
Bagian 21
"Memaafkan mereka yang telah menyakiti adalah hal terbaik yang bisa kulakukan. Tanpa ada menyimpan amarah dan dendam yang tersimpan dalam relung hati membuat hidupku terasa lebih indah. Hidup yang semula suram dan terasa berat, terasa lebih berwarna dan ringan untuk dijalani."
Tepat pukul enam pagi, makanan telah selesai dimasak. Berbagai menu itu mampu menggugah selera Aksara. Mulai dari ayam goreng, tumis kangkung, tempe mendoan, serta sambal tomat, telah memenuhi meja makan.
"Bang, lain kali ajarin Aksa masak, ya! Gue pengen masak makanan kesukaan Ayah, tumis bunga pepaya." Aksara menangkupkan kedua tangan sembari mengerlingkan sebelah matanya pada Keandra.
Keandra mengangguk, membuat remaja berlesung pipi itu bersorak senang. Pemuda beralis tipis itu pun menggeleng pelan sembari tersenyum. Akhirnya lo bisa membangkitkan kembali semangat yang selama ini telah padam, Sa.
Pagi ini hanya ada mereka berdua di meja makan karena Kakek Ferdi sedang istirahat di kamar. Lelaki berusia 65 tahun itu tengah kurang sehat sehingga tak ikut sarapan di meja makan. Sebagai gantinya, Keandra telah membelikan bubur sumsum untuk sang kakek dan meletakkannya di atas nakas.
"Bang, Aksa berangkat duluan yak. Abang mau sekalian bareng enggak?" Aksara beranjak dari duduknya.
"Abang ambil cuti hari ini karena ada kerja bakti di masjid."
Aksara mengangguk, sebelum berangkat ia berpamitan pada Kakek Ferdi terlebih dahulu. Setelah itu, baru menghidupkan mesin kuda besinya dan melaju menuju SMA Pelita.
Suasana sekolah sudah tampak ramai ketika Aksara telah sampai. Hari itu ia menjadi pusat perhatian dari seluruh warga sekolah karena tampil rapi layaknya siswa teladan. Baju dimasukkan ke dalam celana, rambut disisir rapi dan datang lebih awal dari biasanya.
"Eh, gue enggak salah lihat, 'kan? Dia yang suka bikin onar, kok sekarang tampil beda banget."
"Aksara cakep kalau rapi kaya gitu, sebelas-dua belas sama aktor favorit gue."
Aksara mengabaikan orang-orang itu, tatapan mereka benar-benar membuatnya ingin segera menghilang saat itu juga. Wajah-wajah mereka tampak syok saat melihat remaja berlesung pipi itu berjalan santai di koridor sekolah, bak melihat makhluk asing dari planet lain.
Reaksi teman sekelasnya tak berbeda jauh dengan orang-orang tadi ketika melihat Aksara muncul di kelas. Pasalnya, seminggu terakhir ia sama sekali tak menampakkan diri.
"Gila, lo beneran Aksara? Tampar gue dong, ini serasa mimpi melihat Aksa yang urakan berubah jadi teladan dalam waktu sesingkat-singkatnya." Doni memukul-mukul lengan Rey yang juga masih terpaku.
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kanan Doni, membuat
sang empu mengusap-usap kulitnya yang terasa panas. Pelakunya, tak lain adalah Aksara. Remaja beralis tebal itu terbahak, diikuti oleh teman-teman yang lain.
"Sa, abis liburan di Semarang kok lo berubah banget. Lo pergi ke mana saja? Gue takut kalau lo kesurupan setan murid teladan." Ardian memperhatikan Aksara tanpa berkedip.
"Liburan? Ke Semarang? Kapan?" Aksara mengernyitkan dahi bingung.
Selama seminggu terakhir, kan, ia kabur dari rumah. Bagaimana bisa seisi kelas menganggapnya tengah liburan.
"Lo enggak amnesia, 'kan? Gue makin curiga kalau lo benar-benar kesurupan, Sa."
"Om Prima yang bilang kalau lo lagi dalam masa hukuman dengan dikirim ke Semarang. Enggak boleh pulang sebelum menyadari kesalahan." Davi yang sedari tadi hanya menyimak perbincangan sang sahabat, akhirnya turut bicara.
Aksara justru cengo mendengar pernyataan Davi, tak menyangka sanga ayah akan berbohong demi menjaga dan melindunginya. Selama ini ia benar-benar telah salah paham. Maaf, Yah. Aksara sudah salah paham. Mulai sekarang, aku berjanji enggak akan mengulangi kesalahan yang sama dan akan berusaha memperbaiki semuanya.
"Otak gue emang sedikit bermasalah dan belakangan ini emang suka pikun." Aksara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Aksara meletakkan tasnya di bangku dan duduk di kursi kosong samping Davi. Ia menumpukan kepala di atas meja dengan kedua mata yang terpejam.
"Dav, teman lo kenapa? Kesurupan setan baik?" lirih Doni.
Davi meletakkan telunjuknya di bibir, dan memberi kode pada teman-temannya untuk membiarkan Aksara tenang tanpa gangguan. Bersamaan dengan itu, bel masuk telah berbunyi sehingga semua murid kembali ke tempat duduk masing-masing.
Mata pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia, untuk pertama kali Aksara menyimak dengan baik tanpa menguap apalagi tidur seperti biasanya. Davi yang menyaksikan perubahan itu pun tersenyum senang.
Tanpa terasa, bel istirahat telah berbunyi. Seluruh murid SMA Pelita berhamburan keluar, kebanyakan dari mereka memilih pergi ke kantin untuk mengisi kembali tenaga yang telah menipis. Begitu juga dengan Davi dan Aksara, keduanya kompak memilih bakso sebagai menu makan siang.
Aksara tampak semangat menyeruput kuah bakso yang tampak merah karena banyaknya sambal yang dimasukkan, tetapi ekspresi wajahnya tampak tenang seperti biasa. Sang sahabat justru fokus menyaksikan Aksara yang tengah makan hingga mengabaikan semangkuk bakso di hadapannya.
Davi menelan saliva, ketika Aksara masih menambahkan sebungkus Bon Cabe level tiga puluh ke dalam mangkuknya. Padahal kuah itu benar-benar telah terlihat merah akibat empat sendok sambal yang telah dimasukkan sebelumnya.
"Sa, lo enggak berniat bunuh diri, 'kan?"
Aksara tertawa mendengar pertanyaan dari Davi hingga membuatnya tersedak. Ia terbatuk-batuk hingga air matanya mengalir deras, sang sahabat yang panik pun segera menyodorkan segelas es teh miliknya. Namun, ia kalah cepat karena Reynald terlebih dulu menyodorkan air mineral ke arah sang sahabat.
Aksara mengambil sebotol air mineral yang disodorkan oleh Rey dan tersenyum ke arah remaja berhidung mancung itu. Sementara, Davi masih melongo di tempatnya.
"Makasih, Rey."
"Gue boleh duduk di sini?" Bukannya menjawab Rey justru balik bertanya.
Aksara dan Davi saling pandang, kemudian mengangguk bersamaan. Lagi pula meja itu adalah fasilitas umum sehingga mereka tak ada hak untuk melarang siapa pun yang ingin duduk di sana.
"Gue minta maaf karena selama ini selalu bersikap kasar sama lo. Gue enggak pernah membenci lo, Sa. Semua kata-kata yang keluar dari bibir gue hanya karena gue merasa iri melihat kedekatan kalian berdua."
Aksara dan Davi melongo di tempatnya, keduanya menggeleng bersamaan. Namun, masih tak bisa berkomentar apa pun.
"Awalnya gue emang marah karena lo selalu bilang bahwa gue adalah penyebab kematian Mas Cakra hingga semua orang menjauhi karena menganggap gue sebagai seorang pembunuh."
"Gue sengaja mengusik hidup lo karena pengen kita bisa saling bercengkerama lagi seperti dulu. Caranya emang salah, tapi hanya itu yang terpikirkan di otak gue. Sekali pun enggak pernah berniat melukai lo dengan kata-kata yang enggak pantas untuk diucapkan itu," lanjut Reynald.
Aksara menghela napas, tak menyangka bahwa semua masalah itu berawal darinya. Selama ini ia menyalahkan Rey atas apa yang telah terjadi, tetapi tak pernah berpikir bahwa semua masalah itu berawal dari dirinya sendiri. Sementara, Davi memilih menyimak karena tak tahu menahu soal kesalahpahaman yang terjadi di antara Aksara dan Reynald.
"Gue juga minta maaf karena udah bersikap keterlaluan selama ini. Lo pasti harus melewati hari-hari yang berat karena sikap gue, sekali lagi maaf atas semuanya." Aksara menatap manik cokelat Rey.
"Sa, lo enggak salah apa-apa. Gue yang salah karena memaksa Mas Cakra untuk mengikuti kemauan gue saat itu, padahal dia sudah mengingatkan. Kalau gue jadi lo, pasti akan melakukan hal yang sama bahkan mungkin lebih."
"Bisakah kita mulai semuanya lagi dari awal? Kenalin, gue Reynald," lanjut Reynald sembari menyodorkan tangannya.
Aksara mengangguk dan menjabat tangan itu. Perasaannya benar-benar lega sekarang, satu per satu kesalahpahaman itu telah menemui titik temu.
"Gue Aksara, tapi Davi selalu manggil gue dengan sebutan setan." Aksara melirik Davi yang cengo.
Reynald dan Aksara tertawa bersamaan sehingga menjadi pusat perhatian dari seluruh penghuni kantin. Merasa heran karena dua orang yang selama ini terkenal sebagai musuh bebuyutan tampak akrab dengan duduk berhadapan bahkan tertawa bersama.
Mereka cukup dibuat penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Selama seminggu terakhir Aksara tak tampak oleh netra mereka dan saat kembali tampil berbeda. Sikapnya pun berubah 180°, ditambah dengan ia yang tampak akur bersama Reynald yang selama ini terkenal sebagai rivalnya.
"Gue turut senang karena kalian berhasil menakhlukkan ego masing-masing dan saling memaafkan." Davi membuka suara ketika telah berhasil menguasai rasa terkejutnya.
"Bentar, tadi bukannya lo bilang kalau iri sama kedeketan gue sama setan yang satu ini. Gue masih normal dan enggak mungkin punya hubungan istimewa sama dia. Jadi, lo enggak perlu khawatir." Davi menatap Reynald serius.
"Gue masih normal, Bego!"
Dengan gerakan cepat Aksara menggeplak kepala Davi pelan, tak terima dengan pernyataan sang sahabat. Bukannya marah, remaja berkacamata itu justru terkikik geli. Membayangkan dirinya dan Aksara terlibat dalam hubungan yang seperti itu.
Reynald turut tertawa hingga kedua matanya menyipit dan berair akibat terlalu banyak tertawa. Dia merasa iri dengan kedekatan Davi dan sahabat kecilnya itu. Saat dulu bersamanya, Aksara bahkan tak pernah bersikap sereceh itu dan tertawa lepas seperti saat ini.
"Rey, maaf karena mulai sekarang lo harus bisa beradaptasi punya teman yang gila macam kita berdua. Semoga lo kagak ikutan gila." Davi terkekeh.
Reynald menggeleng pelan, tetapi kemudian tersenyum manis. Setelah sekian lama, dia kembali menemukan orang yang benar-benar bisa disebut sebagai 'sahabat'. Dia bersyukur untuk itu dan berjanji untuk tak lagi
melepaskan sahabatnya.
One Day One Chapter
Day 21
Kulon Progo, 18 Oktober 2020
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro