Chapter 6
Makan malam hari ini sukiyaki, menu makanan yang sudah lama Taka tidak gunakan sebagai menu makan malam semenjak kedua orang tuanya kembali ke Hokkaido dan membiarkannya tinggal di Kota Leosaka ini. Taka tidak ikut bersama dengan orang tuanya karena Taka malas pindah sekolah dan waktu mereka masih SD, Yamato pernah merengek pada Taka untuk tidak meninggalkannya, dahulu mereka berdua bagai prangko dan amplop. Taka sebenarnya sudah risih ditempel terus sama Yamato, tetapi karena hanya Yamato yang memberanikan diri mengusik kehidupannya yang damai dan mereka sempat bertetangga. Taka memaklumi semua tingkah absurd Yamato, terkadang tingkahnya itu bisa menghiburnya ketika saat sedang sedih.
Taka makan sukiyaki di dalam mangkuk kecil putihnya sembari memperhatikan sekitar, makan bersama dengan keluarga Yamato, sudah lama Taka tidak merasa hangat seperti ini, tak disangka dari wajah dinginnya itu muncul senyum tipis, selama orang tuanya berada di Hokkaido dia selalu makan sendiri sambil menonton TV, hanya saja keluarga ini sering mengagetkannya, ya tentu saja, keluarga unik ini berhasil membuat Taka sering overthinking.
Misalnya, di tengah makan malam bersama hangatnya sukiyaki ini kepala keluarga Akaba membuka pembicaraan.
"Fuh ... Taka, bagaimana hubunganmu dengan Yamato? Masih harmonis seperti biasa 'kan?"
Pertanyaan dadakan itu hampir membuat Taka mengeluarkan kuah sukiyaki yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
"Ayah, tidak usah bertanya yang aneh-aneh pada Taka!" sambar Yamato, kedua pipinya merah menahan malu.
"Fuh ... ayah mempertanyakannya karena tingkahmu fals."
"Mamah, kakak dan ayah bakal berantem lagi~, " adu Lula sambil memakan udon dari mangkoknya.
Ibu memejamkan mata, wajahnya berkerut seperti sedang menahan amarah. "Sudah, kalian makan saja, abaikan mereka berdua."
Taka bisa merasakan keseruan antara ayah dan anak di meja makan ini, Taka cukup berterima kasih pada Yamato sudah membuka suara, jadi dia tidak usah menjawabnya, Taka sendiri bingung mau menjawabnya bagaimana. Hubungan dia dengan Yamato biasa saja, tidak ada yang berbeda dari dahulu, hanya saja Yamato semakin bodoh di matanya, maniak american football.
Lalu topik pun dialihkan oleh ibu. "Ah iya, Taka nanti kamu ingin menginap atau pulang? Kalau kamu pulang akan diantarkan Yamato."
Gerak-gerik mata Taka menandakan dirinya gugup untuk menjawab, ini sudah larut malam, tidak ingin merepotkan Yamato untuk mengantarkannya sampai rumah, tetapi kalau menginap pun akan merepotkan yang punya rumah. Taka diam beberapa saat, disaat sedang mencari jawaban yang cocok Yamato bilang padanya.
"Tidak apa Taka, aku akan antar kamu pulang kalau tidak ingin menginap, kalau kamu mau menginap juga tidak apa, kamu tidak merepotkan kami kok, malahan kami senang dan Lula jadi ada teman di rumah yang sesama perempuan selain ibu."
Ucapan Yamato tepat mengenai isi pikirannya, tidak mengerti kenapa Yamato bisa berkata seperti itu.
Kepala Taka sedikit menunduk, wajahnya kini tertutupi poni. "Aku pulang saja, sehabis makan aku langsung pulang."
"Beneran nih?"
"Iya," balasnya singkat.
Perkiraan Taka pembicaraan masalah ini sudah tuntas tetapi mulut jahil ayahnya Yamato kembali memanaskan suasana dan menambah ketegangan. Taka panik tidak karuan.
"Daripada hanya mengantarkannya saja, bagaimana kalau kamu sekalian menginap di rumah Taka saja, Yamato." Sepasang mata merah ayahnya menatap Yamato penuh makna.
Yamato terbatuk-batuk saat sedang meminum kuah sukiyaki di mangkuknya, tangan besarnya memukul-mukul dada, tangan kanannya membanting mangkuk putih ke meja. Taka diam tidak ingin berbicara, lebih baik dia membersihkan mulut Lula dengan tisu, pura-pura tidak mendengar perkataan tadi, namun dalam hatinya Taka sendiri tidak keberatan kalau Yamato mau menginap di rumahnya, ada orang yang bisa dia suruh-suruh.
"Ayah, hentikan. Jangan membuatku malu."
"Kayaknya Taka juga tidak keberatan kalau kamu mau menginap di rumahnya," kata ayah.
Lalu ibu menimpali, "Menginap di rumah sahabat itu hal biasa, kecuali kalian memang ada hubungan lebih dari sahabat."
Respon Taka terhadap itu adalah menggigit sumpit dengan gemas, kedua pipinya merah merona, untungnya dia bisa menyembunyikan wajahnya itu dengan menunduk dan tertutupi oleh poni perak panjangnya, sementara Yamato wajahnya merah padam, gerak tubuhnya menjadi kaku seperti robot. Lula menengok ke kiri dan kanan, setelah dia menghabiskan semua isi mangkuknya sampai bersih dia mendapatkan sebuah kesimpulan.
"Kak Yamato ingin menginap di rumah Kak Taka tapi tidak bisa mengatakannya~, gitu 'kan?"
Yamato menyahut, "Bukan begitu, ada-ada saja kamu."
Lula menyeringai jahil. "Terus kenapa muka kakak merah, irama jantung kakaknya juga cepat."
"Fuh ... kalian berdua memiliki melodi yang unik, tapi ya itu kembali lagi ke kalian."
"Hah ... Jadi bagaimana Taka?"
Kepala Taka naik. "I ... iya Tante? Taka habis ini pulang, Yamato tidak usah mengantarku ... aku ... aku bisa sendiri." Taka menaruh sumpit yang dipegangnya berbaring di atas mangkuk, tubuhnya secara otomatis mengangkat tubuhnya naik, lalu membungkuk sedikit sembari mengucapkan terima kasih, Taka pun langsung lari menuju genkan.
"Yamato sana antarkan Taka pulang, kalau kamu sekalian mau menginap bawa beberapa bajumu untuk besok."
Yamato diam sambil berpikir, tangan kirinya mengambil gelas, menegak air di dalamnya sampai habis, gelas di tangan Yamato mendarat cukup keras ke meja, kelihatannya Yamato berpikir keras tentang hal ini.
"Fuh ... kalau kamu lama membuat keputusan Taka keburu keluar rumah ini sendirian, kalau dia diculik bagaimana?"
"Nanti Keluarga Kamiya bisa membunuhmu," bisik ibunya.
"Kak ayo cepat!"
Yamato mendorong kursinya ke belakang, lalu berdiri. "Iya-iya, aku antarkan Taka dan menemaninya sampai besok."
"Hati-hati Yamato."
"Iya bu, selamat malam."
Yamato menghela nafas panjang, sebelum mengambil baju di kamarnya, dia mencegat Taka terlebih dahulu, jaga-jaga takut Taka langsung keluar saja dari rumah ini sebelum dia selesai mengepak barangnya. Tepukan kecil di pundak Taka, langsung mengejutkan si gadis perak dan menengok ke belakang.
"Aku pulang sendiri."
"Jangan begitu dong Taka, nanti kalau ada apa-apa pasti aku yang akan dimarahi ayahmu, aku masih sedikit trauma pas ayahmu memarahiku."
Taka teringat saat Yamato tidak sengaja memukul kepalanya dari belakang di hadapan ayahnya. Saat itu Yamato hampir menjadi makanan serigala peliharaan ayahnya. Taka jadi sadar akan sesuatu, dampak keluarga mereka saling kenal dan dekat satu sama lain itu sangat mengerikan.
"Iya, aku akan menunggu dan terima kasih."
"Terima kasih untuk apa?"
"Mau menginap di rumahku ...," ucap Taka lirih sembari menyembunyikan wajahnya.
Yamato tersenyum. "Tidak usah sungkan, kita berdua 'kan sahabat, aku berpikir kamu pasti kesepian selalu sendirian di rumah jadi ya untuk malam ini aku akan menemanimu selagi besok libur." Yamato pun membalikkan badannya lalu berjalan menuju tangga.
Taka tersenyum tipis, tidak buruk juga berteman dengan Yamato. Drrt ... drrt ..., Taka dikejutkan getaran dari ponsel miliknya di saku rok, ketika dicek ternyata ada pesan dari Karin.
🗡️🦅
From: Karin
Bagaimana harimu Taka? Oh iya tadi aku liat Yamato ke lapangan baseball.
🗡️🦅
Taka berkedip, sepertinya Karin memang suka memperhatikan gerak-gerik Yamato, tidak salah sih toh semua novel buatan Karin yang terbit itu terinspirasi daru hubungan dia dan Yamato, mini comic yang digambar Karin juga tidak jauh dari konflik atau kekesalannya terhadap Yamato. kalau tidak salah juga sahabatnya pirangnya ini membuat anthology khusus tentang dia dan Yamato. Taka tidak pernah merasa risih, malahan senang bisa membantu Karin dalam mendapatkan ide dan terus berkarya.
Semua karya Karin tidak pernah Yamato curigai, Yamato tidak mengambil pusing walaupun karakter yang ada di dalam novel atau komik Karin itu benar-benar mirip dengannya termasuk wujud dari si karakter. Entahlah, walaupun Yamato masuk ke dalam murid paling jenius di Akademi Skyland masih ada sisi naifnya.
Taka pun membalas pesan Karin dengan senang hati, dalam waktu hitungan detik pesan baru dari Karin muncul di layar ponsel Taka.
🗡️🦅
From: Karin
Habis tingkah Yamato aneh sih ... dia keluar dari ruang ganti pun kaya maling, diem-diem, aku tidak sadar telah memperhatikannya hehe, Taka tidak cemburu 'kan? TvT aku tidak menyukai Yamato kok, suerr.
🗡️🦅
Sebuah tawa kecil keluar dari mulut Taka setelah membaca pesan dari Karin, dalam kepalanya terbayang Karin yang gugup dan suaranya dikala panik bercampur takut. "Ngapain aku cemburu? Yamato emang suka aneh tingkahnya, patut dicurigai, awasi dia terus Karin." Taka mengeja pesan balas untuk Karin, jempolnya pun menekan tombol "send".
"Taka~, ayok, aku udah siap."
Taka memasukan ponselnya kembali ke saku rok, berdiri dari lantai kayu dan mengangguk.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro