Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

1 - Daily

Bandung, Agustus 2019


"Teh Oca resinya udah di upload di Instagram, kan?" tanyaku pada teh Oca salah satu admin di online shop yang aku kelola bersama sahabatku Nadin.

"Udah Teh barusan," jawab Teh Oca sambil membereskan beberapa khimar.

"Yaudah makasih Teh. Hari ini pulang enggak Teh?" tanyaku sambil membantunya menggantungkan gamis.

"Pulang kayanya Teh," jawab teh Oca dengan pandangan tak enak.

"Rima juga?" tanyaku pada Rima yang tengah sibuk dengan komputernya.

"Hah? Gimana Teh?" tanya Rima sambil tersenyum kebingungan.

"Kamu mau pulang hari ini?" ulangku.

"Iya Teh gak papa kan kalau aku pulang?" tanya Rima.

"Yaudah gak papa, pulang aja Ma," ucapku dan kemudian duduk sambil menyesap teh yang sudah terasa hangat.

"Teteh gak papa nih ditinggal sendiri?" tanya teh Oca.

"Gak papa," ucapku sambil tersenyum mengerti dengan kekhawatirannya. Teh Oca ini usianya dua tahun lebih tua dibanding aku.

"Nanti Nadin mau kesini kok," lanjutku.

"Syukurlah," ucap teh Oca.

"Yaudah kalau udah selesai pulang aja ya Teh, ya Rim, aku ke kamar dulu mau istirahat bentar. Pusing nih kepala," ucapku sambil terkekeh dan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 13.00.

Aku pun melangkahkan kaki menuju kamar yang berada di lantai dua meninggalkan teh Oca dan Rima yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Hari ini Sabtu dan mereka hanya bekerja sampai pukul 14.00, biasanya walau Minggu libur mereka jarang pulang tapi mungkin saat ini sedang merindukan keluarganya.

Aku menatap nyalang langit-langit kamar tidurku, memijat pelan kepalaku yang terasa pusing. Barusan aku baru saja pulang dari rumah orang tua ku dan bertengkar dengan Mama karena aku tidak mau melanjutkan kuliah.

Oh ya kenalkan aku Almeira Nafisya usiaku 21 tahun dan di usia ini aku salah satu owner Meina Hijab. Salah satu brand yang cukup terkenal karena sering dipakai para selebgram muda. Aku merintis usaha ini bersama sahabatku Nadin sejak kami masih kelas 3 SMA. Satu tahun aku kuliah dan memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu untuk fokus pada usaha ini. Dan saat ini kami bisa menikmati hasil yang manis.

Nadin masih kuliah seperti biasa, dia mengambil jurusan Ekonomi Syariah dan sekarang dia sudah semester 6. Dia cukup sibuk hingga jarang datang ke kantor. Ah, kantorku ini merupakan sebuah rumah dua lantai yang mana kantornya berada di lantai satu, sedangkan lantai duanya terdiri dari kamarku, Nadin, dan dua admin kami. Rumah ini cukup luas dan tentu saja belum lunas, hehe.

Kembali ke topik awal yang membuatku pening. Mama memintaku untuk kuliah kembali. Tapi aku sudah terlanjur malas untuk melanjutkan. Lagi pula mama tidak tahu kalau aku sudah punya rencana bahwa tahun depan aku berencana untuk kuliah di luar negeri. Di sebuah negara yang sudah aku sukai sejak lama.

***

"Dasar kebo!" suara cempreng Nadin yang kudengar saat pertama kali membuka mata.

Ku ambil ponselku yang tergeletak di sebelahku, sepertinya tadi aku ketiduran. Aku terduduk ketika melihat jam di ponsel menunjukkan pukul 16.40. dengan segera aku ke kamar mandi untuk mengambil wudhu karena aku belum shalat Ashar.

"Kamu kok gak bangunin aku sih Nad," ucapku sambil melipat mukena setelah selesai melaksanakan Shalat.

Nadin memutar matanya malas sambil tersenyum sinis ke arahku, "Wahai nyonya sudah berapa kali hamba ini membangunkan anda," ucapnya sambil melanjutkan kegiatannya memakan keripik kentang kesukaannya.

"Aku gak sadar kalau aku ketiduran," ucapku sambil tertawa pelan.

"Iya gak sadar sampai aku nyangkanya kamu tuh pingsan!" ucap Nadin sambil mendelik dan hanya kubalas dengan tawa.

"Teh Oca sama Rima udah pulang?" tanyaku.

"Udah. Tadi ketika aku kesini pas mereka pamitan," jawab Nadin. Dia beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa dua botol minuman dan memberikan salah satunya padaku.

"Terima kasih Nadin cantik," ucapku sambil membuka tutup botol minuman.

"Hmmm," gumam Nadin.

"Eh tadi gimana pemotretannya? Sorry banget ya aku gak bisa datang," ucap Nadin dengan tatapan tak enak.

"Lancar kok. jam sepuluh pagi juga udah beres. Gak papa kali Nad, santai aja udah biasa," ucapku sambil terkekeh.

Tadi pagi aku memang ada pemotretan model baru dari koleksi gamis syar'i kami. Yang jadi modelnya? Tentu saja bukan aku.

"Kata Rima kamu kesini abis dzuhur. Kemana aja tadi?" ucap Nadin.

"Ke rumah mama dulu," ucapku singkat.

"Disuruh kuliah lagi?" tanya Nadin sambil tersenyum geli.

"Udahlah Nad males aku bahasnya," jawabku.

"Yaudah kamu kasih tahu mama kamu aja kalau tahun depan kamu mau kuliah ke luar negeri," ucap Nadin santai.

"Enggak ah nanti aja kalau udah pasti keterima," ucapku tidak setuju.

"Eh Al besok ada acara gak? Aku mau ngajak kamu kajian yuk. Kebetulan aku salah satu panitia nya," ucap Nadin. Nadin ini merupakan sekretaris II di sebuah komunitas pengajian di kota kami.

"Maaf Nad, besok aku udah ada acara sama teman-teman kursus aku," ucapku.

Aku memang mengikuti kursus bahasa yang tentu saja sebagai salah satu penunjang untukku mengambil kuliah di luar negeri.

"Baiklah," ucap Nadin.

Aku memeriksa ponselku yang dari tadi berdenting. Rupanya dari Arya salah satu fotografer kami.

Arya : Assalamualaikum teh.

Teh bales apa

Teh

Teh

Teh kotak

Teh sosro

Aku hanya terkikik geli melihat chat darinya. Sudah pasti si bocah gendeng ini mau diskusiin hasil pemotretan kami tadi. Arya baru berusia 20 tahun dan dia pun masih kuliah.

"Siapa Al?" tanya Nadin.

"Si Arya," jawabku.

"Tuh bocah masih sering modusin kamu?" tanya Nadin.

"Modus apaan. Dia kayanya mau diskusiin hasil pemotretan," ucapku.

"Napa gak di grup coba. Tuh anak emang modus ke kamu Al," gerutu Nadin.

Aku hanya terkikik geli dan membalas pesan Arya.

Me : Apa Arya?

Arya : Teh Al udah makan belum? Cuma mau ngingetin.

Dasar bocah gendeng gerutuku tak membalas pesannya dan segera ke kamar mandi untuk mandi karena badanku terasa lengket setelah seharian beraktivitas.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro