Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bagian 10

Tak ada kehidupan dan kebahagiaan yang benar-benar sempurna
Selalu saja ada hal yang kurang dalam hidup ini
Entah karena manusia yang terlalu serakah dan tak pandai bersyukur, atau semua memang telah digariskan oleh Sang Pemilik Kehidupan sebagai ujian.

Musim liburan telah berakhir, hari ini semua murid SMA Pelita kembali menjalankan aktivitas sebagai seorang pelajar. Suasana kelas X IPS 1 tampak riuh sejak pagi, kebanyakan dari mereka sedang bercerita tentang keseruan selama liburan kemarin. Keseruan mereka terus berlanjut hingga jam istirahat berlangsung.

"Ta, liburan kemarin ke mana?" Rania memecah keheningan.

"Ke Bali dong bareng keluarga, mumpung gue sama adik gue libur sekolah. Nyokap sama bokap gue pengertian banget dah, mereka ikut ambil cuti biar bisa ikut liburan bareng." Desta bercerita dengan antusias.

"Seru banget, tuh! Gue enggak liburan jauh sih, cuma di rumah aja bareng Mama. Dia juga ambil cuti beberapa hari buat temenin gue. Kita masak-masak, berkebun dan shoping-shoping bareng." Rania menimpali.

"Itu kesempatan langka buat gue bermanja ria sama mereka, selama ini, kan, mereka sibuk ngurusin bisnis dan jarang pulang. Palingan pulang seminggu sekali doang." Desta tersenyum sumringah.

"Gue kemarin ambil kesempatan juga dengan pura-pura sakit biar dijenguk sama Papa. Lagian semenjak orang tua gue pisah, mereka enggak pernah ada waktu lagi, terutama Papa yang sibuk tour bisnis ke luar kota," timpal Rania.

Desta, Rania, Aksara dan Davi tengah duduk saling berhadapan di kantin. Namun, hanya Desta dan Rania yang sejak tadi mengoceh tentang liburan mereka karena Aksara serta Davi hanya menyimak tanpa berkomentar apa pun.

Aksara sebenarnya terganggu dengan ocehan keduanya, tetapi tak ada pilihan lain selain mendengarkan karena hanya meja itu satu-satunya yang tersisa untuknya dan Davi. Apalagi pembahasan keduanya hanya seputar keseruan liburan kemarin bersama keluarga masing-masing, makin membuat suasana hati memanas. Ia terpaksa nimbrung di meja Desta karena semua meja telah terisi penuh.

"Kalau lo berdua ke mana aja liburan kemarin?" Desta melirik Davi dan Aksara bergantian.

"Gue cuma ke rumah Nenek karena beliau sedang sakit." Davi menjawab singkat, ekor matanya melirik Aksara yang langsung berwajah muram ketika mendapat pertanyaan itu.

"Kalau lo ke mana, Sa?" tanya Desta antusias.

Aksara tak menjawab, hanya helaan napasnya yang terdengar berat. Davi yang mengerti bahwa suasana hati sang sahabat tengah tidak baik, menyenggol lengan Desta sembari memberi kode agar tak bertanya lagi.

Selama liburan kemarin, Aksara hanya menghabiskan waktunya di rumah dengan bermain game, sesekali pergi menemui Keandra untuk sekadar mencari teman berbincang. Pasalnya, Prima tampak lebih sibuk dari sebelumnya selama dua minggu terakhir. Berangkat ke kantor pagi buta dan pulang hingga menjelang tengah malam.

Selama seminggu terakhir, Aksara bahkan sama sekali tak bertemu dengan Prima. Kesepian? Tentu saja ia sangat kesepian. Namun, lebih memilih memendam seorang diri. Remaja berlesung pipi itu tak lagi mau menuntut perhatian dari sang ayah. Ia memilih menyerah dan membiarkan lelaki itu melakukan apa pun yang menurutnya benar.

Toh, belakangan ini Aksara sudah terlampau terbiasa diabaikan. Tak dipungkiri bahwa ia iri dengan kehidupan teman-teman sebayanya, terutama ketika mendengar cerita tentang liburan kemarin. Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali menikmati liburan bersama keluarga. Mungkin, terakhir kali sekitar lima tahun silam sebelum sang kakak meninggal dunia.

"Liburan ataupun enggak sama saja sih, Ayah tetap sibuk sama kerjaannya di kantor. Jangankan ambil cuti, ingat punya anak di rumah aja udah syukur alhamdulillah," lirih Aksara.

"Sorry, Sa. Gue enggak tahu ka-"

"Santai, gue udah terbiasa kok," potong Aksara cepat.

Bel masuk menyelamatkan mereka dari kecanggungan yang sempat tercipta karena pertanyaan Desta. Keempatnya segera kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

Tanpa terasa kegiatan belajar mereka hari itu telah selesai dilaksanakan. Wajah-wajah yang tadi mengantuk karena mendengar penjelasan Bu Rani tentang sejarah, seketika kembali segar ketika bel pulang berbunyi nyaring.

"Sa, lo mau langsung pulang?" Davi melirik Aksara sembari tangannya mengemasi buku yang berserakan di meja.

Aksara hanya mengangguk sebagai jawaban, masih malas berbicara karena suasana hatinya belum membaik. Wajahnya pun masih tampak kuyu dengan pandangan yang sayu. Tak perlu bertanya pun, Davi tahu bahwa ini semua masih ada hubungannya dengan kejadian di kantin tadi.

"Kalau butuh teman cerita, gue siap mendengar kapan pun lo butuh. Gue rasa ada banyak hal yang lo sembunyiin dari gue." Davi menatap Aksara dengan tatapan menyelidik.

"Kagak ada, Dav. Gue cuma ngerasa iri aja sama kedekatan kalian sama keluarga masing-masing. Gue kecelakaan aja, Ayah kagak ada perhatian sama sekali. Dia cuma marah-marah dan pergi gitu aja tanpa tanya apa pun tentang kondisi gue." Aksara menunduk.

Davi hanya menyimak tanpa berkomentar karena tahu bahwa untuk saat ini Aksara hanya butuh didengarkan.

"Gue kadang bertanya-tanya, sebenarnya Ayah itu sayang atau enggak. Gue selalu aja dianggap salah di matanya, kagak ada satu pun yang dianggap bener. Selalu ada celah buat dia nyebutin kekurangan gue sebagai anak. Kesannya gue itu enggak pernah dia inginkan."

Davi menepuk pelan bahu sang sahabat, kemudian menarik napas panjang. Melihat Aksara yang tampak rapuh seperti sekarang, membuatnya merasa prihatin sekaligus bersalah. Pasalnya, tak bisa berbuat banyak untuk membantu. Dia lebih suka Aksara yang cerewet daripada pendiam seperti sekarang.

Semua kata motivasi yang dia punya hanya tertahan di tenggorokan tanpa mampu diucapkan. Davi sangat tahu bagaimana rasanya diabaikan, tetapi dia tak mungkin mengatakan hal itu. Aksara butuh dukungan, bukan malah tambahan beban karena masalahnya.

"Gue cuma bisa bilang bahwa semua akan indah pada waktunya, Sa. Entah kapan waktunya. Selagi lo percaya, saat itu pasti akan datang juga. Terdengar klise memang, tetapi hanya kata motivasi itu yang terlintas di otak gue." Davi terkekeh pelan.

Aksara tersenyum, ia menggeplak lengan Davi cukup kuat hingga empunya meringis pelan.

"Dav, habis liburan lo kok jadi oon sih? Biasanya juga punya banyak stok kata bijak buat nasihatin gue."

"Enak aja, gue udah kehabisan stok gara-gara harus nasihatin lo tiap hari. Mana kagak ada satu pun yang nyantol di otak lo. Semua bagai angin lalu bagimu, tak berarti. Sakit hati gue, Sa!" Davi memukul pelan dadanya sembari memasang wajah memelas.

"Yaa siiin, wal-qur'anil ha-" Aksara mengarahkan tangan kanannya pada Davi seolah tengah melakukan ruqiyah.

"Lo kira gue kesurupan?" Davi mendengkus kesal.

"Kali aja setan penunggu pohon di rumah kakek lo ngikut sampai sini." Aksara tertawa.

"Enak aja, lagian kalaupun mereka beneran ikut bakalan kabur pas ketemu sama lo. Lo, kan, rajanya." Kali ini Davi yang menyemburkan tawanya.

Keduanya pun tertawa bersama hingga mengundang tatapan aneh dari teman sekelasnya yang masih berada di kelas. Tak ingin dianggap gila, keduanya pun berlalu keluar.

"Sa, gue pulang duluan. Sampai ketemu besok, bye!"

Aksara mengangguk dan segera berlalu menghampiri Pak Doni yang sudah menunggu di pintu gerbang sekolah. Selama perjalanan pulang, ia lebih memilih memejamkan mata sembari menikmati alunan musik dari ponselnya.

Sesampainya di rumah, ia bergegas ke kamar untuk membersihkan diri. Setelahnya baru kembali turun menuju meja makan yang hanya akan diisi oleh dirinya sendiri. Padahal meja makan itu cukup panjang yang bisa menampung delapan orang. Namun, tujuh kursi lainnya selalu kosong tak berpenghuni.

"Lagi-lagi gue cuma makan sendirian," lirihnya.

Kalian pernah enggak merasakan ada di posisi Aksara?
Kalau pernah, silakan cuap-cuap di komentar

One Day One Chapter
Day 9
Kulon Progo, 7 Oktober 2020

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro