Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Not Finished Yet - Chapter 5

Happy reading

Hope you like it

❤❤❤

______________________________________________

“Pegangan aku, Na. Entar kamu jatoh,” titah Sam ketika aku merangkak naik mogenya dan lebih memilih bersedekap dengan muka cemberut macam paruh bebek.

“Nggak, makasih,” jawabku ketus. Semata-mata untuk menyembunyikan rasa takutku.

Membayangkan sewaktu-waktu mungkin saja seseorang yang mengenalku sebagai tunangan Arsen melihatku merangkul Sam, lalu mengabari cowok itu dan akhirnya menimbulkan kesalah pahaman. Atau parahnya lagi, kolega mama yang keberadaannya mirip paparazi akun lambe-lambean, terselubung tetapi ada di mana-mana, mengetahui aku kabur dari acara pingit-memingit. Jadi, kututupi wajahku menggunakan tas selempang supaya aman.

Untuk alasan lain, aku takut debaran jantungku yang masih belum bertabuh normal bisa dirasakan oleh Sam. Jangan sampai cowok itu ge er. Bisa gelenjotan dia, free style di atas moge. Kan nggak lucu.

Ah, lupakan alasan-alasan itu. Sepertinya aku memang harus menelepon Arsen supaya tidak salah paham. Mungkin setelah pembicaraanku dengan Sam rampung, dia bisa menjemputku.

Namun, sebelum berhasil meraih ponsel dalam tas selempangku, Sam melajukan mogenya terlalu kencang sehingga hampir menerbangkanku ke jalan raya. Dengan amat terpaksa, aku meraih jaket denim belel cowok itu dan mulai mengomel. “Apaan sih, Sam? Jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan dong!”

Kurasakan punggung cowok itu bergerak naik-turun karena tertawa. “Nana ... Nana .... Ternyata kamu masih galak kayak biasanya.”

“Dan kamu masih suka ngebut kayak biasanya! Bahaya tahu! Kamu boncengin anak orang, Sam. Bukan kubis. Silakan ngebut kalau sendirian. Kalau sama aku, jangan!” protesku tak mau kalah. Kutimpuk helm bagian belakangnya menggunakan tas selempang kecilku sebelum kembali menggunakannya untuk menutupi wajah.

Sam berusaha menghindar dengan menunduk sejenak lalu tegak kembali. “Kirain boncengin bayi gorila yang lagi ngambek, Na.”

“SAM!” Sekali lagi kutimpuk helm cowok itu menggunakan tas selempangku.

Dan lagi-lagi Sam sedikit menghindar. “Kalau nggak cepetan sampai lokasi, bakalan makin mepet waktu ngobrol kita.”

“Terserah. Pokoknya cuma lima belas menit. Nggak lebih!” peringatku.

Sam melepas kopling secara perlahan  dari stir kirinya untuk meraih tanganku yang secara terpaksa masih melingkari jaketnya. Lalu diubahnya menjadi melingkari perutnya. Kekuatan Sam mengalahku kekuatanku. Jadi, aku tidak bisa melawannya.

“Kalau gitu, pegangan yang kenceng, Na. Soalnya aku mau jadi Valentino Rosi.”

“Dasar tukang modus!”

“Hahaha ....”

Duh Tuhan. Bisa-bisanya di saat sekarang aku beranggapan bahwa suara tawa Sam sangat renyah di antara bisingnya kendaran yang berlalu-lalang di sekitar kami. Bisa-bisanya pula aku menikmati semua itu, lengkap beserta aroma maskulin cowok yang kelihatan jauh lebih gagah dari beberapa tahun silam.

Setelah tawanya tuntas, Sam berkata, “Na, aku kangen kita kayak gini.”

Kutekuk wajahku kian dalam lagi. “Jangan ngomong aneh-aneh. Salah sendiri kamu ninggalin aku waktu itu. Sekarang aku udah mau nikah. Nyesel ‘kan kamu? Nggak tahu malu kamu tuh, Sam!”

“Enggak kok. Aku nggak nyesel sama sekali ninggalin kamu waktu itu.”

Jantungku seperti dihantam galaxy milky way. Jadi, Samudra Atlantis sama sekali tidak menyesal karena telah meninggalkan Florentina Cattleya yang kata orang: cantik, imut, manis, gemesin dan kinyis-kinyis ini tanpa alasan apa pun?

Oke. Sepertinya aku yang bodoh bin tolol bin bahlul kuadrat karena mau-mau saja diperalat cowok bajingan seperti dia. Keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama. Sedangkan aku? Rasanya berkali-kali dikelabuhi Sam, tetapi masih tak mampu melawan. Fix, ibarat keledai, akulah yang paling dungu.

Lalu apa gunanya kami berkendara entah ke mana untuk membicarakan alasannya meninggalkanku kalau dia saja tidak menyesal karena telah melakukannya?

Sumpah, maunya apa sih cowok ini? Pernah menjadi pacarnya selama berabad-abad rupanya masih tak bisa membuatku membaca ke mana arah pikirannya.

Namun, dalam hal ini, aku pun tak bisa melakukan apa pun kecuali membiarkan tanganku terus melingkari perut Sam sebagai pegangan. Padahal tangannya yang menggenggamku tadi sudah kembali melingkari stir supaya lebih fokus menjadi Valentino Rosi dadakan yang bisa menyalip berbagai macam kendaraan di tikungan yang tajam hingga mogenya berhenti di D’ Chocolate Heaven.

Aku tertegun. Bukan karena malas melihat segerombolan orang yang memesan kue—kendati itu juga termasuk. Namun, karena tercenung lantaran Sam masih mengingat tempat kesukaan kami sewaktu masih pacaran dulu. Apa sih maksudnya? Dia mau menyogokku supaya alasan yang dikarang-karangnya itu bisa kuterima?

Sorry, nggak bakalan!

“Untung aku sempet reservasi duluan. Yok masuk, Na.”

Lagi-lagi aku menurut ketika Sam menarik lenganku lalu mendorong punggungku supaya masuk dan duduk di tempat yang sudah dia reservasi.

“Sambil pesen dulu ya, Na. Aku belum sempet sarapan tadi.”

Memangnya itu urusanku?

Pacsa dia memesan donat khas Belanda dan kopi kesukaannya, aku menodong, “Cepet jelasin alasan kamu pergi yang nggak pernah kamu sesali itu.”

Bodo amat kalau nada bicaraku terdengar ketus. Seharusnya aku menelepon Arsen dan memintanya menjemputku sekarang. Lalu memohon maaf karena berani-bernainya menemui cowok ini lagi di masa pingitan.

Kutatap Sam yang mengerutkan kening. Wajah yang selalu selengean itu kini berubah serius. “Na, aku nggak nyesel ninggalin kamu karena aku udah sembuh sekarang.”

“S-sembuh?” tanyaku mulai gelagapan. Aku mulai bisa menganalisa ke mana arah pembicaraan Sam.

Narkoba.

Samudra Atlantis merupakan korban broken home. Dia menggunakan merijuana sebagai self harm karena suatu kebetulan orang tuanya berada. Jadi, dia mampu membeli barang yang konon katanya mahal itu dengan mudah. Lalu berpesta bersama teman-temannya yang sama-sama senasib dengannya.

Mungkin orang akan mengataiku sangat bodoh karena mencintai cowok pemakai seperti Sam. Namun, mereka tidak tahu bagaimana Sam. Dia butuh dukungan dan aku memberikannya penuh. Lalu secara perlahan-lahan dia mulai melupakan keberadaan marijuana.

Bukannya aku mencintainya karena rasa kasihan. Sama sekali bukan. Aku mencintai Sam karena dia selalu menjadikan hari-hariku lebih berwarna dengan tingkah lakunya yang unik. Cinta yang tulus dan murni tanpa embel-embel lain. Namun, itu dulu. Kupastikan itu dulu.

“Iya, Na. Emang waktu kita masih pacaran, aku udah mulai jarang nyentuh barang itu. Tapi suatu ketika, datanglah seorang ibu-ibu yang nggak rela anaknya kupacarin gara-gara itu.”

“A-apa? Maksud kamu, Ibu-ibu itu mamaku? Dari mana mama tahu kalau kamu pemakai?” tanyaku tak percaya.

“Wajar sih, Na. Orang tua mana sih yang mau anak gadisnya temenan sama orang toxic kayak aku? Tante Nisrina pasti nyari tahu soal aku-lah. Beliau bilang kalau aku nggak sembuh, aku nggak boleh sama kamu. Rasanya omongan itu kayak nyadarin aku, Na. Jadi, aku baru aja niat buang barang itu, tapi nggak tahu gimana ceritanya tiba-tiba polisi nyergap markasku sama temen-temen. Terus aku ketangkep dengan barang bukti.

“Papa yang tempramen tinggi dan abusive marah besar waktu dapet telepon dari polisi tentang aku. Terus semua alat komunikasiku disita. Aku dihajar habis-habisan sebelum dipenjara. Setelah beberapa bulan, mama yang nggak pernah peduli sama sepak terjangku tiba-tiba bayar dendaku dan ngajuin rehabilitasi. Jadi, aku rehab selama dua tahun setelahnya karena kasusku lumayan berat. Ada campur tangan broken home juga. Dibantu sama psikiater andal.

“Dan selama rehab, aku selalu mikir gimana caranya aku bisa bahagiain kamu kalau aku aja kayak gini? Nggak kerja, lontang-lantung nggak jelas kayak yang mama kamu bilang. Bisanya cuma ngabisin duit orang tua yang nyatanya nggak abis-abis.

“Jadi, aku bertekat sembuh, Na. Tante Nisrina bener-bener nyadarin aku. So, aku nggak nyesel sama sekali udah ninggalin kamu waktu itu. Karena aku udah sembuh, bahkan mulai bangun usaha kafe. Aku udah bisa hidupin keluarga kita kayak cita-citamu loh.

“Tapi, kayaknya aku udah telat. Satu-satunya yang bikin aku nyesel: kenapa aku harus makai barang itu? Masa depanku rusak. Mungkin kalau orang tuaku miskin, aku nggak bakalan bisa keluar dari penjara dan rehab. Kalau aku enggak makai, aku pasti bakal bisa sama kamu terus, Na.”

Lututku lemas tak kira-kira. Tahu-tahu, air mataku sudah terjun bebas dengan sendirinya membasahi kedua pipiku. Aku menepisnya kasar sambil menoleh ke samping sebab tak sanggup menatap Sam. Dan setelah kupikir-pikir, pantas saja tubuhnya lebih berisi, rupanya dia sudah sembuh.

“Nggak apa-apa kok, Na. Mungkin belum jodoh kali ya. Gimanapun juga, aku justru harus ngucapin makasih banyak sama mama kamu. Oh ya, untuk urusan dekor kafe, sebenernya aku serius, Na. Tolong bantu dekor ya?” imbuhnya.

Dan kini aku kacau. Marah pada keadaan. Ingin marah pada mama juga karena bisa-bisanya tidak menceritakan hal sepenting itu padaku. Padahal mama tahu sendiri bagaimana sepak terjangku saat Sam pergi tanpa kabar. Lalu dengan akting yang sangat luar biasa, beliau menyalahkan cowok itu seolah-olah Sam memanglah bajingan sejati.

Bermenit-menit tadi aku masih berpikir hubunganku dengan Arsen akan baik-baik saja. Namun, pada detik ini, Samudra Atlantis telah sukses membawa misi ajaibnya untuk menjungkirbalikkan isi dalam tempurung kepalaku dan mengaduk-aduk isi hatiku.

_____________________________________________

Thanks for reading this chapter

See you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro