Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

043 Coba-Coba Lagi

"Anak Sinetron nempel-nempel sama siapa sih kamu?"

Neima serta-merta mengambil Hagia dari Fashion, tapi ternyata anak tukang simak cerita rumah tangga di televisi itu cukup berat. Waktu Neima meringis karena kaget, Fashion kembali memeluk Hagia untuk digendongnya sendiri.

"Terima kasih kau cukup pengertian," kata Neima.

Dia menyertai langkah Fashion ke kamar. Di sebelahnya Fashion melirik Neima dengan tanda tanya tanpa suara.

"Kau paham untuk angkat anak ini tanpa membangunkannya."

Fashion tidak tersenyum karena tanggapan itu. Dia pun belum bicara sepatah kata pun bahkan mengucapkan salam. Sebab waktu Fashion baru saja turun mobil, Neima langsung berseru dan mengoceh sendiri mengomentari kelakuan putrinya.

"Hati-hati." Neima membenahi bantal sebelum Fashion meletakkan Hagia dengan pelan-pelan.

Walaupun bertiga, Fashion merasa kikuk berada dalam kamar bersama wanita itu. Cepat-cepat ia keluar tanpa berkata-kata. Kening Neima mengerut kemudian menyalakan kipas angin. Ya, dia kira Fashion tidak tahan di sana karena keadaan kamar yang panas. Padahal, bagi Neima malam itu cukup dingin. Lalu sebelum meninggalkan putrinya yang sangat cerewet itu, Neima menyelimuti tubuh anaknya sampai leher.

"Makin hari makin cantik saja orang ini. Anak siapa sih kamu?" Neima yang gemas mencubit pipi Hagia. "Udah bisa main malam ke rumah cowok lagi. Ck."

"Kak Nei."

Neima mendengar namanya dipanggil.

"Oh sampai lupa. Aku pikir kau sudah pulang," balas Neima menyengir.

"Belum. Mau di sini dulu," jawab Fashion yang tadinya berdiri kini memilih duduk di salah satu bangku.

Neima kontan menganga. "Wah, bisa ya begitu?" herannya.

"Tidak boleh?" Sebelum Neima sempat menanggapi, Fashion menjawab pertanyaannya sendiri, "Pasti boleh. Saya bosan di kosan."

"Tapi bukan tugasku menerima orang bosan. Aku mau istirahat."

Fashion tersenyum tipis. Senyum yang tipis sekali. Ia datang membawa beragam pertanyaan, baik untuk dirinya juga untuk Neima. Terlalu banyak hal yang ingin Fashion ketahui tentang Neima.

"Sudah lama gak ngobrol." Fashion menatap ke tempat lain selain wajah lawan bicaranya.

Neima berakhir di bangku yang berhadapan dengan Fashion. Tidak mungkin dia mengusir orang ini. Dibiasakan mengobrol beberapa waktu yang lalu oleh lelaki itu, sebelum Hagia kembali, Neima pikir tidak masalah malam ini menemani Fashion mengisi kebosanannya.

"Aulia kembali ke sini lagi, Kak?"

"Hm. Dia yang mengusulkan Hagia main ke tempatmu."

Fashion tersenyum. "Tidak apa-apa, tapi mending Ion yang ke sini ketemu Hagia."

"Ih, padahal Hagia ke sana karena kamu tidak pernah ke sini lagi."

Fashion merasa dadanya meletup-letup. Komentar kecil dari Neima membuatnya merasa diperhatikan.

"Hei!" Neima melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Fashion.

Lelaki yang tersenyum menatap Neima itu pun tersentak.

"Kamu kenapa?"

"Karena Kakak."

Fashion berusaha menahan senyumannya. Sungguh, bicara secara langsung dengan Neima serta mendengar perhatian yang tanpa disadari oleh yang bersangkutan adalah hal yang membuat Fashion sangat bahagia malam ini. Setelah sebelumnya dia sempat merasa kecil hati melihat kebersamaan Neima dengan mantan suaminya.

"Jadi, selama saya tidak ke sini, apa Kakak merasa ada yang berbeda. Hm?" tanyanya dengan lembut.

Sedetik Neima terpukau oleh suara itu apalagi dengan wajah manis yang bertanya. Kemudian dia cepat mereset kepalanya.

"Mana ada. Tidak ada yang bilang seperti itu. Kata siapa?"

"Memang tidak ada, makanya saya bertanya kan barusan?" sanggah Fashion.

"Gak ada yang beda. Oh iya, kau sendiri yang beda. Hm, tapi wajar karena sibuk pacaran 'kan?" goda Neima dengan tersenyum mengejek.

"Kalian cocok, seperti kata Bu Safrida." Sungguh kata-kata Neima terdengar mengejek sekali karena memang dia maksudkan begitu. Sebagaimana yang berkali-kali ditekankan oleh wakil bidang kurikulum tersebut kalau sedang membahas keponakannya dengan Fashion.

"Cocok dari mananya? Sejak kapan Kakak mulai suka bergosip?"

Neima mencibir. "Gosip dari mananya? Semua bisa lihat kalau itu benar. Aku saja yang sibuk dengan kedatangan Hagia sampai tidak sadar kalau selama itu ternyata kau sering kencan dengan Bu Maya."

"Ya ampun, Kak!" ucap Fashion takjub.

Untungnya Fashion tidak kegeeran kalau Neima sedang cemburu. Sungguh, kata-kata Neima barusan persis seperti wanita sedang cemburu terhadap pasangannya. Tapi ini Neima. Orang yang bahkan tidak melihat Fashion sebagai lawan jenis yang patut dia pertimbangkan. Yang menganggap kata-kata suka dari Fashion adalah hal wajar karena Neima cantik sehinggar banyak yang suka.

"Justru karena selama tidak ke sini, Ion sedang banyak berpikir tentang Kakak."

Sudahlah, Fashion tidak ingin menyembunyikan apa yang dia rasakan lagi. Toh dia sudah yakin bahwa dia memiliki perasaan itu kepada Neima. Bukan hanya sekadar suka, tapi rasa yang lebih dalam dari itu. Sakit sekali waktu melihat Neima bersama orang yang dulu dia cintai atau mungkin membayangkan Neima masih mencintai orang itu menyebabkan perasaannya sedih sekali. Apa pun tanggapan Neima, Fashion hanya ingin jujur sajar.

"Wah, apa lagi ini, Fashion?" Cukup sering dibuat heran oleh tingkah Fashion, Neima sekarang dibuat penasaran.

"Sejak Hagia datang diantar oleh om-om. Boleh tahu, dia siapa, Kak?"

"Om-om?" Lalu meledaklah tawa Neima. "Anakku masih kuncup gitu dibilang diantar om-om!"

Fashion tidak terpengaruh oleh reaksi Neima. Ia masih serius menatap Neima dan menunggu jawaban wanita itu.

"Kenapa dengan orang itu? Apa yang kau pikirkan?" Neima kembali serius.

"Dia siapa?"

Neima berdecak, tapi tetap menjawab dengan malas-malasan, "Kampret yang ngaku daddy-nya Hagia." Melihat Fashion menatapnya kebingungan, Neima berkata, "Ayahnya."

Wanita itu tidak menyadari perubahan pada dirinya. Bahkan Fashion pun luput menyadari bahwa Neima sangat terbuka kepadanya. Entah sejak kapan, Neima mau bercerita soal dirinya, keluarganya, bahkan ini mantan suaminya.

"Kak, boleh minta satu hal?" Pelan Fashion berkata sambil meremas kesepuluh jemarinya.

Neima cuma menatap Fashion karena tahu Fashion pasti akan bicara walaupun kalimatnya meminta izin. Neima tidak mungkin mengatakan tidak sebelum mendengar. Kalau sudah dikatakan, bolehlah Neima menolak. Karena ini Fashion.

"Jangan kembali dengan dia, ya?"

"Kembali dengan dia siapa?" Neima memastikan.

"Dengan ayahnya Hagia."

"Hei. Apa maksudmu, Fashion? Kira-kira masuk akal tidak perkataanmu itu?"

Fashion menggeleng. Dia tahu Neima mulai tersinggung. Ah, dia telah biasa membuat Neima marah. Fashion sudah tidak takut lagi.

"Semuanya bisa saja di luar nalar kalau sedang jatuh cinta. Saya jatuh cinta kepada Kak Neima. Saya ingin Kakak tidak melihat orang lain. Saya mau Kakak belajar mencintai saya. Pelan-pelan saja, Ion tunggu dan Ion bimbing jalannya."

"Nei!" Suara Hagia dari kamar menjadi kesempatan Neima untuk menyelesaikan topik itu.

Tanpa sepatah kata Neima beranjak ke kamarnya.

"Nei. Hagia mau pipis." Suara Hagia terdengar serak khas bangun tidur.

Neima mendapati Hagia telah duduk dengan mengucek matanya. "Eh, ada Om Ion." Anak itu tersenyum melihat ke belakang punggung Neima.

Neima mengikuti arah pandangan Hagia. Lelaki yang disebut namanya berdiri di ambang pintu dengan senyum lembut kepada Hagia.

"Hagia ketiduran. Om Ion marah gak sama Hagia?" tanyanya sembari turun dari ranjang.

"Om Ion nggak marah."

Neima yang sedang membimbing Hagia berjalan, melirik sinis ke arah Fashion. Dia menyampaikan maksudnya lewat lirikan bahwa Fashion sudah dipersilakan untuk meninggalkan rumah itu.

"Kan Om Ion katanya boleh main ke rumah Hagia walaupun gak bawa cucian. Jadi, ini Om Ion main. Tolong Hagia minta Ibu mengizinkan Om Ion, ya?" katanya mengikuti kedua wanita itu ke kamar mandi.

"Eh!" sentak Neima. "Kau mau ngintip?"

Fashion langsung balik badan. Ternyata Hagia dan Neima sudah masuk ke kamar mandi.

"Nei. Om Ion boleh main ke sini tak? Hagia suka Om Ion main ke sini."

Neima berdecak. Kedua-duanya tukang rayu.

"Ini sudah malam. Sudah waktunya Om Ion pulang. Kalau kemalaman, besok bisa kesiangan sekolahnya."

"Kata Neyi, besok Om Ion sekolah." Hagia menyampaikan dengan suara yang sudah normal.

"Wah, perhatian sekali. Kalau begitu, Om Ion besok ke sini lagi."

Neima menggeleng-geleng. Dia dan Hagia kini keluar dari kamar mandi dan Fashion yang bersandar di dinding dekat pintu langsung menegakkan badannya.

"Om Ion akan sering ke sini supaya tidak rindu sama Hagia dan Ibu."

Neima sangat ingin mencubit bibir lelaki itu. Namun, Neima tidak mau bereaksi berlebihan di depan Hagia. Apa kata Hagia jika Neima marah-marah kepada Fashion? Padahal Fashion menurut Hagia pasti tidak bersalah.

"Hagia, Om Ion mau pulang. Besok ketemu lagi, ya. Kak Nei, tolong jangan diabaikan kata-kata Ion tadi. Saya akan datang terus buat bilang kalau saya--"

"Ya sudah, pulang!" potong Neima. Dia mendorong punggung Fashion ke luar.

Hagia melambai-lambai tangannya di ambang pintu. "Dadah, Om Ion. Dah, Om Ion! Hati-hati di jalan!"

"Bye, Hagia." Fashion pun melambaikan tangannya kemudian sebelum Neima berbalik menutup pintu sempat-sempatnya Fashion mengulangi kalimatnya.

"Selamat malam, Kakak Sayang, Kakak Cantik."

Brak

Pintu ditutup. Fashion tersenyum meninggalkan rumah itu. Sementara itu, Neima merasa wajahnya memanas. Dia memukul pipinya.

"Awas kau besok! Lihat saja, Fashion!"

Sementara itu, Aulia yang mengintip di pintu kamarnya tertawa ditahan. Ia menggigit bibirnya supaya tidak mengeluarkan teriakan kecil.

"Hantam! Hantam terus si batu!" ucap Aulia dengan gerakan bibir saja. Dia langsung merapatkan pintunya ketika Neima melewati kamarnya.

***

Bersambung

Muba, 5 Februari 2023


Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro