
Bab 7 Holiday
Wanita berambut coklat itu menguap lebar-lebar. Masih memejamkan kedua mata indahnya, wanita itu masih duduk di pinggir ranjangnya. Mengumpulkan beberapa nyawa masih menari-nari di awang-awang.
Tangan kirinya mengusap mata sebelah kiri,dan iler di sudut bibirnya. Mata nya melirik weker di meja nakas. Oh, baru jam 07.00 pagi. Tubuhnya mematung, matanya melotot, kemarin pria ganteng itu ke apartemen nya. Lho, bukankah harusnya laki-laki dingin itu membawa kerumahnya?
Kemarin pria berambut hitam itu mengatakan kamarnya banyak. Wanita itu sudah berpikir yang tidak-tidak. Takut diapa-apakan dan siapa tahu dia punya kunci cadangan dan masuk ke kamar seenak jidatnya. Daripada itu lebih baik ke apartemen wanita itu. Pria tampan itu hanya mendesah, daripada ribut lebih baik dia mengalah saja. Wanita ini sangat keras kepala. Mau dibawa ke dokter dia enggak mau. Dia hanya kelelahan, begitu deh katanya.
Malena baru sadar setelah nyawanya sudah terkumpul semuanya, pria yang bekerja sebagai model itu menemaniku malam tadi. Ternyata si crocodile itu baik juga hatinya. Walau wajahnya kayak rambo tapi hatinya hello kitty. Dia dengan rela menungguku semalaman. By the way dia kemana ya? Apa sudah pulang?
Baru saja Malena mengambil handuk untuk mandi, bel berbunyi. Dengan langkah diseret malas dia membuka pintunya. Malena terkesiap melihat siapa yang datang.
“Ethan? Kenapa kamu kesini?” tanyanya heran. Jam menunjukkan angka jam 07.30 pagi makhluk Tuhan paling sexy itu sudah berdiri di depan pintunya dan membawa kantong tas entah apa isinya.
“Kenapa? Tidak boleh aku kesini?” ucap pria bertubuh tegap dengan wajah yang datar.
“Y-ya boleh saja, tapi ini masih pagi.”
“Aku sudah biasa bangun pagi-pagi. And excuse me, boleh aku masuk?”
“O-oh silakan masuk,” ucap wanita itu gugup. Setelah pria itu masuk, kepala wanita itu menjulur ke luar pintu, dan menengok ke kiri dan ke kanan. Apakah ada orang yang melihat. Bisa bahaya nanti. Setelah dirasa aman baru lah dia menutup pintunya.
Dengan handuk tersampir di bahunya dia menghampiri pria yang sedari tadi menyiapkan sarapan untuknya. “Ini ... kau yang beli?”
“No, pria itu menggeleng. “Mom yang menyiapkan sarapan untukmu. Katanya kenapa kau tidak menginap disana. Kau sudah sehat?”
Wanita manis hanya mengangguk. Mata hijau itu masih menatap makanan yang menggugah seleranya. “Sudah mendingan.”
Ethan tersenyum. Kalau begitu kau mandilah dulu.”
Malena masih mematung tidak bergeming. Oh itu steambaked cheese kesukaanku. Tanpa sadar air liurnya sedikit keluar.
“Hei pendek, kau tidak mau mandi? Atau kau mau aku mandikan? Sini handuknya,” goda laki-laki itu.
“Ya boleh.” Malena terdiam, telinganya menangkap kalimat yang tidak dia sukai. “Hei enak saja, aku bukan bocah dan stop call me ‘short’!
“Ya sudah sana cepat! Aku sudah lapar nih.”
Malena mendengus dan cepat-cepat ke kamar mandi. Eh tunggu dulu, tadi dia bilang lapar, jadi dia belum sarapan dirumah? Dengan tergesa-gesa wanita itu mandi Karena dia tidak ingin pria yang sudah mulai memasuki hatinya itu menunggu lama.
Setelah memakai kaos dibalut sweaterdan celana jeans biru dia melangkah untuk bergabung untuk sarapan.
Di meja persegi tapi tidak terlalu panjang sudah tersedia cake kesukaannya yaitu steambaked cheese, beberapa roti panggang, butter, irisan alpukat, susu putih tanpa gula, ada oatmeal juga. diatasnya ada irisan kiwi, lima buah blueberry, irisan jeruk mandarin , strawberry yang sudah dipotong-potong dan granola. Wow! Malena berdecak kagum dibuatnya.
“Ini makanlah,” tangan besar itu menyodorkan mangkuk berisi oatmeal. “Dan ini susunya. Kau tidak suka yang terlalu manis kan?”
Malena hanya melongo. Tahu darimana dia, bahwa aku memang tidak suka yang terlalu manis? Pikirnya heran.
“Ayo jangan bengong, cepat dimakan oatmealnya nanti dingin,” tukas Ethan. Netra biru gelap itu menatap wanita yang sedang sarapan dalam diam. “Makan yang banyak.”
“Iya. “ dia menghabiskan oatmealnya sampai habis.
“Susunya diminum.”
“Iya iya.” Malena meneguk susu itu sampai tidak ada yang tersisa.
“Terus cepat siapkan kopermu.”
“Iya.” Mulutnya mengatup, matanya membulat dan menatap pria dengan pandangan heran. “Eh apa? Koper? Et, jangan-jangan kau mau menculikku ya?” tuduhnya.
“Iya,” Ethan menjawab pertanyaan Malena.
“Dasar crocodile.”
“Don't call me crocodile,” protes Ethan sambil melipat tangan ke dadanya.
“Lalu? Kalau begitu kenapa harus bawa koper? Memangnya mau kemana?” tanyanya curiga.
Lagi, Ethan menghela napas. Lama kelamaan capek juga dia berdebat dengan wanita ini. memang sih dia rada aneh tapi disitulah letak kelebihan dia. Ethan diam-diam menyukai Malena yang ceriwis. “Kita ke Italy sekarang juga. Puas?”
“APA?? KE ITALY? Tunggu dulu, bagaimana dengan pekerjaanmu? Bukankah kau ada--“
“Ya, aku ada fashion show disana. Cepat mom and dad menunggu kita di bandara.”
“Orang tuamu juga ikut?”
“Kau ini cerewet amat sih? nanti saja ngobrolnya. Enggak akan selesai-selesai jika bicara denganmu,” Ethan mulai kesal.
“Tapi piring-piringnya--“
“Cepat!” seru Ethan. Kalau masih saja bertanya, ku cium kau!”
“Enggak mauu!” jerit Malena sambil berlari menuju kamarnya.
Dia masih keheranan antara percaya dan tidak percaya. ketiban apa dia? Pagi-pagi pria itu sudah membawakan dia sarapan lalu mengajak dia ke Italy. Untung saja dia sudah membuat passport.
Oh iya, tadi Malena melihat sekilas Ethan membuka tablet pemberian dari pria itu. Mungkin dia sudah membaca pesan dari agensi. Wah, pasti banyak model pria tampan disana. Siapa tahu Sean O’pry dan Matthew Terry berada disana. Jangan lupa notes kecil dibawa untuk tanda tangan. Tanpa sadar Malena senyum-senyum sendiri.
“hihihihi … “
“Kenapa kau tertawa?”
Wanita itu terlonjak kaget. Sejak kapan dia sudah berdiri di depan pintu kamar? Mana gayanya tuh uh enggak kuat. Tampannya luar biasa…
“Uh, kau ini memang suka datang tiba-tiba.”
“Sorry, I’m not a ghost. Apa kau sudah siap?”
“Sudah.” Wanita berparas ayu itu memakai sweater pink muda, dibalut dengan long coat berwarna abu-abu sebatas lutut, jeasn biru cerah sangat pas di di kakinya. Rambut coklat panjang sebahu dibiarkan tergerai begitu saja. Sepatu kets putih membungkus kedua kakinya. Tas selempang coklat tersampir di bahunya yang mungil.
Melihat Malena berpenampilan sederhana sudah membuat Ethan terpana. Cantik, gumamnya.
“Apa kau bilang?”
“Tidak. Kau pendek.” Ethan melengos begitu saja seraya membawa koper Malena. Jangan sampai wanita itu melihat wajahnya memanas karenanya. Ekor matanya melirik Malena sedang mencibir kearahnya.
Di bandara internasional John F. kennedy mereka langsung menuju terminal 8 dengan pesawat American Airlines. Disana mom and dad sudah menunggu. Tak ketinggalan Steve dan calon istrinya juga ikut. Mom and dad langsung memeluk Malena dan berjalan beriringan sambil mengobrol. Setelah check-in mereka menunggu di ruang previllage. Tidak terlalu menunggu lama saatnya memasuki pesawat. Malena agak takut, ketika pesawat akan take off. Tangan kanannya memegang erat pergelangan Ethan. Malena menutup matanya rapat-rapat.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Ethan hati-hati. Wanita berparas ayu itu menggeleng lemah. Ethan tahu dia ketakutan. Wajahnya sudah menunjukkan itu. Ethan tidak pernah tahu bagaimana caranya menenangkan seorang wanita. Apalagi dekat dengan wanita dalam agensi yang sama. Ethan tahu, banyak wanita ingin mendekatinya. Tapi dia tidak peduli.
Tapi sejak bertemu dengan Malena yang dengan beraninya memanggil dia sebutan ‘crocodile’ dia jadi sedikit lebih tahu tentangnya. Dengan Malena dia jadi lebih banyak bicara.
Sedikit demi sedikit wanita aneh itu membuka pintu hati beku Ethan yang terdalam.
Dia menoleh ke samping kiri. Wanita ayu itu sudah tertidur. Pengangan tangannya sudah mengendur. Dengan begini dia bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas.
Sambil mengusap kepalanya dia berkata, “ tidurlah, aku akan menjagamu.”
TBC.
A.N.
Cieee mulai suka yaaaa….
Ethan: pehlis…
Suit suittt
Ethan: staph embak, staph!!
Hallo semuanya apa kabar? Maaf saya baru menyapa kalian semua. Dan maafkan juga di bab-bab sebelumnya rada sedikit aneh. Ditunggu bab selanjutnya.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro