6 : Feeling
Scorpion Bar, Gangnam-gu,
Seoul -- Korea Selatan.
"Segelas whisky bisa membantumu untuk bicara."
Jimin tercengang mendengar kalimat terlampau berani dari Hoseok yang ia tujukan untuk pria dingin yang tak lain adalah Wonwoo.
"Apa maksudmu?" Wonwoo menatap tajam pada manik berbinar milik Jung Hoseok.
"Karena menurutku diantara kalian semua kamu lah orang yang paling tidak bisa jujur. Kamu terlalu banyak menyimpan rahasia. Maka dari itu, aku berikan solusi yang tepat. Tapi aku rasa satu gelas besar whisky tidak akan mempan untukmu?" jelas Hoseok panjang lebar.
Wonwoo mendesis, "Kau pikir kau siapa?"
"Aku?" Hoseok menunjuk dirinya sendiri dengan tangannya yang bebas. "Jung Hoseok, bartender tertampan di club ini," ucapnya penuh percaya diri.
"Aku tidak---"
Kalimat Wonwoo terpotong oleh tindakan tidak terduga Saehyun yang dengan lancangnya merebut segelas whisky itu dari tangan Hoseok. Lantas dengan santainya gadis itu meneguk habis minuman dengan kadar alkohol yang tergolong tinggi itu dalam sekali tenggak.
Saehyun mengernyit begitu rasa pahit dan getir dari minuman beralkohol yang dia minum masuk ke dalam tenggorokannya. Saehyun bahkan sampai mengerjapkan kedua matanya, dia rasa kesadarannya mulai menghilang.
Diserahkannya gelas kosong itu pada Hoseok yang menatapnya heran. Saehyun masih mencoba mempertahankan kesadarannya. Lalu atensinya berpindah pada Wonwoo yang masih memasang ekspresi datar sama seperti tadi. "Lantas kamu sendiri? Apa yang kamu lakukan di sini, huh?" Pertanyaan itu dia keluarkan sebagai bentuk tanggapan atas pertanyaan Wonwoo sebelumnya.
"Oh, aku tahu!" Langkah kaki Saehyun tidak stabil, sepertinya gadis itu sudah mabuk hanya karena segelas whisky.
Perlahan namun pasti, gadis bermarga Ji itu semakin mendekati Wonwoo. Mengikis jarak antara keduanya. Sampai pada akhirnya Saehyun berada tepat di hadapan Wonwoo, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Wonwoo.
Saehyun mendongak, mengingat Wonwoo lebih tinggi darinya. Jari telunjukya terangkat. Gadis itu menempelkan jari telunjuknya tepat di pipi Wonwoo.
Wonwoo mengernyit, melihat tingkah tidak lazim dari Saehyun. Gadis itu terkikik geli saat jari telunjuknya menyentuh permukaan kulit wajah Wonwoo. "Kamu pasti sedang bersenang-senang. Tega sekali kamu, tidak mau mengajakku! Padahal aku sedang stress berat, tahu?!" ucapnya dengan nada manja. Terdengar aneh di telinga Wonwoo.
"Aku rasa dia sudah mabuk. Yang benar saja?!" bisik Jimin tepat di telinga Hoseok.
"Aku rasa dia tidak pernah minum sebelumnya." Hoseok menanggapi.
Wonwoo masih tidak memberi respon. Mata elangnya masih setia menelisik setiap inch wajah Saehyun dengan jarak sedekat ini. Bahkan di bawah lampu yang temaram, Wonwoo bisa melihat dengan jelas kantung mata Saehyun yang semakin hari semakin menghitam layaknya panda.
Merasa tidak mendapat respon, Saehyun menurunkan tangannya dengan kekecewaan. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, bertingkah selayaknya gadis manja pada umumnya. "Ya sudah! Kalau kamu tidak mau mengajakku, aku akan pergi bersama Jungkook! Dasar Wonwoo jahat!!! Saehyun benci Wonwoo!!!" pekiknya masih mempertahankan jiwa manjanya.
Saehyun berbalik, "Hei kamu! Suruh dia untuk membayar minuman tadi sebagai ganti karena dia jahat padaku." Setelahnya gadis itu pergi meninggalkan keempat manusai yang memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
Susah payah Saehyun berusaha untuk keluar dari club malam. Sesekali tubuhnya terhuyung. Untung saja di sampingnya ada dinding yang bisa dia jadikan tumpuan. Wonwoo terkekeh, meski tidak diketahui oleh siapapun.
"Wonwoo, aku---"
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku malam ini." Wonwoo melepaskan tangan gadis yang berpakaian minim itu dari lengannya.
"Jim, aku serahkan sisanya padamu termasuk yang tadi."
Wonwoo melenggang pergi. Meninggalkan Jimin yang dalam kebingungungan. Tidak mengerti maksud Wonwoo.
"Menyerahkan apa?" Jimin malah balik bertanya pada Hoseok. Sedangkan yang ditanya hanya mengangkat bahu tidak mengerti.
"Hei, Jeon Wonwoo!!!" Jimin mengerang frustasi.
***
"Juuuung..."
Saehyun menghampiri Jungkook yang masih setia menunggunya di luar pintu masuk club malam. Melihat cara berjalan gadis itu yang tidak biasa, membuat Jungkook berlari ke arahnya dan memegangi kedua lengan gadis itu. Menjadikannya sebagai tumpuan si gadis.
"Kau kenapa?"
Saehyun hanya meampilkan cengiran kudanya yang tidak jelas. Merasa aneh, Jungkook mendekatkan indra penciumannya pada wajah Saehyun. Matanya terbuka lebar saat aroma alkohol menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya. "Kau minum?!"
Tidak ada respon. Jungkook menghela gusar. "Sudah aku bilang jangan menyentuh jenis minuman apapun di sini!" Nadanya terdengar khawatir.
Saehyun menatap Jungkook dengan ekspresi memelas. "Kamu juga marah padaku?" Detik berikutnya gadis itu menangis selayaknya anak kecil yang kehilangan balon.
"Hei, Jisae! Oh---astaga, ayo kita pulang!"
Sebuah tangan mengintrupsi pergerakan Jungkook. Pemuda bergigi kelinci itu menoleh. "Kau mau apa?"
Dia, Jeon Wonwoo. Entah sejak kapan, lelaki itu tiba-tiba saja berdiri diatara Jungkook dan Saehyun. Dengan wajah angkuhnya Wonwoo berkata, "Aku calon suaminya, jadi aku yang berhak mengantanya pulang."
"Tapi aku yang lebih dulu menemuinya." Jungkook tetap bersikukuh pada pendiriannya.
"Hei, gadis labil! Ikut aku!" Wonwoo menarik lengan Saehyun, menggenggamnya dengan sedikit lembut. Berbeda dengan yang pernah dia lakukan tempo hari.
Saehyun menarik lengan Wonwoo yang menggenggamnya, membuat pergerakan pemuda itu terhenti. "Saehyun benci Wonwoo! Saehyun tidak mau ikut dengan Wonwoo!!!" pekik Saehyun sembari meronta-ronta minta dilepaskan.
Yang lebih membuat Wonwoo maupun Jungkook mengernyit adalah tingkah kekanakan gadis itu yang meloncat-loncat selayaknya anak kecil yang sedang merajuk minta dibelikan mainan.
Wonwoo menatap tajam pada Saehyun. Seolah memberi isyarat pada gadis itu untuk tutup mulut. Mengingat banyaknya orang-orang yang berlalu lalang, menatap dengan sorot mata yang seolah berkata 'gadis itu sudah gila', 'meraka pikir mereka sedang syuting drama?' dan lainnya.
Merasa dipermalukan, Wonwoo lantas langsung mengangkat tubuh kurus Saehyun dan membopongnya ala bridal style. Saehyun meronta, memukul punggung pria itu berulang kali, berteriak agar orang itu menurunkannya. Melakukan apapun yang dia bisa walau sebetulnya hal itu percuma. Tenaganya kalah saing dengan pria itu.
Jungkook hanya bisa terdiam di tempatnya, memandangi kepergian kakaknya yang membopong Saehyun menuju sebuah Volvo New V90 Estate buatan Swedia yang terparkir manis di bahu jalan.
Satu lagi yang membuat Jungkook membenci dirinya sendiri. Selalu saja mengalah pada kakaknya. Pecundang.
Wonwoo menghempaskan tubuh Saehyun di samping bangku kemudi, lalu menutup pintu dengan kasar. Lantas dirinya berlari memutari mobilnya, membuka pintu dan duduk di depan kemudi. Wonwoo menatap tidak percaya pada Saehyun yang masih merengek ingin keluar dari mobilnya. Pria itu kembali menghela kasar, sebelum akhirnya bergerak maju untuk memasangkan seat belt pada Saehyun.
Wonwoo melajukan mobil mewahnya setelah sebelumnya memasang seat belt untuknya. Mobil buatan Swedia itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah keramaian Seoul di malam hari.
Jungkook masih terpaku di tempat. Sampai tidak menyadari kehadiran Jimin yang sudah berdiri di sampingnya. Pandangannya masih mengikuti arah laju mobil milik Wonwoo yang membawa serta gadis yang disukainya pergi.
"Hei, Jung!" pekik Jimin tepat di telinga Jungkook.
Jungkook menoleh dengan tangan yang menutupi telinganya, "Berisik!"
"Mana teman Saehyun? Kamu sudah mengantarnya pulang?"
Mendengar pertanyaan Jimin membuat pemuda itu teringat akan Mina yang dia telantarkan di dalam Audy silvernya. "Astaga, Jim. Aku lupa!"
Dengan gerakan kilat, Jungkook langsung melesat menuju mobilnya diikuti oleh Jimin. Keduanya masuk ke dalam mobil.
Jimin menoleh ke bangku penumpang dan melihat Mina yang tertidur pulas di belakang sana. Senyuman pemuda bertubuh pendek itu mengembang. 'Mungkinkah aku jatuh cinta secepat ini?' batinnya.
***
Dilain tempat, Jihyun tengah menikmati makan malamnya bersama Oh Sehun. Nampaknya mereka semakin dekat semenjak insiden pertemuan tidak sengaja hari. Bahkan sepertinya Jihyun sudah jatuh ke dalam pesona seorang Oh Sehun, pria berkulit seputih susu dengan julukan playboy kelas kakap yang melekat padanya.
Jihyun menyeka bibirnya yang basah akibat wine yang dia minum. Tanpa dia sadari, mata Sehun menatap intens pada bibir merah meronanya sejak tadi. Desiran aneh serta hasrat itu muncul begitu saja dalam diri Sehun. Sebisa mungkin pria bermarga Oh itu menahan hasratnya untuk mencicipi bibir merah merona milik gadis di hadapannya.
Sehun mengumpat dalam hati saat seorang pelayan menghampiri keduanya yang berada dalam ruangan VVIP milik restoran berbintang lima ini saat dia akan maju menghampiri Jihyun yang masih fokus pada objek yang ada di depannya.
Pramu saji ber-name tag Jung Hajin itu menaruh beberapa hidangan penutup yang Sehun pesan sebelumnya. Berbagai macam dessert tersaji di meja makan, mulai dari custard hingga cold pudding. "Selamat menikmati," ucap Hajin ramah dan langsung berlalu, menghilang di balik pintu setelah sebelumnya membungkuk sembilan pulu derajat pada Sehun dan Jihyun.
"Kau menikmatinya?" tanya Jihyun secara tiba-tiba.
"Maksudmu makanannya?"
"Jangan berlagak seolah aku tidak tahu apa yang kamu perhatikan sejak tadi, Hun."
Panggilan akrab itu menyambut indra pendengaran Sehun. 'Bahkan sekarang kau memanggilku dengan sebutan khusus.' Sehun mengulum senyumnya.
"Kamu boleh menikmatinya secara langsung, tapi itu nanti. Mengingat intesitas kita bertemu belum seberapa."
Sehun terkikik geli mendengar penuturan terlampau jujur Jihyun perihal kegiatannya yang memandangi bibir merah merona Jihyun. Sehun akui, dirinya memang sudah terjatuh pada pesona yang dimiliki gadis itu.
"Kita lihat saja nanti." Sehun menampilkan smirk andalannya.
***
Kembali kepada Wonwoo yang masih berusaha menyetir sembari menenangkan Saehyun yang terus meronta ingin keluar dari mobil. Padahal Wonwoo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Gadis itu kerap kali menjambak rambut milik Wonwoo, membuat sang empunya meringis kesakitan. Atau terkadang memukuli wajah rupawan Wonwoo yang bernilai tinggi.
Menyerah. Pria itu kemudian menepikan mobilnya di dekat aliran Sungai Han.
Saehyun segera kabur dari mobil setelah Wonwoo membuka kunci pintu mobilnya. Gadis itu berlarian selayaknya anak kecil. Tertawa bahagia, terkadang melompat kegirangan. Gadis itu berlarian ke sana kemari sembari merentangkan tangan menikmati kebebasan.
Wonwoo mengikutinya dalam diam. Sesekali pria bersuara berat itu terkikik geli melihat tingkah calon istrinya. Saehyun berbalik, menampilkan senyum innocent-nya pada Wonwoo. Sesekali gadis itu melambaikan tangannya. Wonwoo tersenyum dan ikut melambaikan tangan menanggapi.
Namun senyumannya luntur saat gadis itu kembali berteriak tidak jelas di tengah heningnya malam.
"Hi everyone!!! Anybody here?!"
Wonwoo segera berlari menghampiri gadis itu sebelum terlambat. Takut kalau gadis itu akan berceloteh yang macam-macam.
"Ah, aku rasa di sini hanya ada aku dan kau!" ucapnya menunjuk Wonwoo dengan tubuhnya yang sedikit terhuyung. "JEON.WON.WOO!!! Saehyun benci Jeon Wonwoo~" teriaknya dengan nada manja.
Wonwoo meneliti keadaan sekitar, takut kalau ada yang mendengar atau bahkan melihat tingkah aneh Saehyun. Dan kalau hal itu sampai terjadi, demi Tuhan! Wonwoo pasti akan meninggalkan gadis gila ini sendirian.
"Sae.hyun.ben.ci.Won.woo!!!" ucapnya lagi dengan berjingkrak-jingkrak. Tangannya bergerak seolah sedang mengepakkan sayap.
Selang dua detik, tangis kerasnya keluar. Dengan cepat, Wonwoo menyambangi gadis itu dan menutup mulut Saehyun dengan telapak tangannya.
"Diamlah! Atau aku akan membunuhmu!"
Tatapan tajam dan perkataan Wonwoo yang terbilang sadis itu berhasil membungkam mulut Saehyun. Baru saja Wonwoo akan menurunkan tangannya, Saehyun kembali berceloteh asal. "Aku benci kamu! Aku benci perjodohan ini! Pokoknya aku ben-hmmph."
Wonwoo membekap Saehyun dengan bibirnya. Kedua tangan Wonwoo bahkan sudah beralih menyentuh wajah Saehyun. Mata Wonwoo ikut terpejam seiring dengan ciumannya yang semakin menuntut. Sedangkan Saehyun, gadis itu hanya bisa terdiam tanpa memberikan respon apapun. Dia tidak menolak pun membalas kecupan Wonwoo.
Satu menit berselang Wonwoo akhirnya menyerah dan melepas tautan yang dibuatnya. Masih dalam posisi yang tidak berjarak, Wonwoo berkata, "Diam atau aku akan melakukan yang lebih!" Pancaran sinar mata Wonwoo terlihat tajam.
Wonwoo benar-benar menciptakan jarak kali ini. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lantas berlalu meninggalkan Saehyun yang masih terdiam di tempat. Entah merasa malu atau memang tidak mengerti apapun karena masih dalam pengaruh alkohol.
Keduanya sampai di apartement milik Saehyun. Namun sialnya gadis itu malah tertidur pulas di punggung Wonwoo. Membuat pria bermarga Jeon itu harus kewalahan mencari password apartement si gadis. Jari jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel Saehyun. Mencari clue atau catatan yang sekiranya berkaitan dengan password apartement gadis yang ada di punggungnya.
Gerakan jemarinya terhenti saat dia membuka aplikasi Notes milik Saehyun dengan judul Home. Bukan. Bukan masalah judulnya, melainkan deretan angka yang tertera di sana. Yang dia yakini bahwa itu merupakan password apartement Saehyun.
09-01
Angka yang dia yakini juga sebagai hari ulang tahun Jeon Jungkook, adiknya.
***
"Kau tahu rumahnya?" Pertanyaan Jimin berhasil memecah konsentrasi Jungkook saat menyetir.
Jungkook tercengang dan ingat bahwa dia tidak tahu di mana letak rumah gadis bernama Park Mina yang tengah tertidur pulas di bangku penumpang. Baik Jimin maupun Jungkook keduanya menghela kasar dan membenturkan kepala pada dashboard mobil.
"Kita tanya Saehyun saja!" Ide itu terlintas begitu saja dari Jimin.
"Percuma. Dia sedang dalam pengaruh alkohol. Dan aku yakin sekarang dia malah tertidur pulas."
"Astaga, bahkan dia hanya meneguk segelas whisky! Bagaimana bisa dia mabuk dengan mudahnya?!" ucap Jimin tidak percaya. Pemuda bertubuh mungil itu tertawa terbahak sampai perutnya sakit. Jimin baru selesai setelah Jungkook memicing padanya.
"Saehyun tipikal orang yang benci alkohol. Bukan tanpa sebab. Dan ini pertama kalinya dia berani meminum minuman beralkohol, terlebih itu whisky!"
"Sepertinya kamu sangat mengenalnya." Jimin mulai berasumsi.
"Tentu saja." Jungkook tersenyuman getir mendengar kalimat terakhir yang Jimin ucapkan tadi. Dan berhasil membuat sebuah goresan kecil di hatinya.
***
Sorot mentari menelusup masuk melalui celah jendela kamar. Saehyun membuka mata saat dia mendengar bunyi alarm yang berasal dari ponselnya. Gadis itu mendudukkan diri meski kantuk masih mengendalikannya. Keningnya mengkerut, kepalanya terasa berat.
Sungguh, dia tidak tahu apa yang terjadi setelah gadis itu dengan bodohnya merebut gelas berisi whisky dari tangan Hoseok, bahkan menenggaknya sampai habis. Yang dia ingat semalam secara tidak sengaja dirinya bertemu dengan Jungkook dan Wonwoo. Tidak mau berpikir yang berlebihan, Saehyun segera bangkit dari tempat tidur dan melenggang ke luar kamar.
Saat hendak menutup pintu kamar, samar-samar Saehyun mencium aroma masakan keseukaannya. Dengan langkah perlahan, Saehyun menuju ke dapur dan menemukan Jungkook yang tengah menata meja makan di sana. Dalam diam Saehyun memperhatikan setiap gerak-gerik Jungkook. Nampaknya pemuda itu belum menyadari kehadirannya.
Tidak lama berselang, Jungkook akhirnya menyadari kehadiran Saehyun dan tersenyum manis menyapa gadis itu. "Kamu sudah bangun?" Sapaan hangat Jungkook masuk ke dalam indra pendengaran Saehyun.
Saehyun mengangguk kecil, menanggapi pertanyaan Jungkook.
Pemuda Jeon itu langsung bergegas menghampiri Saehyun yang masih berdiri di tempatnya. "Duduklah, aku membuatkan menu favoritmu. Aku harap kamu suka, meski aku tidak yakin dengan rasanya." Jungkook menuntun Saehyun untuk duduk bersebelahan dengannya.
"Tapi sebelumnya makan ini dulu!" Saehyun mengernyit melihat Jungkook menyajikan Kongnamul Guk** untuknya. "Semalam kamu mabuk berat setelah menenggak habis segelas whisky." Jungkook menanggapi reaksi Saehyun yang terlihat bingung.
"Ah-iya, aku baru ingat," ucapnya terdengar lelah.
"Sebaiknya kamu tidak usah berangkat kerja dulu, aku khawatir kamu malah jatuh sakit."
"Aku tidak apa-apa," kilah Saehyun.
"Kalau begitu, biar aku yang mengantarmu."
Saehyun langsung mengangguk mengiyakan. Dia lebih memilih untuk menuruti kemauan Jungkook, karena gadis itu tahu betul bagaimana perangai Jungkook yang suka memaksa terlebih pada Saehyun. Ditambah sikap over protective-nya pada Saehyun.
***
Saehyun baru saja keluar dari mobil Jungkook setelah pemuda itu membukakan pintu untuknya. Jungkook tersenyum manis menatap wajah Saehyun yang memasang tampang kebingungan. Tangannya terangkat menyentuh puncak kepala Saehyun lantas mengacak-acak rambut kecoklatan Saehyun yang dibiarkan tergerai. "Hubungi aku segera jika terjadi sesuatu." Kembali, Jungkook menunjukkan senyum merekahnya pagi ini.
Saehyun tersenyum kikuk menanggapi sikap Jungkook. Kemudian langsung bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Sementara Jungkook, pemuda itu masih setia menunggu gadis pujaannya sampai benar-benar menghilang dari balik pintu masuk gedung.
Saehyun masih saja memegangi kepalanya yang terasa pening. Sesekali dirinya bahkan menabrak pundak orang-orang yang juga berlalu lalang di sekitaran lobi rumah sakit. Dan-
DUGG
Kepalanya yang sakit terasa semakin berdenyut saat dia merasa menabrak dada bidang seseorang yang berdiri menghalangi jalannya. Saehyun mendongak untuk melihat siapa gerangan orang yang dia tabrak. Hazelnya mengerjap, mencoba memperjelas penglihatannya.
"Sedang apa kau di sini?"
Dia, si pemilik suara bass yang ditabrak oleh Saehyun, "Jeon Wonwoo?"
'Kenapa perasaanku malah jadi tak enak?'
To be continued
**Sup pereda pengar yang terbuat dari tauge, bawang putih, daun bawang dan irisan cabai
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro