Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bab 4

"Ayo, kau pakai baju ini!"

"Ah, tidak, tidak! Tidak pantas! Coba yang lain!"

Sohyun mendesah dalam kebosanannya. Ia menghabiskan waktu lebih dari setengah jam hanya untuk memilih pakaian. Bukan dirinya, melainkan Lee Sungkyunglah yang tampak sibuk mengobrak-abrik almari. Gadis cuek itu pagi ini sangat memerhatikan adiknya yang baru saja diterima kerja di perusahaan besar.

"Yeobo! Sarapanmu sudah siap, ayo makan!"

Kali ini terdengar teriakan dari Minhyuk. Orang rumah sibuk dengan tugasnya masing-masing. Mereka begitu antusias di hari pertama Sohyun bekerja.

Semua orang bahagia, setidaknya aku harus bahagia. Pikir Sohyun. Gadis itu mengabaikan luka hatinya semalam. Gara-gara Jimin lebih memilih masuk ke dalam bar dan meninggalkannya yang menangis sendirian di larut malam.

"Nak, ada kiriman bunga untukmu!"

Mendengar notifikasi dari suara sang bibi, Sohyun melenggang pergi meninggalkan Sungkyung yang kebingungan dengan pakaian. Gadis berambut sepunggung itu menghampiri bibinya yang kelihatan memegang sebuket bunga mawar merah.

"Untukku?"

"Iya, coba kau lihat."

Ditemukannya sebuah catatan kecil dalam bungkusan bunga itu. Sohyun membukanya dengan hati-hati. Tertulis sebuah kalimat, selamat atas pekerjaan barumu. Aku pasti menepati janjiku. Maaf tidak bisa mengantarmu.

Sohyun langsung membuang asal bunganya di atas sofa. Ia kembali ke kamar Sungkyung dan meminta agar kakak perempuannya itu cepat-cepat mengambilkan pakaian. Sohyun mendadak ingin segera berangkat.

"Kak, sepatu dan tasmu," ujar Beomgyu yang datang dari arah kamarnya.

"Kenapa repot-repot? Aku bisa mengambilnya sendiri."

Tak biasanya Sohyun sewot pada Beomgyu. Lantas, bocah remaja itu menatap aneh kakaknya. Ia hanya melakukan hal yang mudah, itu pun sebagai bentuk rasa senangnya atas kehidupan baru Sohyun. Sayangnya, tanggapan Sohyun berbeda.

"Bibi, aku berangkat."

"Loh, makan dulu sarapanmu."

"Maaf, aku sudah terlambat."

Minhyuk yang menyusul di ambang pintu, ikut menyaksikan kepergian Sohyun yang sedikit mencurigakan.

***

"Kemarin membuatku menangis. Pagi ini, mengirimkan bunga. Apa maksudnya? Apa dia tidak tahu? Bukan bunga yang aku minta, tapi kehadirannya. Dia sama sekali tidak mau menengokku, padahal hari ini aku sudah tidak bekerja lagi di Hi-Tech."

Sepanjang perjalanan, yang Sohyun lakukan hanyalah menggumam. Beberapa orang memperhatikannya, ia seperti orang gila baru. Rambut acak-acakan, dan wajahnya yang tanpa make up membuatnya pucat seperti mayat.

Turun dari taksi, Sohyun bergegas masuk ke gerbang Genius Corp. Suasana mewah mulai ia rasakan. Gerbang berwarna silver setinggi tiga meteran, juga beberapa penjaga yang senantiasa menyapa para pekerja baru maupun lama. Kantor Genius tampaknya jauh lebih ramah dari yang ia bayangkan.

Sohyun pun memasukinya tanpa ragu, wajahnya penuh senyuman.

"Pagi, Pak!" sapanya pada seorang penjaga ber-name tag Insung.

Puas mendapat balasan, gadis itu melangkah lebih masuk lagi. Namun, apa yang terjadi? Tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Ia berdiri kaku, sementara orang-orang di sekitarnya berlalu-lalang masuk ke lobi di lantai satu.

Sohyun meneliti pakaiannya dari bawah ke atas. Ia me-notice rambutnya yang seperti singa. Segera ia berkaca dan merapikannya. Tetapi, lagi-lagi Sohyun meneliti pakaiannya. Tekankan di bagian itu, pakaian.

Pakaian ... apa ada yang salah dengan pakaiannya?

Sohyun berjalan lagi ke luar. Ia mendongak dan memastikan bahwa telah betul-betul memasuki gedung perkantoran Genius.

Namanya benar, alamatnya juga sudah benar. Lalu, kenapa semua orang memakai pakaian seolah-olah mereka memasuki club? Apakah gedung inti perkantoran berada di salah satu lantai dari puluhan lantai yang ada? Apakah Genius, yang merupakan perusahaan raksasa, berbagi kantor dengan sebuah club?

Sohyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kelimpungan. Hingga, seorang wanita datang dan menepuk pundaknya.

"Hei, kamu?"

"Eh," seru Sohyun.

Setelah diamati dalam-dalam, rupanya Sohyun mengingat wanita itu. Ya, wanita yang pernah ia temui di rumah sakit.

Mata gadis itu melotot. Wanita yang super cantik dan berdiri di depan wajahnya itu mengenakan sebuah pakaian super minim. Warna merahnya sangat mencolok. Walaupun ditutupi sebuah blazer berwarna gelap, Sohyun yakin kalau dress yang dipakai wanita itu tanpa lengan. Ia bisa merasakannya.

"Saya Hani, yang waktu itu di rumah sakit."

"Ah, iya. Saya ingat Nona Hani."

"Kamu sekretaris baru itu kan? Siapa namamu ... ehm ... Kim ... Sohyun?"

"Benar. Saya Kim Sohyun. Senang bertemu dengan Nona."

"Senang juga bertemu denganmu, tapi ...," Hani meneliti penampilan Sohyun.

"Kenapa pakaianmu formal sekali?"

"Bukankah bekerja itu harus memakai pakaian formal, ya?" tanya Sohyun dengan spontan.

"Ini Genius. Prinsip kami adalah mengedepankan kenyamanan karyawan. Jadi, kami membebaskan mereka untuk memakai apapun yang mereka suka asal kerjanya memuaskan."

"Oh...."

Sohyun merutuki kebodohannya. Bagaimana ia tidak mencoba untuk melakukan riset pada segala hal menyangkut kantor barunya? Tentu saja perusahaan besar itu berbeda. Mereka pasti memiliki keistimewaan yang membuatnya terlihat unik di antara perusahaan yang lain.

Sungguh salah Sohyun mengenakan kemeja putih dan celana panjang serta blazer berwarna abu-abu.

"Ayo, saya antar masuk ke dalam. Saya akan ajak kamu menemui Mister."

***

Sohyun sampai di dalam ruangan bosnya. Terlihat sepi. Hani pun mempersilakannya untuk menunggu sementara sampai Hani kembali lagi dengan membawa bosnya.

Namun, sebelum keluar ruangan, Hani menarik lengan Sohyun. Ia menyodorkan sebuah lipstik berwarna merah pekat.

"Ck. Anda sangat pucat, sebaiknya, tambahkan sedikit warna di bibir Anda. Oke?"

Sohyun agak geli harus berbicara formal dengan Hani karena kelihatannya Hani gadis yang enak diajak bicara. Sohyun yakin mereka bisa akrab secepatnya.

Tapi, mempertimbangkan bahwa ini hari pertamanya bekerja, Sohyun harus meninggalkan kesan yang bagus. Akan terdengar tidak tahu terima kasih apabila ia berhadapan dengan bos barunya dalam keadaan tidak mengenakkan.

Sohyun pun mengambil cermin dari dalam tasnya, dan mengoleskan lipstik yang dipinjamkan oleh Hani ke bibirnya.

"Warnanya merah sekali. Ini ... terlihat berlebihan. Apa begini tidak masalah?" monolognya di depan cermin.

Saat Sohyun berbalik, secara tak sengaja ia menubruk dada seseorang. Dan bodohnya lagi, lipstik dari bibirnya mengecap jelas di pakaian bagian dada sebelah kiri orang tersebut. Sohyun refleks menutup bibirnya.

Tamatlah aku!

Seorang pria berdiri menunduk dengan masker hitamnya. Sohyun bergerak gelisah, ia terus menatap bekas lipstik yang ia buat di kemeja orang tersebut. Tangannya ingin menggapai, namun ia tarik kembali karena jelas, lipstik itu akan susah dihilangkan karena sifatnya yang waterproof.

"Apa yang Anda lakukan di ruangan saya?"

Sohyun ingin menjawab, tapi bibirnya terus bergetar hebat.

"S-s-sa...."

Kemudian, pria itu mengangkat wajahnya dan melepas maskernya. Kini, terlihat jelas bagaimana rupa orang yang telah Sohyun tabrak secara tidak sengaja.

"Nona Kim Sohyun?" tanya orang itu.

"I-iya, saya."

Sohyun memasang muka blank-nya. Sungguh ia tak bisa berkata-kata. Dunia memang sempit hingga sebuah fakta mendobrak kesadaran Sohyun. Bosnya adalah seorang lelaki di lift yang tempo hari ia tolong sampai rumah sakit.

"Anda yang bekerja sebagai sekretaris baru saya, kan?"

"I-iya, i-itu saya."

Kemudian pria itu meletakkan tasnya di atas meja kerja. Ia memunggungi Sohyun.

"Eh, APA YANG BAPAK LAKUKAN?!" teriak Sohyun karena ia kaget, bosnya melepas satu per satu kancing kemejanya.

"Tidak perlu kaget, setiap hari Anda akan melihat pemandangan ini."

Sohyun mulai membayangkan bosnya berbicara dengan bibir tersungging. Ewhhh ... membuatku merinding saja! Apa maksudnya?

"Tolong ambilkan kemeja saya yang baru. Anda melihat pintu di sebelah kiri Anda?"

"I-iya, Pak. Saya ... saya melihatnya," jawab Sohyun terbata-bata.

Yang ia lihat saat ini adalah pemandangan punggung bosnya yang begitu mulus. Menyadari kelancangannya, Sohyun pun memalingkan muka.

"Masuk ke dalam, ambilkan satu kemeja dari alamari saya."

"Baik, Pak. Sekali lagi, maaf!"

Sohyun membungkuk 90° sambil berucap maaf. Kemudian, segera ia melaksanakan titah bosnya.

"Pasangkan."

"Ne??"

"Pasangkan kemejanya, Nona Sohyun. Bukankah Anda sekretaris saya?"

"Tapi–hik!"

Sohyun cegukan tepat saat bosnya berhadapan dengannya, topless!! Ingat itu, bagian atas tubuh bosnya benar-benar tereskpos. Membuat pipi Sohyun memanas.

Sohyun, ingat! Kau sudah punya kekasih! Kau harus kuat, dia hanya bosmu. Bos barumu! Jangan memalukan di hari pertama bekerja!

Sungguh Sohyun tak berani menatap mata bosnya. Ia melakukan apa yang bosnya mau, memasangkan dan mengancingkan kemejanya. Bahkan mungkin Sohyun sampai tidak sadar jika sedari tadi mata bosnya tak beralih se-senti pun dari wajah Sohyun.

"Terima kasih," ujarnya. "Silakan duduk, ada yang ingin saya bahas dengan Anda."

Sohyun menghembuskan napasnya. Akhirnya, selesai juga. Ia harap, kejadian semacam tadi tidak akan pernah terulang lagi.

"Selamat karena Anda terpilih untuk bekerja di kantor saya. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada Anda, jadi tolong didengar baik-baik."

Sohyun menyamankan posisi duduknya dan mulai mendengarkan bosnya dengan saksama.

"Perkenalkan, nama saya Min Yoongi. Dan selama jam kerja saya hanya mau dipanggil Mister Yoon atau Sir. Hindari penggunaan sapaan 'Pak' karena itu terlalu norak."

"Lalu, saya punya dua sekretaris. Satu untuk mengurus keperluan saya selama di kantor, dua untuk mengurus keperluan saya di luar kantor."

"Jadi, saya sekretaris di bagian yang mana, Pak–eh, maksud saya, Mister?"

"Pertanyaan bagus. Untuk hari ini dan sampai waktu yang tidak ditentukan, Anda akan mengurus jadwal saya di kantor.

"Di sana ruangan Anda. Anda bisa menempatinya mulai hari ini. Selamat bekerja."

***

Tepat jam makan siang, Sohyun turun ke cafetaria. Ia menunggu seseorang, siapa lagi kalau bukan kekasih Park-nya? Namun, hampir setengah jam, eksistensi pria itu tak kunjung ia temukan. Sohyun mulai menyerah dan memesan makanan saja.

"Hai, anak baru, ya?"

Seseorang tiba-tiba mengambil duduk di sebelahnya. Sohyun terkejut, tapi berusaha untuk bersikap ramah pada siapa pun.

Pria yang tampan dengan tahi lalat di bawah bibirnya. Sekali lagi Sohyun ternganga di dalam hati, wah, selain kantor terbaik, karyawan di sini juga luar biasa tampan semua. Apakah fisik adalah kriteria yang diprioritaskan oleh mereka? Apa aku terpilih karena aku cantik?

"Nona? Hai, halo??"

"Iya?"

"Siapa namamu?"

"Sohyun."

Pria itu tertawa dan mulai menyendok makanannya. Sohyun sempat berpikir, apakah pria itu gila atau bagaimana? Pasalnya, ia tak berhenti tersenyum sembari mengamati Sohyun.

"Maaf, Tuan. Kenapa Anda tidak berhenti tersenyum? Tolong jangan memperhatikan saya seperti itu. Saya sudah ada yang punya."

"Apa? Serius? Kau sudah punya pacar?"

Sohyun mengangguk. Kepalanya mengayun ke belakang saat mendadak pria tersebut mendekatkan wajahnya.

"Tapi ... kau masih terlihat polos. Kau yakin sudah punya pacar?"

Sekali lagi, Sohyun mengangguk.

"B-bisakah Anda pindah tempat? Saya takut, kalau kekasih saya datang, saya dikira macam-macam dengan Anda."

"Kau formal sekali. Panggil saja aku Jungkook, oke? Aku akan pergi kalau kekasihmu itu sudah memunculkan diri. Tenang saja."

"Tapi–?"

"Kau masih takut? Astaga!"

Kurang lebih sudah lima belas menitan mereka makan sambil berdiaman. Sohyun merasa malu, karena ternyata Jimin sama sekali tidak menengoknya di sana.

"Sudahlah, Sohyun. Dia tidak akan datang, jangan banyak berharap pada lelaki. Mereka bisa jadi hidung belang."

"Apa maksudmu bicara begitu?? Oppa sendiri yang sudah janji mau menemuiku setiap hari. Huh, benar-benar mengesalkan! Aku mau pindah ke sini pun karena bujukannya, tapi dia tidak menepati janji. Ini tidak adil!"

"Wah, akhirnya kau bicara normal."

Sohyun melipat tangannya di depan dada. Ketika pandangannya teralihkan, dilihatnya sang bos sedang duduk nyaman bersama para karyawannya yang lain. Mereka tampak makan siang sambil bercengkerama bersama, tidak ada batasan, tidak ada diskriminasi.

"Kenapa? Apa yang kau lihat?"

"Oh, Mister Yoon...."

"Menurutmu, orang yang seperti apa beliau?"

"Siapa? Mister Yoon?"

"Iya."

"Dia bos terbaik yang pernah ada. Dia paling perhatian dengan karyawannya, selalu memberikan cuti, dan juga bonus gaji. Satu-satunya alasan kenapa aku betah di sini, meskipun banyak tekanan adalah Mister Yoon. Aku bersyukur dia yang memimpinku."

Benarkah? Kalau begitu, aku akan bertahan lama kan di sini? Meskipun ... aku jauh dari Oppa?

"Jeon Jungkook, Kim Sohyun! Kalian tidak ingin bergabung?"

Tbc.

"Jangan harap ada caption, wkwk."

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro