Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

21. Melepas

Gita sudah tidak tahu lagi. Bahkan ia sudah merasa tidak menginjak bumi. Sentuhan demi sentuhan di sekujur tubuh membuatnya lupa diri, bahkan tidak sadar bahwa tubuhnya tidak terlapisi satu benang. Di atas ranjang yang menjadi saksi bisu dirinya memasrahkan diri berada dalam kungkungan Tama yang mulai bergerak setelah melakukan pemanasan.

"Tama," lirih Gita saat Tama mulai mendesak ingin masuk namun masih berusaha digesekkan.

"Iya, Sayang, kenapa. Aku mau masuk ini."

"Aku takut."

Satu tangan Tama mengusap pipi sang kekasih yang Sinar matanya pun meredup. Ingin memejam tapi juga ingin melihat dengan jelas.

"Takut apa, Sayang. Aku bakalan pelan kok."

Gita langsung menjerit tertahan dengan kedua tangan meremas sprei, begitu sesuatu melesak masuk menembus tanpa ada penghalang. Seolah memang sudah terbiasa masuk, hanya saja sedikit perih dirasakan Gita dan sesak pastinya.

Gita memejamkan matanya kuat-kuat, bahkan ketika Tama mulai bergerak perlahan semakin cepat diiring rintihan yang keluar begitu saja tanpa disadari Gita. Tangannya masih mencengkeram sprei, namun begitu gerakan Tama semakin cepat ia malah mencengkram lengan laki-laki itu.

Gita tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Bahkan ia merasa malu sekaligus bodoh sekali merintih  seperti ini.

"Sayang buka matanya lihat aku," pinta Tama.

Gita malah menggeleng. Ia tetap memejamkan mata tidak berani menatap Tama. Ia sungguh malu bahkan pipinya saja terasa panas. Sungguh ini terlalu memalukan dalam hidup. Namun tak semenyakitkan yang ia bayangkan.

Tama bergerak semakin cepat bahkan kedua kaki Gita sudah ditekuk untuk semakin memperdalam hentakannya.

Remasan pada dua gundukan yang ujungnya mengeras itu pun akan membuat Gita menggila. Ia sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan merasa malu karena malah merintih bahkan menjerit, kala Tama menggerayangi. Gita diam saja bingung harus membalas seperti apa.

Yang Gita tahu, sesuatu datang saat Tama mulai bergerak semakin liar. Gita menggapai, mencengkeram kuat dan tak peduli lagi dengan keadaannya.

Tama menggantikan telapak tangan dengan bibir, sehingga saat pelepasan itu jeritan Gita teredam. Agar tak sampai menghebohkan kamar Sofi yang bisa saja didengar oleh ibu dan anaknya.

Merasa lega, Tama melepas ciumannya. Memperhatikan sang istri yang baru saja mendapatkan pelepasan pertamanya. Ia akan membuat sang istri mendapatkannya lagi dan lagi.

Gita pikir setelah itu ia bisa terbebas, rupanya salah. Tubuhnya malah dibalik oleh Tama dan laki-laki itu mulai melancarkan aksinya sampai Gita lemah tak berdaya. Ambruk di atas kasur dengan napas terengah basah namun juga puas.

Momen pertama Gita melepas diri di hadapan Tama dengan keadaan yang melelahkan. Tama sendiri pun juga berbaring di samping mengatur napas.

"Makasih, Sayang," kata Tama membelai rambut Gita yang tidur tengkurap.

Gita tak menjawab, hanya dehaman karena matanya sudah terpejam. I lelah dan mengantuk sekali.

Melihat Gita yang kelelahan, Tama membiarkan saja perempuan itu. Ia sendiri turun dari ranjang mengambil bajunya dan keluar ke kamar mandi.

Tama tidak langsung mandi malam ini, hanya membersihkan diri setelah itu kembali membangunkan Gita agar perempuan itu membasuh dulu sebelum semakin lelap.

"Sayang bersihkan dulu nanti tidur lagi. Buruan," kata Tama membantu Gita untuk duduk.

Perempuan itu terlalu ngantuk, dengan mata setengah memejam dia dibantu Tama memakai baju untuk menuju kamar mandi. Setelahnya baru merasa lebih segar dan kembali kamar melanjutkan tidur  mengisi tenaganya.

***

Subuh-subuh Gita sangat malu karena mandi keramas. Ia khawatir Sofi akan bertanya padanya. Maka dari itu Gita sedikit berlama-lama mengeringkan rambut di depan kipas karena tidak punya hair dryer. Setelah itu mengikat rambutnya ke atas, barulah Gita ke dapur menyiapkan makanan. Bebeda sekali dengan Tama yang terlihat santai dengan rambut basah yang sudah dipamerkan menyapu halaman dibantu Aluna.

Selesai sarapan, Tama mengeluarkan motor menuju klinik untuk mendaftarkan periksa karena hari ini Sofi akan kontrol.

Tama berangkat kerja pagi ini dengan perasaan yang penuh kebahagiaan, setelah semalam ia mengecas hingga full. Pagi ini ia jadi lebih semangat seperti biasa. Setelah menurunkan Alona di sekolah, Tama lanjut ke rumah sekadar mengecek sebentar.

Tetangga samping rumah menyapa Tama lewat jendela dekat jemuran rumah.

"Mas Tama, kok gak pernah di rumah emang ke mana?"

"Nginep di rumah mertua dulu soalnya lagi sakit," jawab Tama ramah.

"Yang bersih-bersih rumah kok Mas Tama. Emangnya Mbak Gita nggak inget rumahnya sendiri?"

"Ibunya Gita kan perlu dirawat, nggak bisa ditinggal sendirian. Nggak apa-apa lah rumah biar aku aja yang bersihin."

"Ih kok mau sih repot-repot bersihin rumah. Kenapa nggak ibunya Mbak Gita suruh tinggal di sini. Lagian di sana juga tinggal sendiri kan?"

"Pengennya Ibu tetap di sana. Udah ya, Mbak aku mau berangkat kerja nih. Udah selesai nyapunya, pamit Tama yang tak heran. Memang begitu, suka dengan kekepoan tetangga Tama.

Di rumah, Gita dan Sofi sedang bersiap untuk berangkat kontrol. Pelan-pelan Sofi jalan menuju teras, di mana Gita sedang memanaskan motor.

"Ada yang dibawa lagi nggak, Bu?" tanya Gita karena ia akan segera mengunci pintu rumah.

"Nggak ada kok, ayo berangkat sekarang."

Gita mengunci rumah, membonceng Sofi menuju Klinik. Luka-luka yang dialami Sofi memang sudah kering, hanya saja pasti berbekas. Setelah lukanya nanti lebih mengering lagi, Gita berencana memijatkan Sofi.

Sebelum pulang ke rumah, Gita mampir dulu ke pasar. Sudah lama ia tidak ke tempat tersebut. Hari-hari mengandalkan penjual sayur lewat saja untuk kebutuhan memasak. Memang harganya lebih mahal ketimbang beli di pasar.

Sofi menunggu sambil duduk di depan toko yang masih tutup, sementara Gita masuk ke pasar untuk berbelanja beberapa kebutuhan yang bisa bertahan lama dan tidak perlu bolak-balik belanja ke warung.

Saat mampir membeli bawang, Gita melihat sosok yang tidak asing baginya tengah belanja di lapak sebelahnya. Gita mendekat, menepuk pundak perempuan itu sampai menoleh.

Perempuan tersebut langsung melotot kaget saat mendapati Gita menyapanya.

"Git, Gita?"

"Emi."

Emi menelan ludah karena rasa kaget dan tangannya sedikit gemetar. Berbanding terbalik dengan Gita yang ia lihat malah tersenyum ke arahnya, merasa senang bahkan mengajak berjabat tangan.

"Astaga, Emi, gimana kabarnya. Lama nggak ketemu," sapa Gita riang karena merasa akhirnya setelah ia berinteraksi dengan Nova meskipun lewat sosial media akhirnya bertemu juga dengan teman kuliah yang secara nyata. Sat jurusan dengannya. Bahkan ia sering pulang bersama. Kos mereka pun juga dekat.

"Eh iya anu aku baik kok. Kamu sendiri gimana?" jawab Emi terbata-bata yang begitu disadari oleh Gita.

Sungguh merasa aneh. Kenapa. Ada apa antara dirinya dan Emi. Kenapa tanggapan Emi seperti itu bahkan seperti ada sesuatu yang disembunyikan perempuan itu. Apakah dulu mereka bertengkar atau bagaimana. Kenapa Emi melihat dirinya seperti melihat hantu, ketakutan dan tangannya saja gemetar begitu Gita berjabatan tangan.

"Aku baik kok tapi kamu kok kayaknya nggak baik-baik aja ya, Em. Emang ada apa?"

Emi makin gelisah dan ingin kabur dari tempat itu sekarang juga.

***
Gita jadi bingung, kenapa Emi menghindarinya seolah-olah mereka bukan teman lama yang kembali bertemu. Apakah begitu reaksi seorang teman lama bertemu dengan teman lainnya, kecuali jika Emi punya kesalahan. Namun kesalahan apa? Bukankah ia dan Emi berteman baik. Bahkan ia dan Emi juga bermain game yang sama. Ah Gita jadi ingat. Bagaimana kabar Emi di game tersebut ya.

Sampai di rumah Gita pun langsung membuka ponselnya dan mencari akun Emi. Sayang akun tersebut memang tidak ada. Entah sudah dihapus atau ganti nama.

Terlanjur masuk ke game, Gita melanjutkan sekalian. Ia masuk ke room bule. Di sana rupanya sedang membahas item gratisan dari game tersebut. Gita pun mengikuti beberapa orang menuju rokm yang menyediakan item gratisan berupa minuman.

Setelah mendapatkannya, Gita pindah ke room miliknya sendiri. Ia memang punya room sendiri tapi tidak ada DJ untuk memainkan, sehingga jarang orang berkunjung. Daya tarik room pribadi adalah DJ, di mana semua pengunjung bisa memainkan dan mendengarkan lagu.  Namun tidak jarang beberapa room yang tak ada DJ pun juga kerap dikunjungi teman-temannya.

Masuk di room sekadar parkir avatar, Gita menelusuri beberapa akun temannya yang ia ingat. Mencari apakah masih aktif atau tidak. Beberapa masih online dilihat dari tanggal berapa akun tersebut login. Ada beberapa yang vakum.

Gita penasaran dengan tingkah Emi barusan. Mungkin saja ia dan Emi bertengkar di game. Kalah di dunia nyata, sepertinya tidak mungkin. Gita yakin ia dan Emi berteman baik terus. Setiap hari pun mereka satu kelas, pulang juga satu jalan. Apa yang diributkan. Ia bukan anak kecil lagi yang bertengkar di kelas.

Panggilan dari Sofi membuat Gita keluar dari game tersebut. Ia hampiri sang ibu yang katanya ingin diambilkan ponselnya di kamar, S
Sementara Sofi sudah terlanjur tiduran selonjor depan televisi.

"Bu," kata Gita.

"Kenapa?"

"Waktu aku kuliah dulu pernah nggak berantem sama temen yang sampai aku curhat ke Ibu?"

Sofi heran. "Kenapa kamu tanya kayak gitu?'

"Aku tadi ketemu sama Emi, temenku pas kuliah. Kok dia kayak menghindar ya waktu ketemu sama aku. Emangnya aku dulu pernah bikin salah sama dia apa gimana?"

Sofi mengingat nama yang disebutkan oleh Gita. Sopi pun teringat kejadian yang begitu menghebohkan, membuat Gita mogok segala-gala.

"Oh Emi yang itu, yang sama Reval itu?"

Hal yang tidak diperkirakan Gita terucap. Emi dan Reval. Apa hubungannya. Bukankah Eni itu naksirnya dengan Tama ya kenapa malah jadi Reval?

"Loh kok Emi sama Reval. Emangnya mereka kenapa?"

Sofi sebenarnya enggan menjawab hal-hal tersebut, takut menyinggung perasaan Gita. Kisah yang sudah terkubur lama. Lagi pula Gita juga sudah bahagia dengan Tama. Kenapa malah mengorek soal masa lalu yang menyakitkan. Sofi pun buru-buru mengalihkan pembicaraan sama seperti saat ditanya dulu.

"Git, ambilkan minum dong udah tiduran begini jadi males turun dan jalan ke dapur,"  pinta Sofi.

Menurut, Gita mengambilkan minum dan membawanya ke depan televisi. Masih dengan tekad yang sekuat baja, Gita masih penasaran dengan hubungan Emi dan Reval. Saat Sofi ditanya lagi, tetap tidak mau mengatakannya. Sang ibu meminta Gita untuk tidak bertanya hal tersebut beralasan Sofi ingin tiduran. Berpesan saat zuhur minta dibangunkan.

***
"Aku mau nanya,"  kata Gita saat ia sedang berdua dengan Tama di meja makan, setelah semua orang sudah masuk ke kamar.

Tama makan lebih malam karena ia juga baru pulang. Ia tadi takziyah dulu dan mampir ke rumah karena harus mengisi token listrik. Lupa tadi pagi mengisi. Jadilah Gita menemani Tama makan malam di pukul sembilan lewat enam belas menit.

"Tanya apa kok kayak serius amat," komentar Tama yang melihat Gita terlihat berapi-api.

Wanita dengan rambut yang dicepol ke atas itu mencondongkan tubuh menempel ke meja.

"Kamu ingat Emi nggak. Temenku waktu kuliah dulu. Tadi aku ketemu dia di hari pasar tapi dia malah takut lihat aku."

Tama yang tengah mengunyah tahu langsung berhenti. Hal itu malah membuat Gita merasa curiga. Benar pasti dugaannya. Jika ia dan Emi punya masalah di masa lalu. Baru disinggung soal nama saja Tama langsung terdiam tanpa kata.

"Nah kan pasti ada sesuatu. Kamu aja sampai diam membisu begitu. Kaget apalagi aku. Ceritain kenapa aku sama Emi dulu!" desak Gita.

Pratama kembali mengunyah tahu, membiarkannya tertelan lebih dahulu baru ia mengambil minum. "Kamu sama Emi emang ada masalah tapi kayaknya nggak perlu dibahas lagi deh. Sekarang bukannya kamu udah nggak mau bahas itu lagi maunya lupain aja?"

"Tapi aku pengen tau sekarang."

Gita bingung juga harus memaksa Tama bagaimana untuk menceritakan kejadian tersebut.

"Kasih intinya aja deh masalahku sama Emi gimana. Kok kata ibu ada bawa-bawa nama Reval segala."

Tama makan bingung dengan sikap istrinya ini. Kenapa sudah berlalu sekian tahun malah mengungkit masalah yang sudah lama. "Kamu kenapa sih, Sayang. Udah lupain aja, kamu bisa sampai di titik ini aja perjuangannya luar biasa loh."

"Iya tahu."

Gita diam tidak tahu lagi harus berlasan apalagi. Memang sih sedikit aneh bertanya soal masa lalunya, apalagi hal itu menyakitkan. Sementara rasa sakit itu harusnya diri sendiri yang tahu, malah bertanya pada Tama. Orang lain yang hanya menjadi saksi, bukan orang yang merasakan.

Melihat Gita yang manyun sambil menggaruk-ngaruk gelas membuat Tama geleng-geleng kepala.

"Nggak usah diungkit lagi masalah yang berlalu. Nanti kamu sakit hati lagi. Jalani aja masa sekarang, ada aku sama kamu dan Luna. Biar Reval dan Emi punya cerita mereka masing-masing. Mungkin juga mereka udah bahagia, udah punya anak yang usianya tak jauh beda sama Luna."

Gita yang tadinya cemberut langsung membelalak tak percaya. Reval dan Emi punya anak. Ia dan Reval tidak jadi menikah karena Emi, seperti itukah alasan ia tidak bersama dengan Reval?  Atau mungkin karena Reval dan Emi punya hubungan sehingga hubungannya berakhir karena merasa dikhianati oleh pacar dan sahabatnya? Gita punya dua kemungkinan tersebut, setidaknya ada petunjuk lain yang bisa ia dapat.

_________

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro