Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

BAB 5 | Please, Jay!

Halo ... terima kasih yang sudah membaca sampai sini ....

Semoga kalian suka ya dengan ceritanya ... jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan komen ya ... Terima kasih banyak-banyak. 

Selamat membaca ....



"Kakimu sudah nggak apa-apa, Cy?" Air wajah pria paruh baya di samping Cyrilla terlihat khawatir.

"Aku nggak apa kok, Pah." Senyum Cyrilla terbit menanggapi ucapan papanya.

"Kamu mau Papa bantu sampai ke dalam, Cy?"

Cyrilla menggeleng pelan dengan senyum yang tidak luntur di wajahnya. Telapak tangan sang Papa mengusap-usap kepala putrinya dan membuat rambut yang sudah susah payah dikepang oleh Sesy menjadi sepuluh bagian dengan pita warna-warni itu nampak berantakan bagian atasnya. Cyrilla mengecup punggung tangan papanya lalu dia berpamitan.

"Ya sudah kalau gitu, Papa pergi dulu ya." Sebelum beliau melajukan kuda hitam berlapis baja dengan dua rodanya.

Sambil berjalan dengan sangat hati-hati, Cyrilla menyeberang menuju gerbang sekolah. Kali ini dia tidak kesiangan karena bantuan Heavy yang meneleponnya saat pertama kali ayam berkokok sementara awan gelap masih menyelimuti di luar sana.

Gadis itu terkejut bukan main saat mendengar suara nyaring yang bersumber dari ponselnya, belum lagi kedua matanya membulat sempurna saat melihat nama Kak Heavy yang tertera di sana. Rasa kagetnya belum selesai sampai di situ, Heavy meminta Cyrilla untuk segera bersiap supaya dia tidak lagi kesiangan, dan Heavy juga bilang kalau sekitar lima belas menit lagi dirinya akan meluncur ke rumah gadis itu. Buru-buru Cyrilla menolak dan menegaskan kalau dirinya akan diantar oleh papanya. Sementara Mama dan kakaknya terlihat kecewa, tetapi Cyrilla sungguh tidak peduli, dia tidak ingin menyusahkan Heavy lagi dan lagi.

Kedua mata biji kopi gadis itu bergerak gelisah, saat mendapati sosok Heavy sudah berada di tengah lapangan bersama dengan Lifa. Mereka sedang mengecek daftar kehadiran siswa baru, sementara anggota OSIS yang berbeda di sebelah anggota MPK yang diketuai oleh Heavy, mereka mendata kehadiran siswa lain di luar siswa baru. OSIS dan MPK SMA Impian Nusantara terlihat kompak dan saling melengkapi satu sama lain. Mereka bergerak bersama guru piket dan guru BK yang akan memberikan bimbingan kepada para siswa yang terlambat.

"Cyrilla?" Suara penuh keraguan terdengar dari arah belakang.

Mata Cyrilla berbinar saat melihat Palupi berjalan dengan langkah riang menghampiri dirinya. Keduanya saling melempar senyum dan melambaikan tangan.

"Kaki kamu sudah nggak apa-apa, Cy?" lontar Palupi setelah melirik sekilas ke arah kaki Cyrilla yang masih dibalut, gadis itu bahkan menggunakan sandal.

Cyrilla sang gadis kesiangan yang kakinya terkilir adalah topik hangat kemarin, terutama di kelas X-2. Lifa memberikan info kepada kelas X-2 bahwa Cyrilla dan Jayden terlambat, dan karena kaki Cyrilla terkilir, Jayden harus menemani gadis itu di UKS, sehingga mereka tidak dapat mengikuti kegiatan sosialisasi ospek kemarin.

Setiap siswa baru diwajibkan saling menyimpan nomor teman satu kelas mereka setelah berkenalan satu sama lain. Saat sampai di rumah Cyrilla menerima pesan dari Palupi, Kak Heavy, Kak Lifa, dan Jayden. Semuanya menanyakan tentang kakinya yang terkilir. Hanya pesan dari Jayden saja yang tidak sempat ia balas karena baru diberi tahu saat sarapan oleh Sesy. Memikirkan raut wajah dingin sedingin kutub milik Jayden membuat Cyrilla mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba merinding.

"Kamu nggak apa-apa Cyrilla?" Palupi melempar tanya sekali lagi saat melihat wajah gadis cantik di sebelahnya mendadak pucat.

"Sebenarnya sudah mendingan, Pi. Hanya saja takut bengkak lagi, jadi Mama bilang untuk berjaga-jaga kakiku lebih baik diperban saja."

Palupi mengangguk mengerti. "Kamu tumben nggak kesiangan lagi, Cy?" tanya gadis bertubuh mungil dengan warna kulit putih bagai bakpau itu, dia terkekeh geli mengingat kejadian kemarin awal pertemuannya dengan Cyrilla.

"Nggak dong, Pi!" Cyrilla berkata dengan bangganya. "Aku nggak kesiangan karena pagi-pagi buta aku sudah ditelepon oleh Kak--" Cyrilla tidak melanjutkan ucapannya, saat dia sadar tidak seharusnya mengutarakan hal yang tidak ditanyakan kepada Palupi.

"Kamu ditelepon siapa, Cy ...?" Kedua mata Palupi membulat dengan rasa penasaran penuh gadis itu berharap akan ada topik obrolan lain dengan Cyrilla.

"Cyrilla Meraa Wijaya dan Palupi Putri, kalian langsung menuju barisan ya." Untungnya suara Lifa segera menyelamatkan Cyrilla dari pertanyaan Palupi.

Kedua gadis itu mengangguk. Lifa yang berada di sebelah Heavy menggiring mereka untuk dicek kelengkapan barang bawaan mereka. Lifa memberi tahukan kepada anggotanya kalau ayah Cyrilla meminta izin supaya gadis itu tidak banyak bergerak dulu dan juga izin mengenakan sandal mengingat kondisi kakinya. Para panitia ospek memberikan pemakluman dan membiarkan gadis itu masuk ke dalam kumpulan kelompok siswa baru.

"Cyrilla, kalau untuk kegiatan diskusi terkait aksi pemeliharaan lingkungan hidup di sekolah, kamu masih bisa kan?" Lifa memastikan bahwa gadis itu tetap mengikuti kegiatan ospek yang tidak membutuhkan banyak pergerakan ke sana ke mari dan membuat kaki gadis itu kembali nyeri.

"Bisa kok, Kak Lifa." Angguk Cyrilla mantap.

"Ya sudah kalau gitu." Silakan kamu temui teman kelompokmu. Ini daftarnya." Lifa memberikan lembaran nama-nama kelompok untuk diskusi.

"Terima kasih, Kak."

Cyrilla membaca nama-nama teman kelompok yang tertera di sana. Senyum Cyrilla mengembang saat nama Palupi Putri berada di sana.

"Cyrilla ...!" seru suara sedikit cempreng dari sebelahnya. "Kita satu kelompok, Cy!" decak Palupi sambil melonjak senang. Entah kenapa melihat tubuh mungil Palupi dan lompatan kecilnya, mengingatkan Cyrilla kepada anak kecil yang begitu senang saat mendapatkan sebuah cokelat.

"Kamu senang itu satu kelompok denganku, Pi?"

Palupi mengangguk tanpa menghilangkan senyum di wajahnya. "Aku tuh kemarin kaget saat melihat kamu dihukum, Cy. Aku jadi sendirian kemarin ...," lirih Palupi mengingat saat pertama kali menjadi siswa SMA. Banyak orang yang mengejek karena tinggi tubuhnya yang semampai alias semeter tak sampai. Jelas saja ejekan 'semampai' yang diberikan orang lain untuknya itu membuat rasa percaya dirinya turun, walaupun mungkin sebagian dari mereka bermaksud untuk bercanda. Ditambah lagi, Palupi bukan tipe orang yang mudah berbaur dengan orang yang baru ia kenal. Untungnya, Cyrilla mengajaknya ngobrol duluan, plus sikap ceplas ceplos Cyrilla yang tidak memandang rendah dirinya, membuat Palupi senang.

Cyrilla sebenarnya bingung kenapa Palupi berkata dia sendirian sementara jelas-jelas setiap kegiatan ospek selalu dibuat untuk berkelompok, dengan tujuan penjajakan, saling membaur, dan untuk membangun kerjasama di antara para siswa baru. Cyrilla gemas melihat perubahan ekspresi pada wajah Palupi yang pipinya menyembul mengapit bibirnya yang manyun.

Palupi mengaduh, sementara pelaku yang membuat pipinya memerah itu malah memamerkan giginya yang rapi. "Aku senang sekali satu kelompok denganmu, Pi!"

"Aku juga, Cy!" Taanpa sadar Palupi menghamburkan tubuhnya kepada Cyrilla.

Mereka duduk bersama kelompok diskusinya. Masing-masing kelompok terdiri dari lima orang siswa baru secara random baik laki-laki dan perempuan. Mereka lalu membicarakan tentang apa saja yang bisa dilakukan untuk memelihara lingkungan hidup di sekolah. Saat sedang asik berdiskusi tiba-tiba Cyrilla berbisik kepada Palupi kalau dia kedatangan tamu tak diundang. Gadis itu meminta izin kepada teman satu kelompok dan juga panitia ospek untuk ke kamar mandi.

"Pantas saja, dari tadi perutku terasa melilit dan nggak nyaman," desisnya seraya melenggang ke arah kamar mandi yang berada tidak jauh dari ruang kelasnya.

"Jayden!" Suara gadis itu begitu lantang saat mendapati sosok laki-laki dengan wajah super serius, fokus pada sebuah kantong plastik hitam yang sedang dia isi dengan tanah, di depan laki-laki itu sudah berdiri tegak dan cantik dua pot bunga mawar merah dan pink.

Kesal karena Jayden tidak menggubris panggilannya, Cyrilla mendaratkan tepukan di punggung laki-laki itu cukup keras dan berhasil membuat perhatian laki-laki beralis tebal dengan wajah tampan itu teralihkan kepada Cyrilla. Air wajah Jayden nampak tidak suka, sebelah alisnya terangkat. "Apa lagi sekarang?" tanya Jayden dengan nada ketus.

Keringat meluncur dari pelipis ke pipinya. Spontan Jayden mengusap wajahnya, yang justru berakhir dengan wajah penuh tanah lengkap dengan bau pupuk kandang. Jayden menyernyit, dan mengumpat kesal.

"Tunggu sebentar," pinta Jayden dan segera beranjak menuju wastafel yang berada tidak jauh, tempat di mana dia memberikan tanamannya minum.

Cyrilla terkekeh melihat sosok Jayden yang kemarin terlihat menyebalkan, hari ini terlihat menggemaskan karena tanah berkompos di wajah tampan laki-laki itu. Tawa Cyrilla reda saat Jayden menatapnya galak.

Laki-laki itu melayangkan pandangannya ke arah kaki Cyrilla. "Masih sakit?"

Cyrilla menggeleng cepat. Jawaban gadis itu nampak bertolak belakang dengan wajahnya yang terlihat pucat. "Jangan bohong," kata Jayden tidak percaya. Jelas sekali rasa sakit itu terbesit di wajahmu, Cyrilla! Decaknya dalam diam. Alih-alih masih kesal karena gadis itu tidak membalas pesannya, dia justru khawatir saat melihat wajah pucat gadis itu.

Sekali lagi Cyrilla menggeleng. "Aku nggak bohong," sahut gadis itu berupaya mengukir senyum. Tapi tiba-tiba meringis saat rasa nyeri menyerang perutnya.

"Kamu yakin baik-baik saja? Mau aku bawakan sesuatu, atau kamu mau aku antar ke UKS? Wajahmu pucat, Cyrilla ...!"

Cyrilla menggeleng, dia menahan sakit sambil meremas tangan Jayden. "Jay, bisa tolong aku ...?" Dia memberanikan diri untuk meminta bantuan kepada Jayden, karena teringat tidak membawa pembalut. Selain itu, dia melupakan dompet dan ponselnya di kelas.

Cyrilla meminta Jayden untuk sedikit menunduk ajar dia lebih sejajar dengan laki-laki itu. Dia lalu berbisik kelada Jayden, walaupun malu, tetapi saat itu Jayden lah satu-satunya yang bisa dimintai tolong oleh Cyrilla.

"Kamu gila? Nggak mau! Ogah!" pekik laki-laki itu dengan wajah bergidik ngeri saat mendengar permintaan tolong Cyrilla yang tidak masuk akal.

"Please, Jay ...," lirih Cyrilla masih berusaha menekan perutnya yang nyeri.

Jayden mengacak-acak rambutnya frustasi. "Sialan!"

***

Pintu kamar mandi perempuan diketuk tiga kali.

"Cyrilla Meera ...?" panggil Jayden was-was, dia takut kalau orang yang berada di balik pintu itu adalah orang lain.

"I--iya, Jay, ini aku."

"Bi--bisa keluar sebentar, Cy?"

Selang sedetik, Cyrilla muncul dari balik pintu kamar mandi yang terbuka sedikit. Saat mata hazel Jayden melihat Cyrilla, segera ia menyerahkan plastik hitam berisi pembalut kepada gadis itu. "Cyrilla Meera, sosok gadis gila yang berani-beraninya menyuruhku membelikan pembalut. Dasar menyebalkan! Cepat ambil ini!" oceh Jayden dengan wajah semerah tomat.

Orang yang dikatai hanya dapat menerima ucapan itu bulat-bulat sambil tersenyum garing ke arah pemilik wajah tampan berhidung mancung dengan tahi lalat menghias ujung bibirnya. Seksi. Satu kata itu lolos dalam benak Cyrilla saat tanpa sadar memerhatikan wajah Jayden. "Terima kasih, Jay ...," ucap Cyrilla sebelum menutup kembali pintu kamar mandi.

"Terserah!" pekik laki-laki itu lalu segera menghilang dari sana. Dia takut digebuki massa yang salah paham karena melihat dirinya di depan kamar mandi perempuan.

"Jayden, aku benar-benar berterima ka--" kalimat Cyrilla tidak tuntas saat dia tidak mendapati keberadaan Jayden di sana.

Cyrilla mengangkat bahunya sambil lalu, dia memutuskan untuk kembali ke kelas. 

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro