Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

10th

Mereka bilang, berbeda itu indah,
tapi aku benci dengan perbedaan ini.

***REVIVE***

Tiba-tiba aku jadi teringat kejadian beberapa waktu yang lalu, sebelum semua kejadian ini masih terjadi ...

Aku ingat, aku pernah berurusan dengan guru bimbingan konseling karena aku 'bertengkar' dengan seseorang. Ya, itu menurut mereka, meski sebenarnya aku tidak pernah memulai atau membalasnya. Dia yang telah aku lupakan namanya yang sebenarnya terus menguasai pertengkaran.

Dia menusuk tanganku dengan jangka dan menimbulkan jejak. Lelaki dan wanita tua itu langsung saja menuntut sekolah untuk mengeluarkan siswi yang melakukannya.

Kebetulan yang ajaib, Ayah gadis itu ternyata adalah relasi bisnis lelaki tua itu. Dan lelaki tua yang terus membelaku langsung memutuskan hubungan bisnis dengan Ayahnya.

Setelah dipikir-pikir, mengapa dulu dia melakukannya? Mengapa dia berubah?

Apakah itu keputusasaan? Atau sesuatu yang baru siuman dalam dirinya?

Lupakan soal jejak yang dibuat gadis itu dengan jangka, kenyataannya jejak itu telah hilang sejak kecelakaan itu.

Dan ... sampai hari ini, besok, atau mungkin selamanya, aku tidak akan pernah mengerti mengapa ini bisa terjadi padaku.

Aku keluar dari kamar sekitar pukul empat pagi. Bukan hanya tidak bisa tertidur karena merasa ngeri dengan keberadaan balkon kamar, tapi juga banyak hal yang terus kupikirkan apa artinya.

Cacing di perutku meronta. Tunggu, pembahasan cacing mulai sensitif, lupakan. Intinya perutku lapar, karena makanan terakhir yang kumakan adalah makanan yang dibuat Ardan di Pearl Cafe.

Aku tidak tahu bagaimana cara Rex bertahan hidup. Semoga saja dia tidak berpikir bahwa makhluk yang akan terus hidup seperti kami tidak perlu makan, karena aku masih punya cita-cita untuk menikmati kuliner di seluruh dunia.

Dulu, kupikir itu hal yang mustahil, karena tidak mungkin aku bisa mengelilingi seisi dunia ini. Sekarang? Makin mustahil, karena hidupku kini tak lagi seperti dulu. Mungkin setelah Rex menemukan petunjuk yang bagus, aku akan keluar dari sini, mencari tempat kerja dan hidup kembali menjadi gadis normal.

Tunggu ..., itu terdengar terlalu mudah.

Rex mungkin mencari tahu soal apapun yang terjadi pada kami, tapi tidak dengan mendapat solusi semudah membalikkan telapak tangan. Aku tidak tahu apa-apa soal dunia cacing dan segala macam yang disebutkannya tadi, dan yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menunggu jawaban Rex. Kenyataan itu membuatku murung.

Tok tok tok.

Aku mengetuk pintu kamar Rex. Ya, aku memutuskan untuk keluar dari kamar setelah beberapa menit merenung dalam kamar, menunggu pencerahan atas rencana hidup yang harus kulakukan saat ini. Entahlah, memikirkan semua itu membuatku merasa tersesat dalam waktu yang tak kunjung habis. Kalau membahas soal makanan dan perut laparku, tentu saja aku mengingatnya. Sebelumnya, aku tidak pernah menghabiskan waktu untuk menahan lapar hingga pagi.

Tapi, pemilik kamar sekaligus pemilik rumah ini tak kunjung keluar berapa kalipun aku mengetuk pintu itu.

Tiba-tiba saja tubuhku merinding hebat. Jangan bilang kalau aku berada di dalam mansion besar ini ..., sendirian?!

Sontak, aku memutar kenop pintu. Hal yang kulihat hanya seorang lelaki berkulit pucat yang tertidur di atas tempat tidur. Wajahnya jelas adalah wajah Rex. Tapi, itu adalah mayatnya.

Tak ingin melihat sosok itu dalam jangka waktu panjang, segera saja aku menutup pintu kamarnya.

Aku pun menuruni tangga begitu menyadari bahwa aku sendirian di lantai dua. Kuturuni tangga dengan memegang ibu tangga dengan cengkraman keras, takut tergelincir dan malah terjatuh.

Saat sampai di lantai bawah, aku menemukan Rex tengah duduk di depan televisi yang menyala. Aku menghela napas lega begitu melihat sosoknya di sana.

"Rex."

Rex menolehkan kepalanya ke arahku sejenak, lalu melanjutkan tontonannya.

"Kamu sudah makan?" tanyaku ragu.

Rex menggeleng di depan televisi, tanpa menoleh sedikitpun kepadaku. Itu membuatku berpikir bahwa dia menggeleng di depan televisi dan bukan jawaban atas pertanyaanku.

"Boleh aku meminjam dapurmu?"

Rex hanya bergumam kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi. Aku pun berjalan ragu saat hendak memilih tiga arah yang aku tidak tahu masing-masing jalannya menuju ke mana.

Aku pun berbelok ke kiri, ada lorong panjang dan sebuah pintu di ujung sana. Pintu itu mempunyai warna yang berbeda dari pintu-pintu lainnya.

Putih.

Keberadaannya sangat mencolok, mengingat hampir semua properti di mansion ini memiliki warna gelap. Mungkin itu sebabnya, kakiku melangkah otomatis ke arah pintu.

Tidak seperti film-film horror yang biasanya kutonton, lorong ini sangat terang dan menampakan setiap wallpaper gelap yang dilekatkan di kiri kanan dinding. Lukisan-lukisan abstrak yang tak kumengerti dimana letak seninya dan juga beberapa vas antik berdebu yang membuatku menjauhinya.

Kuperhatikan lukisan dengan seksama, memastikan bahwa tidak ada satupun mata di lukisan itu yang bergerak. Tentu saja tidak, karena aku tetap melanjutkan langkahku ke arah pintu putih dan kembali memperhatikan sekitarku.

Karpet merah yang kupijak membuatku merasa seperti berjalan ke ruangan singgahsana, padahal kenyataannya aku hanya akan melangkah ke pintu putih yang sama sekali tidak kuketahui ruangan apakah itu sebenarnya.

Lampu-lampu di lorong benar-benar terang, aku mulai berpikir bahwa biaya listrik di tempat ini pastilah sangat besar.

Seolah telah dari perjalanan yang jauh, aku menghela napas begitu aku sampai di depan pintu putih. Namun begitu tanganku baru hendak menjangkau pintu, seseorang memanggil dari belakang.

"Regina."

Panggilan itu membuatku lekas menoleh ke belakang. Rex berada lorong ujung tempat dimana aku mulai memperhatikan pintu ini. Di ujung sana, Rex menunjuk ke arah kiri.

"Dapurnya di sana," ujarnya.

Alisku terangkat sebelah, dan kutolehkan kembali pandanganku pada pintu putih di depan sana. Pintu itu terlihat mencurigakan. Maksudku, setelah sedaritadi mataku lelah menatap warna merah, hitam dan abu-abu, akhirnya ada pula satu warna yang terang.

Akhirnya aku pun berbalik arah dan memutuskan untuk ke dapur menyusul Rex. Lagipula perutku sudah tidak bisa menahan lapar.

Aku melihat dapurnya sambil berdecak kagum. Dapurnya mirip dengan dapur-dapur yang ada di salah satu acara perlombaan memasak di televisi. Entahlah bagaimana cara mendeskripsikannya dengan benar. Yang jelas, rak-rak, almari dan setiap pintunya terlihat begitu lengkap.

Sendok masak, kuali dan panci dengan berbagai ukuran yang digantung di dinding. Kompornya juga mirip dengan sebuah film yang pernah kutonton. Pastilah kompor ini hanya mengeluarkan sinar merah terang yang melingkar, kita tinggal meletakan panci dan memasak sesuatu di atasnya. Itu pasti panas sekali.

Kulkasnya dua kali lebih besar dibandingkan yang pernah kulihat di rumah dulu. Kulkas yang dulu itu saja dibeli oleh lelaki tua itu dengan ukuran yang besar. Sebenarnya tujuannya hanya agar bisa membekukan daging sisaku. Kalau aku tidak salah ingat, kulkas yang itu bisa menampung tujuh aku, dalam keadaan terpotong-potong dan tentu saja sudah memisahkan bagian kepala dan isi di dalamnya. Jadi, silakan bayangkan saja betapa besarnya kulkas di depanku ini.

Tidak dengan isinya. Jangan membayangkan ada daging aneh lain di dalam kulkas ini, karena kenyataannya pendingin raksasa ini tidak menyimpan apapun.

Harapanku untuk segera mengeluarkan sayuran dan telur, membuat menu simple itu pun hancur dalam sedetik itu.

"Rex."

"Kenapa?"

"Kenapa kulkasnya kosong?" tanyaku sambil meringis.

Rex menaikan kedua bahunya. "Aku tidak bisa masak. Jadi aku tidak pernah mengisinya."

"Jadi mengapa kau membelinya?"

"Dekorasi," jawabnya polos.

Aku memegang perutku dengan kasihan. "Lalu, kita makan apa?"

"Ayo kita keluar." Rex meratapi arlojinya.

"Mau makan di mana pagi-pagi begini? Memangnya sudah ada yang buka?" tanyaku kebingungan.

Rex yang sudah melangkah mendahuluiku, membalikkan sedikit kepalanya, lalu menjawab singkat, "sudah. Kan ada junk food."

Junk food, makanan cepat saji, makanan yang jarang sekali kumakan karena aku biasanya memang menetapkan prinsip hidup sehat. Tentu saja aku juga menjauhi soda, es batu dan segala macam hal yang tidak dianggap sehat bagi kebanyakan orang.

"Apa tidak ada menu lain? Biasanya kamu makan jam segini?"

Rex hanya berdehem menanggapi.

"Kamu bisa kena maag," ucapku jengkel. Serius, daritadi dia tampak tidak ingin berbicara denganku. "Kita makan apa?"

"Yah, junk food," balasnya lagi, kali ini dengan nada dan ekspresi jengkelnya.

Kami keluar dari mansion itu, menguncinya pintu dan juga pagarnya. Setelah itu barulah kami masuk ke dalam salah satu mobil yang terparkir di luar. Aku yakin persis bahwa mobil ini bukanlah mobil yang sama dengan saat dia menjemputku di Pearl Cafe tadi. Warnanya saja sudah berbeda. Aku tidak tahu kapan dia memindahkannya. Yang jelas, aroma pewangi dalam mobil ini juga berbeda dengan yang sebelumnya.

"Di jok ada pisau," sahutnya yang membuatku melototinya. Rex langsung menambahkan, "sekedar informasi."

"Jangan membicarakan pisau!" keluhku sambil mengelus bagian perutku. Entah mengapa perutku terasa seperti tertusuk-tusuk setiap aku membayangkan pisau besi mengkilap.

"Ada satu di masing-masing jok mobil," tambahnya lagi, yang sukses membuatku tak bisa menahan diri untuk meremuk tanganku yang lain. "Hanya informasi."

Saat Rex menghidupkan mesin mobilnya, menyalakan lampu mobil, dan mobil bergerak menjauhi mansion, suasana kembali hening. Kami melewati tirai pepohonan dan jalan setapak yang seolah digariskan hanya untuk membiarkan kendaraan Rex lalu lalang di hutan ini.

Berusaha mengakhiri keheningan yang menguasai, aku berdeham pelan, sembari memberi saran. "Jangan terlalu sering memakan makanan cepat saji, tidak baik," cibirku.

Rex menatapku dengan tatapan merendahkan dan meremehkan. "Tidak baik untuk apa?"

"Kesehatan."

"Kau lupa kita ini apa?" Rex menyalakan mesin mobilnya. "Kalau kita mati, kita akan lahir lagi."

Aku lupa.

"Makan sesekali tidak akan menyakiti siapapun," ucap Rex dengan sok bijaksana-nya.

"Tapi tetap saja ..., tidak bagus." Suaraku mengecil, meski hal yang kukatakan tidaklah salah sepenuhnya.

Aku hanya bisa diam di sepanjang perjalanan kami saat keluar dari tempat yang mirip dengan hutan ini. Aku tidak tahu mengapa ada orang yang tinggal di mansion di dalam hutan di zaman modren ini. Apalagi, aku yakin bahwa jarak dari sini ke jalan besar sepertinya memakan waktu yang panjang.

*

Bahkan setelah selesai makanpun, perutku masih sedikit sakit. Aku berusaha menetralkan wajahku sebaik mungkin agar tak lagi merepotkan lelaki yang baru kukenal itu.

Aku malu sekali dengannya, sungguh.

Bayangkan saja seorang gadis mau saja tinggal seatap dengan seorang lelaki yang bahkan baru saja dikenalnya, tanpa hubungan apapun. Makan yang barusan saja sudah membuatku menjerit malu setengah mati dalam hati. Aku seperti perempuan yang tak tahu malu saja.

"Kenapa kau melihatku begitu?"

Aku kaget sekali saat tiba-tiba dilontarkan pertanyaan oleh Rex yang sedaritadi tampaknya fokus mengemudi, lalu darimana dia tahu aku melihatnya?

"Erm, itu, mengapa kamu ..., begitu baik dengan perempuan asing sepertiku?"

Rex melirikku sedetik, lalu kembali ke arah yang sedaritadi diperhatikannya. "Aku mengenalmu. Jadi kau bukan perempuan asing, oke?"

"Tapi," Aku mengerutkan keningku dan berpikir sejenak. "Kurasa kamu boleh menurunkanku di sini saja, Rex."

Bukannya membalas omonganku, Rex diam dengan tatapan datar seolah aku tidak berkata apa-apa.

"Rex, mengapa kamu membantuku?"

Sempat ada jeda lima detik sebelum akhirnya Rex menjawabnya dengan nada dingin yang tak terbantahkan. "Karena kita sama."

Sesingkat itu? Aku memekik dalam hati, tidak percaya.

Meskipun jawaban Rex sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, namun akhirnya aku diam, tidak lagi menuntut jawaban itu. Jawaban yang sebenarnya daritadi membuatku penasaran di tengah renunganku.

"Masih ada yang ingin kau tanyakan lagi, Nona Regina?"

Banyak.

"Tidak ada," ucapku sambil membuang muka.

Lagipula bertanya terlalu banyak bukan jaminan bahwa Rex akan menjawabnya. Itu hanya akan menyiksaku dengan rasa penasaran yang akan membunuhku perlahan.

"Aku ada permintaan."

Aku pun menoleh ke arahnya dengan tatapan datar, walaupun sebenarnya aku sedikit tertarik dengan hal yang akan dimintanya nanti.

"Apa?" tanyaku pura-pura tak tertarik, meskipun batinku sudah berseru agar Rex cepat-cepat memberitahuku saja.

"Jika suatu hari nanti, ada seseorang yang mengajakmu pergi, jangan pernah mau. Kau cukup tinggal di sana, kau akan aman. Kalau kau mau mendengarkanku, aku bisa berjanji, kau tidak akan mati mengenaskan lagi," ucapnya serius, pandangannya masih menatap lurus ke depan. "Di bumi ini, kau cukup percaya padaku."

Mana boleh begitu, kita kan nggak boleh langsung percaya sama orang asing.

Seolah membaca pikiranku, Rex melirikku dan melanjutkan. "Dan kita bukan orang asing, aku akan selalu mengingatkanmu."

"Terserahmu saja," desisku tidak senang.

Rex keras kepala, aku bahkan sudah tahu sifatnya meskipun kami baru resmi berkenalan hari ini. Sudah tiga kali aku mendengar tentang perkataan 'bukan orang asing'-nya. Mengapa dia bisa berbicara sepercaya diri itu?

Keningku mengerut saat melihat Rex berbelok ke sebuah supermarket yang dibuka 24 jam. Terang putih mendominasi tempat itu. Bahkan saat Rex sudah memarkirkan mobilnya, aku masih bertanya-tanya dalam hati.

"Turun," pintanya sambil melepas seatbelt-nya, lalu keluar dari mobil.

Aku pun mengikutinya, melepas seatbelt dan membuka pintu mobil. "Kenapa?"

Rex mendecak kesal, bersamaan dengan itu dia menekan tombol di kunci mobilnya. "Aku tidak bisa memilih sayuran, jadi jangan hanya duduk manis di dalam mobil saja. Kau yang ingin bahan-bahannya, kan? Aku tidak akan mau membawanya sendirian," ucapnya sembari berjalan ke arah pintu masuk supermarket.

Belum sempat aku membantah, Rex menambahkan, "kau yang bawa troli-nya. Cepat."

***TBC***

31 Oktober 2017, Selasa

Note

Tes tes tes!

Aku udah update revive 3x dan belum ada notif. Fix, watty mabuk :')

Suka bingung, aku. Kenapa pas aku khilaf kepencet publish, malah dapat notif sih? :'

Oh ya!

Happy Halloween and Happy Birthday to our Queen! Yeay!

Kaget nda, dapat notif REVIVE? Kaget ga? Kaget ga?

Last update Juni yak. Berarti ini udah ... lima bulan?

PLS jangan jitak paus, PLS.

BTW hari ini aku UTS hari kedua dan aku sempetin update demi kalian :'). Tahun lalupun begitu, aku update pas zaman UTS. Meskipun aku nggak seproduktif dulu, aku tetap sayang kalian :')

Dan sasuga kalian yang keren. Mata, bintang dan komen Revive lagi-lagi meningkay drastis kayak Aqua World. Kalian keyen deh, seriusan *-*

Makasih buat 119K views dan 13.1K votes. Ini dokumentasi doang, kok. TAPI TETAP AJA KALIAN KEYEN. THANKS A LOT<3

Btw Revive udah ketinggalan Aqua World. Akua ngebutnya cepet banget :') Padahal dulu pernah selisih 5k mataa :')

DAN BTW MAKASIH YANG UDAH SUPPORT PIYA SAMPAI BISA SEPERTI INI. PAUS SAYANG KALIAN! <3 <3

Oh ya, aku kagum dengan bagaimana aku membuat chapter 10 AQUA dan REVIVE sesantai ini. Ingat yaaa wankawan, setelah santai ada bantai /pls Cin.

[24/04/16-02:08]

^ beneran, chapter ini dibuat tanggal 24 april 2016, jam 2 malam.

Peyuk hangat dari paus dan simpanan ceritanya yang mulai menipis kayak dompetnya.

Bukannya pengin nyuruh-nyuruh kalian atau apa, tapi chapter ini udah aku edit 3x dan itu malam-malam. Kali aja aku ada tipo atau penggunaan kalimat tidak efektif, mohon dikoreksi🙏

Sumpah, aku kangen banget update lancar jaya.

*

🔪

*

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro