Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Part 39

Assalamu'alaikum geng, udah pada sahur belum? Hahahaha

Btw Happy Reading ^_^


"Yya kamu yakin mau pindah lagi?" tanya Mom sambil membantuku membereskan pakaian, sementara Dad duduk di sofa kamarku memperhatikan kegiatan kami.

"Iya Mom. Lagipula coba Mommy lihat ini surat pemanggilan kerja aku. Mommy sayang ini gak jauh kok hanya di Yogyakarta bukan Amerika." jawabku sambil tersenyum.

Yah seminggu yang lalu aku sudah interview di salah satu perusahaan besar di Yogya. Sebenarnya Daddy kurang setuju tapi aku memaksa dengan alasan ingin mandiri.

"Kamu sih Yya, udah Dad bilangin juga kerja aja di perusahaan Dad. Atau kalau kamu ingin mandiri kamu tinggal kerja di perusahaan cabang aja." ucap Daddy.

"Iya Ayya kamu dengerin tuh kata-kata Daddy kamu." ujar Mommy.

"Mom, Dad, kalau kaya gitu itu sama aja kali aku gantungin diri ke kalian. Lagipula tenang aja aku kan udah biasa tinggal di Singapore." tuturku.

"Yogyakarta itu tempat tinggalnya Adrian lho Yya. Kamu yakin?" tanya Dad.

"Kalau dulu aku lari karena masalahku, sekarang aku akan menyelesaikannya Dad." jawabku mantap, padahal dalam hati gak yakin.

Yang aku tahu sekarang, semakin kita menjauh maka masalah akan semakin mendekat. Dan semakin kita melupakan maka dia akan semakin teringat.

Jadi intinya hadapi saja, hanya itu.

"Baiklah, Dad mendukungmu Yya." ucap Daddy.

"Khana!" sentak Mommy.

Daddy pun hanya menunjukkan cengiran khasnya. Aku pun terkekeh pelan melihatnya.

"Ayya tiap Weekend pokoknya harus pulang." ucap Mommy ketika kami menuruni tangga.

"Ya Allah Mom, cape kali Ayya harus pulang terus." protesku.

"Mommy gak mau tahu Yya." ujar Mom.

Aku melirik ke arah Dad, kulihat ia memberi kode untuk mengiyakan.

"Baiklah Mom." jawabku.

"Kalau aku mau" lanjutku dalam hati.

Ketika di ruang depan ternyata sudah ada kak Rio, aku bingung kenapa dia kesini? Aku kan ke Yogya mengendarai mobil sendiri. Tapi mungkin kak Rio mau aku berpamitan juga padanya karena semalam aku mengabarinya.

"Om, Tante, boleh saya bicara sebentar dengan Ayya?" tanya kak Rio.

"Silahkan." jawab Dad.

"Kita bicara diluar aja gimana Yya?" tanya kak Rio.

Aku pun mengangguk dan mengikutinya.

Kami duduk di kursi taman yang berada di samping rumahku.

"Ada apa kak?" tanyaku.

"Aku mau bicara serius sama kamu Yya." ujarnya.

Aku pun hanya diam mendengarkan kelanjutannya.

"Aku mau kamu jadi istri aku. Bukan bohongan tapi kenyataan. Aku suka sama kamu, aku sayang kamu Ayya. Bukan seperti seorang kakak tapi sebagai pria kepada wanita." tuturnya.

Aku meneguk ludahku susah payah. Dulu iya aku memang menyukainya, tapi entah kenapa semua rasa itu hilang ketika aku mengenal Adrian.

"Maaf kak." ucapku terjeda.

"Aku menghargai perasaan kakak. Tapi jujur perasaanku pada kakak hanya sebatas seperti seorang adik kepada kakaknya." jawabku.

"Apa kamu mempunyai laki-laki yang kamu suka?" tanya kak Rio.

"Iya aku menyukainya, tapi aku gak tahu dengannya, apakah perasaannya masih sama atau tidak. Aku juga masih cemas dan takut jika kesempatanku telah hilang untuk bersamanya kembali." Jawabku sambil memandang ke depan.

"Boleh aku tebak, kalau laki-laki itu dari masa lalu kamu?" tanya kak Rio.

Aku hanya mengangguk.

"Aku tidak bisa menyalahkan perasaanmu terhadapnya. Ya walaupun kita harus melupakan masa lalu tapi aku juga yakin kalau kita akan selalu terikat dengan masa lalu, entah itu baik ataupun sebaliknya." ujar kak Rio.

"Semoga kesempatan itu masih ada Yya. Dan jika kesempatan itu telah hilang aku akan selalu ada untukmu." lanjut kak Rio.

Aku meneteskan air mataku. Kak Rio laki-laki yang begitu baik.

"Terima kasih kak. Tapi aku harap kakak dapat menemukan wanita yang lebih baik dari aku sekalipun pasti lebih cantik aku." ujarku sambil tertawa pelan dan mengusap air mataku.

Kak Rio pun tertawa mendengar ucapanku, sekalipun aku tak tahu apakah itu tawa yang sebenarnya ataupun tawa untuk menyembunyikan lukanya.

***

Sekarang hari pertamaku bekerja, aku melihat penampilanku dicermin, ini sudah oke.

Aku pun melangkahkan kaki keluar dari apartementku, sebenarnya bukan apartement milikku sih tapi milik Daddy yang aku janjikan akan dicicil:v

Aku menarik napas panjang ketika sudah sampai di gedung kantor tempatku bekerja. Aku gugup luar biasa ketika memasuki lobby kantorku, walaupun ini bukan pertama kalinya aku ke kantor megah seperti ini tapi tetap saja rasa gugup menyelimuti. Yeah ini hari pertama kerja dan wajar jika aku gugup.

Aku menekan angka 5 pada tombol lift karena aku akan bertemu dengan HRD nya terlebih dahulu.

"Selamat pagi pa." sapaku ketika telah memasuki ruangan Manajer HRD.

"Selamat pagi." balasnya ramah.

"Shaquella kamu tahu kan kalau ruangan tempat kerja kamu di lantai 9?" tanya pak Heru manajer HRD.

"Iya saya sudah tahu pak." jawabku. Sekedar informasi aku diterima di bagian Accounting di perusahaan ini.

"Baiklah kita akan kesana sekarang." ujarnya. Aku pun mengangguk dan mengikutinya.

***

Setelah tadi aku diperkenalkan oleh pak Heru kepada pegawai disini sekarang aku telah duduk di meja ku. Aku belum bertemu dan menyapa Manajer Accounting disini, karena tadi dia sedang pergi keluar.

"Ayya, bisa tolong simpan berkas ini keruangan pak Manajer gak? Gue buru-buru mau ke bagian pajak nih, katanya ada sedikir masalah." pinta Anna pegawai yang tepat duduk di samping mejaku.

"Iya biar aku aja, hanya simpan kan?" tanyaku.

Ia pun mengangguk dan segera menyerahkan berkas itu. Sedangkan dia langsung pergi. Di perusahaan kami antara Akuntansi dan Pajaknya mempunyai divisi yang berbeda.

Aku segera melangkahkan kaki menuju ruangan Manajer, ketika aku masuk ruangan ini didominasi oleh warna abu dan sangat rapi. Sepertinya sang pemilik ruangan sangat menyukai kerapian.

Setelah selesai menyimpan berkas di meja aku segera keluar karena takut kalau harus berlama-lama diruangan yang pemiliknya sedang tidak ada.

***

Waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi berakhir, dan aku bergabung dengan beberapa pegawai lainnya yang sedang bergosip. Ah suasana di kantor ini kelihatannya sedikit menyenangkan untukku yang baru bergabung.

"Pak Manajer kemana sih kok belum juga datang?" tanyaku karena ini sudah siang dan dia belum juga muncul padahal aku ingin menyapanya.

"Palingan nanti juga datang. Katanya dia diajak meninjau langsung pembangunan Hotel baru lho oleh direktur." jawab Anna.

"Wah masa sih? Jangan-jangan benar lagi kalau bentar lagi dia akan diangkat jadi wakil direktur!" sahut Renata.

"Kayanya sih itu gosip belaka. Karena yang gue tahu direktur itu katanya mau jadiin istrinya yang jadi wakil direktur." timpal Adi.

"Gak mungkin! Istrinya kan udah jadi sekretarisnya." ucap Anna.

"Mau jadi wakil direktur atau tetap jadi manajer pun pokoknya dia itu tetap calon suami potensial banget." ujar Renata.

Ah aku jadi kangen sahabatku yang biasa membicarakan hal-hal seperti ini.

"Potensial menurut lo, tapi dianya gak mau.hahahha." ucap Adi sambil tertawa.

Renata pun mencebikkan bibirnya kesal dan aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.

"Menurut yang gue dengar pak Manajer itu katanya lagi deket sama si Dira." ujar Anna.

"Dira anak pajak? Yang sepupunya pak Direktur?" tanya Renata.

Dan Anna pun hanya mengangguk.

"Wah mantap tuh. Kalau pak Manajer jadi sama Dira kan otomatis dia menjadi keluarganya direktur dan itu artinya peluang untuk menjadi wakil direktur semakin besar." terang Adi.

"Ish, gue kesel deh. Tapi ya yang gue denger pak Manajer itu katanya gak bisa move on dari cewek masa lalunya." ujar Renata.

"Lo tau dari mana Re?" tanya Anna.

"Dari sekretarisnya. Katanya dia pernah nguping pembicaraan pak Manajer dengan adiknya dan mereka membahas itu." terang Renata.

"Oh adiknya yang pernah Prakerin disini?" tanya Anna dan hanya dijawab anggukan oleh Renata.

"Emangnya pak Manajer itu kaya apa sih? Kok kalian kayanya muji dia terus." tanyaku akhirnya karena penasaran.

"Pokoknya pak manjer itu suami-able banget. Udah mapan, tampan, masih muda lagi. Kalau senyum beuhhh ketampanannya bisa berkali-kali lipat." jawab Renata.

"Tapi suka senyum?" tanya Adi sambil tertawa pelan.

"Nah, justru yang bikin kita makin penasaran karena senyumnya itu langka banget." ucap Renata sambil terkekeh pelan.

"Aku kira dia udah tua karena udah jadi Manajer aja." ujarku.

"Nggak dia masih muda. Sekitar 27 atau 28 tahunnan lah. Diangkat jadi manajer juga belum genap satu tahun kok." jawab Anna.

"Karena dia itu pintar dan banyak banget jasanya buat perusahaan makannya diangkat jadi manajer." Renata menambahkan.

Aku pun hanya mengangguk mengerti. Baguslah kalau Manajernya masih muda setidaknya tidak akan terlalu membosankan.

Kami pun kembali ke meja masing-masing ketika para pegawai lain telah kembali dan rupanya waktu telah menunjukkan pukul satu yang itu artinya kami harus kembali bekerja.




Vote dan Commentnya jangan lupa guys >_<

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro