Sayla [08]
Bagi yang mau baca Ayla, ada di Dreame/Innovel judulnya Suami Terbaik. Pernikahan Sayla sebagai ekstra part 5 di cerita Ayla. Kisah Sayla dan Mondy juga ada di cerita Ayla. 🥰
Happy reading...
🥒🥒🥒
TK Anak Cerdas
Mama Andien, Mama Andika, Mama Berlian, Mama Bila, Mama Citra, ...
Mama Andien
Eh, Bunda Sayla menikah kemarin? Kabarnya nggak sampai ke kita, ya, mama mama? Selamat loh, Bunda Sayla, semoga langgeng dan segera diberikan momongan.
Mama Dian
Wah, selamat ya, Bunda Sayla. Semoga keluarganya samawa.
Mama Citra
Selamat, Bund.
Mama Andien
Suaminya Bunda Sayla itu loh nggak asing. @Mama Fani ingat nggak kita pernah ke Karra Mart dan ditolongin security? Bunda Sayla menikah dengan security ganteng itu loh, Mam.
Mama Fani
Bapak satpam imut itu, Mama Andien? Cocok dong ganteng sama cantik. Untuk Bunda Sayla selamat, ya, semoga keluarganya selalu bahagia dan segera dikasih momongan yang banyak supaya kayak mama papanya. Ya kan, Mama Andien?
Mama Andien
Saya kemarin kaget loh waktu lihat ig. Postingan @mimin.kocak, mama mama, ada videonya Pak Satpam itu. Nih lihat.
Mama Andien
[video]
Mama Thalia
Memangnya kemarin Bunda Sayla pergi ke mana?
Mama Dimas
Bunda Sayla kenapa nggak ada di pestanya sendiri?
Mama Daniel
Ini rame banget sih. Sedang membahas apa nih, mama mama?
Mama Andien
Ini loh, Mama Daniel, Bunda Sayla menikah dengan satpam di mal papanya. Eh waktu resepsi suaminya malah ditinggal. Kita ingin tahu, sebenarnya Bunda Sayla ke mana sih?
Mama Andika
Maaf saya rencananya cuma mau nyimak aja, tapi lama-lama saya juga jadi penasaran nih. Apa mungkin Bunda Sayla dijodohkan dengan suaminya, Bunda?
Mama Rafael
Iya nih, Bunda Sayla mana? Kita pada penasaran ya, mama mama. Maklum jiwa emak-emak perlu kejelasan.
Mama Princess
Bunda Sayla nganter keponakannya pulang karena saya sakit di pesta itu, Moms. Pada julid amat sih.
Mama Andien
Kita bukan maksud julid, Mama Syahda. Kita penasaran setelah melihat video suaminya.
Mama Princess
Penasaran kalian nggak penting. Untuk apa ngurusin rumah tangga orang? Urus saja suami kalian sendiri-sendiri. Berhenti bahas ini! Bubaaaar!
Sayla mengusap nama kontak Ayla yang dia beri nama Mama Princess. Senyuman tipis pun terbit di bibir guru TK itu. Sayla langsung menyentuh tulisan Mama Princess dan memilih panggilan video kepada kembarannya.
"Mana Princess?" todong Ayla begitu menerima panggilan.
Sayla mengarahkan kamera ke Syahda. "Semalam tidurnya jam tiga setelah teleponan. Sekarang masih nyenyak banget."
"Ya jangan dibangunkan. Princess ikut libur juga hari ini." Terlihat Ayla menguap kemudian merebahkan kepalanya ke bantal. Kembaran Sayla itu memejamkan matanya sebentar kemudian melotot, "Eh, lo gila, Say?" Ayla terduduk kembali.
Terdengar suara Ergi menegur volume Ayla yang tinggi.
"Tidur lagi ... tidur lagi ...." Sayla mengalihkan matanya ke tempat lain ketika gambar yang direkam oleh ponsel Ayla adalah menempelnya bibir Ayla ke pipi suaminya.
Ayla kembali merekam wajahnya dan bicara agak pelan. "Lo tidur sama Princess di kamar Princess? Suami lo di mana?"
"Di kamar sebelah."
"Tega lu, Say. Emang nggak bener lo, ya. Pantes emak-emak tadi pada julidin elu. Lah waktu resepsi laki lo tinggal. Malam pertama juga lo tinggal dia sendirian."
"Ay ... kamu bisa ganggu tidurnya Ergi dan Princess. Nggak usah kencang-kencang."
Kakak kembar Sayla itu menggeleng-geleng. "Eh, Say. Seenggak sukanya gue dulu sama pernikahan gue, malam pertama gue masih sekamar sama laki gue. Elo mah udah keterlaluan. Gue bisa ngomong begini karena sudah lama menikah daripada elo, Say. Dengar ini baik-baik. Lo nggak boleh perlakuin laki lo seperti itu. Kalau memang lo nggak suka dia, bilang dari awal. Sekarang lo sudah jadi istri dia. Terima itu. Jadilah istri yang baik. Lo bahkan belum menceritakan siapa lo sama dia dan sekarang lo tinggal anak orang seperti ini. Gue nggak akan tega membohongi orang yang udah menikahi gue, Say. Kata suami gue, suami istri itu harus buka-bukaan. Kudu jujur biar pernikahan kalian langgeng."
"Aku nggak kenal dia, sementara kamu dan Ergi saling kenal. Ergi sudah jelas orangnya seperti apa karena kamu sudah lama tahu. Sedangkan aku? Aku nggak bisa seperti kamu. Aku harus pelan-pelan menerima semua ini. Aku nggak mampu melakukan semua perubahan secara drastis."
"Ay ... kenapa nggak bangunin aku sih?" Ayla menoleh ke sebelahnya ketika Ergi bertanya. "Kamu tidurnya nyenyak, Gi. Aku nggak tega membangunkan. Nanti kamu kurang tidur kalau aku bangunin cepat-cepat. Libur aja sih seperti Princess dan Say. Sama satpam depan juga tuh. Kita bisa lanjut lagi loh, Gi."
Sayla langsung menginterupsi percakapan suami istri itu. "Kalian rencananya pulang jam berapa? Aku yang mengantarkan Princess nanti."
"Gi ... masih mau tinggal di sini? Kalau enggak, kita balik sekarang sekalian jemput Princess di rumah Mama. Say ... Princess biar kami yang jemput. Lu urus noh suami lo! Jangan jahat-jahat jadi istri. Ngalahin gue sadisnya, ya nggak Gi? Masak Putra Pelindung dia tinggal tidur bareng Syahda, Gi. Rupanya mantan kamu bisa lebih kejam dari aku." Terdengar teguran Ergi. "Bye, Say. Gue mau satu ronde dulu sama suami gue. Baik-baik jaga anak kami!"
Sayla menatap layar ponselnya yang telah berubah hitam. Ayla dan Ergi pun dijodohkan seperti Sayla, tetapi pernikahan mereka sangat sempurna. Sayla mungin akan menerima pernikahan secara ikhlas apabila pria yang menjadi suaminya seperti Ergi bukan tipe ulat bayam seperti Putra.
***
Kamar ini asing. Putra Pelindung membuka matanya perlahan sambil mengingat-ingat. Tak biasanya dia mengalami disorientasi. Lamat-lamat akhirnya ingatan sang security terkumpul. Putra duduk pelan dengan harapan bahwa istri yang ia sahkan kemarin masih dalam posisi seperti semalam.
Kosong.
Kamu sudah bangun, Dek?
Putra Pelindung masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tanpa alas kaki ia keluar dari kamar dan menemukan rumah besar itu masih dalam keadaan hampa. Pintu di sebelah kamar Sayla menarik perhatiannya. Pernak-pernik khas bocah dan papan nama yang membenarkan dugaan Putra membuat tangannya tergerak untuk mengintip.
Darahnya berdesir melihat Sayla dan Syahda berada di dalam. Putra sama sekali tidak sadar bahwa Sayla dan anak kesayangannya akan berpindah ke kamar lain. Sayla sedang menelepon dan duduk memunggungi pintu sehingga tidak sadar akan kehadiran Putra.
"—Jadilah istri yang baik. Lo bahkan belum menceritakan siapa lo sama dia dan sekarang lo tinggal anak orang seperti ini. Gue nggak akan tega membohongi orang yang udah menikahi gue, Say. Kata suami gue, suami istri itu harus buka-bukaan. Kudu jujur biar pernikahan kalian langgeng."
Sayla berbohong?
"Aku nggak kenal dia, sementara kamu dan Ergi saling kenal. Ergi sudah jelas orangnya seperti apa karena kamu sudah lama tahu. Sedangkan aku? Aku nggak bisa seperti kamu. Aku harus pelan-pelan menerima semua ini. Aku nggak mampu melakukan semua perubahan secara drastis."
Putra rasa dia telah mendengar terlalu banyak. Ia tidak mengerti kenapa Sayla yang telah ia nikahi berbeda sekali dengan wanita selama enam tahun lalu dia kagumi. Selama enam bulan masa perkenalan mereka sebelum menikah, Sayla jarang berbicara. Tersenyum kepada Putra pun tak pernah. Kemarin Putra merasa maklum istrinya tidak hadir hingga acara selesai dalam perayaan pernikahan mereka. Seperti yang mertuanya bilang, Syahda adalah sseseorang yang sangat berarti bagi Sayla. Putra maklum sebab dia hanya orang baru yang datang ke hidup Sayla. Putra juga tidak masalah Sayla bersama Syahda dalam satu ranjang. Kerdil sekali hatinya bila cemburu kepada anak kecil. Namun, toleransi seperti apa yang harus Putra berikan jika ternyata istrinya pindah ke kamar lain untuk menghindar?
Sayla tidak mampu melakukan semua perubahan statusnya secara drastis. Oke, Putra dapat memahami jalan pikiran istrinya. Tidak masalah. Putra akan menuntun Sayla secara perlahan.
Putra Pelindung berbalik. Menarik napas sekali, dia mengetuk pintu kamar Syahda. Tanpa mendengar tanggapan dari dalam, dia menguak daun pintu dan menyengir kepada istrinya yang kaget.
"Pindah ke sini, Dek?" Putra berjalan santai mendekat ke tempat tidur yang Sayla duduki. Syahda masih tidur nyenyak di sebelah wanita dewasa itu.
Putra sudah terbiasa dengan keterdiaman Sayla. Kebetulan Putra memang banyak bicara. Jadi biarkan dia yang mewakili komunikasi mereka agar seimbang. Sang Pelindung mengempaskan dirinya ke sebelah sang istri.
Ia tatap Sayla dalam jarak terlalu dekat. "Pagi, Sun." Pelindung tersenyum lebar. "Setiap pagi aku akan melihat wajah cantik kamu, Saysun. Itu bedanya masa menikah dengan sebelum menikah."
Putra meringsek maju hingga kedua hidung manusia berlainan jenis itu menyisakan jarak satu inci. "Hari ini kita mulai semuanya. Dan ... kita lakukan perkenalan lagi. Aku Putra Pelindung Buana. Umak memberi nama itu dengan harapan besar bahwa anak laki-laki satu-satunya ini menjadi pelindung bumi. Melindungi kedua orang tuaku aku gagal," bisik sang Pelindung karena suaranya tercekat ketika mengingat akhir hayat kedua orang tuanya sehingga tidak dapat hadir di hari bahagia Putra Pelindung mereka. "Aku tidak ingin gagal lagi, Sun."
Sayla yang menahan napasnya mundur, kemudian menjauhkan diri dari si ulat bayam.
"Giliran kamu."
Sayla tak menyahut. Ia menurunkan kaki satu per satu ke lantai. Naasnya sebelum sandal ia sarungkan ke kaki, tangannya ditarik hingga tubuh Sayla terjatuh dalam pangkuan sang Pelindung.
"Aku minum kopi satu gelas gulanya dua sendok dan kopinya satu sendok makan. Untuk sarapan, aku enggak memilih. Apa aja aku makan. Asalkan masih bisa dimakan, aku akan habiskan. Aku juga bisa masak kok. Jadi, kalau kamu sibuk enggak sempat masak, aku bisa gantian memasak. Gajiku enggak banyak. Jadi semuanya akan aku setor ke kamu. Aku minta belanja harian. Tenang aja, aku enggak merokok. Aku minta untuk pegangan aja seandainya ban motor bocor di jalan."
Putra yang merasa sudah cukup membuat Sayla tak berkutik, melepaskan tangannya dari pinggang sang istri.
Dengan cepat Sayla berdiri. Mata wanita itu menyorot Putra dengan tajam. "Hidup saja seperti yang kamu mau!" geram anak Pak Hadi sebelum keluar dari kamar.
Putra menyengir. "Ciye yang pagi-pagi sudah dipangku suami. Itu bedanya punya suami dengan enggak, Dek."
Sayla menggeram dan meninggalkan Putra yang cengengesan.
"Sayla ... Sayla ...." Tawa di pagi yang baru setelah menggoda istri. Putra merasa dunianya akan berbeda mulai sekarang.
Putra Pelindung menoleh ke belakang dan mendapati mata sang tuan putri menatapnya dengan heran. "Sudah bangun, ya?"
Syahda duduk. Gadis kecil itu menyibak selimutnya. "Kata Bunda kalau aku mau adik, aku enggak boleh ikut pindah kamar. Tapi kenapa semalam Om Baru yang ditinggalkan Tante pindah ke kamar ini sama aku?"
"Om Baru? Memangnya kamu punya om yang lama?"
"Enggak ada. Kata Bunda gitu. Aku nggak boleh ikut-ikutan panggil Om ulat bayam."
Putra bergidik, "Ulat bayam?"
Dengan polos Syahda mengangguk. "Kata Bunda Om itu lembut dan suka meliuk-liuk seperti ulat di sayur bayam."
"Panggil Om Putra."
"Kok bisa cocok sih?"
Putra semakin senewen bicara dengan anak ulat belatung. "Cocok apanya?"
"Tante Sayla itu kata Bunda panggilannya si Tuan Putri. Tuan Putri menikah dengan Putra jadinya putra putri."
"Dan situ Princess-nya? Ogah!"
"Om Putra kok jelek sih? Item kayak belepotan oli bekas mobil Ayah."
Putra ingin mengarungi anaknya Ayla.
***
"Taraaa ... Selamat datang di rumah baru kita." Putra merentangkan tangan menyambut Sayla di rumah yang dia pilih sebagai hunian baru bagi mereka berdua. Putra menyalakan kamera dan merekam baik-baik ekspresi Sayla ketika diberi kejutan.
Sayla menggerakkan lehernya ke sekeliling ruangan. Tidak buruk, meskipun jauh lebih kecil dibandingkan istana papanya.
"Aku suka dengan rumah ini, Dek. Setorannya tidak terlalu mahal per bulan. Kamu tenang aja, enggak lama juga sudah lunas. Mari kita lihat kamar kita."
"Aku ingin kamar yang berbeda."
Senyuman lebar Putra menghilang secara tiba-tiba. Ponsel di tangan dia turunkan.
Sayla melihat sorot yang berbeda dari netra suaminya.
"Kamu bilang apa barusan?" Tone suara Putra sangat rendah.
"Aku ingin kamar yang lain."
"Ha ... ha ...." Sayla kira ini pernikahan apa? Putra tersenyum lagi sambil mendekat dan menangkap pinggang Sayla ke pelukannya. "Tidak bisa," bisik sang Pelindung di depan bibir sang istri. "Aku ingin memeluk kamu setiap malam."
***
Muba, 31 Agustus 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro