Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Part 5 : Take Off

Jungkook menatap nyalang pada Yura yang juga menatapnya dengan wajah angkuh. Tangan Jungkook terkepal kuat, amarahnya memuncak. Yura sudah salah karena menyebut hal yang paling tidak disukai Jungkook tadi. 

Menyamakan Jeon Jungkook dengan Jeon Wonwoo.

Sejak kecil, baik Jungkook ataupun Wonwoo, keduanya sama-sama tidak suka jika mereka disama-samakan atau dibanding-bandingkan. 

Yura memalingkan wajah. Sepersekian detik berikutnya wanita bermarga Kim itu kembali menatap nyalang pada Jungkook. "Asal kamu tahu saja, sejak dulu aku tidak suka kalau adikku berteman denganmu. Sekali lagi aku memergoki kalian di club malam atau tempat-tempat biadab lainnya, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghajarmu habis-habisan!" Usai mengancam Jungkook, Yura bergegas memasuki sedan hitamnya dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi.

Sepeninggal Yura, Jungkook hanya bisa menghela napas berat menanggapi ucapan Yura yang menurutnya keterlaluan.

Esok paginya. Seperti biasa, rumah sakit selalu ramai pengunjung. Kesibukan terjadi di mana-mana. Terlebih di departemen Unit Gawat Darurat.

Mina datang dari arah pintu masuk bersama beberapa suster dan dokter sembari menyeret seorang pasien ibu hamil yang terbaring lemah di atas ambulance stretcher(1). Jika dilihat dengan seksama, ibu hamil tersebut sudah mengalami pendaharan. Dengan cekatan Mina langsung memeriksa keadaan pasiennya. Keningnya berkerut saat memeriksa denyut nadi pasien.

"Dimana dokter Lee?"

Sementara itu, Nayoung dan Wonwoo masih berada di tempat yang sama dan dalam keadaan yang sama pula. Kebisuan semakin mengendalikan keduanya. Merasa lelah atas kebisuan yang melanda mereka, akhirnya Nayoung buka suara.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Nayoung.

"Tidak baik," jawab Wonwoo singkat.

Nayoung tersenyum getir, "Sudah lama sekali rasanya kita tidak bertatap muka seperti ini. Oh ya, selamat ya."

Bukan. Bukan itu yang sebenarnya ingin Nayoung sampaikan. Dalam hatinya ribuan bahkan puluhan juta pertanyaan sudah hinggap di benaknya. Namun pada kenyataannya hanya kalimat itu yang bisa keluar dari bibir mungilnya.

Bagimana keadaannya, perkuliahannya, apa yang dia lakukan sekarang, pekerjaan apa yang dijalaninya, serta sebuah pertanyaan besar yang selama ini membuatnya mati rasa.

Masih cintakah Wonwoo padanya?

Satu jawaban yang ingin didengar Nayoung dari seorang Jeon Wonwoo. Jawaban bahwa Wonwoo sudah melupakannya. Meski dia akui, bahwa dirinya pernah melalui masa-masa sulit hanya untuk menghapus nama Jeon Wonwoo dalam hatinya.

"Aku yakin kamu sudah tahu sebelum kamu bertemu denganku hari ini. Jadi, tidak usah memasang wajah terkejut seperti tadi lagi."

Kalimat Wonwoo bukanlah tanggapan atas pertanyaan yang Nayoung lontarkan. Melainkan sebuah fakta yang Nayoung akui benar adanya. Sejak adanya pemberitaan mengenai penggabungan usaha dua perusahaan terbesar di Korea beberapa waktu lalu, Nayoung sudah menyadari bahwa di antara anak-anak keturunan Jeon Group yang akan dijodohkan dengan Saehyun adalah Jeon Wonwoo. Hanya saja Nayoung ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri Dia tidak mau berasumsi sembarangan.

Dan inilah jawaban atas pertanyaan Nayoung selama ini. Wonwoo hadir di hadapannya sebagai calon suami Ji Saehyun, teman karibnya.

"Aku tidak bisa tidak terkejut kalau ada Saehyun. Aku khawatir gadis itu akan membombandirku dengan berjuta pertanyaan, kamu pun tahu itu."

"Kamu dekat dengannya?"

"Lebih dari itu. Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri." Nayoung tertunduk dalam.

Tawa Wonwoo terdengar meremehkan. "Perempuan itu lucu sekali. Menganggap sebuah pertemanan sangat berharga."

"Kamu juga dulu seperti itu. Kamu sangat menghargai temanmu." 

Wonwoo maju selangkah mendekati Nayoung, "Aku bukanlah Jeon Wonwoo yang dulu."

Selangkah lagi. Semakin mengikis jarak anata dirinya dan Nayoung. "Bahkan sepertinya kamu pun tidak akan mengenali aku yang sekarang." Langkah Wonwoo terhenti saat dirasanya jaraknya dengan Nayoung hanya tinggal beberapa senti lagi.

Nayoung terkejut atas tindakan Wonwoo yang jauh berbeda hari ini. Setahunya dulu Wonwoo bahkan tidak berani menyentuh tangan seorang gadis, termasuk kekasihnya sendiri. Wonwoo yang sekarang bahkan bisa membuat Nayoung tidak berani menatap mata pemuda itu.

Gadis itu menunduk. Namun tidak lama, dia kembali mengangkat wajah. Memberanikan diri untuk menatap balik Wonwoo.

"dokter Lee!!!"

Nayoung yang hendak mengatakan suatu terpaksa menghentikan niatnya dan lebih memilih untuk berbalik mencari sumber suara yang tadi memanggil namanya. "Shin Eunbi, ada apa?"

"Cepatlah ke ruang operasi sekarang juga. Ada seorang pasien yang sangat membutuhkan pertolongan And!."

Tanpa menghiraukan Wonwoo yang masih setia menatapnya intens, Nayoung beserta dokter muda bernama Eunbi itu berlari menuju lobi rumah sakit.

***

Di belahan rumah sakit lainnya, Saehyun tengah berjalan santai bersama rekan satu timnya, Han Sunkyo sembari menenteng beberapa berkas penting di tangan mereka.

"Aku rasa sampelnya sudah cukup. Kita akan mencobanya nanti malam. Kamu siap untuk lembur kan, Nona Muda?" ejek Sunkyo diakhir kalimatnya.

"Kamu tidak tahu siapa aku?" Saehyun membenarkan letak berkas-berkas ditangan kanannya, "Aku Ji-Sae-hyun, tidak pernah mengenal yang namanya kata mengeluh!" ucapnya menyombongkan diri.

Setelahnya tawa renyah keluar dari mulut keduanya.

Samar-samar Saehyun mendengar suara gaduh dari arah lorong yang berada di sebelah kiri tempatnya berdiri. Langkah keduanya berhenti, setelah sebelumnya Saehyun memberi isyarat pada Sunkyo. Tidak lama, datang seorang gadis berkuncir kuda tengah berlari ke arah mereka. Di belakangnya seorang pria berpakaian medis mengekori.

"Eoh! Sunbae!!!" pekik gadis itu dan langsung bersembunyi dibalik tubuh Saehyun. Tubuh Saehyun sampai sedikit terhuyung, kalau saja Sunkyo tidak membantu gadis itu untuk menopang tubuhnya. Gadis mungil dibelakangnya semakin berusaha bersembunyi ketika pemuda berpakaian medis itu mendekat.

"Yak! Ahn Minji!" Suaranya tersengal-sengal, "Kemarilah!" ucapnya sembari menggerakan tangannya mengisyaratkan gadis bernama Minji itu untuk menghampirinya.

"Tidak mau!" pekik Minji masih bersembunyi di balik jubah kebesaran Saehyun.

Kim Rowoon---nama pemuda berpakaian medis tadi terkejut melihat siapa orang yang menjadi tameng bagi Minji.

Dengan segera Rowoon membungkuk empat puluh lima derajat memberi salam pada seniornya. Sementara Saehyun dan Sunkyo hanya bisa saling melempar tatapan bingung saat pemuda itu memberi salam pada mereka.

"Maaf, Sunbae, saya harus menyeret gadis itu." Tanpa menunggu Saehyun maupun Sunkyo mempersilahkan, Rowoon yang dikenal dengan sikap angkuhnya itu maju mendekati Saehyun. Pemuda itu mengarahkan tangannya ke belakang tubuh Saehyun untuk menarik lengan Minji, sedangkan matanya masih tertuju pada Saehyun.

SREETT

Rowoon berhasil meraih lengan Minji dan menarik gadis itu untuk berdiri di sampingnya. Rowoon kembali membungkuk dan langsung menyeret Minji yang meronta minta dilepaskan.

"Luar biasa! Kim Roowoon memberi hormat pada kita?" celoteh Sunkyo. Sedang Saehyun masih diam membisu.

Rowoon menyeret paksa Minji untuk mengikutinya menuju taman belakang. Minji masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Rowoon. Sesampainya di tempat tujuan mereka, Rowoon menarik Minji dan menghempaskannya hingga tubuh gadis itu terhuyung.

"Untuk apa kamu kemari?" ucapnya dengan nada dingin.

"Itu bukan urusanmu!"

"Jangan pernah datang ke tempat kerjaku lagi, terlebih jangan sampai kamu bertemu dengan Ji Saehyun!"

"Kamu ini kenapa, sih? Apa kamu masih saja dendam pada Saehyun sunbae?"

Rowoon diam. Tidak lagi menimpali pertanyaan Minji. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku pakaian medisnya. Dari pakaian yang dikenakannya, Minji bisa menebak kalau pemuda yang dikenalnya itu baru saja keluar dari ruang operasi.

"Pulanglah! Atau kamu mau kalau aku melapor pada ayahmu kalau kamu mengacau di sini?" ancam Rowoon.

"Astaga, dasar pengadu!" cibir Minji kesal.

***

Taehyung memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya dengan hentakan kasar. Matanya menyalang pada kakak perempuannya yang duduk di hadapannya yang juga tengah menyantap makan malam dengan santai.

Makan malam tanpa ayah dan ibunya, sudah sangat biasa bagi Taehyung maupun Yura. Mungkin dengan bertambahnya Minhee---teman dekat sekaligus kolega Yura, makan malam kali ini cukup untuk dibilang ramai.

Taehyung menaruh sendok dan sumpitnya dengan kasar, membentur meja makan hingga terdengar suara dentuman. Ia bangkit, tidak memperdulikan tatapan sinis kakaknya dan langsung meluncur masuk ke dalam kamar.

"Adikmu kenapa lagi?" tanya Minhee penasaran dengan tingkah Taehyung yang biasanya ceria.

"Biarkan saja." Yura meneguk habis segelas wine, "Aku rasa anak dari Presdir Jeon itu sudah mengotori perilaku adikku!"

"Aku pikir Jeon Jungkook berbeda dengan kakaknya, tapi rupanya mereka sama saja," timpal Minhee. Yura hanya mengangguk setuju atas pernyataan Minhee.

"Kau di mana?!" teriak Taehyung tertahan pada lawan bicaranya di seberang sana. "Aku akan ke sana." Taehyung mengernyit. "Kenapa tidak boleh? Apa karena Kak Yura? Huh! Kamu terlalu takut pada kakakku, Jung!" Taehyung mendengus sebal.

Jungkook yang ada di seberang sana menghela napasnya berat. Pemuda Jeon itu memijit pelipisnya sesaat sebelum akhirnya kembali menimpali pertanyaan Taehyung. "Aku bukan takut pada kakakmu. Aku hanya tidak mau berurusan lagi dengannya. Kakakmu terlalu idealis. Aku tidak bisa berbicara dengan tenang jika berhadapan dengannya. Kamu tahu maksudku, kan?"

Jungkook memutuskan panggilan Taehyung sepihak. Pemuda itu lalu menghampiri teman-temannya yang tengah asik meneguk minuman beralkohol di lantai dua sebuah bar. Jungkook menyalami satu persatu temannya lalu mendudukkan diri di salah satu kursi bersebelahan dengan Jimin.

"Jangan tanya kenapa aku ikut kelompokmu sekarang." Jimin menyela Jungkook yang baru saja akan membuka mulut, "Kakakmu itu terlalu high class, don't you know?"

Jungkook hanya mendengus menimpali perkataan Jimin. "Welcome, then." Dan tersenyum di akhir kalimatnya.

"Hei, apa malam ini akan berakhir membosankan?" tanya seorang pemuda berkulit tan, Kim Mingyu, membuka perbincangan.

"Maksudmu?" seorang pemuda jangkung lainnya--Kim Yugyeom, menimpali.

"Jangan berlaga bodoh, kau pasti tahu maksudku, Yeom!" ucap Mingyu sembari memukul kepala Yugyeom yang berambut ikal.

"Wanita?" Semua mata tertuju pada seorang bartender tampan yang tengah menyajikan pesanan mereka. Bartender yang terkenal akan senyum mautnya itu menatap sambil tersenyum cerah pada sekelompok pemuda yag dia yakini lebih muda darinya.

"Eiy, Hyung! Kamu pengertian sekali!" timpal Jimin.

"Ada banyak wanita cantik di bawah sana. Kamu lihat gadis berambut pendek itu?"

Hoseok si bartender tadi menujuk seorang gadis bersurai panjang yang tengah duduk di depan meja bartender sembari menikmati segelas whisky. "Aku rasa dia depresi karena pekerjaannya, makanya dia datang kemari," duga Hoseok.

Tanpa basa-basi lagi Jimin bangkit dari kursinya dan langsung menuruni anak tangga menghampiri gadis yang tadi disebutkan Hoseok. Sedangkan teman-temannya yang lain hanya menertawakan tindakan Jimin.

Jimin mendekat dan mendudukkan diri tepat di samping gadis bersurai panjang itu. Jimin menampilkan pesonanya, sebuah senyuman paling manis yang dia punya. Atensinya terkunci pada wajah cantik gadis itu. Jimin berdeham dan membenarkan posisi duduknya, "Hai Cantik, kamu sendirian?" tanyanya kemudian.

Gadis itu menoleh dan mendapatai Jimin yang tersenyum sangat menawan padanya.

Dari apa yang Jimin lihat, dia yakin gadis ini sudah mabuk berat. Terlihat dari wajahnya yang bersemu merah, tatapan matanya yang tidak fokus serta tingkahnya yang terbilang aneh dan tak wajar. "Hai juga, Tampan. Kamu benar sekali, aku sendirian." Suaranya terdengar seperti suara khas orang yang tengah mabuk.

"Auw, sepertinya kamu sudah---"

"Tidak! Belum! Aku masih sanggup untuk meminum satu gelas lagi!" ucapnya memotong kalimat Jimin.

Tangan Jimin terarah hendak meraih gelas yang dipegang gadis itu.

"PARK MINA!!!"

Lengkingan suara itu berasal dari seorang gadis yang berdiri di bawah lampu temarau berkerlap-kerlip khas diskotik. Tangannya yang dia letakkan di pinggangnya semakin membuat kental amarahnya. Bahkan suara lengkingannya sanggup menandingi dentuman musik, membuat semua perhatian tertuju padanya. Tidak terkecuali dengan Jungkook yang duduk bersama teman-temannya.

Mata Jungkook memicing, mencoba melihat siapa gerangan gadis yang meneriakan nama temannya itu. Setelah dirasa cukup jelas, matanya melebar mendapati bahwa ternyata gadis itu adalah orang yang sangat dikenalnya.

"Oh? Ji... Sae....Hyuuun...." Mina berceloteh tidak jelas.

Saehyun menghampiri Mina dengan langkah besar. Menarik Jimin yang masih duduk di sebelah Mina untuk menyingkir. Jimin terkejut. Tubuhnya sampai terhuyung kebelakang. "Yak! Apa yang kamu lakukan di sini, huh?!" Saehyun mengancing, "Ayo pulang!"

Saehyun menarik Mina untuk turun dari kursinya dan berhasil. Tubuh Mina terhuyung kalau saja tidk ada tangan yang menyanggahnya. Itu Jungkook, yang dengan cepat turun setelah memastikan kalau yang dia lihat adalah Saehyun.

"Jungkook?"

"Kalian saling kenal?" timpal Jimin.

"Biar aku yang membantumu mengantarnya." Sejurus kemudian Jungkook langsung membopong Mina keluar club.

Merasa tidak dihiraukan, Jimin akhirnya angkat bicara. "Tunggu! Bukannya kau itu---"

"Ji Saehyun!"

Kalimat Jimin terputus saat sebuah suara berat memanggil nama Saehyun yang masih berdiri di hadapan Jimin. Saehyun menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Matanya memicing, mencoba memperjelas penglihatannya.

Pemuda bertubuh jangkung itu menuruni setiap anak tangga. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana. Pemuda itu semakin mendekati Saehyun. Langkah kakinya berhenti saat dia berhasil menyambangi gadis itu.

"Kamu?" ucap Saehyun terbata-bata.

"Kenapa kamu ada di sini?" Mata elang Jeon Wonwoo menatap tajam pada Saehyun. Menuntut jawab. Sedang yang ditanya masih diselimuti kebisuan.

Jimin yang masih berdiri di samping Saehyun ikut menyaksikan kejadian ini. Sejenak Jimin berpikir. Menjelajah ingatannya yang mungkin saja bisa menemukan sebuah fakta yang tengah dia cari dalam kebisuannya.

Mata Jimin membola saat dia berhasil menggabungkan kepingan-kepingan puzzle ingatannya mengenai dua orang yang kini tengah bertatap muka dihadapannya. Rupanya dialah orang yang dijodohkan dengan Wonwoo, batinnya.

Baru saja Saehyun akan angkat bicara, namun niatnya dia urungkan saat sebuah tangan memeluk manja lengan Wonwoo. Matanya membulat. Tidak percaya atas apa yang dia lihat saat ini. Saehyun akui, dirinya memang tidak menyukai Wonwoo. Namun pemandangan ini berhasil membuat aliran darahnya menghangat.

"Kamu di sini rupanya," ucap gadis cantik berbalutkan mini dress berwarna merah marun itu.

"Eoh," singkat Wonwoo. Mata elang pemuda Jeon itu masih tidak beralih dari sosok gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri sahnya.

Hoseok yang berada tidak jauh dari tempat kejadian ikut memperhatikan dengan seksama para pelakon drama keluarga di hadapannya. Pemuda Jung itu tersenyum geli. Menurutnya tontonan kali ini cukup menyenangkan dibanding pertunjukan dari anak-anak muda yang sering dia lihat semenjak dirinya bekerja sebagai bartender di sini.

Hoseok memberanikan diri melangkah mendekati keempat insan yang masih saling membisu. Pemuda itu mengacungkan segelas whisky tepat di mata Wonwoo yang berhasil mengalihkan atensi pemuda itu.

"Segelas whisky bisa membantumu untuk bicara."

Jimin tercengang mendengar kalimat terlampau berani dari Hoseok yang dia tujukan untuk pemuda dingin yang tidak lain adalah Wonwoo.

"Apa maksudmu?" Wonwoo menatap tajam pada manik berbinar milik Jung Hoseok.




to be continued



1. Alat yang digunakan untuk membawa pasien dari ambulan masuk ke dalam ruang atau ugd untuk mendapatkan perwatan secepatnya.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro