Bab 37
Lana mengepak barang-barangnya. Besok dia akan mengikuti tes SKB atau Seleksi Kemampuan Bidang. Tes tahap dua CPNS alias Calon Pegawai Negeri Sipil. Yah, Lana tidak menyangka dia bisa sampai ke tahap ini padahal tahun-tahun sebelumnya nilainya tergolong biasa saja saat dia belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh.
Lana sebenarnya juga nggak yakin dia bakal lulus sih. Jurusan kesehatan masyarakat itu terbagi lagi menjadi 8 peminatan. Peminatan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan atau yang biasa disebut AKK, Epidemiologi, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Promosi Kesehatan, Kesehatan Reproduksi, Biostatistika dan kependudukan, dan Gizi. Lana itu dulu semasa kuliah mengambil peminatan Epidemiologi. Sedangkan jabatan yang dia lamar sekarang adalah Penyuluh Kesehatan yang bagian dari peminatan Promosi Kesehatan. Rada nggak nyambung dan bukan bidangnya.
Lana sudah dapat kisi-kisi dari temannya yang ujian duluan sih. Dia udah belajar semalaman tapi kayaknya tetep nggak bisa hapal materi Promkes yang bejibun itu. Teori HBM, TPB, Precede-Proceed, dan apalah itu. Promkes itu emang peminatan paling rempong dan kebanyakan teori. Makanya dia sengaja nggak ambil, walaupun tahu peminatan ini peluangnya besar.
Ponsel Lana berdering. Dia melihat nama Arkan tertera di sana. Kakak dari mantan pacarnya itu rupanya lolos tes juga. Kemarin dia menawarkan diri untuk memberikan tumpangan pada Lana ke Surabaya. Lana terima saja dengan senang. Hati lumayan kan dia bisa hemat ongkos.
"Iya, halo." Lana menjawab panggilan itu sembari memasukkan celana dalamnya ke dalam koper.
"Lan, aku sudah di OTW, lima belas menit lagi sampai," kata kembaran mantannya itu.
"Oh ya, aku tunggu. Aku udah siap kok," dusta Lana. Padahal dia masih belum selesai packing.
"Oke."
Panggilan di akhiri. Lana sudah selesai mengepak bajunya. Sekarang dia segera mengganti baju dan memakai make up. Lana teringat, dulu tiap kali dia dandan Arlan selalu merecokinya. Mengejeknya pakai topeng karena make upnya yang tebal dan butuh waktu empat puluh lima menit. Lana menghela napas karena lagi-lagi dia masih teringat akan Arlan. Sampai kapankah dia bisa melupakan laki-laki itu? Lana menggeleng. Arlan saja sudah punya pacar baru. Lana tidak mau galau sendirian.
"Lan! Arkan sudah datang!"
Mampus! Lana melihat jam. Arkan baru selesai menelepon sepuluh menit lalu. Padahal tadi dia bilang bakal sampai dalam lima belas menit. Kakak kembar mantannya itu memang terkenal on time. Beda dengan si adik yang jam karet.
Lana mengusap blush onnya denga kecepatan tinggi. Dia tinggal menjepit bulu mata, memakai maskara, lalu highlighter dan seting spray saja. Setelah dandannya selesai, Lana segera ke ruang tamu sembari menggeret koper. Arkan sudah duduk di sana, lagi menikmati segelas kopi yang disuguhkan oleh ibu Lana.
"Wow, kamu kelihatan beda," kata lelaki itu. "BB berapa sekarang?"
"Masih tetep enam puluh kilo, tapi ukuran bajuku sekarang sudah M," tutur Lana bangga.
"Alhamdulillah, perjuanganmu berhasil Lana," senyum Arkan. Senyuman yang membuat Lana teringat pada mantannya. Lana mengigit bibir. Dia harus segera melupakan Arlan.
"Iya, berkat bantuanmu, makasih," kata Lana.
"Nanti jadi endorse katering dietku ya," pinta Arkan.
Lana mengacungkan jempol saja. Walaupun dia tidak berlangganan katering Arkan yang mahal itu. Namun dia mendapatkan banyak konsultasi gratis dari dokter spesialis gizi itu. Lana harus membalas budi.
"Ayo kita berangkat, kayaknya udah mau hujan," kata Arlan lagi sembari memandangi langit Kediri yang mendung.
***
Entah apa yang terjadi daftar isinya kacau sekali. Mohon diterima aja ya Guys. Karena sudah aku edit2 tapi tidak berhasil. Aku nggak tahu harus gimana. Kalian cek dulu ya urutan chapternya sebelum baca. Follow dan masukkan ke perpustakaan biar dapat notifikasi setiap kali aku update.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro