Sayla [04]
"Ya Allah."
Gumaman menyebut nama Rabb tak henti terucap dari bibir Sayla. Matanya terpejam bagai menahan kepedihan dan keputusasaan. Seakan-akan dengan menyeru nama Tuhan, Sayla mendapatkan pegangan. Wajah perempuan berhijab moka itu terlihat bengkak akibat menangis. Sesekali tangannya akan menutup muka dan setelah itu mengucapkan nama Allah lagi.
Perkataan Papa tadi malam masih menjadi topik utama kepala Sayla. Permintaan Papa nyaris mendekati perintah seperti yang dialami Ayla. Dahulu Sayla mengatakan kepada Ayla bahwa Papa tidak akan menyengsarakan anaknya. Papa pasti memilihkan lelaki terbaik untuk jodoh anak-anaknya. Tidak seharusnya Ayla menolak permintaan Papa.Ternyata ketika berada di posisi yang sama, Sayla tak bisa menerima semua kata-katanya sendiri. Demi Allah, dia belum siap menikah dan mungkin tidak akan pernah siap. Pun dia tak mengenal lelaki itu.
"Papa ingin melihat Sayla menikah. Sudah waktunya Papa melakukan tanggung jawab terakhir Papa sebelum penyakit Papa bertambah parah, yaitu menikahkan Sayla dengan lelaki baik-baik. Laki-laki yang bertanggung jawab dan bersemangat kerja. Sayla sudah kenal orangnya dan Papa ingin Sayla menikah dengan dia."
Kenal maksud Papa sebenarnya yang seperti apa? Apakah tahu nama saja sudah cukup?
"Tidak mungkin selamanya Papa bersama Sayla. Sayla butuh seseorang yang melindungimu. Sayla lihat, tubuh Papa semakin hari makin tua. Papa ingin sebelum usia Papa habis, sudah ada seseorang yang mendampingi Sayla."
Lantas sanggupkah Sayla mengatakan tidak mau ketika Papa membahas-bahas usia? Sejak dulu pun Sayla tidak pernah bisa menidakkan perkataan Papa termasuk saat Papa mengambil Syahda dari Sayla.
Syahda Nadysa.
Tugas Sayla terhadap Syahda hanya mengandung, melahirkan, dan memberikan nama. Bukan ia tidak mau bersikap egois dengan mengambil Syahda dari Ayla. Sampai hari ini hatinya masih tidak rela melihat Syahda lebih mencintai Ayla dibanding dirinya yang melahirkan Syahda. Sayla pernah—mungkin sering—tak sengaja berkata kasar sehingga menyakiti perasaan kakak kembarnya. Semua itu terjadi secara spontan dan akhirnya dia sesali.
"Bisa jaga anak enggak sih?"
"Aku akan mengambil Syahda jika sesuatu yang buruk terjadi kepadanya."
"Sikap kamu itu kasar banget makanya sampai sekarang kamu belum dikasih hamil lagi."
Ayla memiliki Syahda, tetapi dia tidak tahu kenapa Sayla memberi nama putrinya Syahda Nadysa. Syahda yang berarti cantik dan mulia. Syahda tidak kotor seperti Sayla. Dia pantas menyandang nama itu. Sementara Nadysa tercetus begitu saja saat melihat wajah cantik bayi itu dan terbayang wajah Mondy. Nadysa anak Mondy dan Sayla.
"Mondy." Jari lentik menghapus air mata.
Sayla sama sekali tidak ingin tahu kabar pria itu. Berapa tahun Mondy mendekam di lembaga pemasyarakatan pun Sayla tidak peduli. Semua ini terjadi karena ulahnya. Mondy yang bertanggung jawab atas segala kerumitan hidup Sayla. Dan ... Mondy memang akan tanggung jawab sebelum Ergi melaporkan Mondy ke polisi dengan tuduhan pelanggaran ITE.
Tanpa disadari dirinya kini telah mengantre di loket kunjungan warga binaan lapas.
"Mbak!"
"Mbak!"
Sayla tergeragap saat sipir wanita yang bersuara galak menegurnya. Wajar sang petugas tampak kesal karena Sayla lebih banyak termenung. Dia hanya merasa ragu ingin lanjut atau tidak. Sayla tak memiliki tujuan ke tempat itu.
"Foto dulu, Mbak."
Kesempatan untuk membatalkan rencana sudah tak ada. Sipir itu mungkin akan melemparkan Sayla ke sel para pembunuh berantai apabila Sayla terkesan menghambat tugasnya. Gegas Sayla berdiri tegap ketika sang petugas berbaju biru laut mengarahkan kamera kecil ke arahnya.
Sayla ditunjukkan jalan ke sebuah pintu. Menunggu sebentar, lalu namanya dipanggil dan seorang sipir wanita lagi melakukan pemeriksaan ke tubuh Sayla. Setelah itu, Sayla menatap ngeri kepada tangannya yang distempel sebagai pengunjung dan pada lehernya digantungkan kartu kunjungan. Sayla disuruh menunggu di sebuah bangku panjang yang sudah ada beberapa warga binaan dan keluarganya.
"Waktunya dua puluh menit, Mbak, tolong dimanfaatkan sebaik-baiknya," ucap petugas sebelum meninggalkan Sayla.
Untuk sementara masalah yang menggelayuti otak Sayla hilang karena proses masuk ke lapas yang tidak mudah. Kini ketika sedang terdiam, Sayla kembali ingin menangis.
Dahulu hidup Sayla tidak semenyedihkan ini. Dia anak yang selalu bisa membuat orang tuanya bangga. Setiap pembagian rapot, Papa dan Mama akan tersenyum lebar melihat prestasi Sayla. Papa sangat senang ketika Sayla kuliah kebidanan walaupun bukan itu cita-citanya. Semua lancar-lancar saja. Semua dapat ia terima sampai pesta pertunangan Nada dan Dewa. Dia mengecewakan orang tua kesayangannya. Hidup Sayla berada di titik rendah dan tak bisa naik-naik lagi.
"Sayla."
Sayla nyaris tidak mengenali sosok pria berjaket biru di hadapannya. Selain muka yang ditumbuhi bulu, tubuh pria itu sangat kurus dibandingkan saat terakhir kali Sayla lihat. Hidung dan matalah yang dapat meyakinkan Sayla bahwa pria itu Mondy sebab bagian itu diturunkannya kepada Syahda.
Mondy duduk di seberang kursi Sayla. Laki-laki itu terlihat kaget, namun tak dapat menyembunyikan rasa senangnya saat melihat wanita yang duduk diam di hadapannya.
"Surprise dikunjungi kamu. Aku enggak pernah berharap akan dapat kunjungan seperti ini. Aku pikir mungkin aku bisa melihatmu saat sudah bebas. Itu juga kalau kebetulan ketemu atau kalau kamu tidak pindah ke rumah suamimu. Dan ... hari ini kamu datang, Sayla. Aku kaget dan tentu saja senang didatangi orang cantik—" Ocehan Mondy terpotong saat melihat air mata berjatuhan dari wajah Sayla.
Banyak yang ingin Mondy katakan kepada Sayla dalam waktu singkat itu. Jadi kalimat-kalimat yang ia ucapkan tidak terkontrol lagi. Semuanya keluar begitu saja seperti air yang terjun saat keran dibuka. Melihat tanggapan Sayla, dia tak berani bicara lagi.
Karena Sayla tak berhenti menangis, Mondy merasa dialah penyebabnya. "Aku minta maaf," ucap sang tahanan.
Mondy meraup wajahnya dengan tangan. Menopang siku ke meja, Mondy menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Mondy terlalu percaya diri bahwa Sayla datang menjenguknya karena ingin bercerita banyak hal. Mondy lupa diri dan bersikap seakan mereka teman baik yang telah lama tak bertemu. Dia salah. Lagi-lagi dia jadi penyebab tangisan Sayla.
"Maaf. Aku betul-betul minta maaf. Sungguh. Aku akan membayar semuanya. Aku akan melakukan apa saja asal kamu mau memaafkan aku. Asal kamu tidak menangis lagi, Sayla."
Sayla semakin terisak. Kemudian saat sipir mengingatkan bahwa waktu mereka habis, Mondy pun merasa matanya memberat. Dia mengusap kedua alat penglihat. Mondy masih menunggu dan Sayla tetap tak mengatakan satu patah kata pun.
Mondy berusaha tersenyum sebelum meninggalkan Sayla. Tak ia biarkan matanya basah, meskipun hatinya terasa terpuntir melihat air mata wanita yang dia sayangi. Sayang. Sayang. Mondy tak sadar sejak kapan nama Sayla mendiami hatinya. Yang pasti sejak beberapa tahun yang lalu bukan nama Ayla lagi yang ada dalam kepalanya, melainkan Sayla.
"Namanya Syahda Nadysa."
Gerakan kaki Mondy terhenti. Dia membalikkan badan, tak percaya pada suara yang baru saja dia dengar. Sayla mengatakan apa barusan?
"Dia perempuan. Syahda panggilannya. Nadysa adalah nama kita."
Sayla lebih dulu keluar dari tempat kunjungan meninggalkan Mondy yang akhirnya tidak dapat menahan air matanya keluar.
Syahda.
Akankah Mondy diberi kesempatan untuk bertemu putrinya?
***
"Say, apa itu?" Mama menarik tangan Sayla setelah Sayla menaikkan lengan baju sebelum membasuh tangan. Mereka berdua berdiri di depan kitchen table usai membersihkan piring makan malam.
Mama mungkin paham kenapa mata Sayla bengkak dan suaranya parau. Mama juga ada di ruangan yang sama ketika Papa memberitahukan soal perjodohan. Namun, tidak dengan stempel yang ada di lengan Sayla. Dia pergi diam-diam agar tidak ketahuan. Sayla lupa menghilangkan bekas tinta itu bahkan lupa bahwa cap itu ada sebagai bukti kunjungannya. Seandainya Sayla mandi dulu sebelum makan, barangkali tinta akan pudar bahkan hilang.
"Kamu pergi ke lapas?"
Mama yang menatap Sayla dengan binar lembut penuh sayang membuat Sayla lagi-lagi menangis. Istri papanya ini sangat khawatir kepada Sayla. Dari tadi malam Mama mengetuk kamar Sayla, ingin bicara dengannya.
"Say?"
Sayla mengangguk sebagai jawaban.
Mama menarik tubuh Sayla ke dalam pelukan. "Apakah ini berat, Say?"
Sayla mengangguk-angguk membuat buliran bening semakin lancar meluncur ke pipi.
"Mama akan bicara dengan Papa supaya berhenti merencanakan perjodohan."
"Enggak, Ma. Jangan lakukan itu."
Mama mengusap punggung tangan Sayla. "Say. Kamu menunggu Mondy, Sayang?"
Sayla memeluk tubuh Mama. Mendekap wanita yang telah membesarkannya itu dengan erat. Menyembunyikan tangisan yang tidak kunjung surut. Apalagi saat tangan Mama mengusap punggung Sayla, butiran bening semakin lancar mengalir.
"Papa harus tahu. Kita bisa membicarakan ini dengan Papa. Cukup dengan Syahda, kamu berhak untuk bahagia. Kalau kamu ingin menunggu Mondy, ya, Mama izinkan. Papa juga akan melakukannya untuk kamu."
Sayla menggeleng-geleng. "Say tidak menunggunya. Say tidak ... Say enggak ingin bertemu dia lagi. Say dan dia punya kehidupan yang berbeda. Tapi ... Say—Say nggak tega melihat Mondy."
"Kamu mencintai Mondy?"
Sayla langsung menjawab tidak. Jawaban yang percuma karena raut Mama terlihat maklum. Maklum karena Sayla berkilah atau maklum karena akhirnya Sayla jatuh cinta kepada pria selain Ergi. Sayla yakin ia tidak mencintai Mondy dan Mama hanya salah menyimpulkan.
Melihat keadaan Mondy membuat air mata Sayla semakin banyak mengalir. Ia merasa nasib Mondy tak kalah buruk dibandingkan dirinya. Sayla hanya tidak diakui sebagai ibu dari putri mereka, sedangkan Mondy belum melihat Syahda. Mondy telah lama tak menghirup udara bebas. Mondy telah lama tidak makan sesuatu yang enak jika diingat bahwa Mondy tergolong orang berada. Mondy tidak memakai pakaian mahal seperti biasa. Mondy menangis dalam rekaman video saat membatalkan pernikahan mereka.
"Say lupa membawa foto Syahda. Say hanya memberitahu nama anaknya. Seharusnya Say menceritakan tentang Syahda yang sangat mirip dengan Mondy. Say datang ke sana hanya diam. Say tidak berkata apa-apa selain mengucapkan nama anak kami. Semua itu keliru. Kedatangan Say justru membuat Mondy semakin merasa bersalah. Say yang salah, Ma. Say harusnya tidak menangis. Mondy akan makin menyalahkan dirinya sendiri. Dia nggak salah. Mondy sudah cukup menderita dibandingkan Say."
***
Muba, 28 Agustus 2021
Mau Sayla sama Mondy atau Putra? Lanjut besok ya.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro