Sayla [12]
"Gi, lihat ke sana," tunjuk Ayla ke arah pasangan adik kembar dan iparnya. "Mereka cocok nggak sih menurut lo?"
Ergi sang suami mendelik tidak suka karena panggilan istrinya.
"Eh, gitu aja marah, Yah. Sayla dan Putra itu ... gimana ya? Sayla nggak suka Putra, Gi. Dia menikah karena enggak bisa menolak dijodohkan. Sadar dirinya sudah nggak segelan lagi dan tak berhak memilih suami."
Ergi menyentil bibir istrinya yang menyebabkan perempuannya merengut. "Sayla bukan dijodohkan, Ay. Putra yang melamar Sayla karena cinta sama adik kamu."
"Maksudnya bukan Papa yang jodohin mereka? Aku pikir Tuan Hadi kesengsem sama pelindung Tuan Putri. Itu loh yang Putra menolong Sayla dari jambret."
Ergi tersenyum mengingat percakapan dengan Putra Pelindung. "Makanya kalau tidak tahu, bertanya. Jangan bikin asumsi sendiri. Kebiasaan jelek. Tentang Sayla yang tidak bisa memilih suami, dari mana pikiran itu? Dia berhak, Ay, sama seperti perempuan lain."
"Kalau gitu, dia bodoh dong mau aja dinikahin si ulat bayam?" Ayla kembali memperhatikan dua sejoli yang sedang duduk diam di ruang tamu kediaman Tuan Hadi. "Jelas-jelas hatinya sudah terjerat ke buntelan kain kotor yang masih mendekam dalam jeruji besi itu."
Ergi mencubit pipi chubby si istri dengan gemas sebab tak dapat menjaga bicaranya. "Kamu sedang hamil, Ay sayang, tolong jangan asal bicara. Buntelan-buntelan yang kamu maksud ini ... Mondy? Sayla mengatakan siapa yang dia suka ke kamu? Ingat, jangan bikin asumsi sendiri."
"Gi! Gue nggak asal bicara. Sayla itu cinta sama bapaknya Princess. Sayla nggak suka Putra. Dari tadi aku dengar dia bentak-bentak si ulat bayam. Untung nggak sampai dia injak-injak sampai hancur musnah berbaur dengan tanah. Dan kalau bisa, sebelum Say juga cinta sama Putra, si Pokemon tukang tilep itu jangan keluar dulu dari penjara."
Ergi membuang napas ikut memperhatikan pasangan yang sedang mereka bahas. "Sayangnya harapan kamu tipis, Ay."
Ayla menoleh kepada Ergi dengan mata sedikit melebar dan lama-kelamaan ia memekik. "Maksud kamu—"
"Masa binaan Mondy sudah selesai. Aku nggak yakin sekarang dia masih di lapas. Bisa jadi sudah keluar."
🌹🌹🌹
Sayla yang telah berganti pakaian tidur dan berbaring di tempat tidur merasa kehausan. Tidak biasanya ia dahaga di malam hari. Oleh sebab itu, Sayla tidak pernah menyiapkan air minum di kamar. Sambil berupaya membuka mata, dia berjalan ke lemari pendingin.
Karena mengantuk, Sayla tidak mendengar suara makhluk hidup lain di rumah itu. Setelah dahaga terselesaikan dan kantuknya terempas, telinga Sayla mampu mendengar Putra tertawa-tawa sambil bicara sendiri.
Oh tentu saja dia bukan bicara sendiri, melainkan dengan teman dunia mayanya.
"Kak Putra baru pulang acara tujuh bulan kehamilan kakak ipar." Putra menjawab pertanyaan dalam siaran langsung di Instagram. "Iya dong, harus tampil keren. Kan sudah jadi suami Adek yang cantik. Kak Putra enggak mau malu-maluin istri di depan kerabat dan para tamu."
Sayla hendak menutup kamar ketika Putra menanggil. "Selamat malam semuanya. Jangan lupa berdoa agar mimpi kalian menjadi kenyataan seperti hidup Kak Putra saat ini." Setelah menutup siaran langsung, Putra berlari menghampiri Sayla.
Melihat Putra ingatan Sayla kembali memutar perkataan Ayla sebelum pulang.
"Gue nggak percaya Putra sejatuh cinta itu ke elo, Say. Tanpa mencari tahu siapa lo lebih jauh, dia berani melamar lo kepada Pak Hadi. Suami yang seperti itu jangan lo sia-siain, Say. Anak zaman sekarang mana mau mengajak perempuan langsung ke tahap serius. Ergi aja butuh bertahun-tahun di sekitar gue. Putra nggak ada dua ... alaynya."
Jadi kalau bukan karena Putra, Sayla tidak mungkin menikah. Lelaki tukang pamer kehidupan pribadi ini yang diterima Papa sebagai suami Sayla. Ya Tuhan, apakah ini yang disebut karma? Balasan atas kesalahan Sayla di masa lalu sehingga sehari-hari bersama Putra terasa bagaikan siksaan. Sayla geram melihat apa pun yang dilakukan si tukang jaga kawasan Karra Mart ini.
"Sudah selesai mengumbar hal pribadi ke dunia luar? Senang menjadikan aku topik untuk pamer? Apa aku ini lelucon?"
"Kamu marah?" tanya Putra pelan.
Sayla menarik napas kasar dan membuangnya dengan cepat. "Bisa tidak sekali aja, enggak bikin aku marah?" Sayla hendak membanting pintu untuk mematahkan hidung Putra. Sayang, calon korbannya sangat tangguh jika dilawan dengan tenaga fisik.
"Jangan marah dong, Dek Sayla. Kakak minta maaf, ya? Kakak nggak masalah kok dimarahin karena Kakak cinta Adek. Kakak ingat ada yang bilang gini, orang yang paling kita benci dialah orang yang sering kita pikirkan. Tapi kamu nggak baik juga marah-marah terus. Bisa berakibat pada kesehatan."
Cinta? Sejak pertama kali kata itu tercetus dari bibir sang Pelindung, Sayla tidak percaya.
"Jawab yang jelas, kamu yang melamar aku atau Papa yang minta kamu nikahin aku?"
"Kamu nggak tahu, ya, malam waktu aku datang ke rumahmu itu pertama kali aku bilang suka kamu kepada Pak Hadi."
Buang keladinya adalah Putra?
Semenjak mendengar pernyataan Putra, Sayla semakin dongkol kepada pria Sumatra yang hobi selfie itu. Andai Putra tidak datang, mungkin hidup Sayla akan tenang.
🌹🌹🌹
"Papa di rumah sakit?" Murid baru saja Sayla sapa sebagai pembuka kegiatan hari itu. Telepon dari Mama tiba mengabarkan kondisi Pak Hadi yang drop dan dibawa ke rumah sakit.
"Say ke sana, Ma." Sayla menemui Rara minta tolong agar tugasnya digantikan. Wajah panik Sayla tentu membuat Rara mengiyakan permintaan rekannya.
"Semoga Pak Hadi baik-baik aja," doa Rara.
Sayla tiba di rumah sakit kemudian menanyakan tempat ayahnya ditangani. Berlari ke arah yang ditunjuk, Sayla dapat melihat sosok Mama keluar dari sebuah ruangan.
"Ma!"
"Say." Mama juga terlihat sangat cemas.
"Jantung Papa lagi?"
Mama menggeleng. "Dokter bilang Papa hanya kecapean. Suhu tubuh Papa semalam tinggi sekali. Sekarang sudah biasa lagi. Kamu nggak usah cemas. Papa tidak apa-apa."
Sekitar pukul sebelas, Putra datang ke ruang rawat Tuan Hadi.
"Dek Say, gimana keadaan Pak Hadi?" Putra meletakkan tangannya di pundak Sayla.
Terasa bahunya dijatuhi seton pasir, Sayla segera menepis tangan suaminya. "Nggak usah pura-pura peduli."
Mama telah pulang sekitar satu jam yang lalu. Sayla meminta Widya beristirahat di rumah saja setelah menunggu Papa tanpa tidur.
"Kamu sudah makan, Dek?"
Sayla tak menanggapi. Sungguh ia membenci makhluk adam itu. Saat ini ia lelah. Tak ingin membuang energi yang tersisa untuk meladeni Putra.
"Kita ke kantin dan makan dulu, nanti kamu juga ikut sakit, Dek."
Daun telinga Sayla terasa panas, mungkin ada api yang berkobar dari liang telinga.
"Aku sedang menunggu papaku! Kalau memang kamu tidak peduli dengan kesehatan papaku, tidak usah datang dan ganggu aku."
"Sayla .... " Panggilan dengan nada rendah itu menghentikan perdebatan Sayla dan Putra.
Sayla diikuti Putra mendekat ke ranjang Pak Hadi yang baru bangun dari tidur.
"Ay mana?"
Rupanya Papa telah mengamati sekitar dan tidak menemukan keberadaan putri satu lagi.
Sayla tak mungkin mengatakan jika ia lupa mengabari Ayla. Sayla menggenggam tangan Papa yang hangat.
"Papa sehat, ya. Ay sebentar lagi sampai. Katanya tadi sedang jemput Syahda untuk dititipkan sama Mama di rumah."
"Ay hamil. Jangan capek." Pak Hadi menoleh ke belakang Sayla.
"Putra ... jangan sampai saya dengar kamu membuat Sayla menangis. Saya menikahkan Sayla dengan kamu agar dia hidup bahagia bukan tambah menderita. Saya dengar kamu sudah menjabat HS. Cari uang yang banyak untuk anak dan cucu saya."
"Bapak tidak perlu mengkhawatirkan saya sebab dari awal itulah tujuan saya. Sekarang Bapak hanya harus pulih dan sehat lagi seperti sedia kala karena kalau Bapak sakit, Bapaklah yang akan bikin Dek Sayla menangis."
Sayla menginjak kaki suami yang telah bicara tidak sopan kepada Papa. "Papa enggak bikin aku menangis," desis bungsunya Pak Hadi.
Sayla berbisik di telinga Putra, "Tunggu Papa sebentar. Aku telepon Ayla di luar."
Pada panggilan kedua barulah panggilan Sayla dijawab oleh kakaknya.
"Ay di mana? Ergi kerja? Kamu minta Ergi untuk jemput, ya. Papa ada rumah sakit. Jangan berangkat sendiri, Ay."
Begitu menutup telepon, jantung Sayla bereaksi hebat bagai habis mendaki anak tangga ke lantai delapan. Mungkin karena kedua matanya sedang melihat penampakan. Namun, sosok di hadapannya bukanlah setan. Dia mengenakan kaus panjang berwarna abu-abu dan jins hitam sebagai setelan. Wajahnya tampan. Entah kenapa waktu seolah berhenti ketika mata mereka bertumbukan. Apalagi sejak tadi Sayla dihadiahi senyuman.
"Aku nunggu kamu di depan rumah Pak Hadi semingguan ini berharap ketemu kamu. Akhirnya kita ketemu di sini. Aku dengar dari tetangga, Papa kamu masuk rumah sakit. Bagaimana keadaannya sekarang?"
🌹🌹🌹
Muba, 3 September 2021 ...
Malam satu part lagi...
Tuh Mondy mulai meresahkan Sayla.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro