Sayla [01]
Lama sekali baru bisa lanjut cerita Sayla.
Ada nggak yang menunggu kelanjutan Sayla dan Pelindung?
Yuk, save lagi cerita ini di library dan daftar bacaan karena bakalan Kasev update sampai tamat.
Terimakasih kepada Mami Menik hapsari1989 yang sudah memberikan cahaya penerang untuk Sayla dan Kakak.
Selamat membaca.
Headnote: (eh kalau di bawah namanya footnote kan?🤦♀️
Kasev sudah diizinkan menggunakan foto pribadi oleh cast Putra Pelindung. Jadi, bagi yang tidak suka silakan bayangkan orang lain aja. Kalau Kasev sendiri, sejak buat cerita, sudah suka sama cast ini. Dan sepanjang cerita yang dibayangkan adalah kakak ini. Ya ganteng, ya manis, ya cute, ya baby face, dan baiknya. Satpam lain lewat. 😁
***
Tepat pukul tiga sore Putra Pelindung Buana melakukan serah terima tugas jaga dengan Idot yang dapat sift sore. Seragam pdh atasan putih dan bawahan biru masih melekat pas di tubuh atletis sang pelindung. Laki-laki 26 tahun itu mengeluarkan gawai enam inci dari saku celana.
Putra Pelindung tak akan segan berpose di depan umum seperti sekarang ini. Dengan kulit eksotis manis bak gula jawa, sang pelindung punya banyak pengikut di Instagram. Minggu lalu follower-nya sudah mencapai sepuluh ribu kepala. Sebagian besar adalah kaum hawa. Putra juga mendapatkan endorsement walau tak berapa yang dia terima. Kalau disuruh berfoto tanpa baju, Putra tidak akan mau. Apalagi diminta buka celana, amit-amit. Lelaki berwajah imut itu punya harga diri yang cukup tinggi. Tubuhnya hanya akan dia lihatkan kepada istrinya kelak. Cita-cita mulia dari sang pelindung.
putrapelindung
putrapelindung Nama Kakak aja sudah pelindung. Tugas Kakak pun melindungi orang. Adek tinggal bilang kapan Kakak boleh melindungi Adek sepanjang hari. Kakak akan lindungi Adek dengan sepenuh hati. Termasuk melindungi hati Adek dari patah hati.
Lihat saja! Baru beberapa detik dipublikasikan, fotonya mendapatkan banyak serangan love. Bibir tipis bebas tembakau itu tersenyum miring. Ponselnya dia arahkan ke wajah untuk melakukan siaran langsung.
Sambil melambai kepada Idot yang berdiri di pos jaga, Putra mulai menyapa penggemar mayanya.
lili_ane Kak Putraaa miss U
sri_mauliya Kak Putra udah bebas? Ke mana rencana malam minggunya?
restuyani Jangan lupa makan, Kak, nanti sakit. Dedek sedih.
Hanya dengan perhatian dari fans dunia maya saja, hati Putra jadi gembira. Putra pun menyudahi siaran langsung dan menyimpan ponselnya.
Dua kaki panjang lelaki berdarah Komering itu terhenti di depan sepeda motor matic-nya. Putra menunda memasang helm saat matanya menangkap siluet seseorang.
"Bidadari surganya Kak Putra." Putra Pelindung bergumam.
Putra duduk di atas jok sepeda motor sambil mengamati wanita dengan hijab ungu itu melangkah ke pintu masuk mal.
"Noh, ayang ebeb lu lewat. Amankan burung! Jangan keburu ngepak sayap sebelum halal!"
Dasar satpam bahlul! Maki Putra dalam hati. Putra menggaruk-garuk leher belakangnya. Bidadari surganya Kak Putra pun tidak terlihat lagi dari pandangan mata sang pelindung.
Genap lima tahun Putra Pelindung Buana menyukai wanita berparas ayu yang baru lewat. Awalnya Putra tidak tahu siapa namanya dan anak siapa dia. Setahun setelah itu, wanita itu sendiri yang datang menghampiri dan bicara kepada Putra.
"Mas, tolongin saya? Saya sedang buru-buru ke tempat kerja. Tolong saya bawakan makanan ini untuk Pak Hadi di ruangan beliau. Bilang saja dari Sayla. Terima kasih banyak." Sang bidadari menangkupkan tangannya di dada.
Sayla. Nama yang cantik secantik pemiliknya. Namun, keterangan lainnya membuat angan Putra terhadap si bidadari kandas duluan. Harapan Putra Pelindung pun hancur setelah mengetahui bahwa sang bidadari ternyata anak yang punya Karra Grup. Bos besar tempat Putra mencari uang. Nasibnya bak pungguk merindukan bulan. Tapi, cinta Putra tetap awet dalam hati. Tak bisa hangus dan hilang menjadi abu. Rasa itu masih tersimpan sampai sekarang. Jadi, yang Putra gigihkan hanyalah doa kepada sang Khalik.
"Semoga kelak Adek jodohnya Kakak."
Putra memasang helm setelah berdoa. Satpam imut itu memundurkan sepeda motor sekaligus menekan starter pada setang kanan.
Kakak tidak pernah menghentikan harapan sebelum Adek pakai cincin orang di jari kanan.
"COPEEET!"
Putra menstandarkan kendaraannya. "Lari ke mana, Dot?" tanya sang pelindung. "Biar gue yang kejar." Tanpa melepaskan helm Putra berlari mengejar si jambret goblok.
Mereka enggak punya mata, ya? Tidak lihat ada satpam kekar sedang jaga di pos?
Si pencopet itu menemui rekannya yang duduk di sepeda motor gede kemudian bersiap naik di boncengan. Tepat saat itu Putra telah sampai di depan dua maling itu.
"Mana tasnya?" bentak Putra, sementara motor di depannya mulai digas kencang.
"Minggir!"
Putra dengan kemarahan di suhu tertinggi karena korban pencopetan tak lain adalah calon bidadari surganya tetap berdiri di depan ban roda dua tersebut. Sang satpam mengambil ancang-ancang untuk menarik jaket si copet yang dia yakini tempat memasukkan tas mahal milik Sayla.
Mesin motor menggerung. Bogem Putra mengenai wajah rekan si copet. Kaki panjangnya menghantam tangan pria berhelm.
Mau adu kekuatan helm, ayo! Putra melihat si pengendara mulai menekan starter. Dengan cepat ia menendang tangan komplotan jambret itu sehingga terlepas dari setang. Sigap Putra menarik kunci kontak lalu membuangnya ke tengah jalan.
Lahar panas dari sang jambret pun keluar. Ketiganya terlibat baku hantam. Putra punya ilmu bela diri. Namun, jika diserang dari arah depan dan belakang, ia nyaris tumbang. Putra hanya punya tekad yang kuat. Kalau tidak, mungkin sejak tadi dia tinggalkan.
Demi Adek, Kakak akan mempertaruhkan nyawa.
Malang sekali sang satpam yang tak tahu jika lawannya membawa senjata tajam. Kemeja putih kebanggaan Putra mencetak warna merah. Tubuhnya terbungkuk. Dua kali tusuk yang akhirnya membuat kaki Putra tak sanggup berdiri.
Tas Sayla! Putra belum rela usahanya sia-sia. Dia kembali berdiri dengan menahan rasa sakit lalu menyarangkan pukulan kepada dua lawan. Tepat saat Putra tak sanggup lagi bertahan, polisi datang membekuk calon tahanan.
***
putrapelindung
putrapelindung Saat sakit seperti ini, andai ada Adek yang suapkan Kakak makan.
Like yang masuk langsung puluhan dalam beberapa detik setelah status dipasang. Putra meletakkan gawainya di sisi ranjang rumah sakit tanpa ingin membaca komentar fans-nya.
"Gue kagak suka ditusuk. Gue sukanya menusuk," celoteh Idot yang sedang mengupas buah pisang.
"Harusnya lo yang ditusuk biar kempes tuh perut."
Idot menepuk-nepuk perut bolanya. "Gue nggak perlu dikempesin. Banyak yang gemas dengan perut ini."
"Assalamualaikum," sapa suara merdu memutus percakapan kedua petugas keamanan tersebut.
"Ouuuuh," lenguh Idot berlebihan. Bibir kecokelatannya ia dekatkan ke telinga sang pesakit, "Pasti lu rela ditusuk berkali-kali asalkan dapat kunjungan bidadari."
Idot langsung berdiri menghampiri tamu mereka. Setelah menjawab salam yang kata emak Idot suatu kewajiban, pria berperut helm SNI itu tersenyum ramah. "Mbak ini yang tasnya kemarin dijambret sampai Putra kena piso 'kan? Mau jenguk Kak Putra?"
Putra melihat raut rasa bersalah di wajah Sayla. Perempuan bertunik putih itu mengangguk. "Juga mengantarkan makanan."
Putra meneguk ludahnya yang terasa pahit. Adek tahu aja Kakak sedang susah makan.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih. Dan minta maaf karena membuat Masnya terluka."
Adek enggak perlu minta maaf. Kakak ikhlas. Dengan kejadian itu, Kakak bisa melihat wajah Adek dari dekat.
Uhuks! Idot batuk dibuat-buat. "Kak Putra pasti memaafkan. Sekarang Kak Putra lagi sariawan. Jadi belum bisa diajak ngomong."
Putra ingin duduk dan bicara panjang lebar, bertanya keadaan Sayla atas kejadian dua hari yang lalu sebelum dipotong oleh si calon bidadari surga.
"Saya permisi. Semoga lekas sehat." Sayla meninggalkan ruangan rawat Putra.
"Eling!" teriak Idot di depan muka Putra.
Kain pembatas di sisi kiri dan kanan mereka terbuka. Dua satpam itu mendapat pelototan atas kegaduhan yang Idot ciptakan. Ruangan itu memang terdiri dari empat tempat tidur yang masing-masing disekat oleh kain berwarna biru. Idot pun meminta maaf dengan menundukkan kepala pertanda menyesal.
"Kakak Putra jadi gagu melihat Adek datang," ejek Idot dan tertawa dengan memegang perut agar tidak menciptakan keributan lagi.
"Bawa perut lo pergi dari sini!"
Seorang pria sejati tidak boleh kalah oleh pisau. Putra tidak ingin lama-lama di rumah sakit. Selain tidak nyaman, tidur di sana pun berbayar. Lebih baik uangnya Putra simpan untuk modal menikahi anaknya Pak Hadi.
Setelah ingat bahwa mimpinya ketinggian, Putra menghela napas lemah. Semoga jodoh Adek dan Kakak didekatkan. Doa Putra tidak pernah jauh-jauh dari itu.
***
"Lu dipanggil ke ruangan bos," lapor Idot begitu Putra meletakkan helm di setang kendaraan.
Hari ini Putra mulai bekerja lagi. Ia tidak ingin cuti lama-lama, bisa dipotong gaji dan dia yang rugi. Luka di perutnya sudah mulai mengering. Pun seorang keamanan tidak boleh manja.
putrapelindung
putrapelindung Kembali pada rutinitas sehari-hari. Luka takkan menggoyahkan semangat Kakak untuk melindungi banyak orang, termasuk melindungi Adek yang belum sadar-sadar ada Kakak di sini yang selalu memperhatikan.
"Dipanggil? Ngapain, ya?"
Idot melenggang pergi membawa ransel hitam di punggung. Putra juga segera menuju lift untuk mencapai lantai di mana ruangan bos berada. Pintu jati dibukakan oleh seorang laki-laki tua yang dikenalnya sebagai sekretaris bos. Begitu masuk ruangan, Putra mengucapkan salam kepada pemilik beberapa mal besar itu.
Kakak sudah ketemu ayah Adek. Boleh langsung aja nih Kakak lamar?
Tangan Putra Pelindung itu merangkak naik ke leher belakang, menggaruk bagian yang tidak gatal. Dia menganalisis wajah calon mertua masa depan. Ah, apa Kakak punya keberanian bicara dengan ayah Adek yang kelihatan garang? Ayah Adek tidak makan sesama manusia 'kan?
"Maaf, Bapak memanggil saya?"
Hadi Baskara terlihat ringkih di balik tubuh besarnya, tetapi tatapan setajam elang masih mampu membuat lutut Putra goyah.
"Saya ingin membalas kebaikan Anda."
Jika dunia menuruti mau Putra, ia meminta dunia mengabulkan satu keinginannya. Putra ingin Pak Hadi membalas jasanya dengan memberikan putrinya yang cantik itu. Bolehkah Putra berharap hidupnya seindah kisah FTV pagi? Kisah cinta satpam dan putri majikan. Sepertinya Putra harus rajin-rajin berdoa agar keinginannya terkabul.
***
Muba, 25 Agustus 2021
Mau lanjut? Tolong bagi yang berkenan share cerita ini ya di sosmed.
Thankyou.
Visual mereka menurut Kasev. Kalian boleh bayangin yang lain.
Sayla Lovaiza Baskara 27 tahun
Putra Pelindung Buana 26 tahun
Syahda Nadysa Harahap 6 tahun
Mondy Alfa Satya Harahap 27 tahun
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro