Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

2: Time

"Lama menunggu?" tanya Saehyun to te point pada Jungkook. "Ayo pergi!" ajaknya kemudian.

Langkah Saehyun tertahan saat sebuah tangan kekar menahannya dengan kasar. Keterkejutan Saehyun semakin menjadi saat dilihatnya Wonwoo lah yang menahannya.

"Apa kamu lupa kalau aku ini adalah calon suamimu?"

Saehyun menatap tidak percaya pada Wonwoo. Saehyun merasa indra pendengarannya sudah salah. Namun ternyata perkiraannya salah setelah dia mendengar kelanjutan kalimat yang dilontarkan oleh pemuda itu. "Kita harus pergi ke boutiq pilihan ibuku sekarang juga," Wonwoo menjeda kalimatnya sejenak, "--untuk fitting baju pernikahan kita." Wonwoo menutup kalimatnya sembari meledek Jungkook dengan sorot matanya.

Kalimat terakhir Wonwoo sukses membuat Saehyun keheranan. Pasalnya yang dia tahu sejak pertemuan pertamanya dengan pemuda itu Saehyun sudah mengira bahwa Wonwoo tidak menyukai perjodohan ini, terlebih dirinya.

Keterkejutannya bertambah saat Jungkook ikut menggenggam lengannya yang juga digenggam oleh Wonwoo. Belum selesai sampai di situ, sebuah kalimat yang Jungkook lontarkan malah makin membuat keadaan semakin runyam. "Maaf, Hyung, tapi aku sudah lebih dulu membuat janji dengannya."

"Apa kamu juga lupa, kalau saat ini kamu sedang berhadapan dengan siapa?" Wonwoo kembali buka suara.

"Tentu saja aku tidak lupa," Jungkook menatap tajam tepat pada mata elang Wonwoo, "Kamu adalah kakakku."

"Sepertinya kamu melupakan satu hal. Gadis ini, dia milikku ... calon kakak iparmu."

Sehun hanya bisa menghela kasar menyaksikan perdebatan antara kakak beradik tersebut. Dengan keberanian yang dimilikinya, Sehun maju untuk ikut masuk ke dalam perdebatan yang menurutnya sangat konyol itu.

Sehun merangkul pundang Saehyun yang langsung bisa mengalihkan perhatian kakak-beradik Jeon yang mentapnya tajam. Jangan lupakan betapa geramnya Saehyun yang memicingkan mata pada Sehun. "Hei gadis manis, lebih baik kamu ikut denganku saja dari pada menjadi perdebatan konyol antara mereka."

Mata Saehyun semakin memicing, seolah mengatakan untuk tutup mulut pada Sehun. Bukan Oh Sehun namanya kalau takut pada picingan seorang gadis.

"Oh Sehun!" Wonwoo semakin menatap Sehun dengan tajam. Wonwoo menarik paksa Saehyun untuk berdiri di belakangnya dengan kasar hingga terlepas baik dari rangkulan Sehun maupun genggaman Jungkook. "Jangan ikut campur. Urusi saja perusahaanmu yang sedang diambang kehancuran itu!" ucap Wonwoo sarkastis dengan giginya yang mengancing.

Mendengar ucapan Wonwoo membuat Sehun menghela napas kesal. Sehun membuang muka, malas menatap wajah angkuh Wonwoo yang dengan lancang menjelekkan nama baik perusahaannya.

"Ah, aku hampir lupa. Maaf, kalau sudah mengyinggung perasaanmu." Wonwoo kembali berujar masih dengan nada angkuhnya.

Wonwoo beralih pada Saehyun yang berdiri tepat disampingnya, "Ayo jalan!" Wonwoo menarik paksa Saehyun, tengannya menggenggam erat pergelangan tangan Saehyun. Sudah dapat dipastikan kalau pergelangan tangannya nanti pasti memerah.

"Hei, Jeon Jungkook!" Sehun menatap Jungkook dengan tatapan mengejek, "Aku pikir kamu bukan orang yang akan menyerah begitu saja hanya karena lawanmu adalah Jeon Wonwoo." Sehun menampilkan smirk-nya.

"Bukan urusanmu!"

 Jungkook bergegas meninggalkan tempat parkir basement rumah sakit Myungwoon dengan wajah kesal. Rencananya hari ini gagal total! Hanya karena kehadiran Jeon Wonwoo, kakaknya. Semua rencana yang sudah dia pikirkan matang-matang harus tertunda karena rangkaian acara perjodohan konyol yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

***

Sehun telah kembali ke kantornya. Kekesalan Sehun belum juga mereda, terlihat dari hentakan kakinya saat melangkah. Sekretaris pribadinya dengan setia mengekori kemanapun Sehun pergi. Entah itu ke kantor atau bahkan ke bar. Berbeda dengan Sehun, sekretarisnya punya sifat dan sikap yang bertolak belakang dengannya. Baik hati dan peduli pada keluarga. Ditambah, kini Kun---nama sekretaris pribadi Sehun, sudah tidak sendiri lagi.

Sehun menghempaskan bokongnya di atas kursi empuk di balik meja kerja. Sementara Kun berdiri dengan sopan di hadapannya. Siap mendengarkan cercaan atau apapun itu dari tuannya. Sehun memutar kursi yang dia duduki menghadap sebuah kaca jendela besar yang menampilkan keramaian kota Seoul di sore hari. Tangannya mengepal dengan kuat, kakinya terus menerusd ia hentak-hentakan. Kun tahu bahwa tuannya tengah dilanda amarah besar saat ini.

"Hyung," panggilnya pada Kun.

Ah---hampir saja lupa. Sehun itu anak tunggal pemilik OJS Group dan sejak kecil selalu merasa sendirian. Hingga datanglah sosok Kun yang selalu menemaninya kemana saja, mendengarkan keluh kesah, curahan hati, dari mulai masalah perusahaan hingga masalahan pribadi. Sejak itulah Sehun menganggap Kun sebagai kakaknya. Awalnya Kun merasa keberatan, karena dia tidaklah sederajat dengan Sehun, dia hanyalah seorang bawahan. Namun lama kelamaan kini dia mulai terbiasa atas perlakuan istimewa Sehun padanya.

Kun mendongakkan wajah, menatap punggung Sehun yang nampak tegang. Sehun berbalik, menghadap Kun yang tengah menatapnya penuh tanya. "Aku butuh bantuanmu."

Di lain tempat, seorang wanita berparas cantik dengan bentuk tubuh bak model papan atas masuk ke dalam lift. Ditekannya angka sembilan untuk menuju tempat yang dituju. Lift terus melaju naik sampai pada lantai ke empat, lift tersebut berhenti. Pintu terbuka. Nampak seorang pemuda yang sangat dikenalnya tengah berdiri mematung, terkejut menatapnya.

"Apa kamu akan terus menerus berdiri di sana?" Wanita cantik nan memesona itu menaikkan sebelah alisnya.

Pemuda tadi tersadar dari keterkejutannya dan cepat-cepat ikut masuk ke dalam lift. Atmosfer di dalam sana tersebut terasa begitu tegang dan canggung.

"Lama tidak jumpa, Jeon Jungkook."

Sapaan wanita yang juga dikenalnya dengan sangat baik itu semakin menambah ketegangan Jungkook.

"Ya, Jihyun Noona."

Wanita cantik bernama Jihyun itu terkekeh kecil mendengar suara Jungkook yang terdengar tegang, "Tidak usah tegang begitu. Lagi pula aku tidak akan menggigitmu."

"Aku bukannya tegang, hanya saja---"

"Merasa bersalah? Takut?"

Jungkook terdiam sejenak, "Aku pikir kamu masih kecewa dengan keputusan Kakek, bukan?"

Jihyun menoleh pada Jungkook, matanya memanas, giginya menggretak, tangannya terkepal dengan kuat. Jihyun mencoba memasang wajah setenang mungkin. Menampilkan senyuman tipisnya. "Bukan hanya itu saja. Rasa sakit hatiku ini semakin menambah kekecewaanku, asal kamu tahu saja." Jihyun masih berusaha setenang mungkin.

"Ah, begitu kah?"

"Benar juga, aku baru ingat sesuatu. Ada yang ingin aku tanyakan padamu."

Jihyun dan Jungkook saling bertatap muka. "Kemana saja kalian saat upacara pemakaman ayahku?!" Kali ini Juhyun sudah tidak bisa lagi membendung emosinya.

Pintu lift terbuka tepat setelah Jihyun melemparkan pertanyaan yang merupakan fakta mengejutkan bagi Jungkook. Selagi Jihyun dan Jungkook saling adu tatap, tepat di hadapan mereka berdiri Wonwoo dan Saehyun yang baru saja keluar dari ruangan ayah Wonwoo.

"Jungkook?" itu suara Saehyun yang menyapa Jungkook dengan lembut.

Mendengar suara itu Jihyun maupun Jungkook sama-sama mengalihkan atensi mereka pada Saehyun dan Wonwoo.

"Sepertinya ini akan jadi reuni besar keluarga kita, bukan begitu?" pertanyaan itu Jihyun ajukan untuk Wonwoo yang memasang raut wajah angkuh seperti biasa.

"Begitu kah?"

***

Nayoung baru saja keluar dari ruangan operasi setelah hampir dua jam membantu proses kelahiran seorang ibu yang terpaksa harus operasi caesar karena ada masalah dalam kandungannya. Nayong melepaskan masker yang tadi digunakan sepanjang proses operasi. Dibelakangnya Mina dengan setia mengekor.

"Eonnie, seharian ini aku tidak melihat Saehyun. Kemana dia?"

"Mungkin dia sibuk. Ada apa?"

"Bukan hal penting, sih. Hanya saja ada yang harus aku tanyakan padanya."

"Coba saja kamu cek ke ruang kerjanya. Siapa tahu dia ada di sana."

"What?! Aku tidak sudi pergi ke tempat yang penuh dengan bau obat-obatan yang menyengat melebihi ruang kerja kita. Ditambah, kehadiran gadis menyebalkan itu!"

"Maksudmu Han Sunkyo?" Pertanyaan Nayoung hanya dijawab anggukan oleh Mina. "Astaga, apa kesalahpahaman kalian belum juga berakhir?"

"Urusanku dengannya tidak akan pernah usai kecuali dia pergi menjauh dari Manajer Park!"

Nayoung hanya bisa terkekeh mendengar penuturan Mina yang kelewat kekanakan. Mendadak Nayoung merasa kepalanya sangat berat. Pusing, mual dan kunang-kunang. Sekon berikutnya Nayoung kehilangan keseimbangan dan ambruk tepat di samping Mina.

"Eonnie!!!" pekik Mina.

Nayoung kini tengah berbaring di atas tempat tidur pasien. Matanya masih terpejam. Sebuah tangan menggenggam erat lengannya. Pemilik tangan itu tidak lain adalah suami Nayoung, Qian Kun. Entah kebetulan atau bukan, di saat yang sama Kun juga ada di rumah sakit yang sama dengan Nayoung. Dan tidak sengaja berpapasan dengan Mina dan beberapa suster lain yang melewatinya mendorong sebuah brankar dengan Nayoung terbaring di atasnya.

Di sinilah Kun berada sekarang, duduk setia mendampingi istrinya yang tengah terbaring tidak sadarkan diri. Wajah cemasnya tidak hilang sedikitpun. Pintu terbuka, tampak Mina datang bersama salah seorang dokter masuk ke dalam ruangan tempat Nayoung dibaringkan.

"Apa dia belum sadar juga, Kun-ssi?" Mina nampak khawatir.

"Iya," jawab Kun singkat tanpa mengalihkan perhatian dari sang istri.

Mina beralih pada seorang dokter senior di sampingnya. Lirikan mata Mina seolah memberitahu dokter tersebut untuk segera mengecek keadaan Nayoung.

"Aku akan coba memeriksanya terlebih dahulu."

Mina dan dokter senior yang dipanggil Manajer Park itu baru saja keluar dari kamar pasien membiarkan Nayoung beristirahat sejenak ditemani suaminya. Mina dan Manajer Park berjalan beriringan melewati koridor rumah sakit menuju ruangan masing-masing.

"Manajer Park, saya minta maaf karena sudah merepotkan Anda. Habisnya saya tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Dan kebetulan saja saya bertemu dengan Anda. Terimakasih atas bantuan Anda, Manajer Park," tutur Mina panjang.

"Tidak masalah, lagi pula sudah menjadi keharusan bagiku untuk membantu sesama, bukan? Terlebih dokter Lee adalah rekan kerjaku sejak pertama kali aku bekerja di sini."

Hening. Tidak ada perbincangan apapun lagi. Dalam diam sebenarnya Mina sedang berusaha mengendalikan rasa gugupnya dihadapan Manajer Park. Jantungnya berdegup tidak karuan. Sudah jelas sekali bukan kalau Mina menyukai pemimpin divisi pengelolaan obat baru rumah sakit Myungwoon, Park Bugeom.

Wajah gadis mungil itu tidak henti-hentinya memancarkan aura kebahagiaan karena bisa berjalan berdampingan bersama pangeran impiannya. Namun kebahagiaannya terpaksa harus punah begitu netranya menangkap sosok yang paling menyebalkan baginya. Saingan terbesarnya dalam menaklukan hati Bugeom, ialah Han Sunkyo.

Baru saja Sunkyo hendak memanggil Bugeom, datanglah seorang wanita cantik berpenampilan ala karyawan kantoran lengkap, bahkan caranya berjalan saja terlihat cantik. Wanita itu langsung menghampiri Bugeom begitu dia melihatnya.

Park Chanmi, nama wanita cantik itu berhenti tepat dihadapan Bugeom. Raut wajahnya yang begitu cantik berhasil membuat Mina terpukau.

"Biar aku tebak, kamu pasti lupa dengan janji kita, benar?"

Bugeom menampilkan senyuman manis sembari menatap tepat pada hazel Chanmi. Siapa pun yang melihatnya akan merasa sangat iri. Bugeom dan Chanmi terlihat begitu serasi. Melihatnya membuat Mina menundukkan kepala, hatinya mencelos melihat kedekatan Bugeom dengan wanita cantik bernama Chanmi ini.

"Kamu salah besar, aku baru saja akan menghubungimu. Tadi ada urusan mendadak sebentar. Tunggu aku di tempat parkir. Aku akan siap-siap dulu."

"Baiklah."

"Ah iya, Mina-ssi tolong terus pantau keadaan dokter Lee, dan sampaikan perkembangannya padaku."

"Baik, Manajer Park."

Sepeninggal Chanmi dan Bugeom, Mina masih terpaku ditempat dengan raut wajah sedih. Mina baru saja hendak melangkah namun langkah kakinya tertahan oleh suara orang yang sangat tidak ingin dia dengar.

"Kau kenal dengan wanita itu?" suara Sunkyo mengintrupsi pergerakan Mina.

"Mana aku tahu!" ketus Mina dan langsung bergegas meninggalkan Sunkyo.

"Dasar gadis kerdil!"

***

Sebut saja saat ini sedang terjadi reuni keluarga. Ya, sesaat setelah secara tidak sengaja bertemu di depan lift, Wonwoo, Jungkook dan Jihyun memutuskan untuk bertegur sapa di ruang kerja Wonwoo. Tentu saja, Saehyun lebih memilih untuk undur diri dari reuni ini. Bahkan dia baru tahu kalau Jungkook dan Wonwoo punya sepupu cantik macam Jihyun.

"Kemana saja kamu selama ini, Jihyun?" ucap Wonwoo mengawali perbincangan.

"Sejak kapan kamu peduli padaku?" Jihyun tidak mau kalah. Wanita itu duduk bersila dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Bersikap seangkuh mungkin.

"Noona bilang paman sudah tiada?" kali ini Jungkook yang bersuara.

"Ya, sekitar lima tahun lalu. Tidak lama setelah kakekmu meninggal," jawab Jihyun sekenanya.

"Noona, beliau juga kakekmu. Kakek kita," Jungkook menegaskan.

"Apa? Kita?!" Jihyun tertawa sarkas. "Sejak kapan pria tua bangka yang tidak punya hati itu adalah kakekku?!"

"Park Jihyun!" pekik Wonwoo

Jungkook memegangi tangan Wonwoo untuk menekan amarah kakaknya. Bisa dibilang ini adalah cara khusus yang mereka miliki sebagai kakak-beradik. Mengisyaratkan agar tutup mulut dulu.

"Sungguh, aku bahkan baru mengetahui kabar itu sekarang," Jungkook terdengar sedih.

"Saat itu kamu sedang di luar negeri. Wajar saja kalau kamu tidak tahu." Kali ini Wonwoo kembali buka mulut.

"Lalu kamu dan ayahmu? Kemana kalian saat kami membutuhkan uluran tangan kalian?" Dada Jihyun terasa sesak. "Disaat kami menderita, kalian malah menghilang seolah tidak peduli dengan kami!"

Wonwoo dan Jungkook sama-sama bungkam. Tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Jungkook melirik Wonwoo yang jelas-jelas tahu inti permasalahan keluarga besarnya yang tidak dia ketahui. Lima tahun lalu Jungkook memang masih di luar negeri, belajar di sana.

"Kenapa? Kalian tidak bisa membela diri lagi? Huh! Itulah dirimu yang sebenarnya. Pengecut!" Jihyun bangkit dari duduknya berbalik meninggalkan ruangan Wonwoo. "Kita lihat saja nanti, sampai di mana batas kesombonganmu itu, Jeon Wonwoo," ucapnya kemudian sebelum menghilang di balik pintu.

"Jangan tanyakan padaku. Tanyakan sendiri pada Ayah!" Seakan tahu maksud tatapan Jungkook, buru-buru Wonwoo menyela sebelum Jungkook mulai menanyainya hal yang tidak-tidak.

Saehyun baru saja keluar dari pintu utama Jeon Group dengan kedua tangan yang penuh dengan tas belanjaan. Kalau saja tadi tidak ada reuni mendadak, mungkin Wonwoo akan mengantarnya pulang. Ya, setidaknya dia tidak harus serepot ini.

Sebuah mobil Audy hitam berhenti tepat di hadapannya. Kaca mobil tersebut terbuka lebar, menampakkan sosok pemuda tampan dengan cengiran kuda khasnya, Kim Taehyung.

"Taehyung?" Saehyun mencoba memastikan penglihatannya.

"Ayo naik, aku antar kamu pulang!" ajak Taehyung ramah.

Di perjalanan keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Taehyung lebih memilih fokus menyetir sedangkan Saehyun bergelut dengan pikirannya sendiri. Tahu dari mana dia kalau aku ada di kantor Wonwoo, batinnya.

"Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa aku bisa tahu kalau kamu ada di sana, kan?"

Mata Saehyun membulat mendengar penuturan Taehyung. Malah sempat berspekulasi bahwa Taehyung bisa membaca pikiran orang.

"Aku tidak bisa membaca pikiran orang lain. Jangan khawatir."

"Heol?! Kamu bahkan tahu apa yang sedang aku pikirkan, jadi itu apa namanya kalau bukan---"

"Semua orang pasti akan berpikir seperti dirimu kalau berada diposisimu sekarang ini, dasar bodoh!" Ejek Taehyung sambil tersenyum ramah. "Jungkook yang memberitahuku dan memintaku untuk mengantarmu pulang. Kamu tahu, aku sudah sekitar tiga puluh menit menunggumu," jelas Taehyung panjang lebar.

Mendengarnya membuat Saehyun menyadari betapa besarnya perhatian Jungkook untuknya. Berbeda sekali dengan Jeon Wonwoo. Padahal mereka sedarah, tapi tidak sama. Seharusnya Wonwoo yang lebih memperhatikannya, karena faktanya dia adalah calon suaminya. Dasar manusia berhati es, batin Saehyun.

Setelah perdebatannya dengan kedua sepupunya, Jihyun lebih memilih untuk pergi ke club malam dibandingkan menyapa keluarganya yang sudah lama tidak dia jumpai. Berkali-kali ponselnya menyala menampilkan nama 'Park Jimin', adiknya yang terus menghubunginya. Bahkan puluhan pesan singkat dari adiknya dia hiraukan.

Hatinya kesal. Emosinya memuncak. Jihyun lebih memilih untuk menyendiri dibanding harus pulang ke rumah dan bertemu adik serta ibunya. Dia tidak mau kesedihannya semakin dalam saat melihat wajah ibunya yang malang.

Dan disinilah Jihyun berada. Duduk di depan seorang bartender tampan yang sedang menyajikan berbagai minuman beralkohol untuk pengunjung yang datang. Bartender bernama Hoseok itu menyajikan segelas whisky pada Jihyun sembari tersenyum ramah.
"Thankyou," ucap Jihyun sambil mengangkat gelas berisi whisky tersebut.

Di sampingnya duduk seorang pemuda tampan berbalut jas hitam. Aroma parfume-nya yang menyengat, mampu mengalihkan perhatian Jihyun untuk menatapnya. Sadar akan tatapan wanita di sampingnya, pemuda itu membalas tatapan Jihyun diiringi senyum yang menawan.

"Sendiri saja?" tanyanya kemudian melihat Jihyun yang duduk seorang diri jauh dari keramaian.

"Menurutmu?" Jihyun tersenyum manis menanggapi pertanyaan pemuda itu.

"Berdua. Karena sekarang aku akan menemanimu."

Jihyun berdecak geli mendengar penuturan pemuda yang sepertinya sebaya dengannya itu. "Aku bahkan tidak tahu namamu, tapi kamu dengan percaya dirinya mengatakan itu."

Sejurus kemudian, pemuda itu menjulurkan tangannya pada Jihyun, "Oh Sehun. Senang berkenalan denganmu, Cantik." Kerlingan mata Sehun membuat Jihyun menyambut uluran tangan Oh Sehun.


*to be continued*


Yeay! Part 2 sudah jadi. Dan ada nama-nama karakter baru yang muncul!
Semakin menambah ramai ini fanfiction, kan kkkk
Awal pertemuan Jihyun dan Sehun, bakal ada apa nih kkkk
Meski absurd, tapi di harap review-annya ya...

Salam,

pockytn

(apelijo)

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro