Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 7

Selamat malam minggu gais, siapa disini yang malam minggunya di rumah aja?

Aku mah malam minggunya di kantor aja:v

Btw maafkeun aku yang selalu telat updatenya, kerjaan di dunia nyata begituu banyakkk gais, huhuhuhu:(


Happy Reading


"Ateu Hanin tahu gak? Kalau udah gede Rain mau jadi Hakim biar bisa ketok palu." ucap Raina berceloteh pada Hanin.

Hanin terkekeh dengan alasan yang dilontarkan Raina.

"Kalau ateu Hanin mau jadi apa?" tanya Raina.

"Ateu kan udah besar sayang. Sekarang ateu Hanin udah jadi Apoteker." jawab Hanin.

"Apoteker itu apa teu?" tanya Rain sambil mengerutkan keningnya seperti berpikir.

"Apoteker itu yang kerja di rumah sakit. Ngasih obat ke pasien." jawab Hanin.

"Ih berarti ateu Hanin kerjanya sama obat pahit itu ya?" tanya Rain.

"Walaupun pahit obat itu dapat menyembuhkan Rain sayang." jawab Hanin.

"Rain ngantuk. Anterin Rain bobo yuk ateu." pinta Rain.

"Ayo sayang."

Hanin berjalan bersama Rain menuju kamar. Dari jendela samping yang ia lewati Hanin dapat melihat Bian bersama Carrol sedang asyik mengobrol di taman samping villa.

---

Hanin menatap bintang yang bertaburan di langit malam. Ia duduk sendiri di kursi taman yang berada di samping villa. Jam telah menunjukkan pukul 11 malam tapi rasa kantuk yang tidak juga menyerang membuat Hanin memutuskan untuk berdiam diri di taman saja menikmati pemandangan malam.

"Belum tidur?"

Hanin terlonjak kaget ketika mendengar suara di belakangnya.

"Dok saya kaget, beneran deh. Ini udah malam dan tiba-tiba ada suara di belakang saya. Saya pikir penunggu rumah ini." ucap Hanin pada Bian.

"Penunggu rumah ini juga masih teman kamu kan?" ledek Bian.

Hanir mendengkus kesal. Ia kembali menatap ke depan dan posisi Bian masih berdiri di belakangnya.

"Kamu kenal kakak saya dimana?" tanya Bian.

"Di cafe. Dikenalin oleh Dokter Carrol." jawab Hanin.

"Udah kenal Carrol lama?" tanya Bian.

"Sejak 2 tahun yang lalu. Saya dan Dokter Carrol barengan waktu mulai kerja di rumah sakit." jawab Hanin.

"Oh 2 tahun. Baru sebentar ya." ucap Bian.

"2 tahun itu lama dok." ujar Hanin.

"Saya juga udah temenan sama Carrol 15 tahun merasa sebentar." ucap Bian.

Hanin membelalakkan matanya tak percaya. 15 tahun? WOW! Pertemanan cewek cowok segitu lamanya. Mustahil tidak ada apa-apanya pikir Hanin.

Hanin membalikkan tubuhnya dan menatap Bian yang sedang berdiri. Pandangan mereka bertemu.

"Kenapa?" tanya Bian memutuskan kontak mata mereka.

"Kalian berdua hebat! 15 tahun masih awet." puji Hanin.

"Awet? Kita bersahabat dan pertengkaran kecil sering terjadi sih. Tapi itu namanya bumbu persahabatan." ucap Bian.

Ia duduk di samping Hanin.

"Bukannya bumbu percintaan ya Dok?" goda Hanin.

"Bumbu percintaan apanya? Aku sama Carrol itu pure sahabatan." ujar Bian.

"Udah deh Dok gak usah ngelak. Saya sangat pandai menyimpan rahasia kok." ucap Hanin sambil terkikik.

"Kalau gak percaya tanya aja sama Carrol. Katanya kalian udah kenal 2 tahun." ucap Bian.

Hanin menghembuskan napasnya kecewa. Yah jadi selama ini mengenai hubungan mereka hanya rumor?

"Saya belum seakrab itu sama Dokter Carrol. Berbagi tentang hubungan pribadi belum pernah kami lakukan." ujar Hanin.

Tunggu! Berbagi hubungan pribadi? Hanin berpikir lalu apa maksudnya Bian menceritakan tentang dirinya dan Carrol?

"Raina kayanya suka ya sama kamu?" tanya Bian memecahkan keheningan sesaat yang tercipta diantara mereka.

"Semua anak kecil akan suka sama saya Dok." jawab Hanin bangga.

"Iyalah bocah mah seneng main sama bocah lagi." ujar Bian dengan senyum super menyebalkannya.

Hanin memutar bola matanya malas. Apa memang sifat pria disampingnya seperti ini? Dia senang sekali merendahkan orang lain dengan kata-kata sarkasnya.

"Anak-anak tahu hati seseorang Dok. Mereka dapat membedakan mana yang tulus dan mana yang pencitraan." jawab Hanin.

"Saya jadi ingin menjadi anak-anak." ujar Bian.

Hanin menengok ke sampingnya. Ia gak salah dengar kan?

"Biar bisa membedakan yang tulus dengan yang modus." ucapnya sambil tersenyum miring.

"Emang ada yang modusin dokter?" tanya Hanin.

Tanpa mendengar jawabannya pun sebenarnya Hanin tahu sendiri. Di rumah sakitnya saja banyak sekali para pegawai wanita yang bermodus ria di depan Bian. Dia memang tampan sih, kaya lagi. Tapi setelah melihat watak aslinya yang seperti ini rasanya para wanita tak akan kuat mengimbanginya.

Hanin pun dulu mengaguminya. Catat! KAGUM. Tapi setelah beberapa kali obrolan mereka yang begitu sarat akan sindiran-sindiran membuat Hanin berhenti mengaguminya.

"Modusin saya? Kamu jangan menutup mata dan telingan Hanin. Seluruh staff perempuan di rumah sakit bahkan berlomba untuk mendapatkan perhatian saya."

Lihat? Sifat narsisnya kembali keluar bukan.

"Tidak semua Dok. Hanin Agatha Putri salah satu yang tidak tertarik pada Dokter." ucap Hanin sambil tersenyum miring.

"Tapi kayanya kamu deh yang paling cari perhatian. Buktinya diantara semua staff hanya kamu yang paling sering mencari kesempatan untuk berbicara dengan saya. Bahkan kamu mengikuti acara dengan keluarga saya sekarang." jawabnya.

Hanin melebarkan matanya tak percaya. Mencari kesempatan katanya? Jika melenyapkan orang adalah perbuatan yang terpuji maka Hanin akan dengan senang hati melenyapkan Bian.

"Dokter Fabian yang terhormat, saya tidak mencari kesempatan untuk bisa berbicara dengan anda. Begini ya, kita pernah berbincang di luar pekerjaan sebanyak 4 kali sampai sekarang. 2 diantaranya saya lakukan karena saya benar-benar ada kepentingan dengan Dokter. Dan 2 sisanya Dokter sendiri yang memulai pembicaraan dengan saya." terang Hanin dengan tersenyum amat manis.

"Wah saya benar-benar tidak menyangka bahwa nona Hanin menghitung jumlah pembicaraan kita." ujar Bian.

Bian berdiri dari duduknya sebelum Hanin menjawab perkataannya.

"Selamat malam Hanin." ucap Bian sambil tersenyum dan pergi begitu saja meninggalkan Hanin yang hanya bisa melongo mendengar ucapan Bian.

***

Hanin berjalan diantara para kerumunan orang-orang di dalam ballroom sebuah hotel. Ia sekarang tengah berada di pernikahan sang mantan yang terkutuk yang sayangnya kelihatan begitu tampan hari ini.

Hanin menepis pikiran konyolnya ketika melihat Fandi yang tampak mempesona hari ini. Akad telah dilaksanakan pagi tadi dan sekarang adalah waktunya resepsi.

"Hanin! Sini!" teriak seseorang.

Hanin menengok dan ternyata itu para sahabat Fandi yang sudah Hanin kenal dengan baik. Hanin pun menghampiri mereka dan duduk di kursi yang masih kosong.

"Lo sendiri Nin?" tanya Bela sahabat Fandi.

"Iya." jawab Hanin malas.

"Lha elo masih jomblo rupanya? Yaudah sama gue ajak yuk Nin." goda Andi sahabat Fandi yang lainnya.

"Ogah!" ucap Hanin.

Dan mereka pun tertawa melihat wajah ngenes Andi.

"Kerjaan di rumah sakit aman Nin?" tanya Monik yang juga sahabat Fandi.

"Gue bukan security nona Monik." ucap Hanin sambil mengerucutkan bibirnya kesal.

Mood Hanin sedang dalam kondisi buruk dan para sahabat Fandi ini terus saja bertanya hal-hal gak penting yang membuat mood Hanin semakin hancur.

"Eh lihat deh itu cowok ganteng banget coba!" ucap Bela dengan histeris.

"Mana-mana?" tanya Monik sambil menengok-nengokkan kepalanya mencari sang objek.

"Itu yang pake kemeja navy." jawab Bela dengan pandangan yang tak lepas dari sang objek.

Hanin yang penasaran pun membalikkan tubuhnya mencari pria itu. Kali aja kan dia ketemu jodoh di nikahan mantan.

Hanin mengedip-ngedipkan matanya tak percaya dengan yang ia lihat. Dengan segera ia membalikkan badan dan menelungkupkan wajahnya pada meja.

"Lo kenapa Nin?" tanya Monik yang merasa aneh.

"Eh pria itu kayanya mau kesini." ucap Bela dengan semangat.

"Gue permisi dulu ya." ucap Hanin dengan terburu-buru.

"Hanin!"

Mampus! Dia kalah cepat dengan pria sejuta pesona dan sejuta kenyinyiran itu.

"Pria itu manggil elo kan Nin?" tanya Bela dengan tampang cengonya.

Hanin yang sudah berdiri membalikkan badan dan memasang senyum 5 jari.

"Dokter panggil saya?" tanya Hanin mencoba berbasa-basi dengan pria yang kini tengah berdiri di dekatnya yang sedang mengerutkan keningnya.

"Kamu ngapain disini?" tanya Bian.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro