17 - Musim Gugur
Pertengahan bulan September ini aku memutuskan untuk pergi ke Damyang Metasequoia Road yang terletak di provinsi Jeolla. Walaupun menempuh perjalanan yang cukup lama dari Seoul tapi itu semua terbayarkan dengan pemandangan di depanku ini.Di musim gugur cukup banyak pasangan yang datang kemari karena memang suasananya yang sangat romantis disini.
Berjalan-jalan dengan pasangan sambil bercengkrama ditemani daun-daun yang berguguran bukankah itu terlihat asik?
Aku menelusuri jalanan yang dipenuhi daun-daun, sangat indah. Setelah berjalan cukup lama akhirnya kuputuskan untuk duduk sejenak di sebuah bangku kosong yang terbuat dari kayu. Aku mengedarkan pandanganku dan mengambil ponselyang bergetar. Rupanya ada panggilan masuk dari Nadin.
"Assalamu'alaikum," salamku begitu mengangkat telpon.
"Waalaikumsalam Warrohmatullah," jawabnya
"Al, aku punya kabar bahagia,"ucapnya terdengar senang. Aku yakin disana dia pasti sedang tersenyum lebar sekarang.
"Ada apa?" tanyaku sedikit penasaran. Terkadang ketika berbicara dengan Nadin aku suka sedikit berharap ada kabar dari dia. Suami Nadin bukankahberteman dengan dia, kan?
"I am pregnant," ucapnya dan terkekeh girang.
"Wahhh Alhamdulillah, aku ikut seneng Nad. Semoga kamu dan bayimu sehat selalu ya. Aku bakalan jadi aunty nih," ucapku tertawa ringan.
Walaupun ini bukan kabar tentang dia, tapi aku tetap senang mendengarnya.Bagaimanapun di usia pernikahan yang menginjak bulan keempat, sahabatku ini telah diberikan amanah yang luar biasa dari yang maha kuasa.
"Iya nih dedeknya katanya udah pengen dielus-elus sama aunty nya," ucapnya sambil terkikik geli.
"Enam bulan lagi ya Insya Allah kita bertemu," jawabku.
Ya enam bulan lagi aku telah menyelesaikan study dan akan kembali ke Indonesia.
"Jangan lupa hadiah dari negeri ginseng nya ya aunty," ucapnya lagi.
"Emak nya ini mah," ucapku sambil mendengkus tapi takayal tertawa dan Nadin pun tertawa dari seberang sana.
"Al udah dulu ya, aku dipanggil suamiku," ucapnya.
"Oke, Assalamu'alaikum,"tutupku.
"Waalaikumsalam," tutup Nadin.
Tiba-tiba sehelai daun terjatuh diatas ponsel yang sedang aku genggam.Aku mengamati daun itu dan tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di kepala ku. Aku pun mengambil foto daun itu dengan latar daun-daun yang berserakan dan pohon-pohon yang sedang menggugurkan daunnya. Aku pun mengirimkan gambar itu ke Ikhsan.
5 menit berselang tiba-tiba ada telepon masuk dari Ikhsan.
"Assalamu'alaikum Warrohmatullah,"salamnya begitu aku mengangkat telpon.
"Wa'alaikumsalam Warrohmatullahi wabarakatuh," jawabku.
"Disana sedang musim gugur Al?" tanya Ikhsan.
Ya terakhir kami berkomunikasikurang lebih 1 bulan yang lalu.
"Iya San, eh kamu gak kerja?" tanyaku.
"Disini jam istirahat," jawabnya. Dan dengan bodohnya aku mengangguk walaupun tahu dia tidak akan bisa melihatnya.
"Musim gugur membuat daun-daun terlihat indah ya Al," ucap Ikhsan yang lebih terdengar seperti pernyataan bukan pertanyaan.
"Iya. Terkadang sesuatu berguguran memang terlihat menyedihkan, tapisetelah itu keindahan pun menanti. Tidak semua yang gugur berarti kalah bukan?"tanyaku yang sebenarnya lebih ke arah bermonolog sendiri.
"Banyak hal digugurkan agar menjadi lebih indah," jawabnya.
"Ikhsan ..." ucapku tertahan.
"Iya ada apa Al?" tanyanya.
"Sama hal nya dengan daun yang menjadi indah walaupun berguguran, Allah pun pasti menyiapkan yang terindah untuk setiap hambanya. Ikhsan, bagaimana jika kita mengakhiri pertunangan ini dan tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan?" tuturku.
Rasanya ada puluhan ton beban di dada ku yang terangkat ketika aku selesai mengatakan hal itu.
Tak ada jawaban dari Ikhsan, hanya keheningan yang menyelimuti. Aku tahu, rasanya aku wanita yang benar-benar jahat. Tapi aku tidak mau menjadi wanita yang baik untuk orang lain tapi jahat untuk diriku sendiri dengan mengkhianati apa yang ada dalam hatiku. Lagipula benar kata Nadin, aku tidak ingin menjadikan Ikhsan laki-laki baik ini untuk membuatku terlepas dari bayangan masa lalu. Aku harus melepaskan bayangan ini dengan usahaku sendiri, dengan tidak melibatkan orang-orang yang mungkin akan tersakiti kelak karena ku.
"Al ... bisakah kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ikhsan setelah beberapa saat.
"Tidak banyak hal yang terjadi, namun aku merasa aku tidak cukup siap untuk membangun pernikahan. Ada banyak hal di pikiranku yang mengatakan bahwa aku harus mengambil keputusan ini," jawabku.
"Apa mungkin kamu menyukai orang lain?" tanya dia lagi.
"Aku bahkan cukup sulit untuk mendefinisikan tentang rasa suka. Ada suatu hal yang membuatku masih terikat dengan masa lalu, dan aku tidak ingin itumelukai mu di masa depan San."
"Aku akan menunggu sampai ikatan itu terlepas," ucapnya.
"Tidak! Kamu laki-laki yang baik dan berhak mendapatkan perempuan yang baik. Bukan perempuan yang masih terombang ambing sepertiku ini," jawabkucepat.
Aku tidak mau menambah beban pemikiranku jika dia harus menunggu ku.Sedangkan aku pun tak tahu kapan ikatan ini akan terlepas dari hidupku.
"Jika memang itu keputusan yang terbaik, baiklah mari kita ambil keputusan itu dan membicarakan pada orang tua masing-masing. Aku tidak mau menahan kamu karena itu hidupmu dan aku tidak berhak atas itu. Ini semua bukan berarti aku tidak mencintai mu. Tapi semuanya kulakukan karena aku ikhlas dalam mencintaimu," ucapnya dan sukses membuat air mataku keluar.
Jujur, beberapa waktu sebelum dia kembali aku sempat menyukai Ikhsan,tapi aku hanya menyukai dia sebatas tempatku untuk berbagi cerita. Dia yang menepati janjinya untuk tidak menghubungiku, kecuali untuk hal-hal tertentu pun aku begitu terkesan.
Walaupun nyatanya aku yang suka menghubungi nya terlebih dahulu jika ada beberapa hal yang ingin aku ceritakan. Aku menganggapnyasebagai sahabatku, orang yang bisa aku bagi beberapa cerita.
"Ikhsan, terima kasih dan maaf dariku. Kuharap hubungan kita tidak merenggang karena hal ini," ucapku.
"Begitupun dariku Al. Dan jika kelak kita memang ditakdirkan untuk berjodoh, kuharap kamu tidak akan menyangkalnya," ucapnya dan aku hanyamenganggukkan kepala.
Jika memang jodoh, rintangan apapun tak akan pernah bisa memutusnya.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro