Sayla [05]
Sayla berjengit melihat makhluk adam di depannya. Putra Pelindung nama yang diakui oleh sang calon pilihan Papa. Tugasnya menjaga keamanan Karra Mart. Kadang dia dapat shift pagi, sore, juga malam yang menyebabkan Putra tidak tidur sama sekali. Lalu waktu lelapnya diganti siang saat orang lain sedang berjibaku di tempat kerja masing-masing.
Wanita bergamis abu-abu itu memijat pelipisnya ketika menyaksikan sosok Putra Pelindung tersenyum lebar dengan mata merah, tetapi semangat dalam dirinya kelihatan menyala. Putra berkata bahwa dirinya belum menidurkan matanya sejak berjaga pukul sebelas hingga tujuh pagi.
Pak Hadi menelepon si calon menantu itu lantaran ingin membicarakan kelanjutan lamaran dadakan Putra. Padahal, Pak Hadi punya niat nakal menjerumuskan Sayla berdua dalam mobil perempuan itu.
"Saya tidak bisa menyetir mobil, Pak. Tapi kalau Bapak membolehkan, saya akan mengantarkan Dek Sayla dengan sepeda motor saya."
Sayla langsung menolak pada detik pertama. Tentu saja dengan halus seperti biasa. Kalau sudah begini, siapa pun akan menuruti perkataan Sayla kecuali Ayla. Ayla justru yang paling emosi dengan cara bicara Sayla yang lambat.
Sayla segera berdiri tanpa menghiraukan basa-basi nan basi Putra untuk membawakan tas ke mobil. Sayla jadi berpikir, lelaki yang terlihat sangat muda itu calon suaminya atau ajudan?
"Adek sudah sarapan?" Dari tempat duduknya, Putra dapat melihat pipi halus sang bidadari.
Tidak ada tanggapan dari Sayla. Putra berpikir mungkin Sayla tidak ingin diganggu ketika mengemudi. Satpam muda itu menatap jendela si roda empat yang memperlihatkan suasana pagi Jakarta. Macet tak bisa terelakkan pada jam-jam penduduknya berangkat kerja.
Namun, yang namanya Putra Pelindung Buana takkan bisa diam lebih dari sepuluh menit. Tanpa berburuk sangka dan takut nilainya turun di mata sang calon, Putra mengambil ponsel dan mengaktifkan gawai tersebut. Putra masuk ke instagram lalu melakukan siaran langsung. Otomatis pengikutnya langsung mengikuti live yang Putra lakukan. Pertanyaan akan keberadaan Putra tak luput mereka ajukan. Setelah menjawab perihal kabar kenapa mata Putra merah, Putra pun mengatakan tujuannya pagi itu.
"Gua sedang di mobil sama seseorang. Sekarang lu pada belum bisa lihat siapa orangnya. This is secret," bisiknya.
Tawa nyaring si tukang selfie itu mengudara. "Iya mata gua belum diistirahatkan. Tapi lo jangan khawatir, gua akan tetap jaga diri supaya tetap bisa menyapa kalian."
Putra merasa diperhatikan kemudian menoleh ke sebelah kanan. Senyumannya melebar. "Oke guys, gue enggak bisa lama-lama karena udah ganggu si cantik bawa mobil."
Sayla jengkel. Mengkal sekali. Pria macam inikah yang akan menjadi suaminya? Berusaha untuk melupakan hal yang baru saja dia saksikan, Sayla meneruskan perjalanan dalam diam. Ia biarkan siulan riang yang dilakukan makhluk di sebelahnya hingga tibalah mereka di halaman TK Anak Cerdas. Sayla tidak ingin menyapa Putra sama sekali. Sekeluar dari mobil dia langsung masuk ke ruang guru. Sebebas Putra saja ingin pulang jalan kaki atau naik kendaraan umum atau mungkin merangkak sekali pun.
"Sekolahnya bagus, Dek."
Kontan Sayla memegang dadanya akibat kehadiran Putra. Sayla tak berbalik dan masih sibuk dengan media yang akan digunakan nanti dalam Sentra Musik dan Olah Tubuh. Wallahi dia sangat enggan melihat penampakan di sekitarnya—Putra Pelindung.
Dua orang rekan Sayla tiba dan membantunya membawakan keranjang serta bola-bola ke halaman sekolah. Lagi-lagi Putra ambil bagian sehingga Rara yang tugasnya diserobot oleh Putra kebingungan. Wanita yang lebih muda dari Sayla itu bertanya lewat isyarat bibir. Sayla hanya balas dengan bergumam. Sementara itu di sebelah Sayla ada Lisa yang menyenggol pundak anaknya Pak Hadi dengan maksud ingin penjelasan yang sama. Sayla masih enggan buka suara. Dia berjalan ke luar untuk menggoyangkan lonceng pertanda berkumpul. Siswa yang berpakaian olahraga dan hafal jadwal mereka pun berlari ke halaman kelas. Tiga kelas dijadwalkan bersamaan untuk sentra ini.
Rara telah menyusun bata dan cone di tanah serta menggambar kotak yang diisi angka. Sayla yang sedang memulai kelas sempat melirik ke arah Putra yang kembali merecoki pekerjaan Rara. Setelah Rara selesai, Sayla mengajak murid untuk memperhatikan. Anak bungsu Pak Hadi itu memperagakan cara memasukkan bola ke dalam keranjang dengan melewati lintasan yang telah dibuat oleh Rara—dan Putra. Permainan ini sering diperlombakan saat Hari Pendidikan Nasioanal. Oleh sebab itu, anak-anak dibiasakan melakukan permainan dengan lintasan yang bervariasi.
Putra tak akan melewatkan satu momen berharga pun tanpa membagikan ke media sosialnya. Seperti sebelum ini, Putra tidak ingin wajah bidadarinya terekspos ke muka umum. Kamera sang Pelindung hanya merekam punggung Sayla.
"Kak Putra sedang menemani Adek mengajar nih guys. Tuh lihat, Adek sangat luwes saat bermain dengan anak-anak orang." Putra membaca komentar sebuah akun yang ingin melihat wajah Sayla. "Sorry, Kak Putra belum bisa memberi tahu kalian semua."
neng_geulis Kak Put bikin aku patah hati iih. Aku juga pengin ditemanin, Kak.
Inong Mending Kak Put pulang dan istirahat. Nanti bisa sakit karena nggak tidur.
Putra memang sudah mulai menguap sejak memulai live. Segera sang satpam berpamitan kepada pemirsa siarang langsung. Begitu selesai, Putra kembali fokus memperhatikan Sayla mengajar. Kantuk sang Pelindung tak bisa ditahan lagi. Putra melihat bangku panjang di teras kelas dan membaringkan tubuhnya di sana. Tak lama ia telah terlelap.
Sayla dan dua rekannya menyelesaikan tugas hari itu. Para murid mulai dijemput oleh orang tua mereka. Sayla sempat melirik ke arah Putra sebelum teguran Syahda mengambil perhatiannya.
"Dijemput siapa, Princess?"
Saat melihat Syahda, semua masalah Sayla seolah lenyap. Ia tak sadar bahwa saat ini ada sepasang mata yang sedang memperhatikan Sayla dengan ketertarikan yang tinggi.
"Tante temanin sampai Bunda datang. Oke? Jangan marah dulu. Bunda mungkin sedang memasak untuk Princess."
"Aku bisa menolong Bunda kalau di rumah. Kenapa Bunda masaknya sendirian coba?"
Sayla mengusap rambut di atas kepala Syahda berusaha menenangkan putrinya. "Mungkin Bunda maunya ketika kamu sampai di rumah langsung makan bukannya masak dulu, Princess."
"Uuuh itu sama aja, Tante. Aku enggak suka yang seperti itu. Tante bilang sebaiknya pekerjaan rumah dikerjakan dengan gotong royong dan membantu Bunda itu pahala balasannya. Bunda nih suka sendiri-sendiri kerjanya—"
"Bunda apa, Princess?"
Rambut panjang Syahda bergoyang mengikuti arah putar kepalanya. "BUNDA!" Putri kandung Sayla Lovaiza itu berlari memeluk ibunya. "Bunda masak sendirian lagi?"
"Enggak! Siapa bilang? Kamu enggak perlu kasih tahu dua kali, Bunda akan lakukan. Emangnya Bunda mau dengar repetan protes kamu terus."
"Gitu dong. Itu baru Bundanya aku. Kita belanja dulu, Bunda, gangguin Ayah kerja!"
"Ide yang bagus, Princess! Ayo berangkat!"
Syahda tetap berdiri saat tangannya ditarik Ayla. "Pamit dulu dengan Tante Sayla, Bunda."
Sayla terpaku dalam diam saat Ayla berbisik, "Gue dengar lo udah punya calon. Apa dia tahu siapa lo dan ... Princess?" Ayla menepuk bahu Sayla. "Sebaiknya lo jujur ke dia. Muka tuh cowok kelihatan polos banget dan ngarep ke elo. Tidak seharusnya lo sembunyikan keadaan lo, Say. Pria nggak suka bekasan."
Seluruh tubuh Sayla membeku. Kedua tinju guru TK itu menegang di sisi tubuhnya.
"Inget saran gue, Say. Ini semua demi kebaikan lo. Daripada dia tahu saat kalian sudah merit dan dia kecewa, sebaiknya jujur dari sekarang. Kasih kesempatann buat dia mikir mau lanjut atau berhenti."
Mobil Ayla telah lama keluar pekarangan sekolah. Sayla belum beranjak seinci pun dari tempat berpijak. Diamnya Sayla membuat bingung calon menantu Pak Hadi. Sang Pelindung menghampiri bidadarinya. Ia melambai-lambat di depan wajah Sayla.
"Dek! Lu kenapa dah diam aja?" Putra menggaruk-garuk rambut cepaknya. "Dek Sayla! Bangun woy!" tepuk Putra pada bahu anaknya Pak Hadi.
Mata Sayla berkedip-kedip. Putra tersenyum manis ketika wanita idaman akhirnya melihat kepadanya. Sayla hanya mendengkus halus. Cahaya matanya terlihat redup membuat Putra bertanya apa yang dibicarakan oleh saudara kembar wanita itu sehingga Sayla menjadi lebih diam?
"Yang datang tadi kembaran Adek, ya? Wajah kalian mirip banget! Dari aura yang tertangkap mata Kakak, saudara Adek kelihatan banyak ngomong, ya? Beda dengan Adek. Anak kecil itu, anaknya saudara Adek, 'kan? Hehe ... Kakak mulai menghafal keluarga Adek dari sekarang agar nanti cepat akrabnya. Tapi sepertinya anak dan ibu tadi sulit diajak temenan. Enggak seperti Mas Ergi yang baek dan ramah banget. Bininya kelihatan seram, Dek. Kok bisa lain sih pembawaannya dengan Adek padahal kalian kembar?"
"Sama wajahnya bukan berarti kami sama dalam segala hal. Termasuk ... takdir kami juga berbeda." Sayla menghadapkan wajahnya kepada sang satpam setelah seharian ini dia mengabaikan pemuda itu. "Seandainya anak yang tadi itu anak saya, bagaimana pendapatmu?"
Apa yang harus Say lakukan, Ma? Say malu. Say enggak bisa menikah, Pa. Say takut.
***
Muba, 29 Agustus 2021
Sapa yang mau kondangan?
Hari ini atau besok aja?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro