Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

7 - Whatsapp Pertama?


"Al tolong antar berkas ini ya ke papa," ucap mama dan menyerahkan sebuah map padaku.

"Apa ini Ma?" tanyaku tak mengerti. Dari kemarin aku memang tinggal di rumah seperti permintaan mereka. Namun besok pun aku akan kembali tinggal di kantor.

"Katanya itu berkas penting buat kerja sama papa sama rekan bisnisnya. Bentar lagi mereka meeting jadi papa gak bisa pulang lagi. Kamu antar ya," pinta mama lagi.

"Kenapa gak nyuruh supir sih Ma?" tanyaku malas tapi tak urung bersiap-siap.

"Udah cepet ah jangan banyak protes. Oh ya alamatnya Mama kirim ke whatsapp kamu ya," ucap mama.

"Bukan ke kantor papa?" tanyaku.

"Bukan Al," jawab mama.

"Yaudah deh. Al berangkat ya Ma, assalamu'alaikum," pamitku.

"Waalaikumsalam," jawab mama.

Setelah di mobil aku mengecek pesan dari mama. Mataku membelalak tak percaya melihat nama perusahaan ini.

Ini kan tempat kerja kang Arnav.

Aku telah berdiri di depan perusahaan, mau masuk rasanya malu dan canggung. Ku coba menghubungi papa berkali-kali tapi tak ada jawaban.

Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalaku, apa aku hubungi kang Arnav saja?

"Assalamu'alaikum," salamku begitu panggilan tersambung.

"Wa'alaikumussalam warrohmatullah. Ini dengan siapa?" suara kang Arnav membuat debaran di jantungku semakin kencang. Sialan, ternyata dia tidak menyimpan nomorku.

"Ini Alma," cicitku.

Aku tidak bisa membayangka ekspresinya saat ini, tapi yang pasti ada jeda sebelum dia bersuara.

"Oh ya Alma, ada apa?" tanya nya dari seberang telpon.

"Bisa keluar dari kantor sebentar? Aku ada di depan," ucapku tak mau lama-lama berbincang di telpon.

"Hah? Ada apa?" tanya dia sepertinya kebingungan.

"Tapi kalau sibuk gak papa gak usah," ucapku merasa tak enak. Aku memang tak menjawab pertanyaannya.

"Saya kesana sekarang," ucapnya dan mematikan telpon.

Tak lama kemudian aku melihatnya berjalan ke arahku. Tolong tanganku sudah panas dingin.

"Alma, ada apa?" tanya dia.

"Begini Kang, bisa minta bantuan?" tanyaku.

"Bantuan apa?" dia balik bertanya.

"Papa lagi meeting di dalam dan berkasnya ketinggalan. Bisa tolong sampaikan kesana?" pintaku sambil menyerahkan map yang ku pegang.

"Jadi pak Salman yang di cv kamu itu pak Salman dirut Salm Corporation?" tanya kang Arnav.

Aku hanya mengangguk. Memang di cv aku hanya mencantumkan bahwa papa ku seorang pemilik usaha. Itu saja.

"Yaudah kalau gitu saya masuk sekarang ya," ujar kang Arnav.

"Baik Kang, terima kasih," ucapku tulus.

"Sama-sama," ucapnya dan berlalu meninggal kan ku.

***

"Kamu kenal sama Arnav Al?" tanya papa setelah kami selesai makan malam.

"Iya Pa, dia satu organisasi sama Nadin," jawabku.

"Papa kira dia calon suami kamu."

Uhukk ... Uhukk ... Aku yang tengah minum terbatuk mendengar ucapan papa.

"Papa apaan sih," ucapku.

"Kemarin kan kamu ngomong-ngomong nikah. Ya kali aja Arnav calon suami kamu. Papa suka sama dia. Dia baik, ramah, dan juga sopan," ujar papa.

"Siapa Pa?" ucap mama menyambar pembicaraan.

"Itu Arnav salah satu karyawan pak Sandireja," jawab papa, dan mama hanya mengangguk angguk.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Seandainya saja papa tahu kalau aku sedang dalam tahap perkenalan dengan kang Arnav, entah akan seperti apa reaksinya.

Ponselku bergetar dan kulihat ternyata pesan dari Nadin.

Nadin : Cepet pulang dong, sepi nih di rumahL

Me : Baru ditinggal dua malam juga. Ntar bertahun tahun loh..

Nadin : Hwaaaaa sedihnyaa hatiku akan ditinggalkan olehmuuu

Me : Lebay!!!!!

Nadin : Hahahhaa, btw gimana dengan kang arnav?

Me : Gak gimana-gimana

Nadin : Hemmmm, sepertinya kalian diem-diem padahal ada something yaa

Me : Something apaan. Ndas mu something.

Nadin : mas ilham tadi nanyain gimana perkembangannya:v

Me : Gak usah ngeghibah kaleaann..

Nadin : Gpp lah, kan aku ghibahnya ngasih tau sama yg di ghibahin.

Me : Terserahhhhhhhh

"Siapa?" tanya papa.

"Nadin Pa," jawabku.

"Oh ya dia udah lama ya gak kesini," ucap papa.

"Iya dia sibuk Pa. Sibuk kuliah sama kegiatannya banyak," ujarku.

"Kamu sibuk apa lagi selain bisnis Al?" tanya papa.

"Dia cuma rebahan aja Pa," ucap mama.

Aku memutar bola mataku malas walaupun emang bener sih. Tapi kan bisnis ku juga cukup membuatku sibuk.

---

Today, I am here

Tulisku sebagai caption di status whatsapp. Hari ini memang aku berada di suatu lokasi pemotretan.

"Teh lihat cantik kan?" tanya Arya sambil memperlihatkan foto di kamera.

"Arya apaan sih," ucapku begitu melihat ternyata itu fotoku yang sedang sibuk berbincang dengan salah satu model.

"Maksudnya modelnya Teh." ujar Arya sambil terkekeh.

"Gak usah ngelak, lihat fokusnya ke siapa," ucapku tak mau kalah.

"Iya deh aku gak akan pernah menang dari Teteh," ucapnya tertawa.

"Sana balik lagi kerja," usirku.

"Iya iya," ucapnya sambil berjalan meninggalkan ku.

Aku memperhatikan dengan seksama proses pemotretan. Bagaimana pun ini dress series yang paling aku suka. Hingga getaran di ponsel yang kugenggam mengalihkan perhatian ku.

Kang Arnav : Proses pemotretan?

Aku menarik napas tak menyangka bahwa yang mengirimiku pesan adalah kang Arnav. Rupanya dia mengomentari statusku.

Me : Iya kang.

Kang Arnav : Sama Nadin?

Me : Enggak. Nadin kuliah.

Lagi kerja kang?

Kang Arnav : Iya lagi kerja kebetulan gak sibuk.

Biasanya pemotretan berapa lama?

Me : tergantung sih gak nentu.

Kang Arnav : kamu buka usaha sejak kapan?

Me : sejak kelas 3 SMA. Kebetulan orang tua ku dan Nadin memberi bantuan modal, hehe

Kang Arnav : Oh iya, enak ya kalau gitu

Me : Alhamdulillah.

Kang Arnav : Kamu gak ada rencana kuliah?

Me : dulu aku kuliah satu tahun terus berhenti. Insya Allah tahun depan mau lanjut kuliah.

Minta do'anya biar semuanya lancarJ

Kang Arnav : Aamiin.. semoga semuanya dipermudah.

Me : Aamiin Allohumma Aamiin.. terima kasih

Kang Arnav : nggih, podo-podo.

Me : Bisa bahasa jawa?

Kang Arnav : Sedikit-sedikit dari kang Ilham.

Me : Ooh iya mas Ilham keturunan jawa ya.

Kang Arnav : aku juga jawa.

Belum sempat aku membalas pesannya panggilan suara Arya mengintrupsiku.

"Teh bisa kesini sebentar?" tanya dia.

"Oke tunggu." ucapku dan berjalan ke arahnya.

Sepertinya mereka membutuhkan masukan dariku untuk sesi ini. Aku menggelengkan kepala pelan karena telah kehilangan fokus sepenuhnya gara-gara pesan dari kang Arnav.

***

Aku merebahkan diri di kamar. Pemotretan hari ini sungguh menguras tenaga ku. Kuperiksa ponsel dan astaga aku lupa belum membalas pesan kang Arnav.

Me : Jawa apa dih?

Aku menunggu cukup lama hingga 10 menit kemudian ada balasan darinya.

Kang Arnav : Jawa barat :D

Me : Hhmmmm

Kang Arnav : Kenapa?

Me : Gak papa, hhee

Kang Arnav : udah selesai pemotretannya ?

Me : Udah. Ini baru nyampe rumah.

Kang Arnav : Oh, ok.

Aku membacanya tanpa ada niat untuk membalas. Ku simpan ponselku dan menatap keluar jendela. Langit sore yang sedikit mendung.

Aku bertanya-tanya, bagaimana perasaanku sebenarnya terhadap kang Arnav? Apakah aku mulai tertarik padanya?




*Teteh : Sapaan kakak untuk perempuan

*Kang : Sapaan kakak untuk laki-laki

Btw gais kalau ada yang bertanya-tanya, katanya ta'aruf tapi kok chatingan, dsb. Di sini aku mau menjelaskan bahwa mereka tidak melakukan ta'aruf yang sebenarnya ta'aruf (Tidak boleh berkomunikasi kecuali lewat perantara/di dampingi perantara). Alma seorang pebisnis dan juga perempuan masa kini yang masih belajar untuk lebih baik, dia pun sudah terbiasa berinteraksi dengan lawan jenis, tapi dia tahu batasan kok:) . Begitu pun dengan Arnav, dia pun tahu batasan meskipun sesekali menghubungi Alma hanya untuk mengetahui informasi tentang calonnya itu.

Salam sayang,

Penulis

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro