Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 11 - Simpanan?

Dua minggu berlalu dengan cepat. Nayo menatap lurus papan tulis yang menuliskan cara login ke dalam web milik sekolah. Beberapa siswa bersiul melihat laptop milik Nayo yang terlihat sangat wah namun tidak terlalu norak.

Kirov mengerutkan kening, dalam. Pandangan tak suka terang-terangan dia tunjukkan pada Nayo. Harga laptop yang di gunakan oleh Nayo masuk ke harga dua puluh juta, dan yang dia tahu, gaji Nayo tak sebanyak itu, apa mungkin dia kredit? Tanya Kirov dalam hati.

“Jangan ada yang mencontek ya, karena setiap meja memiliki soal yang berbeda-beda, jadi jangan berpikir bisa mencontek dan bekerja sama.” ujar guru itu dengan senyum yang mengerikan menurut siswa-siswi yang berada di dalam kelas.

Creepy...” bisik salah satu siswi yang berada di sebelah Nayo.

“Berasa di awasin sama setan, bukan manusia.” celetuk Dandy.

“Setan kecakapan, dia itu iblis,” ucap Fhiqar membenarkan.

***

Sybil masuk ke dalam perpustakaan dengan botol minum di tangan kiri. Tangan kanan nya memegang buku catatan, dan pulpen. Saat membuka pintu perpustakaan, tubuhnya terhalang oleh seseorang yang membawa koper kecil berwarna abu-abu.

“Euh, permisi...” ujar Sybil dengan suara kecil. Memiringkan tubuhnya ke samping, orang itu memberikan Sybil jalan untuk masuk. “Makasih,” ucap Sybil.

“Sama-sama,”  terdiam sebentar. “Jangan duduk di tempat sepi, di sana banyak orang gila.”

Saat pintu hendak di tutup, tangan Sybil terlebih dahulu menarik seragam lelaki yang berada di hadapan nya. Menoleh, Nayo menaikan sebelah alisnya.

“Kenapa?”

“Te--temenin.”

“Apa?”

“Temenin sebentar,”

Melirik tangan Sybil yang ada di seragamnya. Membuat Sybil menarik tangan nya lalu meminta maaf dengan kepala yang tertunduk. Melangkah masuk lebih dahulu, Nayo bertanya pada Sybil ingin mengambil buku di sebelah mana, dengan jari telunjuk, Sybil menunjuk arah kanan, tepat di deretan buku Sosiologi.

Menunggu, Nayo berdiri di sebelah Sybil dengan memberikan jarak. Tangan kanan nua benar-benar pegal karena membawa laptop miliknya yang di lengkapi dengan koper kecil berwarna abu-abu.

Bukan hal sepele, Nayo membeli benda itu dengan perjuangan yang mempertaruhkan nyawanya, dan makanannya dari itu, Rama mengusulkan untuk membeli koper kecil yang bisa di bawa kemana-mana agar laptop nya tidak rusak jika terjatuh.

“Nayo,”

Menoleh. Melirik buku paket yang ada di tangan Sybil. “Oh, udah?”

Mengangguk pelan. Sybil mengangkat buku paket sejajar dengan wajahnya. “Udah, hehe.”

“Kita duduk di dekat meja penjaga perpustakaan, di sana lebih aman.” ucap Nayo dengan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sybil yang mengekor di belakangnya.

“Nayo,” panggil Sybil sesaat mereka duduk di meja bundar.

“Kenapa?”

“Laptop kamu bagus,”

Bibirnya membentuk sebuah garis. “Begitu ya,” mengusap koper yang ada di atas meja, kemudian menepuknya pelan. “Laptop pemberian, tentu berharga.”

“Di kasih sama seseorang?”

“Iya,”

“O... Begitu,”

Mereka berdua terdiam cukup lama, Nayo memilih untuk mendengarkan lagu menggunakan headset sampai Sybil selesai merangkum materi yang akan di gunakan saat ujian nanti.

Sampai saat ketenangan nya terganggu saat seorang siswa mendatangi meja yang mereka tempati lalu merebut paksa buku catatan milik Sybil yang sebelumnya tengah mencatat.

“Haha, lihat nih, apa nih? Catatan buat ujian? Jaman belajar?” ejek siswa yang berasal dari kelas lain.

Melemparkan buku ke sembarang arah sampai sobek, tangan siswa itu kini menyentuh dagu Sybil dengan lembut.

“Dari pada belajar, mending pergi berdua sama gue, duduk di belakang sana, di pojokan, nanti gue ajarin hal-hal yang lebih lo butuhin di masa depan.”

Menghembuskan napas berat, Nayo beranjak dari tempat duduk, dan berjalan seolah akan meninggalkan Sybil, membuat ia menangis saat tangan siswa itu ingin melepas peniti yang mengencangkan kerudung yang ia gunakan. Namun, belum sampai hal itu terjadi, wajah siswa tersebut sudah terlebih dahulu menghantam ujung koper sampai terhuyung ke samping.

“Sialan lo!” seru siswa itu, membuat ruang perpustakaan menjadi ramai

Nayo menyuruh Sybil berdiri di balik punggung nya. Nayo memberikan laptop, ponsel, beserta headset nya kepada Sybil setelah itu memberikan pelajaran pada siswa yang tidak tahu diri tersebut dengan keras.

Bro, kalau lo lagi pengen ajak cewek lain, jangan dia. Sampai lo lakuin hal tadi ke cewek ini, gue hapal wajah lo, gue bakal cari lo buat perhitungan.” ujar Nayo mengancam, membuat siswa itu menelan saliva berat.

“Ambil buku catatan itu, lo salin ulang di buku baru, tulisan lo harus bagus, gak bagus, gue suruh ulang terus walaupun udah lewat dari ujian, paham lo?”

Mengangguk,  siswa itu mengambil buku catatan milik Sybil dan pergi meninggalkan perpustakaan yang kemabli tenang.

Sorry,

“Kenapa kamu minta maaf, Nayo?”

“Karena gue gak bisa tolongin lo,”

“Nayo barusan tolongin aku kok, makasih ya.”

“Tapi tetap aja,”

“Sstt! Aku dah beruntung banget loh di tolongin tadi walaupun aku mikir kamu bakalan tinggalin aku.”

“Gue mana tega, nanti yang ada gue masuk BK, di sangka yang nyuruh mereka buat godain lo.”

***

Kirov mencegah Nayo saat sahabatnya itu mengeluarkan sepeda miliknya. Badan mobil Kirov bukan hanya menghalangi jalur sepeda Nayo, tetapi Fhiqar dan Dandy.

“Ada apa, kok tiba-tiba gini?” tanya Dandy.

Mengedikkan bahu. “Mana tauk, coba lo tanya mereka berdua.” ujar Fhiqar dengan menunjuk Nayo dan Kirov yang saling menatap satu sama lain.

“Jujur deh, lo buat ulah lagi 'kan pasti?” tanya Dandy jengkel.

“Gue enggak!” seru Fhiqar, buru-buru menepis tuduhan yang Dandy layangkan. “Gue udah nggak pernah cari masalah, percaya sama gue.”

Mengibaskan tangan di depan wajah Fhiqar, Dandy hanya menanggapi malas dan langsung mendekat pada Nayo dan Kirov yang masih betah melemparkan tatapan satu sama lain.

Berdiri di antara Nayo dan Kirov, Dandy melipat kedua tangan di depan dada. “Sebentar lagi jadian nih, tatapan nya lama banget.” celetuk Dandy, membuat Kirov melemparkan tatapan kearah lain. “Ada apa sebetulnya? Kenapa tiba-tiba cegah jalan begini,  Rov?”

“Gue cuma mau tanya sama Nayo, kalau kalian mau pergi, ya pergi aja.” jawab Kirov cuek.

“Heh, bego! Mobil lo menghalingi jalan keluar, asal lo tauk!” maki Fhiqar dengan menendang pintu mobil Kirov.

“Lo bisa muter jalan ya bego!” seru Kirov tak mau kalah. “Lo jangan tendangin pintu mobil gue dong! Norak banget lo!”

Dandy menepuk dada Nayo dan mengatakan untuk memutar jalan agar bisa pergi dari dua orang idiot yang masih betah bertengkar. Mendorong sepeda dalam diam, Nayo dan Dandy berjalan beriringan dan menaiki sepeda saat sudah jauh dari Fhiqar dan Kirov.

“Lo ada masalah sama si Kirov?” tanya Dandy.

Menggeleng. “Mana tauk, dia kan emang rada-rada, kayak nggak tauk sahabat lo aja sih, Dan.”

Kedua sepeda yang memiliki warna sama itu bergerak beriringan. Helm terpasang apik di kepala keduanya. Dandy terkekeh saat mengetahui alasan Kirov mencegat mereka bertiga sebelumnya.

Menoleh sekilas. “Kenapa lo?” tanya Nayo. “Baru di cegat sama si Kirov udah ketawa sendiri, gimana di gangguin terus, mati kali.”

“Haha, nggak, gue tadi kepikiran sesuatu, alasan kenapa Kirov bertindak kayak gitu,”

“Gue juga tauk kali, apalagi kalau bukan laptop punya gue kan?”

Mengangguk. Dandy terkekeh sekali lagi dengan kepala yang menggeleng tak habis pikir dengan Kirov yang sangat gigih ingin bertanya masalah itu, walaupun sejujurnya dia juga penasaran.

“Gue tauk lo juga penasaran. Gue kasih tau aja dari pada ribet.” menatap lurus jalanan. “Gue kerja, itu aja. Duluan, gue udah terlambat banget.” ujar Nayo langsung mempercepat kayuhan pedal sepedanya, meninggalkan Dandy.

“Lo kerja apa dapat laptop secepat itu? Nggak mungkin lah jadi simpanan tante-tante, serem anjir, merinding.” ujar Dandy dengan tubuh yang merinding. “Tapi kalau semisal iya, duit Nayo banyak banget pasti.” menggeleng. “Dahlah, gila gue mikirin itu doang.”

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro