Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Rendezvous (5)

PENULIS BERHAK UNTUK MENGHAPUS NASKAH INI SEWAKTU-WAKTU, DENGAN ATAU PUN TANPA PEMBERITAHUAN. JIKA ANDA SEPAKAT DAN DAPAT MENGHARGAI HAK TERSEBUT, SILAKAN LANJUT MEMBACA. JIKA TIDAK, SILAKAN MENINGGALKAN POSTINGAN INI DAN TIDAK PERLU PROTES. 

TERIMA KASIH.

============

LIMA

============

“Kenvin Kamadias,” Nadia membaca nama pada bagian identitas komik itu dengan suara yang disetel di level memanggil seseorang. Membuat cowok ganteng yang duduk di kursi tunggu itu berpaling kepadanya. “Itu nama kamu?”

“Ya.” Berdiri, kemudian cowok yang mengenakan T-shirt berwarna hitam—yang sempurna melukiskan siluet tubuh atletisnya—itu menerima lembaran-lembaran kertas perbaikan print dari tangan Nadia. “Wah... makasih banyak, —”

“Nadia.”

“Oke. Makasih banyak, Nadia,” ulang Kenvin, dengan senyum super manis yang membikin Nadia sedikit sesak napas saking senangnya melihat senyum itu. “Karena kamu udah ngeganti ngeprint ulang komik-komik saya, sekarang giliran saya ngeganti minuman kamu yang tumpah tadi.”

“Aduh, nggak usah. Aku udah kenyang. Lagian, kejadian tadi itu kesalahanku, jalan nggak pake mata.”

“Kamu udah bener, kok. Jalan itu nggak pake mata, tapi pake hati.”

“Gimana ceritanya jalan pake hati?”

“Kalau kamu mau tau ceritanya, ayo, temenin saya minum minuman yang tadi! Nanti saya bakal ceritain.”

“Bisa aja.” Nadia tertawa. Rona-rona wajahnya tampak semakin kentara. “Baiklah, baiklah.”

Kenvin membukakan pintu kaca besar itu dan mempersilakan Nadia keluar lebih dulu. Mereka pun berjalan menuju gerobak mamang penjual Pop Ice yang tak jauh dari pintu gerbang tempat itu.

“Kamu... seorang Komikus?” tanya Nadia, saat mereka duduk menunggu pesanannya di bangku dekat gerobak mamang penjual Pop Ice.

“Saya cuma hobi menggambar, mewarnai, dan bikin cerita-cerita nggak jelas gitu. Dan saya suka ngeprint-ngeprint komik saya itu buat dibikin jadi buku.”

“Wah, keren! Tadi aku sempet lihat sekilas, gambar-gambar yang kamu bikin bagus banget.”

“Makasih atas pujiannya,” ucap Kenvin sambil lagi-lagi memamerkan senyum manisnya. Aduh, Nadia makin seneng ngeliatnya. Tapi, Nadia juga berusaha untuk tetap jaim dan nggak kelihatan over acting di depan Kenvin. Gimanapun, kesan pertama pertemuan ini haruslah baik.

“Ya kalau dilihat sekilas sih, mungkin kelihatan bagus,” lanjut Kenvin. “Tapi entah kalau udah dilihat lama-lama. Apalagi kalau baca ceritanya yang super nggak jelas itu.”

“Kamu tau nggak? Selalu ada kesombongan yang sangat tinggi di balik orang-orang yang suka merendahkan diri.”

Kali ini Kenvin tertawa. “Wah, gawat, nih. Ternyata kamu bisa baca pikiran saya.”

Nadia ikut tertawa. “Jadi penasaran, se-engak jelas apa sih, cerita di komik kamu itu.”

“Kamu yakin mau baca?”

“Yakin banget!”

“Oke. Tapi sabar, ya, nunggu dijilid dulu.”

“Kenapa nggak sekalian dijilid di sini aja?”

“Beberapa lembar bagian hitam-putihnya ketinggalan di rumah.”

Pop Ice yang mereka pesan sudah siap. Kali ini Nadia memilih rasa stroberi, sedangkan Kenvin memilih rasa moka. Baru saja kerongkongannya dibasahi minuman itu, Nadia mendengar bunyi sesuatu.

Hei kenapa kamu

kalau nonton dangdut

sukanya bilang

Buka dikit, jos!

Lagu dangdut yang mendadak hits gara-gara acara joget-joget nggak jelas dan nggak penting di sebuah stasiun TV itu terdengar di sekitar mereka. Sepertinya, lagu itu adalah bunyi ringtone ponsel seseorang.

Nadia melirik mamang penjual Pop Ice yang tampak sedang mengotak-atik Blackberry-nya, sementara bunyi ringtone itu masih terdengar. Jadi, sepertinya memang bukan dari ponsel si mamang. Ia pun beralih kepada Kenvin yang tengah menikmati minumannya dengan cukup serius. Wah, jangan-jangan, itu memang suara ringtone ponselnya Kenvin. Ganteng-ganteng kok doyan dengerin dangdut?

“Handphone kamu bunyi terus tuh, Ken. Kok nggak diangkat?” seloroh Nadia. Yah, kali aja Kenvin emang lagi berusaha jaim. “Angkat aja, aku cukup demokratis kok, untuk menerima apa pun selera musik seseorang.”

Menatap Nadia, kemudian Kenvin berkata, “Lho, bukannya itu bunyi handphone kamu?” sambil menunjuk tas Nadia.

Astaga! Nadia baru menyadari sesuatu. Bunyi ringtone norak itu pasti berasal dari ponsel papanya yang masih berada di dalam tas Nadia. Ah, kenapa harus lagu itu, sih? Dan kenapa Nadia bisa lupa pada tujuannya pergi ke kantor papanya itu?

Ia pun buru-buru bangkit dan pamit setelah berterima kasih kepada Kenvin atas minuman itu. Meninggalkan Kenvin yang geleng-geleng kepala sambil menahan tawa.

Demi apa pun, bukan kesan pertama yang baik macam ini yang dimaksudkan Nadia.

***

“Kita mau makan di mana?” Dalam perjalanan, Krisan bertanya kepada—oh, Krisan baru saja ingat kalau dia sedang jalan sendirian. Sekali lagi, jalan sendirian. Dia harus bisa menerima kenyataan kalau sekarang dia jomblo.

Kadung tengsin, Krisan pun mengulang pertanyaannya, “Kita mau makan di mana nih, Net? Jawab dong, Junet! Lo jangan diem aja! Nggak punya mulut, lo? Lagi sariawan? Ah, nggak usah sok ngambek, deh! Kayak mantan cewek gue aja, kalo ngambek suka diem nggak jelas gitu! Suka pura-pura nggak punya mulut.”

Nggak berapa lama kemudian, yang diajak ngobrol pun bener-bener ngambek. Si Junet nggak mau nerusin perjalanan. Kecepatannya berkurang pelan-pelan, sampai akhirnya berhenti.

“Wah, parah lo, Net! Lo beneran ngambek, Net? Eh, seriusan, nih? Sori deh, gue nggak maksud buat ngebanding-bandingin elo sama mantan gue. Elo tuh uncomparable. Deuh, sensi amat, lo!” Krisan menepikan sepeda motornya di dekat trotoar. Dia lantas menyadari kalau si Junet ngambek gara-gara... bensinnya habis. Yah, apes, deh. Kenapa Krisan bisa meleng gitu, nggak merhatiin indikator bahan bakar sebelum pergi tadi? Mana mogoknya di tempat yang nggak ada bau-bau SPBU-nya lagi! Ya terpaksa, Krisan pun harus mendorong si Junet.

“Percuma lo kinclong dan bening, Net, kalau mogok kayak gini. Ibaratnya, lo itu cowok kece tapi kere.” Nggak ada kapoknya, Krisan masih aja ngajak ngobrol sambil ngedorong si Junet. “Salah gue? Kok salah gue? Lo jangan kayak cewek-cewek yang bisanya cuma ngelimpahin segala kesalahan ke cowok-cowok, dong! Lo pikir semua cowok itu Cenayang atau Paranormal yang bisa tau segala hal tanpa lo kasih tau? Apa susahnya sih, tinggal bilang apa yang lo mau? Kan kalau udah jelas mau lo apa, gue juga bisa ngelakuin hal itu tanpa takut salah-salah. Coba aja tadi waktu kita mau pergi, lo bilang sama gue kalau bensin lo udah mau abis. Kan gue bisa langsung ngajak elo ke SPBU deket rumah. Dan kejadian buruk ini nggak bakal pernah terjadi.”

Krisan mulai merasakan tatapan orang-orang di sekitar. Bodo amat. Dia udah biasa jadi pusat perhatian dari sejak kanak-kanak dulu. Bukannya mau nyombong, ya. Dari lahir, Krisan udah lucu dalam pengertian cute. Nggak pecaya? Coba deh, liat foto-foto masa kecil Krisan yang terpajang di ruang keluarga dan di kamarnya, juga di album foto yang disimpen mamanya. Logikanya, kalau waktu kecil aja udah cute gitu, gimana waktu gedenya? Makin cute, pastinya. Tapi Krisan nggak senarsis itu, kok. Kalaupun dia doyan banget foto-foto, itu lantaran dia seneng ngedit-ngedit foto dan video. Coba deh, liat koleksi album foto di Facebook-nya, atau akun Instagramnya, atau channel di YouTube-nya. Foto-foto dan video-nya itu selalu dia kasih sentuhan artistik dan pasti unik, nggak sekadar foto-foto narsis biasa.

Tapi sekarang Krisan cukup sadar diri kalau dia jadi pusat perhatian bukan karena tampang cute-nya, melainkan gara-gara tingkah sintingnya ngobrol sama benda mati. Ah, orang-orang itu pasti belum pernah liat Nadia ngobrol sama buku, pulpen, penggaris, bahkan botol Mogu Mogu. Yang dilakukan Krisan ini nggak ada apa-apanya dibandingin semua itu.

Setelah menempuh perjalanan yang naudzubilah jauh, akhirnya Krisan menemukan SPBU! Dia udah bersimbah peluh setiba di tempat itu.

“Ceban, Mbak,” ucap Krisan kepada petugas SPBU.

“Dimulai dari nol ya, Kak,” sahut si Mbak SPG dengan ramah sambil menunjukkan angka-angka di mesin pengisi bensin, kemudian mengisi si Junet dengan bensin sampai jumlah rupiah yang disebutkan Krisan tadi.

Dan saat hendak membayar, Krisan baru menyadari kalau dia lupa bawa dompet. Ya Tuhan, cobaan macam apa lagi yang harus dijalani jomblo ngenes ini? Tapi untungnya, Krisan nggak gampang panik. Dia menepikan si Junet ke tempat yang nggak jauh dari si SPG tadi supaya pengantre di belakangnya bisa melakukan pengisian bensin. Setelah itu, dia bilang ke si Mbak SPG, “Tunggu sebentar ya, Mbak. Temen saya masih di minimarket. Kebiasan deh, dia itu suka nyolong dompet saya nggak bilang-bilang.” Dan syukurnya, si Mbak SPG percaya-percaya aja. Entah apakah karena dia kurang waspada, atau dia memang baik hati dan tidak sombong, atau bisa jadi itu karena tampang Krisan yang nggak bisa bikin cewek-cewek nolak permintaannya.

Krisan berusaha menghubungi nomor-nomor telepon darurat di ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Marcel, Nino, juga Yogas. Nama itu memang diurutkan secara otomatis berdasarkan alfabet di buku teleponnya. Tapi urutan itu ada benernya juga sih, kalau mau dibilang sebagai urutan teman yang paling bisa diandalkan dalam urusan mohon-memohon bantuan. Tapi masalahnya, rumah Marcel paling jauh dari lokasi SPBU itu. Nino juga nggak ngangkat teleponnya—pasti dia masih ngorok dan mimpi jorok. Dan akhirnya, Yogas lah yang berhasil memenangkan sayembara ‘Siapa yang Menjadi Pahlawannya Krisan Hari ini’. Dia bilang, “Oke. Tunggu lima belas menitan lagi.” Masih lama banget. Tapi, yah, namanya juga lagi kepepet. Krisan kudu siap-siap mikirin alasan buat ngeles ke si Mbak SPG yang baik hati itu.

Saat Krisan mengakhiri pembicaraannya dengan Yogas, seseorang menghampiri dan menegurnya, “Maaf, Mas, dilarang menelepon di area SPBU!”

Krisan kaget mendengar suara itu. Suaranya berat dan berwibawa banget kayak suara polisi. Kemudian dia menyadari kalau dia menelepon teman-temannya di dekat papan besar bergambar ponsel yang disilang alias dilarang menelepon. Waduh, bisa-bisa Krisan kena denda, nih.

“M-maaf, tadi saya—” Krisan tidak melanjutkan kalimatnya. Cowok bertubuh tinggi dan atletis itu baru saja membuka helmnya, membuat Krisan mengidentifikasi wajahnya.

“Hai, Krisan Yudhistira Pratama,” sapa cowok berwajah ganteng itu dengan suara yang lebih santai, tidak diberat-beratkan seperti suara sebelumnya.

Wajahnya mengingatkan Krisan kepada seseorang. Tapi, rasanya nggak mungkin. Orang yang pernah Krisan kenal dengan wajah itu nggak setinggi dan seatletis ini. Mungkin cuma mirip. Tapi, kenapa orang ini tahu nama lengkap Krisan? Dan kenapa tatapannya terlihat begitu akrab?

“Kamu masih inget saya?”

“K-Ken? Kenvin? Kenvin Kamadias Abdirangga?”

Cowok itu tersenyum, memamerkan gigi kelinci dan lesung pipi, juga sorot mata yang menyenangkan. Satu paket senyuman manisnya yang selalu berhasil membikin hati cewek-cewek lumer itu. “Apa kabar?”

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro