19 - Perihal Jodoh
Hari-hari ku berjalan seperti biasanya, bekerja, istirahat, bekerja, istirahat,hampir selalu seperti itu setiap harinya. Di akhir pekan aku selalumenyempatkan diri untuk ikut kajian bersama sahabatku Nadin yang kini selalumembawa putranya kemanapun dia pergi.
Sesekali aku bertemu kang Arnav di tempat kajian, ya seperti biasanya ketidaksengajaan.
Aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya kecuali dalam hal bisnis, dan sesekali berbincang jika kebetulan bertemu.
Rasanya memang tak sama lagi seperti dulu, aku yang kini telah dewasa lebih bisa mengendalikan perasaan ku sendiri. Bahagia saat melihatnya memang masih terasa, tapi keinginan yang membuncah rasanya telah lenyap.
Saat ini aku terlalu disibukkan dengan pekerjaanku. Mama yang selalu merengek kapan aku akan menikah tak pernah aku indahkan. Menikah bukan ajang siapa cepat bukan? tapi siapa tepat.
"Al kamu gak pusing denger omongan mama kamu terus?" tanya papa disela-sela kegiatan makan siang kami di kantor.
"Al udah biasa kok Pa," jawabku dan terus melanjutkan makan.
"Papa gak akan ngalangin kamu nikah sama siapapun, asalkan dia orang yang baik saja itu sudah cukup," ucap papa dan tersenyum lembut.
Aku yang melihatnya pun ikut tersenyum.
"Aku masih ingin fokus dengan pekerjaan Pa. Jika memang sudah waktunya,tanpa aku nyari pun jodohku akan tetap menghampiri," ujarku.
"Papa tahu kamu gadis Papa yang bijaksana. Selama ini kamu belum pernah mengecewakan Papa," jawabnya.
Aku tersenyum miris, aku tahu sebenarnya dulu papa sempat sedikit kecewa saat aku membatalkan pertunangan dengan Ikhsan.
"Nanti sore Papa mau bertemu dengan Arnav," ucap Papa menghentikan kegiatanku.
"Ada apa Pa?" tanyaku aneh. Perasaanku mengatakan kalau masalah bisnis bukankah aku yang handle dengan perusahaan tempat kang Arnav bekerja.
"Gak ada apa-apa, hanya obrolan ringan aja."
Aku mengerutkan kening mendengar jawaban Papa.
"Ahh kamu gak tahu ya, Papa cukup dekat dengan Arnav dan kita senang bertukar pikiran. Dia pemuda yang baik dan mengerti agama. Papa senang berbincang dengannya," lanjut Papa.
Aku bertanya-tanya, apa yang tidak aku ketahui selama ini? Kenapa papa bisa dekat dengan kang Arnav?
***
Aku berjalan menuju tempat mobil ku diparkir karena hari ini badan ku cukup tidak enak dan aku pun memutuskan untuk pulang agak sore, karena biasanya aku bahkan sampai malam di kantor.
"Almeira!" sebuah panggilan dari samping membuatku menoleh.
"Ikhsan," jawabku tak percaya.
"Hei apa kabar?" tanya Ikhsan saat jarak kami telah cukup dekat.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana? Sedang apa disini?"tanyaku.
"Alhamdulillah. Oh kebetulan aku telah mengunjungi temanku, salah satu karyawan disini," jawab Ikhsan.
"Kamu masih jomblo Al?" tanya Ikhsan sambil terkekeh.
"Apaan sih kamu San, nanya nya gitu gak asik," ucapku tapi ikut tertawa.
"Kamu udah tahu kan kalau aku udah cukup lama di Indo?" selidikku.
"Apasih yang aku gak tahu," jawab Ikhsan tertawa.
"Tapi kok kamu gak pernah gitu berminat nemuin aku?" usilku.
"Aku takut gak bisa ngelepasin kamu," jawabnya dengan santai.
"Nikah sana makannya biar move on dari aku," jawabku tak kalah santai.
"Kenapa gak kamu aja yang nikah duluan apa," balasnya telak.
"Yang lebih tua deh nikah duluan," balasku tak mau kalah.
"Nikah itu bukan perihal usia loh," jawab Ikhsan lagi.
"Udah ah malah bahas nikah terus," ucapku sambil terkikik geli.
Syukurlah walaupun kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan, tapi kami tetap bisa berhubungan dengan baik.
"Eh Al kamu tahu gak tentang reuni SMA kita?" tanya Ikhsan.
"Oh iya, aku juga dapat undangan nya kok," jawabku.
"Mau hadir?" tanya Ikhsan.
"Insya Allah, acaranya hari Minggu kan?" tanyaku memastikan.
"Iya. Kamu mau gak kesananya bareng aku? Nanti aku yang jemput," tawar Ikhsan.
"Kenapa? Biar gak disangka jomblo ya," godaku sambil terkekeh.
"Takutnya fangirl aku masih banyak disana," ucapnya tersenyum jumawa.
Aku hanya memutar bola mata malas, salah satu sisi yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang adalah jiwa narsis dari Ikhsan.
"Yaudah deh nanti aku kabari lagi ya kalau misalkan mau barengan kesana. Takutnya aku gak bisa hadir malah," ucapku.
"Orang sibuk mah beda ya, kemana mana harus ngecek jadwal dulu,"ucapnya terkekeh.
"Iya nih, orang sibuk memang selalu berbeda," ujarku membalas candaannya.
"Terserah orang sibuk deh," ucap Ikhsan dengan nada ogah-ogahan.
Mataku menyipit ketika menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikan kami. Menyadari bahwa aku melihatnya dia pun pergi masuk kedalam kantor. Dia kang Arnav.
"Orang sibuk, kenapa?" tanya Ikhsan membuatku kembali tertarik pada kenyataan.
"Eh? gak papa," jawabku.
"Kamu mau langsung pulang atau gimana?" tanyaku kembali memfokuskan diri.
"Kamu gak mau gitu ngopi dulu atau apa sama aku?" tanya Ikhsan mengulum senyum.
"Aku lagi gak enak badan makannya ini pulang cepat," jawabku.
"Ya ampun segitunya banget sih Al. Makannya jangan terlalu sibuk dan jangan maksain kerja terlalu keras," ucap Ikhsan penuh perhatian seperti biasanya.
"Enggak kok, wajar aja kan kalau aku merasa gak enak badan sebagai manusia biasa. Kalau masalah sibuk mah gimana ya susah sih jadi orang penting," ucapku terkekeh.
"Masih aja bisa becanda kaya gitu," ucapnya.
"Masa aku harus kaku kaya kanebo kering sih," ucapku sambil mendelik.
"Iya deh Iya, yaudah kalau gitu, kamu bisa pulang sendiri kan?" tanya Ikhsan.
"Jangan modus mau nganterin aku San. Aku bisa pulang sendiri kok,"jawabku tertawa renyah.
"Enak aja modus. Hati-hati ya Al," ucap Ikhsan.
"Aku pamit ya Ikhsan, Assalamu'alaikum,"pamitku.
"Wa'alaikumsalam warrohmatullah,"jawabnya.
Aku pun melanjutkan langkahku menuju ke mobil untuk pulang.
Macet sudah menjadi makanan sehari-hari dan aku tidak bisa mengeluh karena hal ini. Toh mengeluh hanya membuang-buang energi ku saja.
Aku tiba-tiba teringat dengan Kang Arnav tadi. Apa mungkin dia akan salah faham? Interaksi aku dengan Ikhsan tadi bisa disalah artikan bukan oleh orang lain yang tidak tahu?
Apalagi aku tidak pernah mencoba menjelaskan apapun ke kang Arnav. Mungkinkah dia masih mengingat perihal cincin di jari manisku dulu dan masih menyangka bahwa aku telah diikat oleh seseorang? Aku menggelengkan kepala pelan, jangan terpengaruh oleh hal-hal itu Alma. Biarkan semuanya mengalir begitu saja. Jangan pernah berharap pada manusia lagi, kamu tidak akan pernah bisa mengubah takdir.
***
"Nad kamu benar-benar ya, kamu kan tahu aku gak bisa cape-capean gini," ucapku mendelik ke arah Nadin.
"Santai dong, lagipula sekarang udah nyampe kok," ucapnya sambil terkikik geli.
"Suamiku gak akan izinin aku pergi kalau gak sama kamu," lanjut Nadinsambil membuka botol air minumnya.
Aku menghirup udara segar ini dalam-dalam. Kami sekarang tengah berada diarea hutan pinus. Ya kami mengikuti salah satu acara yang diadakan oleh sebuah komunitas yaitu "tafakur alam", sebenarnya ini seperti kegiatan outbond biasa hanya saja diselipi dengan kegiatan-kegiatan islami.
Suaminya Nadin tengah berada di luar kota dan beliau mengijinkan Nadin ikut kegiatan ini jika bersama ku. Putranya dia titipkan di ibunya karena tidak mungkin ikut.
"Nad aku kesana dulu ya," ucapku begitu melihat setangkai bunga yang letaknya tidak terlalu jauh.
"Jangan jauh-jauh ya, setelah ini kita harus kumpul," ucap Nadin.
"Iya," jawabku dan melangkahkan kaki.
Bunganya cantik, dan aku merasa aneh aja ada setangkai bunga diantara hamparan pohon pinus.
"Kebetulan lagi ini." Ucapan seseorang membuatku terlonjak kaget.
"Astagfirullah, Kang Arnav?" tanyaku merasa tak percaya. Pasalnya tadi saat hendak berangkat aku tidak melihat dia.
"Memangnya hantu?" dia balik bertanya dan aku hanya memutar bola mata malas.
"Kok bisa kesini?" tanyaku berdiri agak menjauh.
"Saya ikut kegiatan ini juga, hanya saja tadi berangkatnya sedikit terlambat dari rombongan," jawabnya dan aku hanya mengangguk anggukkan kepalamengerti.
"Kamu sama siapa kesini?" tanyanya.
"Sama Nadin," jawabku sambil memandang ke arah Nadin yang tengah sibuk mengambil gambar.
"Saya pikir kamu gak akan suka kegiatan outdoor gini," ucapnya sambil memperhatikan bunga yang tadi jadi objek perhatian ku.
"Dipaksa Nadin," ucapku dengan sedikit menggerutu.
"Tapi kegiatan seperti ini bagus loh, terutama untuk kita yang tiap harinya terkurung dalam tembok beton," ujarnya.
Benar juga sih aku setuju, selama ini rasanya aku jarang sekali menyatu dengan alam seperti ini.
"Al lama banget sih. Eh kang Arnav, apa kabar?" tanya Nadin yang tiba-tiba menghampiri kami.
"Alhamdulillah baik Nad," jawabkang Arnav.
"Ayo kesana, kita disuruh kumpul," ucap Nadin kepadaku dan sepertinya kepada kang Arnav juga.
"Silahkan duluan," ucap kang Arnav.
"Permisi kang, Assalamu'alaikum,"pamitku.
"Wa'alaikumsalam warrohmatullah,"jawab kang Arnav dan tersenyum pada Nadin yang menganggukkan kepalanya.
"Al lihat deh," ucap Nadin menyodorkan ponselnya padaku.
"Ih Nadin apaan sih," ucapku hendak merebut ponsel Nadin tapi keburu dia tepis.
Disana ada foto aku yang tengah berbincang dengan kang Arnav.
"Kalau mau bilang makasih, gak usah gak perlu," ucapnya sambil tertawa dan mempercepat langkahnya.
Aku hanya mendengkus tapi tak ayal tersenyum karena foto itu.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro