Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

#11

Dia terlalu sibuk menggambar sampai-sampai nggak menyadari keberadaan gue yang sudah memperhatikan tingkah lakunya sejak tadi. Menggambar adalah pengalih kedua dari segala rasa sakit, selain melihat liukan api. Orang mungkin berpendapat adik gue gila, tapi nggak. Dia nggak sinting. Dia hanya unik karena sarana relaksasi pilihannya berbeda dengan kebanyakan orang. Jika orang lain memilih menonton televisi atau membaca buku favorit untuk menghilangkan penat, Alamanda bisa membuang semua kecemasan dan rasa sakitnya hanya dengan menyalakan api. Bukan dengan tujuan destruktif seperti untuk membakar gedung, namun semata hanya untuk sebentuk rasa lega.

Atau mungkin itu semua berkaitan dengan memori masa kecilnya. Setiap kali dia berulang tahun, Ayah akan muncul tengah malam di ambang pintu kamarnya bertemankan kue dengan lilin yang menancap. Alamanda kecil mungkin mengasosiasikan api dengan keberadaan Ayah. Sebenci apapun gue sama orang itu, Manda nggak akan pernah bisa melupakannya. Dia masih kecil ketika Ayah pergi. Belum mengerti apa-apa. Mau seberapa sering gue merendahkan Ayah di depannya, Ayah nggak akan benar-benar hilang dari pikirannya.

Dan gue membenci diri gue sendiri karena itu.

Dering halus dari ponsel yang tergeletak di atas meja sesaat kemudian mengalihkan bukan hanya perhatian Manda, namun juga perhatian gue. Dia berhenti menggambar dan meraih ponselnya. Pasti ada pesan baru yang masuk, dan menilik dari senyum di wajahnya, gue bisa menebak siapa pengirimnya. Pasti Adrian.

"Jangan senyum kelebaran, nanti disangka orang nggak waras." Gue berujar geli seraya melangkah menghampirinya. Kepala Alamanda tertoleh, lalu tarikan bibir yang mengguratkan keceriaan itu tersungging. Senyum Alamanda selalu punya efek yang sama untuk gue. Rasanya hangat. Seulas gerakan bibir yang mampu menyalakan pendar lega dalam dada. Seperti rasa lelah tidak lagi terasa.

Gue menarik kursi di sebelahnya, melirik pada ponsel yang masih dia pegang. "Adrian?"

"Kok tau?" Alamanda mengangkat salah satu alis, tapi lantas dia tertawa. "Kak Adrian bilang gambarku bagus. Dia suka dan udah dia terima. Padahal gambar itu nggak sesuai keinginannya."

"He likes it. I can tell from the look in his eyes when he received your masterpiece."

Pipinya bersemu. "Masterpiece? Jangan ngeledek. Gambar itu jelek banget."

"You drew him in a good way. He looked like a demigod."

"Because he is indeed that perfect."

"I agree."

Kening Alamanda berlipat. "Tumben kakak langsung setuju sama aku?"

"Hm, karena Adrian memang perfect kan? Dia baik, dan terutama, dia punya penampilan kayak supermodel Calvin Klein.

"Kak Lea juga cantik."

"Dan maksud kamu ngomong gitu adalah?"

Hening sejenak. Alamanda seperti tengah ragu-ragu. Matanya sempat menghindari pandangan gue, tapi kemudian pada satu titik dia menarik napas. Ada sorot misterius berkejaran di lensa matanya yang cokelat gelap. Semburat penuh arti yang sulit gue terjemahkan. Astaga. Gue baru menyadari kalau Alamanda bukan lagi adik kecil berseragam kotak-kotak sekolah TK yang kerap gue gandeng setiap pulang sekolah. Dia sudah mendewasa. Sudah besar. Sudah bisa berpikir di luar batas kepolosan. Dan mungkin... mulai mengerti satu-dua hal dalam romansa.

"Kakak naksir Kak Adrian?"

Gue hampir tersedak. Meskipun gue nggak lagi makan atau minum.

"Kenapa kamu berpikir kayak gitu?"

"Enggak apa-apa."

"Kamu naksir sama Adrian?"

"I like him." Alamanda mengakui. "but not in a romantic way. Buatku, dia sama seperti Kak Lea. Kakakku. Aku kagum sama dia. Menghormati dia. Tapi berharap jadi sesuatu yang lebih dari itu? Well, enggak juga. He deserves someone more mature. Aku sama sekali nggak cocok buat Kak Adrian."

"If you like him, then just go for him."

"Kak Lea," Secara tidak terduga, tangan Manda terulur. Ujung jari-jarinya menyentuh punggung tangan gue. Terasa lembut. Seperti embun. "Kakak suka sama Kak Adrian?" Dia mengulangi pertanyaan yang tadi dia ajukan. Seuntai kalimat yang belum terjawab.

Gue terdiam.

Am I?

Apakah gue naksir Adrian? Kalau gue mengakui, rasanya itu nggak mungkin. Gue nggak punya waktu memikirkan masalah cinta. Gue sudah cukup pusing mengurusi perekonomian keluarga yang berdiri di atas sendi-sendi rapuh, juga tugas kuliah yang semakin bertambah seiring dengan setiap semester yang bergulir. Cinta hanya akan jadi racun. Cinta hanya akan membuat gue kehilangan fokus.

Tapi menyalahi arti debaran jantung yang terpacu lebih cepat setiap kali dia dekat adalah sesuatu yang menyedihkan. Pandangan matanya membuat dada gue terasa dipenuhi oleh rasa aman. Kata-katanya mampu membuat gue percaya bahwa hidup gue nggak akan hancur disini. Bahwa gue masih punya kesempatan untuk bahagia seperti yang lainnya.

Gue menghembuskan napas.

"Kak Lea?"

"Kakak nggak tau."

"Nggak tau?"

"Rasa itu sesuatu yang misterius. Dan kakak bukan lagi anak SMA yang bisa dengan gampang saling suka dengan orang lain. Atau pacaran. Semuanya nggak lagi sesederhana itu."

"Tapi kakak suka dia kan?"

Gue tersenyum tipis. "Suatu hari nanti, kamu akan sadar kalau seringkali, sekedar rasa itu nggak cukup."

"Aku ngerti. Tapi kan--"

Sebelum dia meneruskan ucapannya, gue mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan melihat pada kertas buku sket yang tadi dia tekuni. Sebuah keputusan yang salah, karena apa yang tergurat dalam gores penuh warna justru terasa serupa batu yang menyumbat kerongkongan. Gue terdiam, hampir lupa bagaimana caranya bernapas hingga Alamanda bergumam pelan.

"Maaf, kak."

Enggak. Dia nggak salah. Gambarnya indah. Seperti biasanya. Hanya saja, objek yang tergambar di atas kertas putih itu seperti blackhole yang mampu menghisap semua perbendaharaan kata dari dalam otak gue. Gambar itu membentuk seorang laki-laki berperut gendut yang terlelap di atas sebuah kursi. Tangannya memeluk bocah perempuan kecil dengan rambut yang dikepang. Dalam sekali lihat, siapapun bisa menyimpulkan kalau gambar itu menunjukkan kehangatan antara seorang ayah dengan anak perempuannya.

Sesuatu yang pernah kami miliki. Dulu.

Sudah terlalu lama segalanya berubah, hingga gue hampir lupa kalau gue pernah punya seorang ayah.

"Gambar kamu bagus." Gue berkata dengan susah payah, lalu berusaha keras memaksakan diri untuk tersenyum. "Ah ya, kamu ada rencana pergi keluar hari ini? Kalau nggak, kamu bisa ikut kakak ke kafe. Biasanya Adrian dateng. Siapa tau kalian bisa diskusi."

"I'd love to. Tapi aku udah ada janji sama temanku."

"Cewek atau cowok?"

Alamanda tertawa. "Cewek. Dan kami cuma ke toko buku. Liat-liat kertas sama cat air. Nanti kalau urusan di toko buku selesai, aku nyusul ke kafe. Lagian toko bukunya juga dekat kafe tempat kakak part-time kok."

"Oke." Gue beranjak, mencoba untuk tidak menatap gambar di atas halaman buku sketnya. "I'll see you then."

"Ah ya, anyway, kakak benar soal rasa itu nggak cukup. Tapi setahuku, nggak ada satupun kisah cinta yang melegenda yang nggak dimulai dari rasa." Gadis itu tersenyum lembut. "You are free to love someone. Just live with it. Live freely. Because you deserve to be happy."

Gue terdiam selama sejenak, lalu pandangan gue padanya melunak. "And you deserve to be more happier than me, sissy."

***

Perkumpulan Para Ajudan (6)

Parama SW invited Hana to the group.

Hana joined the group.

Hana removed Edgar D. S from the group.

Faris Rafandra : Ternyata perang belum berakhir

Hana : Batak? Mau ngalahin gue?

Hana : NGIMPI KALEEEEE

Hana invited Raya Alviena to the group.

J. Mahardika : E ANJING

J. Mahardika : HANA

J. Mahardika : JANGAN

Hana : Biarin

Hana : Biar bini lo tau gimana belang bandot kesayangannya

Raya Alviena joined the group,

Raya Alviena : Ini grup apa ya?

Hana : Grup para ahli jahannam

J. Mahardika : Halo sayang

Raya Alviena : Hah

Raya Alviena : Kok ada lo sih

Raya Alviena : Ini pasti grup nggak bener

J. Mahardika : Ih gila lo ya, sekali gue nongol langsung bilang gitu

Raya Alviena : Lo identik dengan lembah hitam soalnya

Adrian : Emang dia yang paling item diantara kita semua sih

J. Mahardika : Eh babi albino, diem lo

Adrian : Amfun

Faris Rafandra : Rama??

Faris Rafandra : Lo nggak salah nih masukin si kutu kasur ini?

Parama SW : HP gue baru balik anjay

Parama SW invited Edgar D. S to the group.

Edgar D. S joined the group.

Hana removed Edgar D. S from the group.

Parama SW : Tai

Hana : Mana ada kutu kasur secantik gue

Dio Alvaro : Rame banget

Faris Rafandra : Bacot lo baru keluar pas ada kutu kasur

Dio Alvaro : Apaan sih, Ris

Faris Rafandra : Nggak usah sok galak deh, Yo

Faris Rafandra : Kemaren aja sok asik

Faris Rafandra sent a photo

Faris Rafandra : Bukti transaksi terlarang

Parama SW : Sejak kapan kedokteran boleh cat rambut

J. Mahardika : Sabeb lah yang punya fakultas babenya

Dio Alvaro : Bacot

Hana : Ganteng banget

Faris Rafandra : Emang. Kemana aja lo?

Hana : Bukan lo.

Parama SW : Gas aja terus gas

Parama SW : Cewenya udah rajin nge gas tuh

Parama SW : Cowonya kalem aja

Dio Alvaro : O

Parama SW : Masih jaman gitu o-o-an?

Parama SW invited Edgar D. S to the group.

Edgar D. S joined the group.

Hana removed Edgar D. S from the group.

Parama SW : Tai

Hana : Siapa cepat dia yang menang :)

Faris Rafandra : Cowonya juga nge gas kali

Faris Rafandra sent a voice notes

https://youtu.be/3-8f4686zOU

Hana : Apa tuh?

Faris Rafandra : Dengerin aja.

Hana : Gamau takutnya suara kuntilanak

Faris Rafandra : Dari Dio buat kamu

Dio Alvaro : FARIS

Faris Rafandra : Selow bos, itu mah intro doang

Faris Rafandra : Belom ke inti

Hana : Apaan sih

J. Mahardika : Nah kan nih anak mulai keGRan

Parama SW sent a photo

Parama SW : Ternyata iyo juga bisa selfie

Raya Alviena : Ih kok lucu

J. Mahardika sent a photo

J. Mahardika : Lucuan mana sama aku

Raya Alviena : Tau ah gelap

Dio Alvaro : Bacot

Dio Alvaro sent a photo

Parama SW : Ganteng amat itu siapa namanya

Hana : Barusan dengerin

Hana : Lagunya bagus

Hana : Suaranya juga

Hana : Bukan suara Faris ya

Dio Alvaro : ...

Dio Alvaro : Makasih :D

Faris Rafandra : Tai emojinya

Parama SW : WEY EDGAR MO MASUK NIH

Parama SW : Kalap dia

Hana : Masukin aja, paling gue remove lagi

Parama SW invited Edgar D. S to the group.

Edgar D. S joined the group.

Edgar D. S removed Hana from the group.

Faris Rafandra : Eak kalah cepat

Edgar D. S : Akhirnya tentram sudah dunia.

Edgar D. S : Eh bentar

Edgar D. S : Kok ada Raya?

Raya Alviena : Oke deh gue juga leave

Edgar D. S : MAKSUD GUE BUKAN GITU

Raya Alviena left the group.

Edgar D. S : Anjir

Faris Rafandra : Mampus

***

"What's so interesting in your phone?"

Adrian tersentak begitu dia mendengar suara Azalea, disusul tarikan pada kursi di hadapannya. Gadis itu tampak segar hari ini. Dia mengikat rambutnya dalam sebuah kuncir berbentuk ekor kuda. Setiap kali kepala Azalea bergerak, Adrian bisa mencium aroma samar strawberry di udara. Mungkin gadis itu menyempatkan diri mencuci rambutnya sebelum berangkat kerja part-time. Namun entah mengapa, Adrian menyukainya. Aroma strawberry itu, dan senyum samar di wajah Azalea.

"Cuma chat group biasa."

"Between you and your friends?"

Adrian menganggukkan kepalanya.

"I see. Lo dan teman-teman lo. Gue sering liat lo pada nongkrong di kantin teknik. You all seem pretty close."

"Sebagian sudah jadi teman gue sejak gue masih maba."

"Not that I don't like them, anyway."

"Kenapa lo jadi terdengar seperti seseorang yang lagi mengorek tentang teman-teman pacarnya?"

Wajah Azalea bersemu merah. Cantik. "Bukan gitu."

Adrian mencondongkan badannya sedikit sehingga jarak antara matanya dengan mata Azalea memendek, lalu salah satu sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah seringai. "Santai. Gue cuma bercanda."

"Gue penasaran, apa lo selalu sekurang kerjaan ini?"

"Maksudnya?" Adrian justru balik bertanya.

"Lo datang kesini. Selalu. Hampir setiap hari."

"Karena kalau gue nggak dateng, lo bakal balik sendirian." Adrian menyahut. "Gang kecil gelap itu terkesan berbahaya. Gue nggak bisa biarin lo balik sendirian begitu aja."

"I have loved the stars to fondly to be fearful of the night."

"Nice poem."

Azalea tertawa. "The old Astronomer to His Pupil. Sarah Williams."

"I have one. From my favorite writer."

"Tell me."

"And in the end," Adrian mengawali puisinya dengan mata yang sepenuhnya menatap pada iris kecokelatan Azalea. Suaranya yang dalam meredam bebunyian lain di sekitar mereka. Seakan keduanya tersedot ke dalam dunia yang berbeda.

"we were all just humans,"

Jeda sejenak.

"drunk on the idea that love,"

Ada hangat yang menyebar dalam diri Azalea. Mengalir hingga ujung-ujung jari kakinya. Berhenti pada tempat dimana jantungnya berada.

"could heal our brokenness."

"Beautiful."

"Penulisnya Christoper Poindexter."

"Sejak kapan postur tubuh lo jadi melengkung mengikuti meja?" Azalea mendadak berujar, diikuti dengan tawa.

"Sejak gue bilang mata lo seperti lubang hitam yang mampu menghisap apapun mendekat?" Adrian terkekeh. "and I want to appreciate that beautiful face."

"Enggak usah ngegombal. Kalau lo mau tau, di belakang lo ada lebih dari cukup cewek yang punya keinginan terpendam mencakar gue. Sebagian menatap gue iri. Dan dua orang dari mereka mungkin bakal langsung membunuh gue di tempat seandainya melenyapkan orang bukan termasuk tindak pidana."

"Hah?" Adrian nyaris saja memutar tubuhnya ke belakang jika kata-kata Azalea tidak menahannya.

"Jangan liat ke belakang."

"Perempuan itu menyeramkan. Serius."

"Gue juga perempuan."

"Awalnya gue kira lo menyeramkan."

"Sekarang enggak?"

"Masih sih. Dikit."

Azalea tertawa. "Dua cewek yang terakhir tadi lebih ngeri. Mereka bahkan sempat nanyain siapa lo dan berapa nomor telepon lo."

"Abis itu lo kasih?"

"Enggaklah."

"Terus?"

"Gue bilang kalau..." Senyum Azalea tertahan. Ada semburat malu di pipinya. Dan sebersit emosi yang tidak Adrian sadari artinya di matanya. "lo pacar gue."

Di luar dugaan, Adrian justru tertawa kecil. "Bagus."

"Kok bagus?"

"Karena kalau mereka tau gue udah punya pacar, terutama kalau pacarnya adalah tipikal cewek cantik tapi galak kayak lo, mereka bakal berpikir dua kali sebelum memutuskan buat nyamperin gue."

"Dih GR."

"Hasil survey membuktikan."

"Lo pasti sering banget diganggu cewek ya?"

"Mereka nggak mengganggu sih." Adrian diam sebentar. "Hanya membuat gue merasa nggak nyaman."

"Itu artinya mengganggu." Azalea mengangkat bahu. "Tapi mungkin mereka nggak akan percaya kalau lo beneran pacar gue. Mereka pasti mikir kalau gue pake pelet buat ngedapetin lo."

"Kenapa?"

Azalea berdecak pelan. "Karena gue adalah gue."

"Don't underestimate yourself." ujar Adrian. "Just like what I said before, you are a rainbow. But the world is color blind."

"Lo nggak hanya lagi mencoba menghibur gue kan?"

"Enggak. Gue jujur."

"Gimana bisa cowok sebaik dan semanis lo masih tetep jomblo sampe sekarang sih?" Azalea menghela napas. "You're too good. Too ethereal to be real."

"Yaelah, emangnya gue alien."

"Serius."

"Gue pernah kok ditolak cewek. Pernah juga naksir cewek tapi nggak kesampean."

Mata Azalea melebar. "Masa?"

"Serius. Dulu ditolak pas gue masih SD. Alesannya, kata dia gue ketinggian. Kayak tiang listrik. Serem. Dia nggak suka."

"Konyol sumpah."

"Gue nggak tau sih itu bisa diitung sebagai cinta pertama atau enggak."

"Enggak juga sih. Namanya juga masih SD. Terus yang naksir cewek nggak kesampean?"

"Belum begitu lama. Baru beberapa bulan yang lalu. Tapi gue sadar kalau rasa suka itu nggak seharusnya ada."

"Kenapa?"

"Because she is my bestfriend's girlfriend."

"Tunggu."

Adrian tersenyum tipis. "Enggak usah dianalisis, Lea. I'd prefer it to remain unsaid. But I guess, she was kind of my first love."

"O...ke."

Senyap sejenak.

"But, it must be painful, isnt it? Ketika lo sayang sama seseorang tapi lo nggak bisa melakukan apa-apa selain melihat dia dari jauh. Terlebih ketika dia udah jadi milik sahabat lo sendiri."

"Yah. Tapi tetep aja, itu nggak akan membuat gue menjauh begitu aja atau bersikap dingin sama dia."

"Why?"

"Because I'm a man. And you know, men will always have a thing with their first loves. Buat laki-laki, first love adalah sesuatu yang nggak mungkin terlupa. Meskipun rasa suka udah nggak ada, selamanya cewek itu akan selalu diingat."

"Gue penasaran, apakah gue pernah jadi first love seseorang."

"Pasti pernah."

"Belom tentu."

"Don't underestimate yourself."

"I'm not. But... I'm that kind of person who is not easy to be loved."

"I found it very easy to like you."

Seperti ditabuh, debar jantung Azalea langsung meningkat tajam. Gadis itu harus mengingatkan dirinya sendiri untuk perlahan-lahan menarik oksigen dan menghembuskan karbon dioksida dari mulutnya. Ah, persetan. Kenapa dia jadi terlihat seperti ibu yang tengah mengalami kontraksi menjelang proses kelahiran? Oh, ralat. Itu hanya berada dalam bayangannya, karena sekarang dia masih saja diam mematung seperti manekin toko baju.

"Lea? Lo nggak apa-apa?"

Pertanyaan Adrian tidak sempat terjawab karena pada detik berikutnya, perhatian Azalea tersita pada suara sirene keras dari kendaraan-kendaraan berat yang melintas di depan kafe. Jarak antara kafe dengan jalan tidak begitu dekat, sehingga suaranya yang terdengar sampai ke penjuru ruangan kafe sontak langsung menerbitkan keterkejutan yang berbaur dengan rasa ingin tahu. Secara refleks, Azalea berdiri dari kursinya. Matanya langsung membulat tatkala dia menangkap warna merah dari beberapa armada pemadam kebakaran yang berjalan cepat di atas aspal. Satu-satunya yang Azalea tahu, tidak berapa lama kemudian dia sudah menghambur keluar dari kafe bersama sejumlah pengunjung lain.

Petang sudah menjelang, tetapi situasi justru semakin ramai. Napas Azalea seketika tertahan. Api yang berasal entah darimana, di kejauhan sana, berkobar menjilati langit. Pendarnya membuat suasana jadi demikian terang, meski matahari sudah hampir kembali ke peraduan. Sebentuk kecemasan meletup dalam benaknya. Pada seorang anak jalanan bercelana pendek dengan kaki telanjang, Azalea bertanya. Jawaban yang dia dapatkan membuat sekujur tubuhnya seperti luruh ke atas permukaan keras trotoar.

Bangunan yang terbakar adalah gedung toko buku di persimpangan jalan. Seketika Azalea teringat pada Alamanda. Pada senyum lebarnya. Pada jawabannya ketika Azalea bertanya dia akan pergi kemana hari ini. Ketakutan merayapi batinnya. Detik selanjutnya, yang Azalea lakukan adalah berlari secepat yang dia bisa. Tujuannya hanya satu ; toko buku di perempatan.






 

Bersambung. 

[][][] 

a/n : Haloh. Maap lama nggak ngepost. 

Makasih udah baca. 

Anyway. 

SCARLET HEART EPS 11 SEDIH BANGET GEWLAK 

Gakuat. 

Gak, gue ga baper sama Wang So sih meskipun ya agak semriwing gimana gitu pas liat Wang So mayungin Hae Soo mwahmwahmwah mampus kamu Wang Wook kini saatnya my otp berakseyyyy 

Tapi baper sama kisah cinta Raja sama Nona Oh. 

Gila. 

Sedih tau. 

Temenan dari kecil. 

Terus despite of everything, she chose to stay. 

Aku menangis untuk ma sinking otp aka Nona Oh-Raja Wang Geon. 

Belum nungtun Love in Moonlight tapi. 

Sama K2. 

Gila ga sih ektingnya Yoona omona ma luvly sister nomu yeoppo and talented 

((Oke ini mulai gapenting)) 

Ciao. 

((di Konten mulmed ada visualisasi Rama) 

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro