3 - Kenalan Aja Dulu
"Ayo dong Al please ya temenin aku." Aku tak mengindahkan permohonan Nadin dan melanjutkan makan.
Saat ini aku, Nadin, teh Oca, dan Rima sedang berbuka puasa bersama. Puasa di hari kamis. Kulirik Nadin sebentar dan dia menggerutu sambil kembali menatap ponselnya.
Saat kami telah duduk di sofa Nadin terus saja sibuk dengan ponselnya. Tak lama dia menatapku yang aku juga tengah memperhatikannya.
"Apa?" tanyaku tanpa suara.
"Al kamu beneran tega gak mau nemenin aku?" tanya Nadin.
"Iya. Males ah aku lagi gak mau kajian," jawabku.
"Ajak teh Oca atau Rima aja deh Nad," lanjutku tak acuh.
Nadin menatap kedua admin kami dan mereka berdua hanya tersenyum tak enak yang menandakan bahwa mereka tak mau ikut. Dan Nadin hanya menghembuskan napasnya keras.
Adzan Isya berkumandang dan aku segera bangkit dari duduk untuk mengambil wudhu.
Aku terkejut saat keluar dari kamar mandi Nadin tengah menunggu ku.
"Please Al, sekali ini saja. Pengisi acaranya ustadz yang sekaligus founder komunitas aku," ucapnya dengan tatapan mengiba.
"Oke deh," ucapku mengalah karena dari tadi Nadin tidak berhenti memohon. Nadin bersorak kegirangan dan memeluk ku.
"Kan acaranya setengah 8, emang bakalan keburu?" tanyaku.
"Pasti bisa. Yaudah sholat dulu Al," ucapnya dengan bersemangat.
Aku pun meninggalkannya dan berjalan menuju kamar.
Ku perhatikan Nadin yang tengah siap-siap. Sedangkan aku? Masih memakai gamis yang kupakai dari tadi siang. Maafkan aku yang belum mandi sampai saat ini.
"Al mau pakai masker gak?" tanya Nadin sambil menyerahkan masker kain yang masih bersih.
"Ogah ah, gak ada virus juga," ucapku. Aku memang sering merasa aneh dengan mereka yang suka memakai masker saat kajian, emangnya mereka kenapa ya?
"Nad pinjem kaca mata kamu ya," ucapku sambil mengambil kaca mata Nadin.
"Oke," ucapnya singkat.
"Teh Oca, boleh gak pinjem motor?" tanya Nadin.
"Boleh. Itu kuncinya di gantungan biasa," jawab teh Oca.
Aku dan Nadin pun bergegas keluar dan mengeluarkan motor teh Oca dari parkiran. Kami memang memutuskan untuk naik motor supaya kesananya lebih cepat.
"Nad beneran nih gak terlambat?" tanyaku cukup keras saat motor tengah melaju membelah jalanan yang cukup ramai.
"Gak. Tadi aku whatsapp ustadz nya dan katanya belum mulai," jawab Nadin.
Aku hanya mengangguk angguk.
"Berarti bakal ketemu mas Ilham dong? Aku jadi pengen lihat langsung," ucapku sambil terkikik.
"Mas Ilham gak datang," jawab Nadin.
Kami telah sampai di lokasi dan memakirkan motor di parkiran yang tersedia. Keadaan sudah penuh dan alhasil kami kebagian tempat duduk di pinggir, cukup dekat dengan beberapa pria. Aku cukup merasa risih dan menyesal karena tidak memakai masker. Sekarang aku cukup faham kenapa mereka senang memakai masker, mungkin salah satunya untuk menghindari tatapan dari lawan jenis.
Nadin yang berada di sampingku tampak celingak celinguk dan sesekali mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Ada apa Nad?" tanyaku.
"Ini kang Arnav ngasih tau kalau dia juga ada disini sama kang Dian," jawab Nadin.
"Siapa mereka?" tanyaku.
"Oh itu dia," gumam Nadin sambil tatapannya lurus ke depan.
"Eh apa Al?" tanya Nadin yang sepertinya tidak mendengar pertanyaanku.
"Itu yang tadi kamu sebutin mereka siapa?" tanyaku.
"Ohhh. Kang Arnav itu sekretaris I di komunitas dan kang Dian anggota. Oh ya Al kang Arnav tuh penghafal al-qur'an lho," ucap Nadin seperti promosi.
"Pasti udah punya istri kan?" tanyaku spontan.
"Belum. Mau aku kenalin?" tanya Nadin.
"Dahlah Nad. Tuh ustadz nya mau mulai," ucapku menghentikan obrolan Nadin.
Kami pun sama-sama terdiam dan menyimak pembahasan ustadz di depan sana. Hingga sebuah intermezzo dari ustadz membuatku menarik senyum.
"Hadirin yang di rohmati Allah, bagi para singlelillah carilah suami itu yang "kaya" dan ada sebuah hadist yang berbunyi "Dua raka'at fajar (shalat sunah sebelum subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya" hadist riwayat muslim. Dan kebetulan sekali malam ini saya tidak biasanya ditemani dua orang pemuda yang Insya Allah rajin ke masjid. Nah kalau masih pemuda berarti masih single. Masa udah jauh-jauh kesini tapi gak dapat calon istri." Seketika para jemaah pun tertawa mendengar penuturan ustadz itu. Aku melirik sejenak ke arah kang Dian dan entah siapa yang satunya lagi, mereka seperti tengah salah tingkah karena banyak pasang mata yang meliriknya.
Aku melirik jam dan menunjukan pukul 22.00 tak terasa dan ustadz pun mengakhiri ceramahnya.
"Nad pulang sekarang aja yuk." Ajakku walaupun acara belum selesai, yang penting ustadz nya sudah selesai dan sudah turun dari panggung.
"Yaudah ayo," ucap Nadin dengan enggan.
Ketika kami sudah berada di luar lokasi dekat gerbang masjid Nadin berucap, "Eh Al aku mau nitipin uang ke kang Arnav dulu deh," ucapnya.
"Uang apa?" tanyaku.
"Ini hasil penjualan topi," jawab Nadin.
"Tapi malu Nad masa masuk ke dalam lagi," ucapku dengan menatap sebal Nadin.
"Iya sih, yaudah deh gak usah kapan-kapan aja langsung aku kasihin ke kang Rizal," ucap Nadin.
Saat kami akan beranjak menuju parkiran tak lama kang siapa itu namanya ada mendekat ke arah kami.
"Eh Kang Arnav!" panggil Nadin. Dan orang yang dipanggil pun menengok ke arahnya.
"Ada apa?" tanya dia di depan Nadin. Dia melirik sekilas ke arahku. Aku yang melihatnya langsung pura-pura menatap langit, melihat indahnya bintang.
"Nadin mau nitip uang buat kang Rizal. Gak papa kan?" ucap Nadin sambil menyerahkan amplop.
"Oh iya nanti saya sampaikan," ucapnya dan tanpa basa basi langsung meninggalkan kami.
Oh tuhan, lihatlah beberapa pasang mata tengah menatap kami.
"Yuk ah Nad." Ajakku merasa tak nyaman.
Kami pun berjalan menuju tempat parkir,dan sebelum berangkat aku melirik sekilas ke arah dia yang ternyata menuju ke toilet.
***
"Nad yang tadi kang Arnan itu usia berapa?" tanyaku saat kami tengah berbaring di kasur. Setengah jam yang lalu kami memang telah sampai di rumah.
"Arnav Al, ARNAV," ucap Nadin penuh penekanan.
"Oh iya itu, aku lupa terus," ucapku sambil terkekeh.
"25 tahun kalau gak salah," jawab Nadin.
"Tapi dia kayanya dewasa banget ya," ujarku.
"Heem, dia yang paling kalem diantara anggota kami," ucap Nadin.
"Kenapa? Mau dikenalin?" tawar Nadin saat aku tak menjawab.
"Boleh lah." ucapku asal dan menarik selimut karena kantuk telah menyerangku. Ku dengar samar-samar Nadin berkata, namun aku terlanjur mengantuk hingga semuanya gelap.
*Kang (bahasa sunda) : Kakak
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro