Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 20

Haiii..

Selamat hari senin, ini aku kasih sedikit asupan untuk membuat hari Senin para pembaca yang luvluvv tambah semangat><


Happy Reading^^


Hanin memarkirkan motor kesayangannya di basement apartement. Hanin berjalan menuju lift dan menekan angka yang sesuai dengan nomor yang dikirimkan Bian. Yups! Hari ini Bian mengirimkan alamat tempat dimana mereka akan bertemu, Hanin kira Bian akan mengajaknya ke suatu tempat tapi ternyata ia malah mengirimkan alamat apartement-nya lengkap dengan nomor unit beserta passwordnya.

"Gak nyasar kan Nin kesini?" suara Bian langsung mengisi gendang telinganya ketika Hanin baru saja masuk ke dalam apartement. Hanin langsung saja mengganti sepatu yang dipakainya dengan sandal rumah.

"Nggak. Wong Dokter ngirim alamatnya kelewat lengkap sampai dengan passwordnya." ucap Hanin dan berjalan ke arah Bian.

"Tadi kamu gak ada kendala kan di pemeriksaan?" tanya Bian.

"Enggak, aku lihatin kartu identitas aku dan kata beliau yang periksa kamu udah ngasih tau bakalan ada tamu." jawab Hanin

"Kamu bawa copy an identitas kamu gak? Nanti aku mau daftarin biar punya akses langsung ke sini gak usah melewati protokol pemeriksaan." ujar Bian dengan terkekeh.

Apartemennya memang memiliki keamanan yang ketat hingga tidak sembarang orang bisa memasukinya.

"Ada. Nanti aja." jawab Hanin.

Hanin menyimpan tas yang ia bawa di salah satu sofa. Tas itu berisi pakaian Hanin untuk nanti malam ke rumah sakit. Rencananya dia memang akan berangkat langsung saja dari apartement Bian supaya jaraknya lebih dekat.

Hanin mengamati isi apartement Bian. Cat-nya didominasi oleh warna putih. Tidak biasanya, pikir Hanin. Kebanyakan pria menerapkan warna-warna gelap di apartement.

"Nin makan dulu." ucapan Bian menghentikan kegiatan Hanin yang sedang meneliti isi apartement.

"Dokter pesen semua ini?" tanya Hanin takjub melihat banyak sekali makanan di meja.

"Saya tahu kamu doyan makan, makannya saya pesen banyak." jawab Bian.

Hanin hanya berdecak mendengar jawaban Bian. Ia duduk di samping Bian dan mengambil satu potong pizza.

"Dok dekorasi apartementnya kok gak ada maskulin-maskulinnya?" tanya Hanin di sela-sela makannya.

"Aku hanya beli unit ini dan selebihnya mommy yang urus. Lagian aku jarang disini kok, tapi ada bagusnya juga sih kaya gini. Kalau nanti kita udah nikah dan tinggal disini jadi gak repot buat ngedekor ulang." jawaban Bian hampir saja membuat hanin tersedak.

"Gak usah bahas nikah mulu apa Dok? Serem saya serasa pacaran sama om-om yang udah kebelet nikah." ucap Hanin.

"Lagi pula emangnya saya setuju tinggal disini?" tanya Hanin kemudian.

"Ya kalau kamu nggak setuju juga gak papa sih. Tinggal kita bangun rumah aja. Tapi kan sementara nunggu rumah jadi kita tinggal disini." jawab Bian.

Hanin hanya menggeleng-gelengkan kepala. Enteng banget ya Bian ngomong bangun rumah, dia pikir rumah barbie?

"Kita bangun rumah tuh harus hasil usaha sendiri Dok. Dokter pikir bangun rumah itu biayanya murah?" tanya Hanin sambil mengambil pudding yang dari tadi menggoda matanya.

"Iyalah hasil usaha saya. Makannya saya bilang juga tinggal disini dulu. Nah nanti kita kumpulin dana buat bangun rumah bersama-sama. Saya kan baru kerja di rumah sakit satu tahun ya belum cukup dana lah buat bangun rumah, apalagi tabungan saya terkuras karena beli apartement ini." ucap Bian.

Hanin hanya terkekeh mendengar ucapan jujur dari Bian.

"Kenapa ketawa Nin?" tanya Bian.

"Gak tahu pengen aja." jawab Hanin sambil memasukan satu potong pudding ke mulutnya.

"Ahhh saya lelah." ucap Bian dan mengubah posisinya menjadi berbaring dengan kepala yang berada di pangkuan Hanin.

Bian memejamkan matanya sejenak. Hanin hanya tersenyum memandang wajah tenang pria itu.

"Jadi saya disuruh kesini buat lihat Dokter tidur?" tanya Hanin.

"Nggak kok." ucap Bian dengan mata terpejam.

"Kamu masih punya jatah cuti nggak Nin?" tanya Bian sambil menatap Hanin.

"Masih. Saya belum ambil yang tahun sekarang Dok. Kenapa? Mau ngajak saya jalan-jalan?" tanya Hanin.

"Nggak. Cuti saya udah saya ambil semuanya." jawab Bian dengan nada frustasi.

"Kasihan. Ntar saya liburan sendiri aja ya Dok." ucap Hanin sambil terkekeh.

"Kita nikah aya yuk Nin biar saya dapat cuti lagi." ucap Bian.

"Sembarangan!" ucap Hanin sambil menjitak pelan kening Bian.

"Jangan jitak kepala saya Nin, ini tuh kepala yang berharga yang telah menyelamatkan kehidupan banyak orang." ucap Bian dengan lebay.

Hanin hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Bian.

"Besok saya ada operasi jam 10 pagi. Kamu besok shift sore berarti?" tanya Bian.

"Iya besok saya shift sore. Semangat operasinya Dokter Fabian." ucap Hanin sambil mengelus kepala Bian.

"Semangat saya kalau udah disemangati kamu." ucap Bian sambil terkekeh.

"Lebay Dok." ucap Hanin.

"Eh bisa gak sih kamu jangan panggil saya Dokter? Serasa ngomong sama pasien saya." ucap Bian.

"Belum terbiasa kalau harus panggil selain Dokter." jawab Hanin.

"Yaudah dibiasain makannya." Bian kembali merubah posisinya menjadi duduk.

"Gini mulai sekarang pakai aku-kamu gimana?" tanya Bian.

"Gak tahu ah pusing saya." ucap Hanin sambil beranjak dari duduknya.

"Aku serius!" ucap Bian dan sukses menghentikan langkah hanin.

"Dok saya merinding lho dengernya." ucap Hanin memperlihatkan kedua tangannya.

"Stop ngomong gitu ah. Kita kaya biasanya aja deh." ucap Hanin masih tidak beranjak dari posisi berdirinya.

"Aku maunya kamu jangan panggil aku Dokter lagi." ucap Bian dengan senyum lebar.

"Ih Dok berhenti deh, saya masih geli dengernya." ucap Hanin.

"Denger apa? Oh aku cinta kamu gitu?" ujar Bian dengan nada usil.

Hanin mengambil bantal sofa yang berada di dekatnya.

"Stop gak?" ancam Hanin sambil mengacungkan bantalnya bersiap untuk melemparkan ke arah Bian.

"Aku cinta kamu, aku sayang kamu, aku mau..." Hanin dengan segera membekap Bian dengan bantal yang ia pegang.

"Aku mau nikah sama kamu." sambung Bian ketika berhasil melepaskan diri dari bekapan Hanin.

"Kamu jahat Nin, masa aku dibekap pakai bantal. Kalau aku mati kamu mau nikah sama siapa?" tanya Bian sambil membenarkan duduknya.

"Dokter!!!" teriak Hanin.

"Stop bilang aku! Oke kita akan coba tapi jangan sekarang." ucap Hanin dengan kesal.

"Yaudah kalau kamu gak bisa sekarang, aku aja yang nyoba sekarang." jawab Bian dengan senyum miringnya.

Hanin menghembuskan napasnya kasar. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju arah dapur.

"Nin." Panggil Bian.

"Apa?" tanya Hanin sambil membalikkan badannya.

"Aku cinta kamu." ucap Bian sambil tertawa keras.

"I hate you!" ucap Hanin sambil menghentakkan kakinya dan melanjutkan langkahnya ke dapur. Bian hanya tertawa melihat reaksi Hanin yang tidak biasa dengan perlakuannya.

***

Hanin meregangkan seluruh tubuhnya yang terasa kaku setelah selesai bekerja shift malam. Matanya terasa berat dan rasanya Hanin ingin segera tertidur di kasur empuk kesayangannya.

Setelah berpamitan dengan rekan kerjanya Hanin melangkahkan kaki menuju basement tempat dimana motornya di parkir.

"Aku antar kamu pulang." Tiba-tiba Bian datang dan membuat Hanin menajamkan penglihatannya takut ini halusinasi.

"Lah Dokter ngapain disini?" tanya Hanin dengan mata melirik kiri kanan takut ada orang yang melihat mereka. Meskipun mereka tengah berada di basement namun tidak menutup kemungkinan bahwa ada pegawai rumah sakit yang mengenalinya.

"Jemput kamu lah. Ayo mobil aku di parkir disana." ucap Bian sambil menunjukkan mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Tanpa Hanin duga Bian menggandeng tangannya menuju ke arah mobil.

"Dok lepas ih. Kalau orang lihat gimana?" tanya Hanin sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Bian.

"Gak akan ada, santai aja." bisik Bian.

"Ngapain berbisik?" tanya Hanin aneh. Katanya gak akan ada orang ngapain pake bisik-bisik segala?

"Mau aja." jawab Bian dengan cengiran lebarnya.

Hanin hanya menggeleng-geleng pelan sambil matanya tetap awas mengamati sekitar.

---

"Udah deh Dok mendingan pulang aja." ucap Hanin. Mereka sekarang tengah berada di halaman rumah Hanin dan Bian memaksa untuk bertamu.

"Aku gak lama kok, kan jam sepuluh nanti ada operasi." jawab Bian.

"Tuhkan mau ada operasi, jadi mendingan pulang aja kapan-kapan deh bertamunya." ujar Hanin dengan wajah malas. Masalahnya saat ini Hanin hanya ingin tidur dan tidak mau ada orang yang bertamu ke rumahnya.

"Kata kamu kan Ibumu hari ini ada di rumah karena gak ada jadwal ngajar. Nah makannya aku ingin memperkenalkan diri secara resmi sebagai pacar kamu sekarang." ucap Bian.

Hanin memutar bola matanya malas. Berdebat dengan Bian memang tidak akan ada habisnya.

"Loh ada tamu kok gak dibiarin masuk?" suara Ibunya Hanin terdengar dari pintu rumah yang tiba-tiba di buka.

"Selamat pagi Tante." ucap Bian dan langsung saja dirinya menyalami ibu Hanin.

"Pagi nak Bian. Kenapa diluar? Ayo masuk." ajak Ibunya Hanin sambil membukakan pintu lebih lebar.

"Gak dibolehin sama Hanin Tan." Adu Bian yang langsung mendapat pelototan dari Hanin.

"Hanin gak boleh gitu lho sama tamu." ucap Ibunya Hanin.

Mereka pun masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi tamu.

"Hanin mau kemana?" tanya ibunya ketika Hanin tidak duduk dan malah melanjutkan langkahnya.

"Mau tidur Mah, Hanin ngantuk." jawab Hanin.

"Bikinin minum dulu dong." Perintah ibunya.

"Hmmm." Hanin hanya bergumam tapi tak ayal ia melaksanakan perintah ibunya.

Setelah mengambil minum dan menyimpannya di atas meja Hanin berucap, "Saya tinggal ya Dok. Ngobrol aja sama mama jangan ganggu saya."

"Aduh maafin Hanin ya nak Bian. Dia orangnya memang gitu." ucap Ibunya Hanin ketika Hanin sudah tidak ada di ruang tamu.

"Iya gak papa Tan. Saya faham kok dia pasti lelah setelah semalaman bekerja." jawab Bian.

"Saya juga gak akan lama kok disini soalnya jam sepuluh nanti ada operasi." lanjut Bian.

"Tante sebenarnya saya kesini hendak memberitahukan sesuatu." ucap Bian dan menjeda ucapannya.

"Kalian pacaran kan?" tanya ibu Hanin langsung.

"Hah? Kok Tante tahu? Hanin udah cerita?" tanya Bian bertubi-tubi.

Ibunya Hanin hanya terkekeh pelan.

"Tante hanya menduganya kok. tapi ya syukur deh kalau memang beneran." jawab Ibunya Hanin.

"Saya memang pacaran sama anak Tante. Tapi sebenarnya saya ingin lebih serius lagi, mengingat usia kami pun bukan dalam usia untuk sekedar main-main." ucap Bian.

"Tante faham kok. tapi sebelum mengambil langkah lebih jauh kalian harus mastiin dulu segala sesuatunya. Mengambil jalan yang serius itu bukan hal yang mudah." ucap Ibunya Hanin.

"Kalau saya pribadi sudah yakin kok Tan terhadap Hanin. Tapi entah bagaimana dengan Haninnya sendiri." jawab Bian.

"Saya juga hendak minta izin sama Tante untuk mengenalkan Hanin pada keluarga saya." ucap Bian.

"Kalau tante ya silahkan aja mau ngenalin Hanin ke keluarga nak Bian. Tapi ingat lho kasih tahu Hanin nya jangan ngedadak dia orangnya gak suka acara dadakan." ujar Ibunya Hanin sambil tertawa renyah.

"Siap Tante. Saya bakalan kasih tahu Haninnya gak dadakan kok." ucap Bian.

"Oh ya Tan saya pamit pulang dulu. Ini udah hampir setengah sembilan soalnya." pamit Bian.

"Silahkan nak Bian. Semoga operasinya lancar ya." jawab Ibu Hanin.

"Aamiin Tante makasih do'anya. Saya titip salam buat Om ya Tan." ucap Bian.

"Iya nanti tante sampaikan. Hati-hati di jalannya." jawab Ibu Hanin.

"Baik Tan. Assalamu'alaikum." salam Bian.

"Wa'alaikumsalam."

***




Mau double update gak?

Tinggalkan  jejak vote sama komennya ya><

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro