Prolog
Hari itu sama dengan hari-hari biasanya. Ramai debu mesiu dan ledak tembakan. Hiruk pikuk yang jauh dari kedamaian. Sebagian orang perang, sisanya melelang.
Aku Dianna Wadden, salah satu korban pelelangan.
Dulu, aku sama seperti para remaja tujuh belas tahun pada umumnya. Berdandan mempercantik diri dan mulai mengenal lawan jenis. Berawal dari sana malapetaka datang.
Jacob Hann, lelaki asal Swedia yang mengajakku kencan. Kencan pertama kami sukses dan amat berkesan, begitupula yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Sampai dia menjadikanku pacarnya, yang dengan senang hati ku anggukkan. Perjalanan cinta yang romantis dan hangat kami lakoni. Benar-benar hubungan idaman. Jack merupakan kekasih ideal; perhatian, pengertian, lembut, dan penyayang. Aku merasa seolah-olah ratu Swedia jika bersamanya. Jack selalu menjadikanku yang pertama diatas segalanya.
Sampai akhirnya kedok itu terbongkar. Aku tidak sengaja mendengar obrolan Jack dengan ibunya. Ibu Jack merupakan seorang mucikari didaerahnya. Rumah bordil miliknya berkerjasama dengan Jerman, sebagai tempat hiburan para veteran atau prajurit perang. Mereka membutuhkan tumbal baru nan segar untuk disajikan pada para tentara. Dan aku, korban selanjutnya.
Terpuruk pada keadaan payah. Tertatih aku bangkit. Terduduk aku letih. Sejak itu aku ingkar. Tidak ada Tuhan! Mana Tuhan yang selalu mengasihi hambanya? Apa aku tidak termasuk dalam list umatnya? Lalu untuk apa aku menghabiskan hari Mingguku berlama-lama di Gereja, jika Ia tidak sama sekali membantuku? Ku pertanyakan dimana pertolongannya!
Pada titik terbawah dalam hidupku, aku merasakan apa itu bosan. Aku bosan! Bosan terlalu takut, bosan terlalu lemah, bosan menjadi budak! Sifat setan (yang pada dasarnya memang tertanam pada jiwa setiap manusia) menyulur naik. Merambati pembuluh darahku. Menyelinap di nadiku. Bersatu-padu disetiap serat dagingku.
Dan akupun melakukannya. Pemberontakan.
Setiap insan berhak merdeka. Bebas. Bahagia.
Akupun berhak.
Aku berhak merdeka dari siksa manusia.
Aku berhak bebas dari belenggu kotor birahi.
Aku berhak bahagia. Bahagia diatas penderitaannya. Bahagia atas darahnya.
Darah. Literan darah kuteguk tandas. Dan yang kuinginkan hanyalah darahnya. Jacob Hann. []
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro