pembalut, lalu memajangnya di papan tulis. Menempelkan pembalut dengan lem yang terdapat pada benda khusus anak perempuan itu. Menggunakan spidol Putra menulis nama si pemilik di permukaannya. Putra harus dipaksa dulu oleh Bibi agar kembali masuk sekolah.

Hal yang sangat Putra sesali adalah kenapa namanya harus pelindung jika tidak dapat melindungi kedua orang tuanya? Putra merasa dia keberatan nama. Kesedihan tak berlangsung lama. Trombosit Putra yang pecah dengan cepat menjadi fibrin sehingga lukanya tertutup. Hanya saja bekas luka tidak bisa dia hilangkan. Pada malam hari Putra masih sering bermimpi melihat kedua orang tuanya bersimbah darah dengan mata terbelalak. Lalu Putra bangun dengan bercucuran keringat dan air mata. Menyalurkan semua sesal itu, Putra berlatih ilmu beladiri agar berguna. Ia adalah pelindung bukan pecundang. Dia akan menjadi pelindung untuk orang-orang yang dia sayangi.

Pertama kali melihat, Sayla terlihat rapuh dan menarik Putra untuk menjadi pelindungnya. Senyuman yang selalu terumbar mengundang senyum Putra ikut serta. Kecantikan yang tersembunyi di balik pakaian serba panjang me-warning Putra agar tidak mengerjai perempuan seanggun Sayla seperti teman sekelasnya di SMA. Pernah menyaksikan Sayla menangis saat berjalan ke mobil di basemen membuat Putra ingin menjadi bahu tempat Sayla mengadu.

Sayla berubah sejak Putra nikahi. Itu hasil perenungan Putra selama tiga bulan ini. Sayla yang lembut jadi sering bersungut-sungut. Sayla yang senyumannya manis kini terlihat lebih bengis. Sayla nan celimus menjadi perengus. Jantung Putra terkaget-kaget setiap Sayla berkata kasar. Tak cocok dengan Sayla sebagai insan yang terpelajar. Apalagi ketika Putra memegang gawai. Omelan Sayla takkan usa-usai. Sayla sangat tidak suka saat Putra mengeksiskan diri di dunia maya.

Putra menggulir sepuluh ribu pengikut akunnya serta memperhatikan satu per satu orang yang selama ini menerima keeksisannya. Untuk semua perubahan Sayla, Putra membuka Instagram lewat browser lalu menghapus akun yang membesarkan nama Pelindung secara permanen. Berat. Sedih. Serasa kehilangan sesuatu yang berharga. Dari sanalah tambahan rezeki Putra dapatkan sebagai endorser. Bahkan saat ini Putra menjadi brand ambassador sebuah merek t-shirt.

"Kak Putra akan fokus kepada Dek Sayla saja," gumamnya setelah menekan home.

Putra pulang saat jarum jam di dinding menunjukkan angka empat. Sayla pasti sudah ada di rumah. Kesedihan atas berakhirnya kejayaan Putra di Instagram pasti akan segera terobati setelah bertemu Sayla. Namun, yang diharapkan tidak ada di rumah. Putra telah mencari Sayla di kamar dan di belakang. Sayla tak jua bersua.

"Dek kamu di mana? Kok rumah kosong?" Putra menelepon dan pada panggilan kedua baru Sayla menjawab.

"Di rumah Ay."

"Lain kali izin Kakak. Kakak takut lihat rumah kosong begini." Takut kamu tidak tahan denganku lalu pulang ke rumah ayah dan ibumu.

"Ngapain pakai izin segala? Aku hanya ke rumah Ayla. Kalau telepon kamu hanya untuk nuduh aku macam-macam, aku tutup sekarang."

"Kakak nggak nuduh, Dek Sayla. Pikiran kamu sering suuzon ke Kakak. Kakak hanya takut aja." Putra tidak menyambung kalimatnya, lalu dia berdeham. "Nanti Kakak jemput, ya? Kakak mandi dulu baru ke sana."

"Enggak usah. Aku bawa mobil sendiri," jawab Sayla dan mengatakan harus tutup telepon sebab bayi Ayla menangis dan dia harus mengurus bayi tersebut.

Sejak Kakak bisa menyetir, kamu belum pernah Kakak setirin.

Putra telah pergi ke kursus mengemudi. Dia belajar dengan cepat. Surat izin mengemudi pun telah Putra kantongi. Meskipun tidak memiliki kendaraan roda empat, gunanya belajar mobil agar bisa menjemput Sayla. Sayangnya Sayla selalu menolak. Padahal Putra berharap bisa menjadi supir antar atau jemput istrinya.

Putra bisa saja tidak mendengarkan Sayla dan tetap datang ke rumah Ayla dengan kendaraan umum. Namun, Putra tidak ingin mengambil risiko mendapatkan amukan Sayla akibat tidak patuh. Putra bukan golongan suami takut istri. Dia hanya mengupayakan perdamaian.

***

"Tante! Aku punya adik. Namanya Dek Rista. Kata Bunda, kepanjangan Rista rezeki kita. Ih, Bunda aneh, ya, kalau kasih nama. Nama panjang dede seperti nama toko bangunan aja. Ayah bilang nama belakang dede bukan itu, tapi Harayanda Nugraha. Harayanda panjangannya harapan ayah dan bunda. Namaku kenapa nggak pakai Harayanda Nugraha juga seperti nama dede sih, Tante? Artinyakan bagus. Waktu aku tanya ke Bunda dan Ayah, katanya aku punya marga. Jadi kalau ditambah nama Ayah jadinya kepanjangan. Mereka nggak mau bilang marganya apa. Memangnya marga itu apa, Tante?"

Sayla membuka pintu dan mendapati lampu telah dinyalakan. Sayla meletakkan dompet di atas meja kemudian menyandarkan punggung ke sofa. Matanya memejam mengingat percakapan-percakapan dengan Syahda.

"Sejak dede lahir, aku sudah nggak tidur dengan Bunda dan Ayah lagi. Kata Ayah, aku sudah besar. Kenapa sih baru sadar sekarang mereka? Aku ini besarnya sudah lama."

Teringat lagi perkataan Mama yang akan bicara dengan Papa untuk meminta Syahda kepada Ayla.

"Mama akan bicara lagi dengan Papa. Ayla dan Ergi sudah tidak memerlukan Princess lagi. Kamu lebih membutuhkan anakmu. Kamu telah lama menderita, Say."

Ya, mereka tidak memerlukan Syahda lagi. Ayla sudah bisa tidur tanpa Syahda.

"Sekolah SD nggak seru, Tante. Nggak bisa main-main lagi. Anaknya galak-galak. Masa waktu aku lempar pakai pensil, mereka marah bukannya nangis seperti Daniel."

Sampai kapan Sayla harus berjauhan dengan keturunan Mondy ini? Bibir Syahda berkicau tiada henti. Sayla ingin kesehariannya mendengar suara Syahda.

"Eh, Dek Sayla sudah pulang. Diam-diam bae sampai Kakak nggak tahu. Kapan nih, Dek, Kakak dibolehin jemput kamu? Kakak susah-susah belajar nyetir untuk kamu. Kakak 'kan juga mau seperti cowok lain yang nyetirin pasangannya. Kakak punya ide! Kita jalan-jalan, yuk! Kita makan kek di luar sekali-sekali. Sejak menikah, kita belum pernah kencan."

Sayla memijat pelipis. Telinga Sayla sakit setiap mendengar suara Putra. Sakit yang dia maksud adalah sakit dalam arti sebenarnya. Bagaikan ada jarum yang menusuk lubang telinga hingga kupingnya panas.

"Kamu bilang jangan kasih apa-apa lagi. Kakak jadi bingung mau ngapain. Jadi, kita jalan-jalan ke mana aja kamu mau. Jangan khawatir, Kakak sudah ada tabungan. Tiap gajian Kakak sisihkan. Rencana awal mau membelikan kamu baju, jilbab, sepatu, tas, dan kosmetik dan apa aja yang kamu mau. Nanti Kakak nggak akan siaran langsung. Kakak sudah nggak main IG lagi. Kakak akan fokus sama kamu aja, tapi kita harus mengambil beberapa foto untuk kita koleksi. Kita cetak terus pajang pakai bingkai dan bisa kita gantung di dinding—"

"Leher kamu aja yang digantung biar berhenti mengoceh!" Sayla berdiri agak terhuyung hingga Putra dengan sigap memegang tanganya. Cepat ia entakkan tangannya. "Jangan cari kesempatan!"

Salah Kakak apa lagi?

*** 

Muba, 4 September 2021

Baibai aiji. Kak Putra rela berkorban. Korban pertama adalah 10k followers. Oh, bukan. Korban kesekian ini mah. Pertama, harga dirilah yang dia korbankan.

Besok ada Mondy gak ya??
Akhirnya, tadi Kasev ketemu lagi sama akun Pokemon. Senang banget karena bisa lihat tampang ganteng bapaknya Syahda.

Selamat malam Minggu, Joms.
Kasev mau nunggu Akang Pengangguran dulu aah.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro