Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Part 2

Sang Ratu sibuk mencerocos di sepanjang lorong panjang yang di sisinya dilapisi oleh emas keperakan, juga lampu megah yang terpasung tepat di atas kepalanya yang sedang berhenti di tengah-tengah koridor.

Eliza tidak suka dengan kelakuan pangeran itu. Sama sekali tidak sopan dan hei, kenapa Eliza berpikiran bahwa pangeran itu seperti sedang menggodanya tadi? Kerlingan matanya yang menyala, bibirnya yang menukik ke atas dan gestur tubuhnya membuktikan itu semua.

Eliza risih. Tentu saja.

Tapi dibalik itu, Eliza merasa asing dengan perasaan yang hinggap di relungnya, ketika matanya berserobok dengan netra abu-abu tembaga milik pangeran itu.

"Kau sudah bertemu dengannya?"

Satu suara menyusup ke pendengaran Eliza, secepat kilat ia memutar lehernya, diikuti dengan desau gaun berwarna kuning keperakan yang ia kenakan, saling bergesekan dengan ubin istana yang mengkilat.

"Ah, kau," Eliza tersenyum samar. "Siapa maksudmu?"

"Dia," ulangnya, kali ini dengan tekanan yang lebih dalam. "Pangeran muda yang berkarisma tadi."

"Maksudmu Virgandi Edafos?" alih-alih menjawab dengan serius, Eliza malah menanggapi dengan selera humornya yang receh. Lengkap dengan wajah datarnya.

Winda yang jelas-jelas sedang serius dengan pertanyaannya, lantas memutar bola mata jengah. Sang Ratu Angin itu paling tidak suka jika ditanggapi seperti ini.

"Oke, baiklah, baiklah," Eliza mengalah. Tahu benar tabiat Sang Ratu Angin. "Siapa maksudmu? Aku tidak tahu."

"Pangeran api!" serunya heboh, melupakan suasana hatinya yang sempat memburuk beberapa detik yang lalu. "Hendrick. Astaga, aku tidak mengira ada pria tampan yang dinobatkan sebagai pangeran di era seperti ini. Aku kira hanya ada Virgandi-Virgandi lainnya."

Oh. Dia.

Eliza setuju kalau Hendrick adalah pangeran termuda, mungkin seumuran dengannya. Tapi, Eliza kurang setuju dengan pendapat Winda yang mengatakan kalau Hendrick itu berkarisma.

Hei, aku sedang tidak naif!

Eliza memakai suara batinnya sendiri.

"Kalau ceritanya begini, aku tidak menyesal dinobatkan sebagai Ratu Angin." Winda menyembur lagi, hawa yang ia keluarkan seketika menerbangkan helai-helai rambut Eliza dan juga gaunnya. "Dan aku semakin bersemangat menemui pertemuan berikutnya!"

Eliza berdecak, "Hei, berhenti menyemprot napasmu di dekatku. Kau berbahaya!"

"Aku kelepasan, maaf." Sang Ratu mengangkat kedua tangannya, lalu tersenyum bak anak kecil yang menggemaskan.

Eliza dan Winda memang sudah berteman sejak kecil, sejak Sang Ibunda Eliza dan Winda dinobatkan sebagai Sang Ratu, sepuluh tahun yang lalu. Percayalah, jika Eliza dan Winda sudah bertemu, maka dua ratu itu sama persis seperti gadis-gadis biasanya. Tidak mencerminkan sikap seorang ratu yang semestinya.

Kendati demikian, mereka tidak peduli. Mereka tetap melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Toh, tidak ada yang berani menegur, karena baik Eliza dan Winda adalah anak petinggi di wilayah tempat mereka masing-masing.

Ya, tidak ada yang berani menegur mereka—

"Apa begini ratu-ratu bersikap?" seorang pria gagah mengintrupsi obrolan mereka. "Membicarakan seseorang di belakang?"

Winda terdiam, membeku, dan terpekur. Bukan karena perkataan pria gagah itu, namun karena keberadaannya yang tiba-tiba datang menghampirinya—menghampirinya dan Eliza. Sosoknya semakin memesona di mata Winda.

Sementara, Eliza mendengus. Pria itu lagi, dan dia baru saja menegur dua ratu yang paling disegani oleh rakyatnya itu.

"Bukankah pekerjaan seperti itu hanya dilakukan oleh orang-orang rendahan saja?" Hendrick kembali bersuara, "dan bukankah kalian seorang Ratu? Ratu yang bertahta tinggi?"

Oh, demi seluruh jagad raya, apa yang terjadi pada pria ini? Kenapa dia tiba-tiba bersikap dingin dan memiliki aura berbahaya?

Mana Hendrick yang tadi, Hendrick yang terlihat lebih hangat dan menggoda?

T-tunggu. Yang terakhir, pikiran macam apa itu?

"Hei, tenanglah, Pangeran—"

"Hendrick. Panggil saja aku Hendrick." Hendrick mengoreksi lebih dulu.

"Oke, Hendrick," ucap Winda. "Percayalah, kami tidak membicarakan kejelekanmu, kami membicarakan—"

"Jadi, kalian membicarakan aku?" tahu-tahu, Hendrick mengoreksi lagi. Keningnya berkerut. Andai tahu saja, Hendrick tidak benar-benar serius. Dia hanya bosan dan berniat menganggu dua ratu yang ada di hadapannya, oh atau, hanya satu ratu saja?

"Bodoh," Eliza mengumpat, mendelik pada Winda yang gegabah.

"Hei, umpatanmu kasar sekali," Hendrick lagi-lagi memprotes. "Kau ini Ratu atau bukan, sih?"

Salah satu alasan Eliza tidak suka ketika menjadi seorang ratu adalah; harus bersikap sempurna. Tidak boleh melakukan ini, tidak boleh berbicara itu, tidak boleh bersikap ini, tidak boleh, tidak boleh, dan tidak boleh.

Meski Eliza anak dari seorang Ratu, tetap saja jiwanya tidak demikian.

"Kau bisa pergi sekarang?" Eliza mulai melunak, namun suaranya terdengar jengah. "Bukankah kau ingin pergi tadi?"

"Urusanku sudah selesai, jadi aku kembali."

"Oh. Sekarang kau bisa tinggalkan aku dan Winda, kami tidak ingin diganggu."

Winda sontak memprotes. "Apa-apaan, aku senang kok kalau kau di sini, kau temani kami saja."

Seolah mendapat dukungan, pun Hendrick mengembangkan senyumnya. "Kau dengar?" katanya seraya menatap Eliza.

"Baiklah, maka aku yang pergi," final Eliza.

Baik Hendrick ataupun Winda sama-sama memandangi punggung Eliza yang kian menjauh, disertai ketukan high heels-nya yang melambat. Ratu itu benar-benar pergi.

"Eliza memang seperti itu," Winda berbicara tanpa diminta. "Dia lebih suka menyendiri."

Dalam diamnya, Hendrick mengangguk. Pantas saja Eliza dinobatkan sebagai Ratu Es, sikapnya saja dingin begitu dan tidak tersentuh. Kentara sekali dia tidak menyukai kehadiran Hendrick yang tiba-tiba mengusiknya yang tengah mengobrol dengan Ratu Angin.

Tapi ironisnya, Hendrick menyukai kehadiran Eliza. Kehadiran sang ratu itu menetralkan kekuatan yang ia miliki, api. Bersama es, entah kenapa Hendrick merasa perasaan yang terus ingin tinggal lebih lama, lebih lama dan lebih lama lagi.

"Berhubung hanya ada kau dan aku di sini, bagaimana kalau kita bersulang di ruang tengah, bersama tamu-tamu yang lain?" ajak Winda.

Hendrick menoleh, tersenyum samar dengan pendar-pendar api kecil yang mengelilingi pergerakan tangannya.

"Boleh saja," Hendrick bersuara, menjawab ajakan Winda. "Tapi—aku ingin ke kamar kecil dulu, apa kau mengizinkanku?"

"Tentu saja!" serunya.

***

Ruangan ini senyap. Tentu saja. Eliza yang meminta agar tidak ada seorang pun yang membuat kegaduhan di sekitar kamarnya, karena seperti yang kita tahu, Eliza benci kebisingan. Benci keramaian yang membuatnya sesak.

Maka untuk mengusir kejenuhannya, Eliza bermain-main dengan desau es yang ia buat dari telapak tangannya sendiri. Menciptakan pendar-pendar kecil lalu melambungkannya ke udara. Seketika itu pula taburan es berbentuk lingkaran-lingkaran kecil menghujaninya.

Dia tidak tertawa. Eliza hanya berwajah datar melihat butiran es berjatuhan disekitarnya.

"Wow,"

Eliza yang semula mendongak, perlahan menoleh pada sumber suara. Bertepatan dengan butiran esnya yang tiba-tiba saja meleleh.

Ada Pangeran Api. Tentu saja.

"Bagaimana bisa kau masuk!?" tanya Eliza nyaris berteriak.

Hendrick mengendihkan bahu. "Kau pikir bagaimana? Kalau para pengawalmu tidak mengizinkanku masuk, aku bisa langsung membakar mereka hidup-hidup."

"Oh, jadi seperti itu tipikal para pangeran?" Eliza mencibir, menohok kembali Hendrick.

"Pada umumnya sih, begitu." diluar dugaan, Hendrick merespon dengan tenang lalu menyeringai. "Tapi, aku tidak. Aku bukan penganut kesempurnaan. Jadi, yah, kau bisa simpulkan sendiri."

Buat apa?

Eliza lantas bertanya di dalam hati, keki.

"Bisakah kau pergi sekarang?"

"Kenapa aku harus?"

"Karena aku ingin kau pergi!"

"Kenapa?"

"Karena aku tidak menyukai keberadaanmu. Kau menganggu."

Demi Tuhan, ada yang memberontak kala Eliza mengatakan itu. Batinnya memberontak. Tapi kenapa?

"Benarkah?" Hendrick mendekat satu langkah. "Tapi bagaimana kalau aku tidak mau?"

Eliza membuang muka, enggan menatap Hendrick yang sedang menatapnya dalam. Ugh, pria ini, bagaimana jika ada seseorang yang memergoki mereka berdua? Bisa-bisa ia terkena sanksi.

"Percaya atau tidak, aku merasa ditakdirkan untuk bertemu denganmu, bukan hanya sekadar kebetulan pertemuan jabatan. Coba kau pikir, pangeran api dan ratu es, terdengar sangat keren, 'kan?" Hendrick tertawa sangau. "Eliza, percaya atau tidak, lagi, es dan api terdengar sangat serasi. Kita bisa saling mengimbangi jika bersama, benar tidak?"

Ada sesuatu yang menyentrum hati Eliza yang telah membeku, mencoba menggelitiknya dan menghancurkan tameng yang ia buat untuk melindungi hatinya sendiri.

Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin secepat ini.

"Hei, tenanglah, tidak usah tegang seperti itu," sontak Hendrick menyeringai. "Kau terlalu serius, Ratu."

Dan tanpa pamit ataupun salam penghormatan, Hendrick pergi. Melengsak keluar begitu saja, meninggalkan dampak asing bagi tubuh Eliza. Perasaan macam apa ini, Eliza benar-benar risih karenanya.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro