Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

21

Catatan Penulis: Halo lagi, dan selamat datang di Part 3: The Warrior! Aku mau meminta maaf dulu karena update kali ini benar-benar sangat-sangat lama. Itu berita buruknya. Berita bagusnya, aku sudah menulis sampai dengan Bab 24. Jadi harapannya aku tidak akan terlalu jauh tertinggal lagi.

Seperti awal Part sebelumnya, aku juga memastikan bahwa ada perubahan feel pada Part ini ... walaupun setelah dipikir-pikir, mungkin perubahannya tidak akan sejelas dari Part 1 ke Part 2. Part 1 berfokus pada situasi yang kian memburuk. Part 2 berfokus pada petualangan. Part 3 kali ini, aku akan berfokus pada emosi.

Nah, aku merilis bab ini berbarengan dengan Bab 22. Sebagai bentuk minta maafku. Sebelum kita mulai, satu pertanyaan cepat: aku kemungkinan akan mengganti cover RCMJ (dan seluruh serial Ragnarok Cycle, jika aku jadi mengubah cover ini). Cover alternatifnya berbentuk kasar seperti ini:

Ya, bentuknya memang lebih simpel. Jika aku nanti menggunakan seri cover ini, maka judul ceritanya yang akan berganti-ganti warna sesuai dengan bukunya. Bagaimana menurutmu? Apakah aku ganti cover saja, atau tetap yang ini dulu?

Yah, aku rindu kalian, jadi aku tunggu jawaban kalian!

Di samping itu, terima kasih karena masih bertahan sampai sekarang. Perjalanan kita akan segera selesai. Ini dia Bab 21, bab pertama Part 3. Selamat menikmati!

***

[DELAPAN HARI SETELAH ISOLASI.]


AKU BERUSAHA MENCERNANYA sementara tanganku akhirnya kembali terasa. Aku berusaha menggerakkan jari—masih agak kaku, tapi bisa. Pegal-pegal di tubuhku masih melanda seperti banjir, tapi aku bisa merasakan rahangku agak lebih lancar. Ah, tidak. Lidahku yang lancar. Paling tidak cukup untuk berbicara sedikit. Tubuhku terasa seperti ditindih papan seberat gajah dan wajahku terasa hangat. Aku benar-benar tidak bisa bergerak banyak-banyak.

"W-Will—?"

"Ya," kata Will. "Omong-omong, kalian berempat luka parah. Mungkin akan butuh tiga hari istirahat sampai kalian bisa berjalan lagi ... minimal. Tetapi kuakui, pacarmu sembuhnya cepat juga. Kau juga. Kalian semua sebenarnya sembuh lebih cepat dari yang kuduga ... jauh lebih cepat. Luka-luka yang kalian dapatkan juga sangat sedikit dibandingkan seharusnya. Mungkin asesmenku ke keadaan yang kurang tepat. Entahlah. Mungkin jam istirahat kalian bisa ditekan, jika kalian butuh. Aku pribadi tidak akan menyarankan itu, tapi terserah kalian."

Aku berusaha bersuara—apa pun—dan berhasil mengerang. Oke, pita suaraku baik-baik saja. Apa Will baru saja menyebut Laura pacarku?

Tunggu. Will cuma menyebut kami berempat?

Jantungku mencelus.

Ray dan Beth.

"N-naga," kataku lemas. Bibirku nyaris tidak bergerak sama sekali, aku berbicara penuh dengan lidahku. Suaraku masih serak dan leherku terasa sangat lemas. "Naga."

Will tidak langsung menjawab. "Ah, aku tidak tahu di mana Ibu menyimpan obat-obatan untuk halusinasi. Nanti kuberikan setelah kaubisa bergerak. Kau tidak demam ... apa kau masih mengigau? Sepertinya kau sudah bangun. Ah. Nanti kucarikan obatnya kalau masih ada. Toh yang penting halusinasimu tidak menyakiti orang lain."

Aku mendengar erangan lemas dari sisi lain ruangan ini—erangan seorang gadis, dan bukan Laura. Shafira?

Sekilas kejut mendadak merambat melewati tubuhku, dan aku langsung tahu bahwa aku kembali berhubungan telepatis dengan gadis itu. Oke, itu Shafira. Ia tidak baik-baik saja. Tubuhku sudah sakit semua, dan berhubungan telepati dengannya menggandakan sakit yang ada. Gila.

Shafira sedang bingung. Aku merasakannya dengan sangat jelas. Sepertinya aku juga tidak sengaja mengirimkan informasi soal keadaan di sini yang sudah kualami—seperti soal Will—kepadanya. Beserta rasa sakitku juga, tentu. Aku tidak bisa mengendalikan itu. Paling tidak kuharap informasiku membantu.

"Sebaiknya kau jangan memaksakan gerakan dulu," kata Will. "Berbaringlah. Kaubutuh istirahat."

Aku berusaha menjawabnya—Kur kembali berkelebat di kepalaku beserta dengan ledakannya dan aku kembali memejamkan mata, tapi aku kembali teringat kecepatan terbangnya. Selama ini, Ray bisa mengejarnya dengan mudah ... tapi Kur baru saja menunjukkan bahwa ternyata dia bisa mengejar Ray jika dia mau.

Belum lagi, ternyata dia bisa menyemburkan api....

Aku menghela napas berat. Neith bilang Kur berada di dekat Yunani, dan sekarang kami di Yunani. Neith tidak menyebutkan apakah Kur sudah melewati Yunani atau belum saat kami menghadapinya, dan karena Yunani juga negara kepulauan, aku tidak yakin bisa memastikan. Aku cuma ingat bertarung dengannya di atas laut.

Namun satu hal sudah pasti: Kur sudah mencapai Eurasia.

Yang berarti hal lain: aku tidak punya waktu beristirahat di sini.

Jadi aku kembali berusaha bangun.

Aku menyesal.

Aku bukan mengerang lagi—aku memekik kesakitan sementara tubuhku memprotes setiap gerakan yang kubuat. Pekikanku memicu erangan yang sama pedihnya dari Shafira—aku benar-benar harus mengendalikan hubungan telepatiku dengannya—dan aku mendengar suara gebrakan keras dari pojok lain ruangan ini dibarengi lenguhan kaget. Tony.

"Apa—apa—"

Will menghela napas kesal. "Kalian ini—"

Anak itu menjauh, keluar lagi dari jangkauan pandangku, dan aku bisa mendengar gumaman protes Tony. Napasnya tidak terdengar tenang. Napas Shafira sama tegangnya. Muncul suara-suara yang tidak bisa kukenali, sepertinya usaha Will untuk membaringkan Tony dan Shafira lagi yang kaget dan terbangun dengan panik berkat jeritanku. Tony sepertinya memberi sedikit perlawanan, tapi bukan apa-apa yang berarti. Tidak makan waktu hingga bahasa di tempat ini hanya kesunyian lagi.

"Dengar," kata Will. Dia menghela napas dalam. "Aku tidak tahu kenapa kalian semua sangat buru-buru. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya hingga kalian bisa jatuh ke tanah dengan apa yang kukira ledakan sonik di belakang kalian. Entah bagaimana kalian mencapai kecepatan suara—jika kalian memang mencapai kecepatan suara. Aku tidak tahu kenapa kalian semua sepertinya punya kecenderungan tidak mendengarkan aku. Apa itu karena aku masih berumur tiga belas tahun, aku juga tidak tahu. Terserah kalian. Tapi aku tahu ini: luka kalian masih terhitung parah, bahkan dengan penyembuhan kalian yang ajaib. Dan jika kalian mau sembuh, aku sarankan kalian dengarkan aku dan beristirahatlah dulu."

Sunyi menyusul segera setelah teguran itu. Tony masih bernapas berat, tetapi tidak ada protes lagi dari arah sana. Shafira berusaha menenangkan napasnya—ini aku tahu pasti. Sepertinya Laura masih belum siuman lagi juga. Aku menghela napas berat.

Dengan agak sakit hati, aku mengakui Will ada benarnya. Kami harus sembuh dulu. Empat orang yang tidak bisa bergerak dan dua naga yang hilang tidak ada gunanya melawan Kur.

Dua naga yang hilang....

Astaga, aku baru sadar. Mengesampingkan kabar Ray dan Beth yang masih belum jelas—dan kemungkinan mengerikan bahwa aku telah tidak sengaja membunuh naga Illuminosian terakhir di muka Bumi ini—bisa apa kami tanpa mereka?

Bagaimana jika pertarungan melawan Kur nanti tetap terjadi di udara? Toh, hingga sekarang, Kur hanya menjejak tanah baru sekali—dan itu pun sebelum dia lepas landas pertama kali.

Apa yang akan kami lakukan?

Apa yang bisa kami lakukan?

Aku menghela napas. Rusukku terasa kaku—pernapasanku lancar, tapi rusukku kaku. Will sudah menyebutkan bahwa penyembuhan kami ajaib. Aku cukup yakin Restu kami punya peran di sana. Masalahnya, bahkan penyembuhan 'ajaib' kami masih tidak cukup cepat untuk membuatku siap saat ini juga. Sebagai perbandingan, aku sudah jatuh terbanting dari langit di Mesir dan bisa segera melompat bangun begitu aku siuman. Saat ini aku bahkan sulit menggerakkan tangan.

Jika kalian perlu apa-apa, sebutkan saja nama lengkapku tiga kali. Aku akan mendengar kalian.

Entah dari mana, adegan di Valaskjalf itu berkelebat di kepalaku. James. Ah, ya. Dia mata kami. Dia indra jarak jauh kami. Bisa jadi, dia tahu tentang....

Aku berusaha menggerakkan bibir. Masih keras. Tidak bisa. Lidah ... lancar. Bisa. Ini agak meragukan. Semoga saja ini cukup.... "Janghes Oth-horn," gumamku. "Janghes Oth-horn, Janghes Oth-horn."

Fakta bahwa aku tidak bisa menggerakkan bibir sama sekali—bahkan untuk menutupnya sedikit saja—sangat menggangguku berusaha mengucapkan nama James. Namun toh dia sudah berjanji bahwa jika kami menyebut namanya tiga kali, dia akan memerhatikan kami ... sekarang aku tinggal bisa berharap.

Sunyi. Tunggu, tidak terlalu sunyi. Siulan angin masih sangat keras berembus dari luar, dan dinding kayu tempat ini bergemeretuk dengan tidak tenang. Will mulai menghentak tanah dengan lembut, seperti bosan menanti sesuatu. Lalu ada bunyi goresan sesuatu yang terdengar seperti logam. Entah apa.

Tungku imajiner di perapian masih tidak bersuara.

Saat itulah jawaban tiba.

Aku dengar.

Akhirnya.

James, benakku. Di mana Kur sekarang?

Sunyi lagi sesaat. James bisa berkomunikasi telepatis denganku ... apa dia bisa mendengar pikiranku juga? Masalahnya, jika tidak bisa, matilah aku.

Kythira, jawab James. Pulau kecil di Barat Laut pulau Kreta. Masih Yunani. Eh ... tunggu.

Barat Laut Kreta. Will menyebutkan bahwa kami sedang berada di Madares ... Kreta. Berarti Kur bergerak terus ke arah benua Eurasia, dan sudah jauh melewati posisiku sekarang.

Paling tidak dia masih di Yunani.

Namun kenapa James memintaku menunggu?

Luke, kata James dengan suara sangat berhati-hati di kepalaku. Entah ini berita bagus atau buruk, tapi ... Kur melambat.

Aku nyaris tersedak, dan aku bahkan tidak tahu aku bisa tersedak dalam keadaan itu. "Hah?"

Kur melambat, ulang James. Dia tidak terbang secepat biasanya. Sebentar ... dia terbang ke arah Tanjung Tainaron. Ada jeda sesaat. Sepertinya aku tahu dia mau ke mana, tapi aku tidak bisa yakin.

Aku memejamkan mata untuk bersiap. Di mana Tanjung Tainaron itu?

Mani, Lakonia ... ah, menjelaskannya susah. Apa kepalamu cukup kuat untuk data lokasi?

Aku bahkan tidak sempat menjawab ketika mendadak aku bisa melihat sebuah pulau dengan tiga tanjung menjorok ke arah Selatan, dan pandanganku menyempit ke arah yang tengah—terus hingga ke ujung bawahnya. Data lokasi telepatis. Untung aku cukup mengenal James untuk menduganya duluan.

Tuh, kata James. Hmm. Kur ke arah Tainaron. Agak ironis. Tainaron itu tempat legendaris.

James, fokus, tegurku. Cerita nanti saja. Kondisi kami di sini hancur berantakan. Apa ada ide untuk menyusul Kur?

Yah, untuk menyusul Kur, kaubisa ... tunggu, kata James tiba-tiba. Nadanya berubah drastis. Aku dapat sesuatu soal Fimbulwinter.

Jantungku mencelus. Apa itu?

Ini ... ini agak rumit. Luke, aku akan kembali nanti. Maaf. Hlidskjalf memang bisa digunakan multitasking, tapi fokusku tidak. Aku akan tetap memberi pelacak pada Kur. Terus siaga.

Begitu saja, James tidak bersuara lagi di kepalaku. Entah bagaimana caranya, aku juga bisa merasakan persis bahwa dia sudah tidak di dalam kepalaku lagi.

Aku menghela napas. Will masih menghentak-hentak lantai dengan tidak sabaran. Air di dalam tungku tampaknya mulai menggelegak. Bunyi seretan logam tadi sudah tidak ada, tapi digantikan oleh seretan sesuatu pada kayu.

Mataku masih terpejam, dan bayangan api Kur kembali berkilat di kepalaku. Ray dan Beth ... aku bahkan tidak sempat menanyakan kabar mereka pada James dalam panggilan telepatis singkat tadi.

Telepatis....

Tunggu. Aku sudah terikat secara telepatis kepada satu orang, Shafira ... dan satu ekor naga.

Jika Shafira bisa merasakan perihku tanpa dikontrol, apa kira-kira aku juga bisa merasakan Ray?

Aku ingat saat Shafira turun dengan Wedjat dan Mata Ra yang belum penuh diisi—kami turun karena aku mendengarmu. Aku dengar di kepalaku kauminta bantuan.

Shafira bisa mendengarku dari jauh di atas awan ketika aku mengganggu Kur dari sekitar satu kilometer di atas permukaan laut.

Kreta adalah pulau yang masih bisa dibilang kecil. Apa mungkin aku bisa...?

Ray, panggilku. Ray, kaudengar?

Sunyi.

Aku menanti terus, mataku masih terpejam.

Sunyi.

Tetap sunyi.

Tidak ada jawaban.

Aku bahkan tidak merasakan mimpi atau apa pun—yang bisa berarti tiga hal. Satu, Ray sedang tertidur pulas. Mengingat bahwa kemungkinan besar tidak ada Will versi naga di sana entah di mana pun dia jatuh itu, kemungkinan ini sangat kecil. Dua, Ray sedang pingsan. Masih lebih masuk akal jika Ray mendarat di daratan. Tiga ... Ray sudah mati.

Namun aku tidak merasakan perih yang berlebihan saat aku siuman sekilas tadi, ketika Will memapahku ke dalam gubuk ini. Entah itu artinya Ray belum mati, aku tidak sedang sadarkan diri saat Ray mati, atau sesuatu terjadi dan memutuskan—atau sangat melemahkan—hubungan telepatisku dengan Ray.

Intinya: kemungkinan tidak berpihak pada Ray.

Aku bisa merasakan perih di jantungku. Bukan, bukan perih fisik. Rasanya seakan ada tulang rusukku yang patah satu dan membengkok ke arah jantungku, menusuk semakin dalam dengan setiap degupnya. Mengesampingkan fakta bahwa kami praktis tidak bisa apa-apa tanpa Ray dan Beth—yang kabarnya tidak mungkin bisa kuketahui selama Laura tidak bisa bicara—dan fakta kejam bahwa bisa jadi aku berperan memusnahkan kaum naga Illuminosian dari muka Bumi, Ray adalah temanku. Aku tidak tahu apakah naga yang baru kaukenal beberapa jam sudah bisa dihitung teman, tapi aku tahu persis kisahnya. Aku sudah merasakan semua pedihnya. Aku sudah berjuang di posisinya.

Dan, di pihak lain, dia juga mengenalku sama baiknya.

Aku baru sadar bahwa ada risiko laten dalam mengikat hubungan telepatis dengan seseorang: kau juga mengikat dirimu kepada orang itu.

Maksudku, sulit rasanya bisa memahami setiap perasaan dan pikiran seseorang tanpa merasa bahwa kaupunya suatu hubungan dengannya. Entah hubungan apa pun itu.

Hal yang sama juga berlaku bagi Shafira. Aku tidak tahu persis kenapa ia bisa dipercaya, aku tahu saja. Seakan-akan aku sudah lama mengenalnya. Aku sudah merasakan semua sakitnya, mengetahui semua ceritanya. Aku sudah mengagumi luka-lukanya. Ia, sementara itu, secara harfiah sudah bisa menelaah pikiranku. Ia datang saat aku membutuhkannya—walaupun dalam urusan seplatonis berusaha membantai Kur—dan aku bahkan belum terpikir soal berusaha memanggilnya secara sadar. Aku baru terpikir soal membutuhkan pertolongan, dan Shafira langsung membuat Laura terjun menjemputku. Toh, ia bahkan ikut merasakan sakit yang kurasakan saat aku berusaha bangun dengan keras kepala tadi.

Entahlah. Bagaimana rasanya masuk ke dalam kepala seseorang dan tidak merasa apa-apa tentang orang itu?

Mungkin karena itu jantungku masih terasa sakit—bahkan ide bahwa Ray telah mati tidak hanya menyakitiku pada skala rencana, atau pada skala lingkungan. Aku berperan memusnahkan ras. Tidak, itu tidak terdengar menakutkan bagiku.

Aku kehilangan sahabat.

Siap, Bos. Sekarang siapa yang akan berkata begitu dengan nada angkuhnya di kepalaku?

Aku mengecap tanpa sadar, masih dengan mata terpejam. Aku tahu Ray tidak pernah lagi memangsa manusia semenjak warga Radnor membunuh ibunya. Bahkan, selama beberapa tahun yang menyusul, dia takut pada manusia. Ada sebuah pengalaman khusus yang akhirnya merusak citra seramnya pada manusia, tapi aku masih tidak yakin seperti apa ceritanya. Ingatan itu agak kabur.

Hal berikutnya yang dia tahu, dia terikat secara telepatis denganku.

Lengkaplah sudah.

Ayah. Mencari obat untuk Claire. Diselamatkan oleh wight Odin. Ibu. Agresif tanpa sebab. Diobati obat Idunn. Claire. Sakit parah. Diobati obat Idunn.

Aku sudah merasakan kehilangan keluargaku selama kurang-lebih seminggu. Mereka semua berhasil diselamatkan.

Aku menghela napas. Ray.

Apakah musim dingin ini akhirnya berhasil merenggut seseorang dariku?

Tidak, kata sebuah suara kecil di kepalaku. Bukan musim dingin ini.

Kur.

Bukan, jawabnya sabar. Bukan Kur.

Lalu? Salah siapa?

Suara itu tersenyum sedih padaku. Dia tidak menjawab.

Will berhenti menghentak lantai. Suara goresan kayu tadi akhirnya hilang. Gelegak di tungku tidak diapa-apakan.

Kedua mataku masih terpejam. Lembap.

Aku segera kehilangan kesadaran.

***

Lucas!

Panggilan itu bergema di kepalaku.

Aku tidak kenal suara itu.

LUCAS!!

Kedua mataku langsung terbuka.

Aku baru sadar bahwa napasku agak terengah-engah. Tidak, bukan karena lelah. Aku kaget.

Suara di kepalaku itu sangat nyata—seakan-akan ada seseorang di sini, yang hadir utuh, yang benar-benar memanggil namaku.

Lucas, tolong—

Suara itu suara pria. Aku menghirup napas. Sendi-sendi jariku terasa lancar. Sendi lenganku juga. Tubuhku masih terasa lemas dan pegal-pegal, tapi sudah tidak sekaku dan selunglai tadi. Sekarang lemasnya lebih terasa seperti saat kau baru bangun tidur—jenis lemas yang muncul karena malas bangun.

—aku mohon, tolonglah—

Aku melepaskan napasku. Napasku lancar. Ya, aku sudah merasa baikan.

—putraku—putraku, dia akan—

Hah?

Saat itulah aku baru sadar pikiranku sendiri tadi: aku tidak kenal suara itu.

Dia belum menyerah.

Putraku akan melakukan—Lucas Andrews, HENTIKAN DIA SEKARANG!

Jantungku langsung terpacu, dan aku menemukan tenaga yang kubutuhkan untuk bangun. Ternyata, mengabaikan rasa enakan yang kurasa tadi, badanku belum setuju. Dia kembali melandaku dengan sakit bertubi-tubi yang entah dari mana asalnya, dan aku kembali mengerang.

Lucas!

Aku dengar! jeritku secara mental. Aku mengerang lagi, bernapas berat, lalu berusaha menggeser satu kakiku turun dari tempatku berbaring dan ke lantai. Berhasil. Aku mengerang sambil menggeser kaki yang satu lagi, dan begitu kedua telapakku memijak tanah, aku berusaha mengangkat badan.

Gagal.

Aku langsung terjerembap mencium lantai tanah yang sangat dingin, perih-perih di tubuhku meneriakkan sudah kubilang! dengan tanpa ampun, sementara eranganku berubah menjadi lenguhan protes. Shafira mengerang lemas dari tempatnya berbaring. Sepertinya ia belum siuman.

Lucas—Andrews—

Aku mendelik sendiri. Sabar!

Tidak seperti tungkai kakiku yang pengkhianat, kedua tanganku—beserta lengan-lengannya—sudah bisa bergerak lancar. Aku segera kembali mengangkat diriku dan berusaha merangkak. Lututku sudah bisa menopang. Pangkal pahaku bisa bergerak. Aku berusaha berdiri.

Berhasil.

Aku langsung bertanya balik. Putramu siapa?

Will!

Aku melangkah sekali. Oleng sesaat. Seimbang lagi. Langkah lagi. Oleng. Seimbang.

Langkah.

Langkah.

Aku bisa berjalan.

Aku langsung menebar pandangan—aku cuma bisa melihat Laura, Shafira, dan Tony, masing-masing berbaring di alas kain berlapiskan sehelai selimut compang-camping di beberapa sisi jauh gubuk ini. Di tengah gubuk, di arah depanku sana, menghadap perapian bertungku, ada kursi. Sepertinya tempat duduk Will tadi.

Air di tungku itu masih menggelegak.

Ada suara isakan.

Refleks, aku memanggil indra-Thorku. Laura, Shafira, dan Tony sudah wajib muncul. Ada satu orang lagi tengah meringkuk di depan kursi sana, tertutup oleh kursi itu dari pandanganku.

Will.

Aku segera mendekat. "Will—"

Sesuatu yang keperakan berkilat di tangannya.

Pisau.

Jantungku mencelus.

Pisau itu terarah ke nadinya sendiri.

Sebelum Will sempat bergerak, aku segera menyambar tangan Will yang membawa pisau itu. Anak itu terkesiap dan memekik kesakitan begitu lompatan listrikku mendarat di punggung tangannya, dan jemarinya yang terkena kejutan listrik mendadak menjadi kaku tersetrum dan melepaskan pisau yang digenggamnya. Pisau itu terpelanting dan terpental berisik di lantai sebelum akhirnya bergoyang lemah dan diam.

"Apa-apaan?" pekik Will padaku sambil mencengkeram punggung tangannya yang tadi mungkin tidak sengaja kubakar. "Apa-apaan?"

Trims, kata suara tadi di kepalaku. Begitu saja, seperti James, dia menghilang.

Bagus. Bagus sekali.

"Apa yang kaulakukan?" seru Will marah padaku. "Hah? Apa yang kaulakukan?"

Dia masih terbaring di lantai, kakinya terlipat ke badannya dengan protektif ... dan aku baru sadar pipinya basah dengan air mata.

Aku terpaku. Aku baru ingat bahwa Will menilai naga-naga yang kusebutkan cuma halusinasi dan penyembuhan kami 'ajaib'. Tidak seperti Shafira, bisa jadi Will belum pernah tahu tentang dunia para Leluhur.

Jadi apa yang harus kujelaskan soal semua ini?

Aku masih bergeming gagap dalam diam, sementara Will mulai mencaci-maki dalam bahasa Yunani kepadaku. Atau mungkin mengatakan hal lain, aku tidak tahu. Aku tidak yakin.

Setelah beberapa menit tanpa perubahan, Will akhirnya berhenti berbicara dan mulai menangis sesenggukan. Aku masih tidak yakin apa yang harus aku lakukan, tapi jika dugaanku benar bahwa Will baru saja mencoba bunuh diri ... mungkin aku perlu mengamankan dulu pisaunya. Jadi aku berjalan menghampirinya di dekat kaki kursi.

Namun baru saja aku menunduk, aku merasakan perubahan mendadak.

Bukan. Bukan padaku.

Gangguan gravitasi. Sangat lemah, dan sangat cepat, tapi pengalamanku bertarung dengan Anubis membantuku mengenalinya.

Ada yang membuka jembatan hyperspace di dekat sini.

Mendadak tangisan Will berhenti. Aku baru saja merasa ada yang ganjil, tapi saat itu juga, aku mendengar hal lain—napas teratur.

Aku menoleh. Will tertidur pulas.

Aku tahu bahwa menangis menghabiskan tenaga dan membuat seseorang cepat tertidur ... tapi secepat ini?

Naluriku semakin terpicu. Dan persis saat aku memungut pisau Will—

Jeblak!

Aku langsung berdiri tegak, pisau Will di tangan.

Pintu gubuk ini baru saja menjeblak terbuka—dan di luar sana adalah figur berpostur kekar.

Setinggi lebih dari dua meter....

Sial. Leluhur lagi. Kondisiku sedang benar-benar jelek. Saat aku sedang bersama Shafira pun, aku merasa sangat ragu menyerang Neith—keputusan yang akhirnya sama sekali tidak kusesali—tapi sekarang aku sendirian.

Bisa apa aku?

Figur itu menunduk sedikit, dan akhirnya masuk ke dalam gubuk.

Pantulan salju di luar berhenti membentuk siluetnya ketika cahaya api perapian menyentuh wajahnya—dan saat itulah aku sadar.

Orang ini memiliki lekuk wajah yang maskulin, hidung yang mancung, rambut cokelat gelap keriting, dan tatapan mata yang teduh namun penuh perhitungan. Warnanya bukan biru keabu-abuan, tapi aku tahu persis siapa orang ini.

Dia tampak seperti versi hidup dari patung dewa Yunani Kuno.

Dia sangat mirip dengan Will.

"Terima kasih, Lucas," katanya. Suaranya familier—dia yang sedari tadi berisik sendiri di kepalaku. "Aku berutang budi padamu. Maaf jika mengganggu, tapi ini darurat. Aku Hermes, dan aku tidak yakin punya banyak waktu di sini."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro