
Lia
Kami masih melakukan demo anti pemerintah, kami berteriak-teriak tidak jelas kearah para polawan sementara rombongan mahasiswa lain dan para ormas nasionalis dan keagamaan berorasi menentang rezim yang ingin membebaskan komunis di Indonesia.
"Kakak cantik, I lope-lope you," kata beberapa Mahasiswa di rombongan kami, dasar mahasiwa hidung belang.
Apa kami serius menentang bloshevik? Aku rasa kami tidak serius, Andre dengan lantang berkata, "Marxisme adalah ideology asing, bila kita mengikuti marxisme kita sama saja menyerahkan diri ini dengan pihak asing," dasar si Andre, di mataku dia juga terlihat seperti orang asing yang menjadi antek asing.
Dari pada mendengar orasi Andre beberapa Mahasiswi di belakang kami berbisik-bisik, mereka tidak menyukai kelakuan sebagian kawan-kawan kami mengoda para Polwan, "Dasar buaya peliharaan asing!"
Kami akui para Polwan memang terlihat sangat cantik, penampilan mereka rapi, tubuh mereka wangi, pipi mereka merah, kulit mereka bersih, mata mereka bening, rambut mereka tertata rapi walau beberapa kali ditiup angin, bibir mereka kecil, merah dan basah, itu lah yang membuat kawan-kawan kami yang mesum kegirangan dan salah tingkah.
Aku menjadi gugup di barisan belakang, yang mebuatku gugup adalah Lia ada sebelah kananku, lalu Sasa muncul disebelah kiriku, aku dikepung dari kedua sisi. Sasa muncul sambil melihatku, hidungnya kebang kempis dan alisnya bergerak-gerak, apa-apaan sih si Sasa, dasar cewek aneh.
Lia tiba-tiba berteriak, "Adit! Jangan nakal, awas," kata Lia pada didepan sambil tersenyum-senyum.
"Lia pacarnya Adit?" Sialan! Adit si bocah soviet, dia merampas Lia dariku, revolusi selalu saja merampas sesuatu yang bisa dia rampas, revolusi merampas Lia dariku. tapi masa bodoh lah, aku tidak punya perasaan apa-apa lagi denganya.
"Iya sudah lama, emang kenapa? Ada masalah?!" jawab Lia jutek seperti cewek anak SMP, aku kira Lia type wanita yang ke ibuan, namun ternyata dia type cewek yang suka jutek, type ini paling tidak aku sukai karena terlihat kekanak-kanakan. Jadi jangan malihat buku dari sampulnya, tapi wajib priksa juga harganya dan jumlah digit nolnya.
Adit mendekat kearah kami bertiga, melihat kedatangan Adit si Sasa langsung kabur, dia memang dari dulu sangat tergila-gila dengan Adit. Melihat Adit datang Sasa langsung cepat-cepat pergi kebarisan belakang dan ini artinya adalah momen yang tepat untuk tersenyum jahat, hari ini begitu penuh arti seakan aku baru saja memenangkan kejuaran olimpiade gulat bebas, terjun bebas, lompat bebes, dan renang bebas.
"Homoz!" Teriak teman-temanku yang ada di barisan depan sambil marah kearah seseorang di depan barisan kami, terlihat orang itu mengenakan kemeja kuning dan jas hijau, dia juga mengenakan peci hitam, pria itu membentak dan menyuruh kami pulang.
"Kalian ini anak-anak bau kencur! Pulang sana, mau kualat ya mendemo Presiden," kata orang itu, dia dikawal beberapa orang yang berseragam mirip tentara geriliawan yang suka usil dengan blok barat sekitar tahun 80an, apa mereka datang dari masalalu yang sudah berlalu?
"Homoz! Homoz! Homoz!" Teriak Mahasiswa di rombongan kami makin marah padanya, "Homo!"
"Kompos, homoz. Siapa yang kompos homoz?" aku jadi penasaran.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro