Part 1
Pada suatu hari, suatu masa, terkisahlah sebuah kerajaan di daerah yang terpencil, dengan istananya yang terletak di ujung lembah. Jarak antara istana dan tempat tinggal rakyatnya begitu jauh, tak terjangkau, hingga para rakyatnya sendiri kebanyakan tak mengetahui siapa sosok yang memimpin mereka. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui keberadaan istana itu, menjulang tinggi dari bawah lembah dan terlihat megah, berwarna hitam kebiruan. Di sanalah pemimpin kerajaan berada; sang ratu es yang sedang duduk di singgasana dengan anggunnya.
Eliza, itu namanya. Ia bukan sosok ratu yang lembut, namun setidaknya ia mengerti kondisi rakyatnya. Ratu mereka ini baru saja naik takhta, jadi wajar kalau misalkan ia masih khilaf dalam menjalankan tugas di posisinya sekarang. Ratu Eliza lebih suka menyendiri di ruangannya. Ia menghabiskan hari-harinya hanya dengan menatap langit melalui jendela. Sulit dijangkau dan didekati, itulah dirinya. Bahkan, pegawai istana sampai penasehatnya sekalipun jarang berpapasan dengannya.
"Terkadang aku tak mengerti, mengapa harus aku yang menjadi ratu." Eliza menatap sosok ayahnya di figura berbingkai emas di ruangannya. Ia membuang napas sejenak.
"Yang Mulia Ratu, ada pesan untukmu," pegawai istana berucap setelah membunyikan lonceng di luar ruangan. Tersentak, Eliza langsung menghampiri pegawainya.
"Ah, apa pesannya?" tanyanya dengan suara anggun.
"Sebentar lagi akan diadakan pertemuan untuk masing-masing raja dan ratu dari seluruh wilayah."
"Apa tujuan pertemuan itu?"
"Untuk mempererat tali silaturahmi dan kerja sama antarkerajaan ... Yang Mulia?"
Nada suaranya agak goyang di akhir kalimat. Akhirnya, sang ratu cuma menghela napas. Dia hanya pegawai istana, pikirnya.
"Ah, baiklah. Di mana pertemuan itu diadakan?"
"Di tempat Anda, Yang Mulia Ratu."
"Kenapa harus di tempatku?"
" ... Saya sendiri juga kurang tahu, Yang Mulia."
Ah, lagi-lagi sang ratu keceplosan. Ia pun hanya mengangguk mengerti dan mempersilakan pegawai itu untuk pergi.
***
Entah sudah sore atau malam, karena sekeliling istana menampakkan suasana kelabu—sang ratu es sudah duduk di kursinya. Paling awal, menunggu perwakilan kerajaan yang lain untuk datang dan ikut duduk dengannya, saling berhadapan di meja panjang—dan seperti biasa: sunyi, sepi, sendiri. Ia sendiri lagi.
Eliza melirik ke atas mahkotanya sesaat—entah ia bisa melihatnya atau tidak. Kemudian, menaikkan sedikit gaunnya dan menghela napas. Sepertinya ia memang terlalu cepat untuk hadir di ruang ini.
"Ah, aku tahu pasti di sini dingin sekali," suara seorang pria membuat hati Eliza terkejut, namun ekspresinya tak demikian. Eliza pun menatap ke arah koridor di hadapannya, hanya menampakkan sosok bayangan hitam bertubuh pria. Akhirnya, sosok itu berjalan hingga menampakkan dirinya dengan jubah merah yang berkilauan.
"Lihat," ia menunjuk rambut berwarna merah gelap di kepalanya, "sampai warna rambutku jadi meredup! Padahal biasanya ini menyala-nyala, loh."
"Santai sekali," celetuk ratu tanpa arah. Pria itu seketika terlonjak kaget, matanya membulat. "Ah! Kau pasti ratu es!" kemudian ia memberi hormat padanya. Ratu pun juga membalas hormatnya.
"Senang bertemu denganmu ... pangeran?" sambut sang ratu, diakhiri nada tanya.
"Ah, iya. Kupikir kau juga masih terlalu muda untuk jadi ratu!" balas pangeran api ceria. "Ayahku terlalu sibuk, jadi dia mengutusku kemari—dan omong-omong, namaku Hendrick Pyros, Ratu Eliza Frostia."
"Oh." Alis Eliza bertautan. "Ya, aku baru naik tahkta—"
"Jadi, bagaimana, Ratu?" pangeran api langsung menggeret kursi berat nan megah itu, lalu membanting diri di atasnya. Jujur saja, ratu kurang nyaman akan sikapnya.
"Kita akan menunggu yang lain datang." Ratu Eliza membenarkan posisi duduk dan gaunnya.
Tak lama, perwakilan-perwakilan dari tiap kerajaan sudah berkumpul untuk membicarakan kepentingan mereka. Ada Winda Johanna, ratu angin yang beberapa waktu lalu juga baru naik tahkta—ia sedikit lebih tua dari Ratu Eliza. Kemudian, Virgandi Edafos, raja tanah yang sudah berumur dan berpengalaman. Ratu air, Aria Juvenile—sosok keibuan yang tampak diidam-idamkan orang, namun punya pemikiran yang masih labil. Semuanya sudah duduk di kursi masing-masing.
"Tampaknya meja ini terlalu panjang, ya, Ratu Eliza?" canda Winda yang tak diberi respon apa-apa. Sakit.
"Baiklah, akan kita mulai. Siapa yang akan mengajukan pendapatnya duluan?" Ratu Eliza memulai.
"Sebaiknya dibuat santai saja, aku kurang suka suasana ini," kata Aria agak judes. "Hal terpenting di sini adalah: mempererat hubungan antarwilayah agar tidak terjadi kerusuhan jikalau nanti masing-masing wilayah kekuasaan kita dimasuki penghuni dari wilayah lain."
"Kau sedang membicarakan studi banding antarkerajaan—itu maksudmu?" tanya Eliza meminta kejelasan.
"Intinya, mulai saat ini, sebagai pemimpin dari masing-masing kerajaan kita sudah saling mengenal satu sama lain. Seandainya ada informasi mengenai hal yang berkaitan—penghuni baru, orang asing, sekalipun penyusup, kita harus membantu dan membicarakannya satu sama lain, karena selama ini, kulihat kerajaan hanya sibuk pada urusannya masing-masing, dan itu akan mengakibatkan terjadinya permusuhan," Virgandi menjelaskan.
"Kalau begitu, pastinya akan ada kunjungan dan kunjungan—apa itu tidak merepotkan kalau kita harus mengurusnya? Well, hanya berkomentar. Aku akan ikut baiknya saja." Hendrick tetap memasang senyum cerianya.
"Setidaknya kita harus mengawasi mereka, pangeran. Itu memang harus ditanggung kalau kita mulai memutuskan untuk bekerja sama," akhirnya Winda mengiyakan. Hendrick pun mengangguk-angguk mengerti.
Rapat berakhir, semuanya pun bubar dan menuju ke ruangan yang telah disediakan Ratu Eliza untuk mereka. Tentu, ini bukan kunjungan sementara. Para ratu dan raja tampaknya ingin menikmati dulu suasana di istana yang terpencil ini, walau di tengah rapat mereka sempat kedinginan dan menggigil.
"Seharusnya aku menyediakan pemanas ruangan untuk mereka tadi! Sayang, apiku mati juga."
Ruangan kini menyisakan Hendrick dan Eliza lagi. Saat itu, Eliza hendak keluar dari ruangan. Hendrick ingin menghampirinya untuk sekadar berbincang, namun sepertinya ekspresi ratu menampakkan kalau ia tidak suka. Jadi, ia memutuskan untuk pamit pulang saja. Toh, ia juga masih punya urusan di wilayahnya.
"Ratu, aku pamit pulang dulu! Ayah menitipkan salamnya padamu." Hendrick berlari menuju lorong istana yang lain dan melambai-lambaikan tangannya. Ratu Eliza menyunggingkan senyum tipis—Ya, pergi saja dia, pikir Eliza.
"Kupikir kau akan ikut bermalam di sini seperti yang lainnya?" tanya Eliza dengan suara agak kuat.
Hendrick berhenti sesaat. "Ah," ia menoleh, "apa aku baru saja bilang kalau aku tidak akan berkunjung lagi?"
Ratu hanya menatap datar padanya.
"Aku akan sering berkunjung kemari, Ratu!" sang pangeran api pun mengukir senyum paling menawan yang pernah Eliza lihat seumur hidupnya. Detak jantungnya berhenti sesaat, dan bayangan Hendrick benar-benar hilang dari pandangannya.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro