Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Cos90

Aroma petrichor tercium jelas di hutan darkmoon, tanah sedikit lembab dengan embun murni berada di tiap mahkota rumput, menciptakan udara dingin kian mencekam seperti pedang tak kasat mata, lebatnya pepohonan mengalahkan cahaya matahari yang tidak cukup kuat untuk menembus, pencahayaan minim membuat tempat itu terlihat seperti dimensi lain.

"Henlo!"

Seorang gadis berkulit pucat dan manik sewarna obsidian berteriak nyaring yang dibalas dengan pantulan suara oleh alam sekitar.

Ia memegang erat senter di tangan kirinya, sementara tangan satu lagi sibuk mengotak atik benda pipih untuk sekedar meminta bantuan. Entah apa yang terjadi, tiba tiba gadis ini membuka mata dan berada di tempat asing.

Ia ingat benar dengan apa yang terjadi sebelumnya. Ya, dirinya pergi berkemah dengan keluarga juga beberapa teman dekat. Namun, saat di tengah jalan, ia ditarik oleh sesuatu, seperti lubang hitam tak kasat mata.

Gadis itu ketakutan, kakinya bergetar hebat menyusuri jalan setapak yang dikelilingi dedaunan kering. Di dalam otaknya terus bertanya-tanya, di mana dia sekarang? Ke mana perginya lubang hitam yang sempat ia lihat sebelumnya?

"Ibu ...," lirih si gadis bersurai cokelat pilu.

Ia terus berjalan, satu-satu harapan yang dia miliki hanya sebuah senter sebagai penerang jalan. Namun, tidak bertahan lama karena ....

Tep!

Senter yang berada dalam genggamannya padam, membuat si mungil terpaku di tempat asing yang 'tak dikenalinya itu.

"Argghh! Apa yang harus aku lakukan!" teriaknya sekuat tenaga.

"Oi!"

Sebuah panggilan berhasil membuat gadis itu terlonjak kaget. Seorang pria, pikirnya. Suara berat yang terdengar menakutkan hingga membuat tubuhnya menggigil sekaligus teduh di waktu bersamaan.

'Aku harap dia orang yang baik,' batinnya memohon.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya lelaki itu seraya melangkah santai ke arahnya.

'Apa dia benar-benar nyata?' Lagi, gadis itu membatin.

"Hey."

Lelaki itu melambaikan tangan di depan wajah si mungil. "Ini aneh," bisiknya pelan.

Gadis yang diberi nama Sky itu masih bergeming, menatap pemuda yang menjulang tinggi dengan balutan jubah berwarna merah darah di hadapannya.

Ia begitu menikmati pemandangan indah yang tak pernah sekalipun ditemui seumur hidupnya, 'bagaimana wajah itu terpahat dengan sangat sempurna?'

Sementara lelaki berjubah tadi terlihat berpikir keras dengan kening berlipat, dengan perlahan tangannya terangkat untuk menyentuh pipi si mungil.

Deg.

Ia membulatkan mata seraya menarik kembali tangannya. 'Manusia?' batin pemuda itu terkejut.

Dengan gerakan pasti, pemuda itu membenarkan tudung jubahnya dan hendak meninggalkan si mungil.

"Tunggu." Sky baru mendapatkan suaranya setelah sekian lama terdiam. Kemudian dengan bergetar ia mengambil ponsel untuk menanyakan arah pulang yang tertulis di sana. Demi tuhan, tempat ini tidak terbaca oleh peta. Namun, keberuntungan tidak memihak gadis mungil itu.

Kling.

Benda pipih di genggamannya kehabisan daya. Sial!

Mendongakkan kepala ia kembali berteriak, "Kubilang tunggu dulu!"

Si lelaki jubah merah berbalik, sedikit menundukkan pandang, demi melihat Sky yang jauh lebih pendek darinya. "Apa yang kau inginkan?" tanya si tampan pada Sky. Suara yang begitu mengintimidasi, membuat gadis mungil itu melangkah mundur beberapa senti.

"Ak–aku, ingin pulang," jawab Sky gugup. Oh, Tuhan! Siapa yang tidak akan merasa seperti itu jika ditatap sangat dalam oleh manusia berparas malaikat?

Sedikit menghela napas, lelaki berjubah mendekati Sky. Mulai ia tekuk kakinya, demi menyamai tinggi si pendatang. Cukup lembut, tangan besarnya meraih surai Sky yang menutupi sebagian wajah, menyalipkan anak rambut si mungil ke balakang telinganya. "Kau cantik, tapi apa kau tidak punya otak untuk memikirkan masalahmu sendiri?" ujar si lelaki ketus.

Sky membulatkan mata hingga rasanya akan loncat keluar, apa-apaan dengan kalimat sambutan sialan itu. "Kau sangat kejam, bahkan pada gadis kecil sepertiku," ucap gadis itu menepis kasar tangan kurang ajar yang masih mengelus lembut surainya.

Si tampan kembali menghela napas panjang, kali ini lebih dalam. Dengan perlahan ia bangkit dari posisinya, "Aku terlalu sibuk untuk mengurus bocah sepertimu," cibirnya seraya melangkahkan kaki.

"Tunggu, aku ikut." Sial, Sky harus membuang jauh harga dirinya untuk mengucapkan sepenggal kalimat barusan, but, seriously?

Tanpa menunggu jawaban, Sky langsung berjalan –sedikit berlari untuk menyamai langkahnya dengan lelaki tinggi berkulit pucat.

Selama di perjalanan, hanya hening yang menyelimuti kedua makhluk berbeda bangsa itu. Jangan berharap banyak, Sky begitu takut untuk bertanya, baginya yang terpenting adalah dia dapat mengetahui di mana dirinya saat ini.

Bruk!

"Aduh!" ringisan pelan keluar dari bibir merah jambu Sky ketika kepalanya terbentur tubuh orang yang dia ikuti. "Kenapa berhenti?" Akhirnya. Gadis itu bertanya setelah mengumpulkan semua keberanian.

Si lelaki berbalik, ditatapnya wajah mungil Sky hingga napas keduanya saling beradu. Cukup dengan sekali gerakan pemuda itu mengangkat tubuh si kecil, hingga si empu memekik takut dan mengalungkan tangannya ke leher si lelaki berjubah.

Di detik selanjutnya, pemuda itu berlari kencang seperti sapuan angin, membawa tubuh kecil Sky ke arah yang berlainan.

"Hei! Apa yang terjadi?" tanya Sky bingung.

"Diamlah jika ingin selamat, bodoh."

Bungkam. Satu kalimat tajam dari si penggendong berhasil membuat Sky diam seribu bahasa, lelaki ini mempunyai lidah seperti belati.

Tunggu dulu, Sky merasa ada yang aneh dengan pemuda ini, bagaimana bisa manusia berlari lebih cepat dari cheetah.

Kecuali ....

Dia bukan manusia.






To Be Continue.





Henlo, aku kembali membawa cerita baru.
Karya ini hasil kolaborasi dengan salah satu teman baikku Wan_Lia :*
(Ya Tuhan, untuk beberapa alasan aku ingin muntah)

But yeah, versi lain dari Aera dan Jeno (Maybee, kehidupan lampau atau yang akan datang?) 🌚👍🏻 hwhw.
 
I hope you enjoy it, Brow.

Jangan lupa mendukung kami dengan memberikan bintang dan beberapa komentar yang membangun.

Ily❤

See yaa~

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro