Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 3 : Eins

"Kau mau menyaingiku?" tanya Shinsou ketika Dorothea melangkah memasuki kelas. Gadis itu memutar matanya. Tahu pasti yang kawannya itu maksud adalah kantung mata hitam yang dia dapat karena gagal tidur semalaman

"Selamat pagi juga, Shinsou," ucapnya datar sembari duduk di mejanya. Tangan sibuk membenarkan gulungan rambut yang acak-acakan.

Dia bangun terlambat hari ini. Jadi gadis itu hanya menggulung rambutnya asal-asalan. Dorothea tidak mau ketinggalan kereta. Alhasil, rambutnya menjadi mirip sarang burung.

Dorothea melepaskan tusuk rambutnya dengan hati-hati. Tepat saat itu, sebuah suara menyapanya.

"Wah! Itu asesori yang bagus, Dorothea-chan!"

Hikaru mendekatinya mejanya dengan senyum lebar. Tanaka mengikuti di belakangnya. Dia mengamati tusuk rambut Dorothea yang terbuat dari logam hitam. Ada hiasan batu mulia berwarna merah gelap yang dipeluk ornamen berbentuk burung gagak.

"Iya, itu terlihat antik," puji Tanaka. "Sepertinya lebih tua daripada yang Ayah jual di toko. Cantik sekali."

"Oh, terimakasih," ucap Dorothea mendengar pujian. Dia mengambil dan menyematkan tusuk itu ke rambutnya.

"Ini pemberian Ibuku."

Hikaru masih tersenyum. Namun kali ini, ada ekspresi yang sedikit berbeda di wajahnya.

"Dorothea-chan? Kau baik-baik saja?"

Khawatir.

Ekspresi itu khawatir.

Dorothea jarang mendapat ekspresi itu selain dari orang tuanya. Tidak pernah dari temannya.

Ya, kamu dari awal juga tidak punya banyak teman.

Dorothea menggigit bibir. Berusaha menghapus pikiran itu. Kemudian memasang senyum kepada Hikaru.

"Aku baik," jawabnya singkat. "Oh, Tanaka, kau bilang Ayahmu menjual tusuk rambut?"

Laki-laki berambut gondrong hitam di depannya memandang heran. Tahu pasti bahwa Dorothea baru saja mengalihkan pembicaraan. Akan tetapi, dia tetap menjawab pertanyaan gadis itu.

"Ayahku mempunyai toko barang antik. Banyak tusuk rambut tua yang dia jual."

Tanaka mulai bercerita tentang tokonya. Hikaru menambah komentar disana-sini dengan antusias. Akan tetapi, Dorothea sulit mengikuti. Pikiran sang gadis sendiri masih berantakan. Terlebih ketika matanya menangkap wajah yang berdiri di sudut kelas.

Ah, bukan.

Yang melayang di sudut kelas.

Rambut Putih.

Dan Dorothea teringat pembicaraan mereka semalam.

***

Flashback

"Oke kembali ke awal," bisik Dorothea. "Kau bilang U.A. akan diserang?"

"Bukan U.A. juga..." kata Rambut Putih. "Hanya satu kelas, dan itu akan dilakukan di USJ."

"Universal Stu—"

"Unforeseen Simulation Joint" sela si hantu. Mukanya tampak tidak sabar. "Itu tempat siswa melakukan latihan penyelamatan."

"Latihan penyelamatan," gumam Dorothea. "Pasti Prodi Pahlawan."

Si Rambut Putih mengangguk-angguk. "Jadi, kau harus—"

"Tunggu dulu, darimana kau tahu informasi ini?"

"Saat kau adalah hantu, menggali informasi tanpa terdeteksi bukan hal yang sulit."

"Dan mereka ingin membunuh All Might? Bukankah dia Pro Hero nomor satu Jepang? Apa dia bisa dikalahkan begitu saja?"

Rambut Putih tampak ragu. "Dia sudah... tidak sebugar dulu."

"Dan mereka punya makhluk ini, Nomu, kekuatannya menyaingi All Might."

Makhluk dengang kekuatan menyaingi Pro Hero nomor satu? Batin Dorothea. Dan ada di tangan penjahat. Ini bukan main-main.

"Memang apa yang bisa kulakukan?" tanya Dorothea ragu.

"Kau bisa memperingatkan mereka! Katakan apa yang akan terjadi!"

"Tapi apa yang harus kukatakan? Menurutmu guru-guru akan percaya begitu saja?"

Rambut Putih termenung. Sepertinya dia belum memperhitungkan hal ini. Dorothea mendesah pelan.

"Tapi kita tidak bisa hanya diam!"

"Hei! Ini rencanamu! Jangan tarik aku sebelum aku setuju!"

"Kau tidak mau membantu?"

"Kenapa harus aku?"

"Karena kau satu-satunya yang bisa mendengarkanku!"

"Kenapa tidak kau lakukan sendiri?"

"Aku sudah mencoba! Tapi tanganku tidak bisa memegang pensil selama itu!"

"Bagaimana jika aku menolak?"

"Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi? Tidak kah kau mau menjadi Pahla—"

"AKU TIDAK MAU MENJADI PAHLAWAN!"

Sosok di depannya terkejut mendengar bentakan itu. Rambut Putih bahkan melayang mundur secara tidak sadar. Mata kanannya terlihat dari sela-sela poni putih. Mengerjap bingung.

"Aku tidak mau menjadi Pahlawan," ulang Dorothea. Volumenya menurun.

"Baiklah," desah Rambut Putih. "Tapi, bagaimana jika salah satu dari murid terluka, mereka seumuranmu, kan?"

Napas Dorothea tersekat. Dia menggigit bibir bawahnya. Ya, dia tidak mau menjadi Pahlawan. Tetapi itu bukan berarti dia mau ada anak yang terluka. Mereka punya keluarga. Pasti sedih jika sesuatu terjadi pada mereka.

"Baiklah," bisik Dorothea. "Aku—aku akan coba lakukan sesuatu."

Rambut Putih tersenyum. Hampir tidak terlihat. Sudut bibirnya terangkat sedikit sekali.

"Akan kukatakan apa yang kutahu."

***

"Kau akan melakukannya sekarang?"

"Bersabarlah," desis Dorothea. Bel pulang baru berbunyi beberapa menit lalu. Namun kelas sudah sepi.

"Kau bilang apa?"

Hampir sepi.

Dorothea menoleh. Memberikan senyuman lemah. "Bukan apa-apa, Shinsou."

Laki-laki itu mengangkat alis. Sepertinya tidak percaya pada perkataan lawan bicaranya. Dia menggaruk rambut indigonya dengan canggung.

"Kau tampak terganggu hari ini, kau yakin kau baik-baik saja?"

Dorothea memberi anggukan kecil. Dia melirik Rambut Putih yang melayang di dekat Shinsou. Mulutnya bergerak membentuk kata 'cepat' tanpa suara.

"Yep, seratus persen baik," kata Dorothea sembari memasukkan buku terakhirnya ke dalam tas selempang. "Kau bisa duluan, aku masih ada urusan."

Mata violet Shinsou tampak berkilat penasaran. Namun dia tidak mengucapkan apapun lagi. Melambaikan tangannya kemudian keluar dari kelas. Dorothea menarik napas panjang.

"Oke," bisiknya pada Rambut Putih yang melayang mendekat.

"Bantu aku mencari guru."

***

Setelah berkeliling selama lima belas menit. Dorothea hampir menyerah.

Dia merutuki dirinya sendiri karena lupa dimana ruang guru berada.

Lagipula U.A. itu besar. Mungkin kata gargantuan bisa dipakai untuk mendeskripsikannya. Bukan salah Dorothea kalau dia tersesat. Dia tidak punya arahan. Dia bukan merpati.

Untung saja, ketika dia melewati koridor untuk yang kedua kalinya, dia melihat rambut kuning nyentrik Present Mic. Dia sedang mengobrol dengan seorang... gembel? Rambutnya hitam panjang. Dan dia memakai semacam syal di lehernya.

"Akhirnya!" seru Rambut Putih. Dorothea mau tidak mau setuju dengan perkataan itu.

Semakin cepat aku memberitahu, semakin cepat aku angkat tangan dari masalah ini.

"Mic-sensei!" Kata itu masih terasa asing keluar dari mulut Dorothea. Dia biasa memanggil guru dengan sebutan 'Mister' atau 'Miss'. Kata 'Sensei' belum terbiasa dia pakai.

"Oh, little listener!" ucap Present Mic saat Dorothea sudah mendekat. "Kau masih di sini?"

"Kenapa kau belum pulang, nak?" tanya si gembel. Present Mic menyikutnya.

"Shouta, kau menakutinya!"

Si gembel—Shouta?—mendengus. Dorothea mengamati interaksi mereka berdua. Mereka saling kenal. Apa Shouta ini guru juga?

"Uh, itu," Dorothea menggaruk lehernya. "Apa aku bisa bertemu Kepala Sekolah? Ini penting."

Present Mic memandang simpati. "Maaf, Dorothea. Nezu sangat sibuk. Tapi kau bisa mengatakannya pada kami. Aku dan Aizawa-sensei disini bisa membantu!"

"Jangan tarik aku dalam masalahmu," gerutu guru yang satunya.

Dorothea menggigit bibir. Matanya melirik Rambut Putih yang melayang di belakang kedua guru di depannya.

Dia memberi anggukan.

Baiklah.

"Penjahat akan menyerang USJ."

Diam.

Present Mic dan Aizawa sama-sama mengedipkan mata.

"Hei, nak, apa-apaan—"

"Kalian akan melakukan latihan penyelamatan, kan? Dilakukan di Unforeseen Simulation Joint. All Might akan ada di sana, benar?"

Aizawa terdiam. "Dan kalau itu benar, apa tujuan penjahat itu?"

"Membunuh All Might."

Diam lagi.

Dorothea memainkan jarinya.

"Mereka punya, uh, makhluk ini, Nomu. Kekuatannya setara dengan All Might."

Masih diam.

Dorothea angkat bicara lagi.

"Dan—dan penjahat ini, uh, mereka bagian dari organisasi. Ketuanya memiliki quirk disintregrasi. Lalu—"

"Sebentar," sela Aizawa. Matanya memicing.

"Dari mana kau tahu semua ini?"

Ah.

Dan suara pemberontak itu kembali ke kepalanya.

Ya, katakan.

Darimana kau tahu?

Dari orang mati?

Dari hantu?

Menurutmu bagaimana ekspresi mereka mendengar itu?

Bingung?

Tidak percaya?

Kau tahu pendapat mereka soal itu.

Delusional.

Pembohong.

Gila.

Aneh.

"Aku—"

Kata-kata Dorothea berhenti di tenggorokan. Lidahnya kelu.

"A-aku tidak bisa memberitahumu."

Kedua guru di depannya berpandangan.

Sebelum mereka sempat mengatakan apapun, Dorothea berbalik.

Dan berlari pergi.

***

Dorothea menendang kaleng minuman bersoda yang tergeletak di jalan. Mood-nya menjadi buruk setelah percakapan tadi. Sialnya lagi, Rambut Putih menghilang setelah itu. Tanpa mengucapkan terima kasih.

"Ugh, benar-benar hari yang buruk—!"

"Oh, ini baru akan berubah lebih buruk lagi!"

Suara itu mengagetkan Dorothea. Dia sontak berbalik.

Seseorang bertudung hitam berdiri dengan senyuman lebar. Saking lebarnya Dorothea bisa melihat gigi-gigi orang itu. Tudung orang itu menutupi sebagian wajah sehingga si gadis tidak bisa mengenalinya. Akan tetapi, dari suara yang berat, kemungkinan besar orang itu laki-laki.

"Dorothea Tuning," ucapnya. "Mistress sangat ingin bertemu denganmu!"

Dari balik lengan jubahnya, sesuatu berkilat memantulkan cahaya senja.

Belati.

Apa-apaan?!

Dorothea mendelik. Insting bahaya bagai alarm merah menyala di otak.

Kakinya mengambil langkah. Lalu—

Lari.

Dia tidak sadar kapan dia berlari. Namun kakinya sudah terkayuh sekuat tenaga. Napasnya terengah. Suara derap langkah laki-laki itu mengikutinya. Dorothea tahu dia mengejar.

Seperti seorang buron.

Seperti seorang mangsa.

Dan—

Kaki Dorothea tersandung.

Dia terjatuh.

Pria bertudung makin mendekat.

Sial.

Senyum laki-laki itu melebar—hal yang sepertinya mustahil dilakukan, karena itu sudah lebar sekali—dan dia mengangkat belatinya. Tubuh Dorothea terasa kaku. Dia hanya bisa menatap tangan pria itu dari bawah.

Tato ular di pergelangan tangan si pria seakan mengejeknya.

"Ck ck ck, berusaha kabur," cemoohnya. "Kau tahu itu tidak—"

BRAKK

Pria bertudung ambruk. Kepala laki-laki itu terhantam batu bata yang melayang.

Tapi tidak bagi Dorothea.

Dia bisa melihat siapa yang memegang bata itu.

Rambut Putih!

"Pergi!"

Tanpa pikir panjang, Dorothea mengikuti perintah itu. Tidak berhenti sampai dia aman di dalam rumah. Napasnya terengah-engah dan jantungnya berdebar kencang.

Dorothea yakin dia tidak pernah berlari secepat itu sebelumnya.

***

Di kamar, Dorothea kembali mencoba menenangkan diri. Duduk di kasur dengan selimut membalut tubuhnya. Tangannya memegang erat buku horor klasik miliknya sampai buku-buku jari memutih.

Namun, pikiran gadis itu terus memutar kejadian tadi.

Siapa orang itu? Apa yang dia mau? Kenapa dia mengatakan 'Mistress'? Apakah yang terjadi jika dia menangkapnya? Seandainya saja Rambut Putih tidak muncul—

Dorothea menggelengkan kepalanya. Berusaha tidak memikirkan skenario yang buruk. Dia kembali melamun.

"Hei," bisiknya pelan. "Apa kau disini?"

Dari tembok di depannya, Rambut Putih perlahan muncul. Menembus dinding dengan lambat. Seakan dia malu.

"Ya," ucapnya. "Kau baik-baik saja?"

Dorothea mengangguk. Dia menutup buku dan menaruhnya di kasur. Dia berdehum. "Terima kasih, kau sangat membantu tadi."

Rambut Putih menggeleng. "Itu yang paling bisa aku lakukan, dan—uh, maaf."

"Untuk apa?"

"Saat di U.A., kau tampak sangat tidak nyaman dengan pembicaraan tadi. Maaf sudah menempatkanmu di posisi itu."

Dorothea menggeleng. "Itu tidak masalah. Lagipula, aku setuju melakukan itu, kan?"

Rambut Putih melempar senyum. Kali ini, Dorothea membalasnya. Kemudian, gadis itu menengadahkan kepalanya.

"Menurutmu mereka percaya?"

Hantu itu merenung sebentar. Kemudian hanya menggeleng.

"Entahlah, tapi kita sudah mencoba."

Hening.

Akan tetapi, keheningan kali ini tidak canggung. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing. Tapi masih cukup dekat untuk saling menemani.

"Hei." Dorothea memecah keheningan.

"Apa kau punya nama? Aku tidak bisa terus-terusan memanggilmu Rambut Putih di kepalaku."

Si hantu terlonjak. Kemudian menunduk. Dorothea tidak bisa melihat wajahnya dari balik surai putih. Namun, dia bisa merasakan keengganan hantu itu untuk memberitahu.

"Baiklah," ujarnya. "Bagaimana kalau aku memberimu satu? Apa kau punya preferensi?"

Kali ini, Rambut Putih tampak berpikir. Sebelum dia berbisik lirih. Pelan sekali. Jika Dorothea tidak memperhatikan, dia mungkin melewatkannya.

"Mereka memanggilku Pengguna Pertama..."

Alis Dorothea terangkat. "Pengguna apa? Mereka siapa?"

Rambut Putih menunduk dan tetap diam. Sepertinya itu rahasia lain yang tidak ingin dia bagi sekarang. Dorothea mendesah.

"Baiklah..." gumamnya. "Pertama ya..."

"Bagaimana dengan Eins?"

Kepala si hantu terangkat. Mata kanannya terlihat dari poni yang tersibak. Dorothea tersenyum.

"Eins berarti 'satu' dalam bahasa Jerman. Seperti 'nomor satu'. Pertama," terang gadis itu. "Yah, mungkin aku bisa memanggilmu Ichi, tapi ini Jepang, pasti banyak anak pertama dengan nama Ichi. Eins terdengar... unik, kau tahu? Spesial."

Rambut Putih tampak mempertimbangkan. Kemudian dia tersenyum. Lebih lebar dari yang Dorothea lihat sebelumnya.

"Eins nama yang bagus, aku suka itu."

Dorothea dan Rambut Putih—Eins—bertukar senyum. Kali ini lebih tulus dari sebelumnya.

Dorothea tidak punya banyak teman.

Tetapi memiliki satu teman hantu sepertinya tidak terlalu buruk.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro