Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 26

Selamat hari Senin^^

Ada yang kangen aku gak? Ayo bilang kangen dong, mau double up nih.. wkwkwkwk *jomblo mode on nih gak ada yang bilang kangen kaya Bian:')


Happy Reading^^



Hanin menatap pemandangan pantai dari kamarnya. Kamar hotel yang telah ia tempati selama satu minggu ini. Ada rasa rindu yang menelusup ketika dirinya teringat akan Bian. Namun sudah dua minggu ini ia menahan rasa rindu itu karena hatinya masih terluka.

Foto itu berefek banyak akan dirinya. Hanin sendiri bahkan bingung kenapa ia menjadi perempuan yang seperti ini? Seharusnya ia tidak menghindar seperti ini dan menyelasaikan masalahnya dengan cara yang dewasa. Namun entahlah, Hanin hanya belum siap untuk mendengar apapun yang dikatakan Bian.

Satu minggu di Bali tidak membuat perasaannya lebih baik. Karena selama ini ia banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar hotel. Menatap matahari terbit dan tenggelam. Hanya seperti itu.

Tok ... Tok ... Tok ...

Suara ketukan di pintu membunyarkan lamunan Hanin. Ia menatap aneh ke arah pintu, siapa yang datang? Sepertinya ia tidak memesan layanan kamar.

Hanin pun bergegas untuk membuka kan pintu.

Ceklek ...

Hanin terdiam memandang siapa yang datang. Pria itu. Pria yang dua minggu ini ia tidak tahu bagaimana kabarnya.

Tanpa Hanin duga Bian langsung masuk dan memeluknya. Hanin hanya mematung. Ia ingin membalas pelukan pria itu, namun egonya tidak cukup untuk dia melakukan hal itu.

"Aku kangen kamu." ucap Bian.

Hanin hanya terdiam walaupun dalam hatinya ia meneriakkan kata yang sama.

Bian menguraikan pelukan mereka dan menatap dalam bola mata Hanin.

"Kamu apa kabar?" tanya Bian.

"Seperti yang kamu lihat." jawab Hanin.

"Kamu tidak terlihat baik-baik saja." ujar Bian.

Hanin melepaskan tangan Bian yang masih memegang lengannya. Ia melangkah meninggalkan Bian menuju jendela yang memperlihatkan pemandangan laut.

"Kamu suka disini?" tanya Bian.

Hanin dapat merasakan pria itu berdiri di belakangnya.

"Hhmmm." gumam Hanin.

"Kamu tahu aku disini dari siapa?" tanya Hanin.

"Ibumu." jawab Bian.

Pantas! Kenapa semalam ibunya begitu kepo tentang Hanin yang tinggal dimana. Bahkan ibunya menanyakan nomor kamar Hanin. Tidak terpikirkan sama sekali oleh Hanin bahwa Bian akan menyusulnya kesini.

"Stop menyiksaku seperti ini Nin." ucap Bian.

"Siapa yang menyiksa siapa?" ucap Hanin tanpa melepaskan pandangannya dari laut biru.

"Jika kemarahanmu karena foto itu, aku akan jelaskan semuanya." Bian menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Hanin. Namun tidak ada tanggapan apapun dari wanita itu.

"Itu semua salah faham. Kamu tahu sendiri bukan seperti apa aku dengan Carrol? Aku dan dia telah bersahabat selama 15 tahun..."

"Lalu persahabatan 15 tahun kalian itu bisa kalian gunakan alasan untuk melakukan apapun?" tanya Hanin.

Ia membalikkan badannya untuk menatap Bian. Hanin memundurkan posisinya ketika menyadari mereka terlalu dekat.

"Nin aku gak ada perasaan apapun padanya. Aku melakukan itu karena dia menangis saat itu." ucap Bian.

"Jadi setiap dia menangis kamu akan datang dan memeluknya?" tanya Hanin telak.

Bian terdiam untuk sejenak.

Hanin berjalan menuju ranjang. Ia duduk di pinggiran ranjang dan menatap punggung Bian.

"Aku gak akan melakukan itu lagi." ucap Bian.

Bian berjalan ke arah Hanin dan ia berlutut di depannya sambil menggenggam tangan Hanin.

Hanin mati-matian menahan air matanya. Ia merutuki kebodohannya, kenapa ia menjadi wanita yang cengeng?

"Saat itu aku belum tahu alasan Carrol menangis. Aku memeluknya untuk menenangkan dia. Namun pengakuannya setelah itu membuat aku tercengang." ucap Bian sambil menatap manik-manik mata Hanin.

"Dia mencintaimu bukan?" tanya Hanin tepat.

"Dan kamu sekarang bingung untuk memilih." lanjut Hanin. Tanpa bisa ia tahan air matanya meluncur begitu saja.

"Nin ..."

"Semua orang dapat menebaknya bahwa Dokter Carrol menyukaimu. Dan mungkin sekarang semua orang di rumah sakit telah menyangka bahwa kalian telah resmi menjalin hubungan." tutur Hanin.

"Aku gak bingung Nin. Kenapa aku harus memilih? Aku hanya menginginkan kamu, bukan perempuan lain." ucap Bian mengabaikan semua spekulasi Hanin.

"Kamu jangan nangis." ucap Bian dan menghapus bulir-bulir air mata Hanin.

"Aku tahu aku salah karena memeluk Carrol begitu saja. Tapi sungguh aku tidak bermaksud apa-apa. Perasaanku hanya untuk kamu Nin. Aku mohon percayalah padaku." ucap Bian

Hanin hanya menundukkan kepalanya mencerna semua kata-kata Bian. Logikanya berkata bahwa sudahlah lupakan semuanya dan maafkan Bian, tapi hatinya masih terus berprasangka terhadap kejadian itu.

"Kamu gak akan lakuin itu lagi kan?" tanya Hanin pada akhirnya setelah hening beberapa saat.

Air matanya telah mengering namun kegundahan itu masih sedikit ia rasakan.

"I am promise." ucap Bian dengan sungguh-sungguh.

"Tapi kenapa waktu itu kamu gak angkat telepon dari aku?" tanya Hanin.

"Handphone ku ketinggalan di kamar. Pas aku balik mau hubungi kamu tapi kamunya gak bisa dihubungi lagi." jawab Bian.

"Aku kesal soalnya." ucap Hanin sambil memajukan bibirnya.

"Sekarang udah enggak kan?" tanya Bian sambil tersenyum.

"Sedikit." ujar Hanin.

"Jangan kesal lagi dong. Aku pegal ini loh Nin." kata Bian.

Hanin mengerutkan keningnya merasa bingung. Setelah melihat posisi Bian yang ternyata masih dalam posisi berlutut barulah Hanin faham.

"Aku gak nyuruh kamu untuk berlutut. Lagian lebay banget sih." ucap Hanin dan ia pun beranjak meninggalkan Bian.

"Kemana Nin?" tanya Bian ketika Hanin berjalan menuju pintu.

"Jalan-jalan." jawab Hanin sambil menoleh ke arah Bian yang sudah berdiri.

"Kamu gak ngajak aku?" tanya Bian.

"Kamu bukan anak kecil yang harus diajak. Lagian ini waktu liburanku kok kamu malah kesini sih." ungkap Hanin.

Bian menghela napas supaya Tuhan lebih banyak memberikan stok kesabaran untuknya menghadapi wanita yang sulit ditebak seperti Hanin. Jika dirinya tidak menyusul Hanin kesini mungkin masalahnya belum juga selesai.

"Jalan-jalan kemana?" tanya Bian mensejajarkan langkahnya ketika mereka telah berjalan di lorong hotel.

"Gak tahu. Selama ini kan aku hanya berdiam diri di kamar." jawab Hanin cuek.

"Satu minggu kamu di Bali dan hanya berdiam di kamar?" tanya Bian tak percaya.

"Heem." gumam Hanin sambil menekan tombol lift.

"Kamu sebenarnya niat ngapain sih ke Bali? Habisin duit buat hotel aja kamu tuh." ucap Bian.

Hanin berdecak mendengar ocehan Bian.

"Terserah saya dong Dok. Lagian uang anda kan banyak, ntar saya minta aja kalau habis." kata Hanin dengan enteng.

"Kan kamu tahu aku lagi nabung buat beli rumah untuk kita." ucapan Bian membuat jantung Hanin berdebar tak karuan. Mendengar kata rumah untuk mereka tempati bersama membuat angan Hanin melambung tak terkira.

"Serius amat sih nanggepinnya." ucap Hanin.

"Karena aku gak pernah main-main sama kamu." ujar Bian.

Hanin menatap pria disampingnya yang juga tengah menatap ke arahnya. Dengan segera Hanin memeluk Bian.

"Aku kangen." ucap Hanin dalam pelukan Bian.

Bian mengelus kepala Hanin. "Aku lebih dari kangen Nin." ucap Bian.

Ting...

Pintu lift terbuka, mereka pun melepaskan pelukannya.

"Ayo kita jelajahi Bali. Kita gantikan satu minggu kamu yang sia-sia dengan satu hari yang bermakna." ucap Bian sambil menggandeng tangan Hanin.

"Kita jalan-jalan sekitaran hotel aja ya jangan jauh-jauh." kata Hanin dan Bian mengerutkan keningnya tidak mengerti.

Memahami apa yang ada dipikiran Bian, Hanin pun melanjutkan ucapannya, "Kamu gak lihat aku pakai baju kelewat santai, mana pake sandal jepit lagi." ucap Hanin sambil melihat keadaan dirinya.

"Kamu tetap cantik kok." ucap Bian.

"Itukan kata kamu, lah apa kata orang nanti." ujar Hanin.

"Jangan dengarkan kata orang, yang penting apa kata aku." Tutur Bian.

Hanin hanya mengulum senyum mendengar perkataan Bian. Sepertinya dua minggu ini ia memang dibutakan oleh perasaan cemburunya. Ia menyadari banyak sekali moment yang mereka lewatkan selama dua minggu ini.

"Terima kasih." ucap Hanin sambil mengeratkan genggamannya pada Bian.

Bian menoleh pada Hanin.

"Aku yang berterima kasih karena kamu mau percaya padaku. Dua minggu kamu mendiamkanku karena cemburu itu sudah cukup bukti bahwa rasa cintamu padaku sangat besar." tutur Bian.

"Jangan buat aku salah faham lagi." ucap Hanin.

"Surely"

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro