Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

012 Bertemu Orangnya

Fashion Klein tiba di sebuah kompleks sekolahan dengan gedung-gedung dua lantai yang berderet. Dia memarkirkan mobil di lapangan parkir khusus roda empat, terpisah dari parkiran pelajar yang sebagian besar membawa sepeda motor. Ia berdiri di tengah-tengah lapangan halaman depan. Wara-wiri kendaraan roda dua yang dikendarai siswa tampak menyemut melewati gerbang.

Cowok berseragam cokelat tua tersebut membenari kaca mata yang menumpang di hidungnya. Rambut yang biasanya sedikit gondrong telah ia cukur pendek, menambah kesan rapi dan pintar. Tas selempang hitam tergantung di pundak berisi laptop dan buku tulis kecil. Sepatu kulit hitam berkilat siap melangkah ke ruangan guru.

Dia belum pernah datang untuk survei ke sekolah itu. Namun, dia tebak arah ruangan kantor harus melewati lorong tengah perantaraan dua gedung yang bagian depan tertulis nama sekolah pada papan digital dengan huruf-huruf merah bergerak. Siswa yang berjalan kaki menggunakan jalur tersebut, sementara yang datang dari area parkir menggunakan jalan masuk lain. Ujung gedung satunya lagi.

Langkah Fashion terhenti sewaktu gawai dalam kantung celana bergetar. Dia memeriksa pesan yang baru masuk kalau-kalau itu penting. Waktu baru menunjuk angka 06.45 WIB. Dia masih punya lima belas menit untuk mencari ruangan kantor.

Neima Devira: Kau di mana? Guru lain tak sabar ingin kenalan denganmu.

Neima Devira: Cepatlah, jangan terlambat dan bikin kita semua malu.

Neima Devira: Kantor ada di sebelah kiri pintu utama.

Fashion melangkah lebar-lebar ke arah yang diinstruksikan oleh temannya. Meski perkataan Neima benar, ada rasa kesal dalam hati pemuda berwajah seputih susu itu. Neima Devira, wanita yang belum dikenal tersebut, seakan mengatur tiap langkah Fashion. Bahkan seolah menghakimi bahwa Fashion akan mempermalukan mereka berempat.

Perasaan yang seperti itu diusahakan agar menghilang. Tak biasanya Fashion merasa kesal tanpa alasan kuat. Barangkali ini efek dirinya yang masuk ke lingkungan baru. Sebelum ini tak pernah dia bayangkan, lalu timbul gugup, kemudian ia menyalahkan teman yang itu.

Fashion menarik napas dan mengembuskan cepat-cepat sebelum mengucap salam di depan pintu ruang tujuannya. Dia sedikit bingung untuk melakukan jabat tangan dalam kondisi seperti ini atau tidak. Apakah sopan kalau dia melewatkan sesi menyalami guru senior sebagai teman sejawatnya? Kalau dia menjabat tangan mereka, apakah aman untuk kesehatan masing-masing? Meski Kota B telah menerapkan sistem tatap muka terbatas bagi pelajar, tetap saja protokol kesehatan tetap dijalankan.

"Hei, kau Fashion Klein?"

Dalam kebingungan itu, seorang perempuan dengan tinggi sekitar 160 sentimeter menghampirinya. Ia memakai kerudung segi empat cokelat seperti bajunya. Kerudung itu tidak menutupi dada, sehingga dapat ia lihat name tag si perempuan.

NEIMA DEVIRA

Ketika berbalasan pesan, Fashion mengira ia sedang meladeni ibu-ibu usia akhir tiga puluhan yang menurut Mimi tergolong 'emak-emak rempong'. Ternyata sosok asli yang berdiri di sebelah Fashion adalah perempuan muda usianya sekitar awal dua puluhan, seperti dirinya. Tubuhnya agak berisi, tanpa sapuan make up, hanya memberikan warna sedikit di bibirnya yang tipis. Aura dominasi memang terlihat, meskipun wanita itu seperti perempuan manis.

"Eh! Ion betul?" tegur Neima lagi, melambaikan tangannya di depan muka Fashion.

Fashion juga memasang name tag, seharusnya perempuan itu langsung tahu.

"Malah bengong lagi. Mereka menunggu dari tadi. Si Dena dan Asumi juga sudah kenalan duluan. Giliran kau."

Fashion mendekatkan bibirnya ke telinga perempuan di sebelahnya, "Salaman atau tidak, Kak Ne?"

"Salam," kata perempuan itu lebih dahulu mengulurkan tangan, "Neima." Dia tidak tersenyum.

Orang aneh, batin Fashion menyeletuk. Bukannya cara berkenalan adalah melampirkan 3M: sapa, senyum, sebut nama.

"Ion, Kak," balasnya.

Wajah Neima langsung aneh. Fashion tidak menyadari di mana kesalahannya. Dia hanya menjabat tangan Neima sekilas, kalau itu yang dikesalkan.

"Geli manggilnya seperti itu, seperti anak mama. Ehm, kelihatannya sih memang gitu." Neima mengangkat alis, lalu meneruskan, "Aku tidak mau ikut manggil gitu. Iew. Fashion saja. Ntar kau masuk jurusan tata busana. Cocok sama nama kau."

Neima pun pergi ke tengah ruangan yang ada sofa. Di sana ada dua orang perempuan duduk pada bangku panjang bersama Neima. Serta seorang lagi guru perempuan yang lebih tua. Kelihatannya beliau adalah wakil kepala sekolah. Setahu Fashion, kepala sekolah mereka adalah bapak-bapak. Tampaknya sang bos belum tiba atau mungkin berada di ruangannya.

Fashion mulai menyapa seisi ruangan diawali dengan senyuman dilanjut menjabat tangan mereka. Kemudian dia duduk di kelompok Neima pada sofa single. Dia yakini mereka berempat inilah guru baru.

"Pak Ion beginilah keadaan sekolah kita. Semoga Pak Ion betah mengajar di sini agar kita bisa membangun sekolah ini menjadi sekolah yang lebih baik." Bu Safrida yang menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum memulai. Dia menceritakan sekaligus memperkenalkan sekolah tersebut kepada para CPNS.

SMK Negeri 3 B memiliki enam jurusan, yaitu perhotelan, usaha perjalanan wisata, kulineri, fashion design, multimedia, serta jurusan spa dan kecatikan. Masing-masing jurusan memiliki jumlah kelas berbeda. Paling banyak adalah jurusan kulineri atau biasanya dikenal dengan tata boga.

Bu Safrida memberitahukan alumni sekolah tersebut telah tersebar di penjuru Tanah Air bahkan sampai luar negeri. Jurusan multimedia dengan spa dan kecantikan adalah jurusan terbaru. Menurut Bu Safrida, keduanya memiliki potensi dalam menarik minat calon pelajar. Tidak menutup kemungkinan sekolah itu akan membuka jurusan baru sesuai kebutuhan dan tuntutan zaman.

Tidak lama berbincang, sekitar pukul 07.15 WIB, sirine tanda berkumpul berbunyi. Bu Safrida mengajak semua yang hadir segera ke lapangan. Mereka akan melaksanakan upacara bendera.

"Fashion, seandainya di antara kita berempat ini ditunjuk menjadi pembina hari ini. Kau yang maju." Neima berjalan di sebelah Fashion di belakang Asumi dan Dena.

Tentu saja perkataan Neima membuat dada cowok itu berdebar kencang. Dia belum pernah bicara di depan pelajar sebanyak ini. Fashion pernah memberikan kata sambutan dalam acara peragaan busana saat memenangkan kompetisi atau mengucapkan sepatah kata untuk mengantarkan para model yang akan memamerkan karyanya. Ia bisa karena bergelut di bidang itu selama beberapa tahun. Sementara menjadi guru, meskipun ia lulusan program studi kependidikan, adalah hal baru baginya. Sewaktu praktik mengajar dahulu dia tidak diberikan pengalaman menjadi pembina upacara.

"Seandainya. Kalau iya, pasti Bu Safrida sudah bilang dari tadi. Hari ini pertama kali sekolah semester genap, tentu kepala sekolah yang bakalan maju. Ah, kau penakut sekali sampai sepucat itu. Minum dulu, nanti kau pingsan." Neima berjalan lebih cepat ke sebelah dua teman mereka yang lain.

Fashion lebih waspada ketika melihat tiga perempuan di depannya. Sebagai laki-laki sendiri, sudah pasti dialah yang disahkan sebagai perwakilan kelompok mereka dan akan selalu menjadi tumbal paling depan. Guru muda dengan kaca mata ber-frame lebar itu menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan.

Mereka berdiri di kelompok berbeda dengan barisan guru lama. Sepertinya pengaturan itu disengaja agar pelajar bisa membedakan wajah-wajah baru. Dan ternyata benar, waktu amanat pembina upacara memperkenalkan CPNS satu per satu.

Pertama adalah Asumi yang datang dari sekolah negeri di Kota B. Ia akan mengampu mata pelajaran Akutansi. Kedua, Dena yang akan mengajar Olahraga berasal dari sekolah negeri di kabupaten. Ketiga, Neima sebagai guru Seni Budaya dari sekolah swasta di kabupaten. Terakhir, Fashion yang akan mengajar Sejarah Indonesia.

Fashion menjalankan kerja otaknya dengan keras karena banyak hal yang belum ia kuasai. Pengalamannya masih minim sekali sebagai guru, selain saat terjun ke sekolah untuk memenuhi nilai pada mata kuliah Praktik Lapangan saat di universitas. Masa kuliah dan kerja di lapangan sungguh berbeda.

Ketiga temannya sudah memiliki banyak pengalaman, sementara Fashion nol besar. Dia sebagai laki-laki sendiri sepertinya harus memiliki kecepatan belajar dan penyesuaian diri yang tinggi sebab pasti dialah yang mereka andalkan nanti.

Sewaktu jalan kembali ke kantor, Asumi mulai berkenalan lebih personal. Dia terlebih dulu memberitahukan usianya, yaitu 34 tahun. Statusnya sebagai ibu dua orang anak dan tinggal di kota ini sejak menikah.

Menanggapi Asumi, Dena juga mengenalkan dirinya serta pengalaman tiga kali untuk lulus sebagai pegawai negeri.

Wanita 32 tahun itu dengan bangga berkata, "PNS sudah, targetku selanjutnya adalah menikah," tutup Dena dengan cengiran lebar.

Giliran Fashion mengenalkan diri, memberitahukan bahwa dia betul-betul butuh bimbingan dari senior seperti rekannya bertiga. Sebagai yang termuda Fashion sangat membutuhkan bisikan dari mereka.

"Gak usah cemas, Pak Ion, aku sediakan waktu dua puluh empat jam untuk Pak Ion." Dena mulai menembakkan panah cupid terhadap cowok itu.

Mereka berempat menunggu satu lagi yang belum memperkenalkan diri. Saat tiba di depan pintu kantor, Neima belum juga bicara.

Neima menyadari rekannya meminta ia ambil giliran. Perempuan itu mengatupkan bibirnya, melihat ke wajah teman-temannya, lalu berkata, "Aku Neima." Ia langsung meninggalkan tiga orang yang menatap heran punggungnya.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro