Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Epilog

by sirhayani

part of  zhkansas

EPILOG

Hanya orang-orang berada yang bisa memakai tanah di area pemakaman elit daerah kalangan atas untuk keluarga mereka yang telah meninggal dunia. Beberapa orang baru saja selesai berziarah. Mereka akan melewati pintu keluar, tetapi sebelum itu pengawas area kembali melacak cip penandanya.

Callahan berdiri di pintu masuk dan membiarkan pengawas area melacak cip penandanya. Setelah pengawas area memastikan bahwa dia benar-benar warga dari kalangan atas, remaja laki-laki itu segera memasuki area pemakaman dengan langkah pelan dan berhenti di depan sebuah makam baru yang tertulis sebuah nama di nisannya.

Kalila

Ibu telah meninggal dunia di hari Ibu menceritakan pengalaman hidupnya. Kala kembali merindukan Ibu padahal beberapa saat lalu mereka sudah bertemu di pesawat. Itu adalah pertemuan terakhir mereka dan Kala masih tak sanggup menerima takdirnya.

"Ibu...," gumam Kala. "Aku sudah ketemu Ibu di masa muda Ibu. Seperti kata Ibu, semua yang Ibu ceritakan benar-benar terjadi."

Kala menangis ketika dia berlutut di samping makam Ibu dan memegang batu nisannya. Dia tak sanggup berpisah dengan Ibu. Jika dia bisa pergi dengan cepat, maka akan dia lakukan sekarang juga agar bisa menyusul Ibu. Namun, Ibu pasti tidak akan setuju dengan pilihannya itu.

Meskipun ada Nenek, Kakek, dan juga Paman, tetapi tanpa Ibu hidup Callahan tak ada artinya.

Ibu bilang, mereka ada di situasi yang sama. Bahkan Kala berada di situasi yang lebih parah, tetapi Kala bisa hidup lebih baik berkat Kakek. Namun, semua terasa sudah tak ada artinya lagi.

Meski hanya sementara di masa muda Ibu dan bertemu Bapak, Kala tetap bersyukur bisa menghabiskan waktu singkat dengan kedua orang tua kandungnya. Meskipun Kala sempat benci pada Bapak, tetapi pada akhirnya dia juga merindukan Bapak setelah beberapa kali melihatnya.

"Kala."

Kala masih terisak saat menoleh pada Paman. Laki-laki berumur 22 tahun yang bernama Khafi itu itu berdiri di belakangnya dengan tatapan iba. Paman lalu berjongkok di sampingnya dan memandang makam di depannya.

"Waktu paman masih kecil dan main dengan ibu kamu, Paman menyarankan nama Proxima Centauri karena waktu itu paman sangat tertarik dengan astronomi, tapi ibu kamu senyum sambil bilang kalau nama yang Paman sarankan adalah nama yang bagus, tapi ibu kamu enggak bisa pakai nama itu karena sejak awal sudah punya nama untuk kamu. Callahan. Dipanggil Kala."

"Proxima Centauri... sepertinya bisa untuk nama anak perempuan. Bisa juga untuk nama anak laki-laki, ya, Paman?" tanya Kala. Dia telah berhenti menangis meski tak segera menghapus air matanya yang perlahan mengering di pipi. Paman selalu bisa mengalihkan pikiran sedihnya dengan cara yang tak terduga.

"Iya. Waktu itu paman masih kecil dan sekadar suka dengan nama itu," kata Paman lagi. "Ibu kamu bahkan bilang, sayang kalau nama itu enggak diberi ke anak mana pun. Ibu kamu berharap nama anak itu jadi salah satu nama anak Paman nanti. Ibu kamu bilang gitu ke Paman yang masih delapan tahun."

Kala tersenyum kecil. Terkadang keberadaan orang lain tak begitu berarti jika ada seseorang yang paling berarti di hidup. Seperti Kala yang tak begitu melihat keberadaan orang lain selain Ibu.

"Aku akan hidup dengan baik," kata Kala sembari menatap makam Ibu. "Semoga Ibu bisa tenang di sana." Kala mendongak. "Bapak juga...."

***

"Jiro lagi-lagi enggak datang."

Trey memejamkan mata ketika mendengar percakapan beberapa sepupunya yang berdiri tak jauh darinya. Sejak Kalila dinyatakan sebagai salah satu korban pesawat yang jatuh bertahun-tahun lalu, Ibu beserta keluarga besar lainnya selalu ke pantai.

Terkadang banyak yang datang. Terkadang hanya Ibu, Bapak, Adam, dan dirinya. Satu-satunya anggota keluarga yang selama ini tak pernah ikut adalah Jiro. Trey sampai berpikir, apakah Jiro tidak sedih dengan kepergian Kalila? Namun, Trey sadar bahwa setiap orang punya cara untuk menata hati mereka yang terluka. Mungkin saja Jiro juga sedih kehilangan Kalila, tetapi dia tidak sanggup untuk melihat lautan yang menjadi tempat terakhir Kalila.

Trey menghela napas panjang. Tahun pertama Kalila pergi, Trey masih sulit menerima. Tahun kedua setelah Kalila pergi, Trey masih sulit menerima. Tahun-tahun setelahnya, Trey baru bisa menerima dengan ikhlas kepergian Kalila.

Dia telah berhasil mengikhlaskan meskipun terkadang dia memimpikan Kalila dan terbangun dengan perasaan rindu yang terlalu berat.

Trey bukan lagi remaja SMA, tetapi telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Kini, usianya adalah 32 tahun dan telah menikah dengan perempuan yang dicintainya.

Benar kata Kalila waktu itu. Dengan entengnya Trey berkata malas menikah hanya karena dia belum menemukan perempuan yang dia sukai.

Jika Kalila masih hidup, maka mungkin Kalila juga sudah menemukan cinta sejatinya dan menikah dengan orang itu. Namun, tentu saja Trey harus melihat seperti apa wujud laki-laki yang dengan berani menginginkan adik perempuannya.

Trey melangkah menyusuri pantai. Dilihatnya Adam yang berdiam diri di tepi. Tatapannya seolah-olah memandang ujung lautan.

Emily berdiri tak jauh dari Adam dan sedang termenung. Perempuan itu banyak berubah sejak kepergian Kalila.

Tak jauh dari Emily, ada Anggini yang datang bersama suaminya. Anggini adalah satu-satunya yang bukan merupakan keluarga Kalila yang selalu datang tiap Ibu berencana ke pantai.

Bapak memeluk Ibu yang sedang menangis. Ibu selalu menangis setiap kali teringat Kalila.

Semua orang merindukan Kalila....

Trey berhenti melangkah dan menatap langit sore.

Kalila telah lama pergi, tetapi keberadaannya masih selalu ada di hati semua orang yang mencintainya.

***

Jiro berdiam diri di bawah pohon sembari menatap orang-orang yang datang bersama keluarga kecilnya untuk piknik. Mereka terlihat bahagia dan menikmati akhir pekan ini. Terpal-terpal di atas rumput tepi. Anak-anak yang tak kenal saling pandang dan terlihat ingin berteman.

Para orang tua yang datang di sini mungkin saja adalah pasangan yang umur menikah mereka di bawah lima tahun. Umur mereka mungkin saja jauh lebih muda dari Jiro yang saat ini berusia 33 tahun.

Dibandingkan mereka yang memiliki anak pertama yang masih kecil, Jiro masih memikirkan bahwa dia telah memiliki anak yang sudah memasuki usia remaja.

Kala.

Remaja laki-laki 14 tahun yang misterius, yang Jiro curigai sebagai anaknya yang datang dari masa depan.

Sejak mendapatkan kesimpulan yang tak masuk akal bagi orang lain itu, Jiro mencari tahu keberadaan tentang Kala. Dari mana asal SMP anak itu? Di mana Kala SMA sebelumnya? Bagaimana anak itu bisa bersekolah di SMA-nya? Ke mana anak itu pergi setelah pindah lagi?

Jiro akhirnya menemukan kebenarannya. Data SMA sebelumnya palsu. Kala tidak besekolah di SMP mana pun dan berhasil memasuki SMA karena mengancam Kepala Sekolah yang memiliki skandal perselingkuhan.

Masih empat belas tahun, datang sendirian dari masa lain, lalu berhasil mengancam pemegang jabatan tertinggi di sekolah ini.

Kelicikan anak itu sepertinya menurun darinya, membuat Jiro makin yakin bahwa Kala benar-benar anaknya.

Namun, ada hal yang membuat Jiro terus memikirkannya selama bertahun-tahun. Ke mana Kalila saat Kala menjelajah waktu? Apakah dia ikut dan melihat dari jauh? Atau Kalila telah pergi meninggalkan dunia ini selamanya...?

Meski Jiro berusaha memikirkan kemungkinan yang positif, tetapi pikiran akhir Jiro tetap pada opsi terakhir itu.

Selama ini Jiro terus menunggu dan berharap Kalila akan datang menemuinya. Jika Kala benar-benar anak mereka, yang bisa datang ke masa ini, harusnya Kalila juga bisa, kan?

Akan tetapi, lima belas tahun telah berlalu dan Kalila tak kunjung datang.

Jiro pada akhirnya menyimpulkan kemungkinan terburuk, yaitu Kalila telah pergi dari dunia sebelum Kala menggunakan mesin waktu untuk bertemu Kalila kembali.

Atau dugaannya selama ini salah. Kemunculan Kala dan apa yang diceritakan anak itu tentang keluarganya hanya kebetulan saja sama. Dan Kalila benar-benar meninggal bersama penumpang pesawat itu.

Apa pun itu, ujung-ujungnya tetap sama, kan? Kalila pergi meninggalkannya. Apa yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan di antara mereka berdua.

Jiro yang paling terluka karena semua orang tahu dengan pasti kepergian Kalila. Bahwa Kalila pergi karena telah meninggal dunia. Sementara Jiro, yang mengetahui rahasia Kalila, meninggalkan tanda tanya yang membuatnya tersiksa sepanjang tahun dan hanya bisa dia pendam sendirian karena dia tak mungkin menceritakan apa yang dilihatnya kepada orang lain. Kalila tak akan mungkin ingin Jiro menceritakan rahasia besar perempuan itu pada siapa pun.

Jiro berusaha untuk menerima semua yang terjadi selama belasan tahun ini karena Kalila juga telah memilih untuk tidak kembali.

"Papa mau cancwic?" Anak perempuan yang masih berumur dua tahun itu mengulurkan satu sandwich dengan mata yang berbinar-binar. Anak perempuan itu melangkah dengan perlahan menginjakkan alas sepatunya yang berbunyi di atas rerumputan. Dia berhenti di depan Jiro dan mengulurkan sandwich tersebut ke arah mulut Jiro yang sulit dia gapai.

Jiro tersenyum kecil, lalu menunduk. Dia gigit sandwich itu, kemudian dia makan dengan lahap. Jiro mengambil makanan dari tangan mungil anak perempuannya.

Anak perempuan kandungnya dari istri sahnya. Ashana.

"Mama! Atu agi!" Anak perempuannya menghampiri Ashana dengan riang dan Jiro tersenyum kecil ketika dilihatnya anaknya itu jatuh ke pelukan Ashana. Ashana sedang duduk di atas terpal dan berbagai makanan ada di atasnya.

Seperti keluarga kecil lainnya, mereka sedang piknik.

Bagaimana mereka berakhir dalam status pernikahan?

Pada dasarnya, Jiro tak pernah sedikit pun memberikan hatinya pada Ashana. Ashana pun tahu bahwa Jiro tak bisa mencintainya. Namun, Jiro tak habis pikir pada Ashana yang memilih untuk hidup bersama dengan orang yang dicintainya meski perasaannya tak terbalaskan.

Bukankah posisi Ashana lebih menyakitkan dibanding apa pun?

Jiro juga tak ingin menikah, tetapi saat itu Nenek memaksanya untuk segera menikah dengan perempuan pilihannya karena jika tidak, Nenek yang akan memilihkan jodoh untuknya. Jiro tak ingin terlibat dengan perempuan yang sulit dia hadapi sehingga memutuskan untuk menikahi Ashana dengan syarat bahwa dia tak bisa memberikan hatinya pada perempuan itu.

Ashana menerima persyaratannya. Mereka telah berteman sejak SMA tahun terakhir, tetapi Jiro pernah menjaga batas hingga akhirnya berjarak meski terkadang Ashana masih berusaha dekat dengannya. Kemudian mereka bertemu lagi di kampus yang sama, jurusan yang sama, hingga kelas yang sama.

Entah kebetulan atau Ashana sengaja mengikutinya. Namun, Jiro tak lagi memedulikan saat di mana Ashana dengan sengaja terus ada di sampingnya.

Karena keberadaan Ashana yang sedikit mengganggu itu berhasil mengalihkan kesedihan Jiro tentang Kalila.

Ashana pernah berkata bahwa dia mencintai Jiro sejak dulu dan perasaannya tak pernah berubah. Dan dia akan berusaha membuat Jiro mencintainya balik.

Namun, sepertinya sampai detik ini Ashana tak berhasil melakukan itu karena perasaan Jiro seolah habis untuk Kalila.

Bagaimana dengan anak mereka? Bukankah itu bukti bahwa Jiro juga mencintai Ashana? Jiro tidak berpikir demikian. Bahkan banyak di luar sana yang menikah secara politik, tetapi tetap memiliki banyak anak.

Meskipun dia tidak mencintai Ashana, tetapi dia tetap berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik.

Jiro tersenyum menggapai tangan kecil anak perempuannya yang baru saja datang menghampirinya dan mengulurkan tangan untuknya.

"Sini!" Jiro bangun dan mengangkat anaknya ke gendongan. "Ayo, ke Mama."

Waktu terus berjalan dan Jiro tak akan mungkin tetap hidup di masa lalu.

Jiro masih mencoba mengikhlaskan Kalila sepenuhnya. Juga kenangan yang pernah tercipta di antara mereka.

SELESAI

.

terima kasih sudah baca cerita Ruang dan Waktu sampai akhir ❤️❤️

bagaimana dengan cerita ini? 

ngerasa pas dengan akhir yang kayak gini kan?

ada yang ingin kamu sampaikan ke tokoh cerita ini? kepada siapa? apa yang ingin kamu sampaikan ke tokoh tersebut? komen di sini->

seperti yang aku sampaikan di part sebelumnya, ada cerita khusus Callahan (dari sudut pandang Callahan selama dia menjelajah waktu, bagaimana pandangannya ke Jiro alias bapak kandungnya, dll. Cerita Callahan ini hanya bisa dibaca di karyakarsa). 

Judul: Callahan [Ruang dan Waktu]

cara baca:


Sampai ketemu di cerita lainnya yaa❤️❤️ silakan follow wattpad sirhayani bagi yang nggak mau ketinggalan cerita terbaru 🫶🏻 


love,

sirhayani 🌺

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro