Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

(1) Sahabat Berisik

“Lima… empat… tiga… dua… sa—tu.”

Pekikan para siswi seketika terdengar di seluruh penjuru SMA Star High School, tepat setelah seorang siswa keluar dari mobil sport warna hitam. Adrian Prayoga, the most wanted di SMA SHS. Hampir setiap pagi Yara menyaksikan hal ini. Dan ketika mobil yang sudah tidak asing lagi di kalangan siswi SMA SHS itu melewati gerbang, maka Yara akan menghitung mundur sebelum terjadi kehebohan seperti saat ini.

“Hufft… seperti biasa, peran utama selalu menjadi pusat perhatian.” gumam Yara sambil memperhatikan kejadian tersebut dari lantai atas.

Waktu menunjukkan pukul 06.55, itu artinya lima menit lagi bel masuk akan berbunyi. Namun pusat kehebohan masih terjadi di area parkiran. Bosan dengan pemandangan di bawah, Yara berbalik ingin masuk ke dalam kelasnya, XII IPS 1. Namun tertunda karena ia tak sengaja melihat objek yang beberapa hari terakhir ini selalu ia lihat sedang memarkirkan motor sport warna merah.

Yara belum mengalihkan perhatiannya hingga si objek berlalu pergi bersama seseorang sambil tertawa.

“Dia… siapa ya?” gumam Yara bertanya, lebih tepatnya kepada diri sendiri.

****

Yara memutar bola matanya malas, jengah mendengar rengekan sahabatnya. Tiga puluh menit yang lalu sahabatnya itu datang ke dalam kelasnya dan merengek seperti anak kecil. Kegiatan belajar mengajar memang ditiadakan karena hari ini akan ada pertandingan basket antar sekolah yang di laksanakan di SMA SHS.

“Ayo, Ra… ntar kita ketinggalan terus nggak dapet tempat paling depan.” rengek Nabila.

Yara berhenti dari aktivitas menggambarnya dan mendongak untuk melihat sahabatnya yang berdiri di depan mejanya. Kalau bukan sahabatnya sejak SMP, mungkin Yara sudah melempar dengan bukunya itu. Berisik sekali.

“Nggak usah lebay deh, Bil… pertandingan dimulai itu masih tiga puluh menit lagi.”

Nabila atau biasa dipanggil Bila, mengubah posisinya menjadi duduk di samping Yara.

“Ra, lo tahu kan kalau gue ngefans sama Adrian? Jadi kita harus duduk paling depan biar Adrian bisa lihat gue pas gue triakin nama dia nanti.” ucap Bila yang senyum-senyum membayangkan betapa senangnya ia nanti jika Adrian memandangnya.

Yara bergidik melihat sahabatnya yang senyum-senyum tidak jelas “Mulai deh ngayalnya… eh, Adrian aja nggak tahu kalau ada seorang Nabila di dunia ini.”

Bila mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Yara “Jahat banget sih, lo. Pokoknya nggak mau tahu, sekarang juga kita ke lapangan basket.” Bila berdiri dan menarik-narik tangan Yara.

“Aduhh… Bila, sabar kenapa sih, ini gambar gue belum selesai.”

Bila merebut buku Yara dan menutupnya.

“Udah, ntar lo selesaiin aja di sana. Nih, bawa aja buku lo. Ayo, cepet.” ucap bila sambil menyerahkan buku dan menarik lengan Yara keluar kelas.
“Pelan-pelan, Bila.”

“Nggak ada waktu lagi ntar keburu penuh tempatnya.”

Huuffttt …. Sahabatnya ini terlalu bersemangat kalau sudah berhubungan dengan seorang Adrian. 
****

“Bila, lo bisa pelan-pelan nggak sih jalannya? Tangan gue sakit, nih, lo tarik-tarik.”

“Ayyara Karenina, lo jalannya lelet banget tahu nggak, kayak siput. Kalau nggak cepet-cepet ntar kita nggak dapat tempat duduk paling depan.” dumel Bila yang menarik lengan Yara di sepanjang koridor lantai satu.

“Tapi nggak usah kayak gini juga. Gue berasa kambing tahu nggak, lo Tar--.”

BUG…

Aarkh…

Ucapan Yara terhenti ketika bahu kirinya ditabrak orang saat di persimpangan koridor.

“Sorry-sorry… gue nggak sengaja.” ucap seseorang yang menabrak Yara.

“Aduuhhh… Bintang jatuh! Lo tuh punya mata nggak sih?” bukan Yara yang menjawab, melainkan Bila.

Sedangkan Yara masih sibuk mengusap bahunya yang sedikit berdenyut tanpa mengalihkan pandangannya dari orang yang menabraknya.

Bintang mengambil buku yang jatuh di depannya “Namanya juga nggak sengaja. Nama gue Bintang Pradana, enak aja main ganti-ganti. Nih, buku lo.” Bintang menyerahkan buku kepada Yara.

“Ha? O-oh. Makasih.” jawab Yara gugup.

Bila menaikkan sebelah alisnya bingung “Yara, sejak kapan lo jadi gagu?” seakan teringat sesuatu, bila menepuk jidatnya, “ya ampun, kita kan mau ke lapangan basket. Gara-gara lo nih, dasar Bintang jatuh.”

“Kenapa jadi nyalahin gue? Lo juga jalannya nggak bener.”

“Sstt… berisik! Yara, ayo.” Bila kembali menarik tangan Yara.

“Ehh… yayang Bila mau kemana, sih? Buru-buru amat.” Bila memutar bola matanya malas terhadap laki-laki yang menghadang jalannya.

Bila tersenyum manis, lebih tepatnya tersenyum paksa “Eh, ada Gilang. Tadi nggak ada kok sekarang tiba-tiba nongol kayak dedemit.”

“Astaghfirullah… yayang Bila jahat banget sih, dari tadi abang di samping Bintang. Masa, nggak kelihatan muka ganteng abang?”

Bila memandang Gilang tajam “Gilang, lo udah pernah ngrasain sepatu melayang ke muka lo?”

“Belum, emang kenapa yayang Bila?”

Bila siap-siap melepas sepatunya

“Pergi dari hadapan gue sekarang, sebelum lo bener-bener ngrasain SEPATU MELAYANG KE MUKA LO! DAN JANGAN PANGGIL GUE YAYANG. GUE BUKAN YAYANG LO.” triak Bila kepada gilang yang sudah lari terbirit-birit.

Sedangkan Yara dan Bintang yang menjadi penonton menutup kedua telinganya mendengar triakan Bila.

“Toa banget, sih, lo.” ucap Bintang yang berlalu melanjutkan perjalanannya menuju kantin yang sempat tentunda karena insiden tak terduga itu.

“Bodo amat! Temen lo tuh, nyebelin.”

“Lo kenal sama cowok itu?” tanya Yara yang baru membuka suara sedari tadi.

“Siapa, Bintang?” Yara mengangguk, “dia temen sekelas gue, nyebelin orangnya.”

Bila memang tidak sekelas dengan Yara. Dia berada di kelas XII IPS 2.

“Kok nggak pernah lihat kalau gue ke kelas lo?”

“Wajar, dia kan nggak terkenal kayak Adrian.”

Bila kembali menarik lengan Yara “Yaudah yuk ah, keburu nggak kebagian tempat.

****

Sorak sorai terdengar di lapangan basket indoor yang sudah ramai oleh pendukung dari masing-masing sekolah. Para pendukung dari kedua kubu pun menyerukan nama sekolah mereka masing-masing. Yang paling terdengar adalah seruan nama sang kapten basket SMA SHS. Adrian.

Kini para anggota tim basket sedang melakukan pemanasan yang membuat para fans semakin heboh.

“Yahh… tuh kan yang paling depan penuh. Lo sih, Ra.” Bila yang baru datang bersama Yara merasa kesal karena tempat yang diinginkan penuh.

“Ya udah, sih. Tuh yang nomor tiga dari depan masih. Duduk situ aja.”

“Huufft… ya udah deh, yuk!” Bila dan Yara menuju tempat duduk dimaksud Yara tadi.

“Ra, Ra… itu Adrian keren banget….” Bila mengguncang lengan Yara dan hampir menjatuhkan permen lolipop yang sedang Yara buka bungkusnya.

“Bila… lo bisa biasa aja nggak, sih. Kalau sampai permen gue jatuh, gue suruh ganti satu bok.” ucap Yara lalu memasukkan lolipop ke dalam mulutnya.

“Ih, Yara, lo lihat dulu itu… Adrian ganteng banget.” Bila menangkupkan tangannya ke muka Yara dan mengarahkannya ke arah tengah lapangan.

Kalau dilihat-lihat memang benar kata Bila, Adrian itu tampan. Dengan tinggi 187 cm, mata tajam dengan bola mata berwarna coklat gelap dihiasi alis yang tebal, bibir mungil yang tebal membuatnya sangat tampan. Yara juga tak menampik jika Adrian memang pantas menjadi most wanted SMA SHS.

Priitttt…

Suara peluit menandakan jika pertandingan dimulai. Selama pertandingan nama Adrian yang paling sering di serukan. Skill basket Adrian memang tidak bisa diragukan lagi. Bahkan baru beberapa menit pertandingan ia sudah mencetak empat poin.

Jika Bila sibuk menyerukan nama Adrian, maka Yara sibuk dengan buku di tangannya. Sesekali Yara akan melihat kearah lapangan dan kembali fokus pada bukunya.

“ADRIAN SEMANGAT….” Yara menghentikan aktifitasnya lalu mengusap telinganya yang terasa pengang.

“Bila! Nggak usah triak di kuping gue bisa kan?”

“Hehehe… Sorry, gue terlalu semangat.” Yara mendengus kesal.

Babak pertama selesai, dengan poin SMA SHS yang lebih unggul. Para anggota tim basket sedang istirahat sambil menyiapkan strategi untuk babak selanjutnya.

“Dasar cabe keriting, caper banget, sih, sama Adrian.” Yara mengerutkan kening mendengar gumaman Bila yang tampak kesal.

“Lo kenapa, sih?”

“Tuh, lihat. Caper banget tahu nggak, sok-sok’an ngasih minum ke Adrian. Dasar modus.” Bila mengepalkan tangannya geram melihat pemandangan yang membuatnya sakit mata.

Yara mengikuti arah pandang Bila “Dia bukannya ketua cheer ya… emm siapa namanya?”

“Baby.” Jawab Bila tak ikhlas.

“Ah iya, Baby… emang cantik sih, cocok sama Adrian.”

Bila menganga tak terima “Yara! Kok lo berkhiatan, sih.”

Yara terkekeh geli “Becanda, Bila sayang.” Yara merangkul pundak sahabatnya yang sedang ngambek, “gue tetep dukung lo kok.”

Bila tersenyum manis “Nah, gitu dong. Ntar gue beliin lolipop selusin.”

“OKE.” Lalu keduanya tertawa bersama.

****


Akhirnya update.

Salam Penulis Amatir

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro