Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

041 Peringatan Setelah Kehebohan

"Hari ini hari patah hati se-SMK tiga." Siswi yang duduknya paling belakang mencetuskannya setelah jam mata pelajaran Sejarah pagi itu berakhir. Tangan kanan menopang dagunya di atas meja. Matanya menatap ke depan ke meja sang guru.

Guru tersebut sedang membereskan buku-buku dan hendak berpamitan. Laptop telah dimatikan. Guru laki-laki berkemeja batik khas daerah tersebut kemudian berdiri dengan menenteng benda-benda itu.

"Semua yang kita lakukan saat ini akan tercatat dalam sejarah hidup kita. Maka dari itu, buatlah sejarah yang akan dikenang indah oleh orang-orang yang kelak kita tinggalkan. Ukir masa muda dengan sebaik-sebaiknya, Anak-Anak. Apa gunanya membuang waktu kita dengan kesia-siaan. Berjuanglah demi mencipta sebuah sejarah yang baik bagi kita dan orang-orang di sekitar kita. Sekian minggu ini. Jangan lupa, laporan bacaan untuk minggu depan dikirim ke email Pak Ion. Assalamualaikum. Sampai jumpa."

"Gua pikir muka imut tuturan ramah udah paling bener, eh, mode diam lebih ber-damage. Tak tergapai." Siswi dengan name tag atas nama Selvia itu mengeluh.

Dia yang amat memperhatikan guru tampan tersebut melihat perbedaan kemarin dan hari ini. Gurunya sangat serius dibandingkan hari-hari sebelumnya. Penjelasan yang diberikan hanya seputar materi. Itu pun disampaikan tanpa senyum. Ketahuan dari penutup mata pelajaran yang diucapkan tadi, seakan Pak Ion meminta siswanya agar jangan terprovokasi oleh hal yang sedang trending hari itu.

"Parah lu. Naksir cowok kira-kira juga, dong. Guru tuh."

Selvia mencibir.

"Yang salah akun O'Neon. Iseng banget sampe Pak Guru masuk fyp. Kalo gue jadi Pak Ion, gue laporin tuh."

"Tanpa campur tangan mereka, kamu gak akan tahu kalau harapanmu udah kandas duluan."

"Lu kalo ngomong suka bener, Memet."

"Pak Ion sama Bu Neima habis ngapain, ya, sampai ketiduran di mobil?"

Plak!

Satria yang bertanya barusan memekik karena merasakan kesakitan di kepala belakangnya.

"Pertanyaan lo mancing keributan!"

Dijawabnya, "Jujur aja, jangan munafik. Elu semua juga bertanya-tanya kan?"

Selvia merebahkan kepalanya di meja, tidak lagi menghiraukan perdebatan teman-teman sekelasnya. Ia menyesal karena membuka aplikasi itu sehabis salat Subuh. Harinya jadi suram.

Jauh dari kelas yang ditinggalkan Fashion, Neima menyelesaikan praktik tari. Ketika melirik ke pintu aula, dirinya tidak melihat Fashion yang mengintip seperti kemarin. Siswanya pun lebih serius memperhatikannya kali ini. Saat Neima menyampaikan materi, seluruh mata menyimak dengan baik. Terlalu serius seakan mereka waspada terhadap sebuah bom akan diledakkan di luar gedung. Maka saat musik berhenti dan Neima membuka selendang dari pinggangnya, semua pelajar di kelas tersebut bertepuk tangan dengan riuh.

"Minggu ini silakan mulai berlatih. Kelompoknya akan aku bagi dan kirim lewat WhatsApp grup. Tidak ada request tukar anggota. Ada pertanyaan?"

"Pertanyaan tentang pelajaran, sih, tidak ada. Cuma ..." Amanda melirik ke sebelahnya. Via mengangguk agar Amanda melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.

"Bu Neima punya aplikasi KlikKlips?" Melihat ketenangan yang dipancarkan guru seninya, Amanda menyimpulkan tidak punya.

"Itu apa? Mengejanya saja susah. Apa tadi katamu, klikklik?"

"KlikKlips. Aplikasi berbagi video. Seperti Fasebuk untuk berbagi status serta foto dan video. Yang ini khusus vidio, Bu. Yang banyak joget-joget gak jelas itu."

"Oh, I see." Neima mengangguk. "Tidak. Kenapa?"

"Maksud Manda, lain kali kita buat video, ya, Bu?" cetus Desi.

Amanda dan Via melihat Desi yang tidak seide dengan mereka. "Terusin," bisik Amanda, meminta Desi kembali ke penjelasan yang ingin disampaikan sebelumnya.

"Gak ada gunanya dibahas. Itu bukan masalah," ucap Desi setenangnya dengan suara yang hanya dapat didengar oleh kedua sahabatnya.

"Baik. Penampilan kalian nanti akan kita post di—apa namanya tadi? Jangan lupa berlatih agar penampilan kalian tidak memalukan diri sendiri dan sekolah kita ini."

"Beres. Kita latihan setiap hari, Bu," kata Desi mengiakan.

"Kalau Ibu jadi salah satu model videonya, yang seperti tadi kita post, boleh tidak?" Desi mencoba peruntungannya.

"Oke. Bisa. Aku akan instal aplikasinya nanti—"

"Jangan!" teriak Amanda dan Via bersamaan.

Neima kaget diserang penolakan. Siswa di kelas tersebut tertawa.

"Kenapa? Setidaknya, aku cek pasar dulu. Apa saja yang ada di dalamnya. Masa mau berenang tidak tahu kolamnya sedalam apa?"

Amanda, Via, dan Desi memijat kepalanya.

"Udah dibilang, kasih tahu," desak Via menyenggol bahu Desi.

Amanda mengangguk-angguk.

"Sebelum Bu Neima kenal dengan KlikKlips, kami punya ini nih. Dilihat dulu, mungkin Ibu Neima mau memikirkan ulang untuk menginstalnya." Amanda menyerahkan ponselnya. Khusus mata pelajaran Seni, mereka memang diizinkan membawa gawai ke sekolah.

"Astaga! Lebay sekali mereka!" komentar Neima di sela melihat dan membaca kata-kata yang dinarasikan dalam video yang disaksikannya.

Sepenghabisan video itu, Neima tertawa. "Jadi, karena ini mereka pada heboh pagi-pagi?" gumamnya.

Neima mengembalikan gawai tersebut kepada Amanda.

"Keuntungan kita apa kalau videonya ditonton banyak orang?" tanya Neima.

Rombongan kelas Amanda menatap guru perempuan itu dengan heran.

"Bu," panggil Via dengan takut, tapi dirundung penasaran akut. "Ibu dengan Pak Ion jadian, itu bener?"

Neima menyipitkan mata. "Video itu siapa yang bikin?" tanyanya.

"Orang iseng," jawab Via.

"Siapa yang untung di sana?"

"Mereka," kata Amanda.

"Apa ada untungnya untuk aku atau Pak Fashion?"

"Tidak ada." Tegas Desi mengatakannya.

"Jadi untuk apa kalian pusing dengan kalimat-kalimat lebay itu? Semuanya karangan mereka demi promosi rumah makannya."

"Tapi 'kan Bu Nei sama Pak Ion dekat."

Neima mengangkat kedua alisnya. "Siapa yang bilang begitu, Manda?"

Amanda mengatupkan bibirnya.

"Kalau kalian melihatku ngobrol sama Bang Jef, berarti kami dekat juga?"

Bang Jef adalah penjaga parkiran dan kawasan depan SMK 3. Neima dulunya mengobrol lama dengan pria itu jika sedang menunggu angkutan umum untuk pulang.

"Sampai kapan kalian suka menelan gosip mentah-mentah? Dan kenapa masalahku kalian jadikan beban pikiran kalian?" Neima menggeleng-geleng tak paham, mengingat sebelumnya juga digosipkan punya hubungan spesial dengan Fashion.

"Yah," keluh Amanda dan Via. Desi tertawa kecil.

"Kenapa dengan 'yah'?" tanya Neima.

Amanda lantas menggeleng. Via juga. Desi mengangkat bahu. Neima pun segera mengakhiri pelajaran hari itu. Waktunya untuk bertemu dengan kelas berikutnya. Neima tetap di aula karena siswa yang akan mendatanginya di sana.

Kelas kedua selesai diampu. Kini masuk saat istirahat. Sebelum kembali ke kantor, Neima menghubungi buah hatinya yang pagi ini belum mengabarkan apa-apa.

"Neyi!!!" pekik Hagia melihat wajah Neima dari layar ponselnya. Gadis empat tahun itu melompat-lompat dan membuat gambar bergoyang yang mengakibatkan kepala Neima menjadi sakit.

"Cukup, Hagia. Tenang. Duduk yang baik," nasihat Neima.

"Oke," jawab anak itu. Kembali dapat dilihat Neima wajah manis Hagia dengan gigi kecil yang mulai kehitaman di bagian depan.

"Cerita, kamu ngapain saja sedari pagi. Mengganggu Nenek tidak?"

Hagia menggeleng. "Hagia membantu jemur pakaian. Habistu petik daun ubi sama Nenek. Terus potong-potong daunnya, dicuci. Hm ... antar Kakek pergi kerja. Hagia dikasih ini sama Kakek." Hagia menunjukkan selembar uang ungu.

"Mau beli apa dengan uang itu?"

Kepala Hagia menggeleng kembali. "Mau Hagia tabung untuk Nei."

"Pintar. Anak yang baik. Pakai untuk jajan saja uang yang itu. Nei ada uang kok, nih." Sama dengan yang dilakukan Hagia sebelumnya, Neima memperlihatkan selembar uang kepadanya. Kebetulan dalam kotak pensil ada pecahan dua puluh ribu.

"Enggak, Nei. Hagia ndak suka jajan. Mau ditabung aja bantu Nei biar gak capek-capek kerja londri."

"Terima kasih." Neima menjauhkan ponsel dan menyeka bawah matanya sambil tersenyum tulus. "Hagia, udah dulu, ya. Nanti kita teleponan lagi sore-sore. Kalau kau ingin beli sesuatu, bilang sama Nenek. Jangan main ke sungai, Hagia."

"Baik, Nei. Kiss." Bibir Hagia menempel di layar ponsel dan kemudian panggilan tersebut diakhirnya.

Neima tersenyum kecil.

"Semakin centil Anak Sinetron itu."

"Kak."

"Astaga!" pekik Neima memegang dadanya. "Kerjaanmu. Hampir saja aku mati jantungan."

Fashion tersenyum kecil. "Sudah beres?" tanyanya.

"Hm."

"Kantin, yuk."

Neima menolak. "Masih kenyang."

Fashion menyipitkan mata. Ia pun menggeleng. "Bubur ayam tadi sudah habis Kakak gunakan untuk menari. Kelas berikutnya, Kak Nei butuh asupan lagi."

"Gak usah ceramah."

"Yang saya katakan benar."

Apa boleh buat, Neima pun melangkah bersama lelaki itu ke arah kantin.

"Saya bawakan." Lelaki itu merebut buku-buku yang akan dibawa Neima.

Sementara perempuan itu hanya menipiskan bibirnya sambil mengangkat bahunya.

"Tahu gak, semalam ada yang bikin video kita. Ih, sumpah merinding dengan kata-katanya," kata Neima dengan ekspresi jijik.

"Untung aku tidak berantakan di video itu," ucap Neima bangga dan merapikan hijabnya. "Kenapa aku pake ketiduran segala? Kamu juga bukannya membangunkan aku, malah ikut tidur."

Fashion tetap mendengarkan dan tidak mengeluarkan pendapatnya. Lalu ketika waktunya dia dapat kesempatan berbicara, dia memberikan informasi bahwa, "Oh iya, tadi pagi saya bertemu RT-nya Kak Nei." Langkah mereka konstan menuju kantin.

"Kalian kenalan?" lirik Neima.

"Dikit. Kakak diminta lapor kepada Pak RT. Saya temani nanti malam."

"Ah, iya. Dia marah?"

"Gak, kok. Cuman kalau telat dikit lagi, mungkin akan marah."

Neima bergidik. Dia tidak mau hal itu terjadi.

Fashion meletakkan buku di atas meja pilihannya. Dia menarik kursi kemudian duduk. "Di sana, Kak, yang berhadapan," pinta Fashion menunjuk kursi di depannya, alih-alih yang di sebelah kanan-kiri.

"Kalau mau lapor bawa apa, Yon?"

"Bawa semua yang kita aja punya, Kak."

"Semuanya?" Neima menggaruk tengkuknya yang tertutup hijab. "Ijazah dari SD sampai S satu? Akta kelahiran dan KK, serta KTP? Surat nikah juga?"

Pada pertanyaan terakhir, kuping pemuda itu memanas.

"Kakak lupa? Semua yang ada pada diri Kakak adalah kaki, tangan, kepala, mata, telinga, hidung, bibir, bada—"

"Yah, yang jelas kalau menjelaskan! Ditanya yang benar juga," omel Neima.

Fashion tertawa hingga tubuhnya bergetar. Di sekitar mereka memperhatikan interaksi tersebut. "Sebentar, kita pesan apa, Kak?"

"Kau pilih saja. Kamu sendiri yang mau makan, aku—"

"Kita. Kak Neima butuh makan. Dari semalam belum makan nasi."

"Bubur itu nasi, Fashion."

"Nasi goreng, deh," putus Fashion lalu memanggil remaja yang telah familiar melayani pesanannya di kantin.

"Terus bawa apa lagi?" lanjut Neima.

"Bawa calon suami." Fashion mendapat pelototan karena jawabannya. Pemuda itu lantas menyengir, dijawabnya, "KK dan KTP saja."

Neima mengangguk. Sebelumnya, dia tak banyak tahu soal lapor-melapor tentang kepindahan. Dia tinggal di desa sejak lahir. Pernah mengekos sewaktu kuliah, tetapi di sana tidak diharuskan melapor kepada ketua RT.

"Ibu gabung di meja Pak Ion dan Bu Neima, ya." Bu Safrida dengan piring di tangan kanan dan gelas di tangan kiri berbicara. Dia meletakkan bawaannya itu di atas meja, lalu menarik kursi di sebelah kanan Fashion. "Sini, May!" Bu Safrida melambai-lambai kepada Bu guru Maya yang sedang mencari kursi kosong.

Guru Seni Budaya tersebut datang ke meja Neima dan Fashion. Bangku di sebelah kiri Fashion menjadi pilihan satu-satunya. Neima berada di sisi kiri Bu Maya. Kedua guru seni itu saling sapa lewat tukaran senyuman.

"Saya ambil pesanan kami dulu. Permisi," pamit Fashion.

"Pak Ion baik, ya, Bu Neima," kata Bu Safrida.

"Iya, Bu."

"Dia masih muda. Pengalamannya masih sedikit, tapi orangnya sangat luwes. Cepat belajar."

Neima mengangguk.

"Cocok dengan Maya."

Bu Safrida membuat mata Maya membola. "Dari mananya dibilang cocok?" ucapnya tak terima.

"Sama-sama masih muda, pengalamannya sedikit, tapi luwes, cepat dalam mempelajari hal-hal baru," ulang Neima sambil tersenyum. "Klop."

"Jodoh yang tepat untuk kamu, May," putus Bu Safrida.

Maya tak menjawab. Dia disibukkan dengan mie ayam yang dia kunyah.

"Jodoh itu yang saling melengkapi. Kalau sama, biasanya suka bentrok," ujar Neima.

Bu Safrida membelalakkan mata. "Menurut Bu Neima, Maya tidak boleh berjodoh dengan Pak Ion gitu?"

"Enggak. Saya tidak bilang seperti itu. Memang barusan aku ngomong apa?" tanya Neima kepada Maya.

Bu Safrida menunduk. Ternyata Fashion datang membawa sebuah nampan. Dia meletakkan nasi goreng untuk Neima dan dirinya. Lalu meletakkan air putih di sebelah piring Neima dan piring miliknya.

"Ayo," ajaknya.

Setelah makan dua sendok, Neima berdiri. Dia mengambil buku-bukunya.

"Kak Nei sudah?"

"Aku tidak terlalu lapar. Saya duluan, Bu Safrida, Bu Maya. Fashion, aku yang bayar." Neima mengancam dengan matanya.

Fashion yang tidak ingin mubazir dengan makanan meneruskan makannya sampai habis.

"Kabar ibu baik, Pak Ion?"

"Ibu saya?"

"Iya. Sering pulang?"

Fashion membenarkan, "Sekali seminggu kalau tidak sibuk. Alhamdulilah beliau sehat."

"Kota ini lumayan membuat betah, ya?" tanya Bu Safrida.

"Sangat. Kotanya asri dan sejuk. Walaupun tidak betah, ya, dibikin betah. Kerja di sini bukan setahun atau dua tahun," tambah Fashion.

"Seumur hidup, betul kan?" Bu Safrida tertawa renyah. "Apalagi kalau sudah dapat orang kota ini. Makin betah Pak Ion."

Fashion tersenyum. "Saya sudah selesai makannya. Boleh izin, saya duluan ke kantor?"

"Silakan, Pak Ion," balas Maya disertai anggukan.

"Duluan, Bu." Fashion pun berjalan dengan langkah lebar ke kantor.

***

"Kakak," sapanya dengan nada mengalun kepada tetangga sebelah bangku. "Sedang apa?"

"Dek Ion," ejek Dena mencibir lelaki itu. "Uluh-uluh adiknya Kak Neima sudah datang. Dari mana saja?"

"Bukan adik. Saya siapanya Kak Nei?" tanya Fashion kepada Neima.

"Siapa, ya?" balas Neima tak melihat ke wajah lelaki itu. Matanya tengah menatap ponsel.

"Calonnya Kakak," jawab Fashion dengan pede.

Neima meliriknya sekejap. Lalu kepalanya menekur lagi kepada hal penting yang sedang dilakukannya. Fashion duduk mendekat kepada Neima.

"Teruskan, Adik Bro." Dena mengepalkan tinjunya.

"Kak Nei mau pakai KlikKlips?" Fashion mendekat kepada Neima.

"Iya. Sepertinya lumayan manjur untuk media promosi."

"Memang bagus. Apa nama akun Kak Neima?"

"Belum selesai. Masih memasang aplikasi."

Neima bergumam setelah agak lama, "Anak Sinetron."

"Sudah punya akun? Namanya apa?"

Neima menunjukkan ponselnya.

"Anak Sinetron?"

"Unik. Tapi kenapa anak sinetron? Nama Kakak juga cantik."

"Hagia. Ini si Hagia, anak sinetron."

Fashion tersenyum lembut menyaksikan senyuman Neima yang terbit di sudut-sudut bibirnya.

"Ion sudah follow Kakak."

"Cara mencari video tadi gimana?"

Fashion mengetik o'neon pada kotak pencarian. Bermunculan banyak video. "Ini, Kak."

Neima mengamati video itu lama untuk mencaritahu bagaimana cara memanfaatkannya untuk bisnisnya. Fashion mencondongkan tubuhnya untuk bisa melihat video yang tengah Neima perhatikan. Terlalu asyik membuat keduanya tidak menyadari kedatangan Bu Safrida dan Bu Guru Maya.

"Gosipnya betulkah, Bu Neima dan Pak Ion?" tanya Bu Safrida yang suaranya tidak semanis sebelumnya.

Fashion dan Neima mendongak. Secara bersamaan mereka menjawab, "Bukan." Dan, "Cuma gosip."

"Tapi kelihatannya sering keluar malam berdua," serang wakil kurikulum tersebut.

Dena menggeleng-geleng dengan pikirannya sendiri, "Nyinyir."

"Gak enak dilihat siswa kita. Kalian kan guru."

Fashion terdiam. Neima tersenyum.

***

Bersambung...
23 Januari 2023

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro