Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Part 19

Walaupun udah musim liburan, tapi jangan nagih update ya:D

Happy Reading ^_^

"Handphone kamu mati?" tanya Mommy.

"Sengaja dimatiin biar fokus belajar." jawabku asal.

"Jangan suka matiin handphone Yya, nanti jodohmu kebingungan ngehubungi kamu." ujar Mom.

"Huh" tanyaku tak mengerti.

"Adrian ngehubungi Mommy katanya minta izin ngajakkin kamu keluar nanti malam kan besok Sabtu libur." ujar Mommy.

Double What??

***


Aku sekarang tengah berada di taman perumahan dengan KAK ADRIAN.

Seperti kata Mommy tadi ia benar-benar datang ke rumahku sekitar pukul 19.30. Sial banget kan dia datang jam segitu, sedangkan aku telah siap-siap dari lepas Maghrib.

Sebenarnya aku tak tahu kenapa kak Adrian ngajakin aku ke taman yang biasa aku lalui setiap hari ini, aku udah dandan cantik-cantik eh malah ke sini ujungnya.

"Maksudnya apa nih kak ngajakin ke luar?" tanyaku setelah sekian lama kami hanya saling diam.

Aku bingung dengannya, kenapa selalu aku yang memulai obrolan.

"Kamu sibuk ya?" jawabnya yang malah melempar pertanyaan kepadaku.

"Pertanyaan sama jawaban gak nyambung banget." ujarku ketus.

"Kamu ternyata masih sama gak berubah." ujarnya sambil tertawa kecil.

"Iyalah sama, masa aku berubah kaya powerrangers saja." gumamku pelan.

"Ngomongnya gak usah pelan, saya masih dengar kok." selorohnya.

"Emang siapa yang gak mau dengar, wong aku hanya inginnya ngomong pelan aja." jawabku asal.

"Tapi kamu kan biasanya juga ngomong keras aneh aja gitu." jawabnya kembali.

"Maksudnya apa sih kak? Kok kita malah ngomong muter-muter gak jelas?" tanyaku mulai kesal.

"Gak papa kali Nay, kamu gak kangen emang sama saya? Udah dua minggu lho kita gak ketemu." ujarnya.

Aku jadi bingung, dia sebenarnya punya berapa sifat sih dalam dirinya?

"Kangen? Emangnya kakak siapanya saya sampai saya harus kangen?" ujarku sarkas.

Sebenarnya, dalam lubuk hatiku ada setitik rasa kangen yang semakin harinya semakin membesar. Akan tetapi untuk mengakuinya? Tidak mungkin.

"Saya emang bukan siapa-siapanya kamu. Tapi sebentar lagi bakalan jadi siapa-siapanya kamu." ujarnya ambigu.

"Maksudnya?" tanyaku bingung.

Otak lemotku sepertinya sering beraksi sekarang dan aku harus segera memeriksakan diri ke dokter. Kalau orang yang sedang jatuh cinta biasanya ingin memeriksakan diri ke dokter jantung, sepertinya aku harus ke dokter spesialis saraf.

"Maaf." gumamnya pelan.

"Apa kak?" tanyaku meminta kejelasan.

"Tolong dengarkan baik-baik ya Nay, gak akan ada pengulangan." ujarnya sambil terkekeh.

Aku pun hanya mengangguk menunggu kelanjutan bicaranya, sumpah aku penasaran. Ia berdehem menormalkan suaranya.

"Maaf kalau perkataan saya waktu itu membuat hati kamu terluka. Saya bukanlah lelaki yang pandai membuat kata-kata, saya tidak bisa membuat suasana yang romantis, bahkan saya tidak pernah menjadikan kamu prioritas. Saya tahu masih banyak kekurangan dalam diri saya, tapi SHAQUELLA NARAYA dengan segala kekurangan itu, maukah kamu melengkapinya?"

Aku diam mematung sambil memandangnya, entah kenapa otakku terasa blank mendengar penuturannya. Aku bingung, apa sekarang dia sedang menembakku untuk menjadi pacarnya, atau melamarku untuk menjadi calon istrinya? Ku tarik ucapanku waktu dulu yang mengatakan bahwa nilai bahasa Indonesia kak Adrian amat buruk, sepertinya aku yang harus mengecek kembali nilaiku karena sulit memahami perkataannya. Aku memukul kepalaku karena disaat seperti ini malah memikirkan hal tak penting.

"Kamu gak mau? Gak usah memukul kepalamu Naraya." ujar kak Adrian sambil memegang tanganku.

"Ngg..Enggak kok, bu..Bukan gitu." ujarku tergagap.

Yakali aku nolak, bodoh aku kalau gitu.

"Lalu, kamu nerima saya?" tanya dia sambil menaikkan sebelah alis matanya.

"Nerima sebagai apa?" tanyaku.

"Kamu maunya nerima saya sebagai apa?" sial, dia malah balik bertanya.

"Plis deh kak, aku tuh gak pinter-pinter amat apalagi pelajaran bahasa Indonesia. Cik atuh tadi teh ngomong naon?" tanyaku dengan akhiran memakai bahasa Sunda kan Mommy ku orang sunda.

"Kamu bicara apa?" tanya kak Adrian bingung.

"Gini lho kak, aku bingung kakak itu tadi nembak aku buat jadi pacar kan?" tanyaku memastikan, jika keadaan siang aku yakin wajahku sekarang sudah semerah tomat.

"Hahahaha.. Naraya kamu itu lucu sekali." ujar kak Adrian sambil tertawa.

Sumpah, itu tawa pertama yang aku lihat biasanya ia hanya terkekeh atau tertawa kecil. "Mommy bawa Adrian sekarang jadi mantumu" jeritku dalam hati.

"Kalau saya ngelamar kamu, emang kamu mau gitu nikah sama saya besok?" tanyanya sambil tersenyum miring.

"Big no! Aku tuh masih sekolah, aku gak mau masa depanku suram hanya karena putus sekolah." jawabku cepat.

"Ya udah, back to topic ya, hari ini kita resmi jadian kan?" tanya kak Adrian.

Entah kenapa rasanya ada banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutku. Ada rasa bahagia yang membuncah yang gak bisa aku ungkapkan lewat kata-kata.

Sebut saja aku plin-plan, jika kemarin aku merasa amat sangat kecewa pada kak Adrian, tapi hari ini aku amat sangat merasa bangga padanya yang berani mengungkapkan perasaannya setelah apa yang terjadi pada kami.

Aku pun mengangguk pasti kepadanya, dan bisa aku lihat ada binar kebahagiaan sekaligus rasa lega dalam sorot matanya.

"Terima kasih Naraya." ujarnya sambil tersenyum memandangku, begitu pun denganku ikut tersenyum ke arahnya.

"Tapi sumpah ya kak ini tuh gak banget." ujarku kemudian.

"Maksud kamu?" tanyanya tak mengerti.

"Ini tuh gak ada romantisnya sama sekali, masa iya nembak di taman gak bawa apa-apa lagi." cerocosku.

Kalau saja bukan Adrian yang nembak, udah aku lempar orang yang nembak kaya gini, kelihatan banget gak ada persiapannya.

"Emangnya apa yang harus saya bawa?" tanyanya bingung.

Sumpah ya dia itu emang gak pernah nembak wanita gitu? Bicara soal wanita jadi mengingatkan ku akan wanita yang waktu itu bersamanya di Mall.

"Ah, aku mau tanya. Wanita yang waktu itu kamu kasih bunga terus jalan sama kamu di Mall siapa?" selidikku.

"Wanita yang mana?" tanya dia bingung.

"Yang mana? Berarti kamu punya banyak wanita ya yang senang jalan sama kamu?" tanyaku sambil mendelik tak suka.

"Enggak bukan gitu Nay." ujarnya mengeluarkan pembelaan.

"Bukan gitu, tapi gini kan?" tanyaku gak jelas.

"Maksud kamu siapa sih? Sumpah ya Nay aku tuh bukan laki-laki yang cepat peka." ujarnya.

Emang situ gak peka, kalau peka mungkin dari dulu kita udah jadian.

"Oh ya kamu itu emang gak peka. Kenapa dulu kamu memperlakukan aku kaya gitu, kaya Mall yang bisa seenaknya kamu masuki?" tanyaku tiba-tiba ingat dengan kejadian tempo hari.

"Ini apalagi coba Naraya?" tanya dia dengan wajah bingung yang menggemaskan sehingga membuatku semakin ingin menculiknya ke KUA.

Oke lupakan Shaquella kamu itu sedang bertengkar setelah beberapa menit yang lalu kamu jadian dengannya.

"Apa maksud kamu dulu yang bilang jangan berharap ke kamu dan setelah itu kamu nembak aku di taman kantor dengan cara yang gak banget?" tanyaku.

"Aku hanya belum mengenali perasaanku dengan baik saat itu. Aku hanya takut bahwa rasa sayangku padamu hanya seperti seorang kakak kepada adiknya. Namun saat aku mencoba menawarkan sebuah hubungan kepadamu dan kamu marah akan hal itu, disaat itulah aku menyadari bahwa perasaanku untukmu tidak sesederhana itu. Aku mencintaimu sebagai pria bukan sebagai kakak ataupun bukan karena rasa hormatku pada ayahmu." ujarnya sambil tetap menatap ke arah mataku seakan menegaskan bahwa alasannya benar-benar kenyataan bukan alibi semata.

"Oke alasan diterima. Tapi setelah itu kenapa kamu tidak memberiku penjelasan selanjutnya?" tanyaku.

"Aku hanya ingin memberimu waktu, aku tahu kamu masih dalam posisi marah terhadapku. Dan ketika kamu sudah sekolah aku mengirimmu pesan bukan? Tapi kamu masih tak membalasnya, aku mencoba berpikir positif bahwa kamu sedang sibuk dengan ujian setelah prakerin."

"Bukan berpikir positif, itu emang kenyataan." ucapku memotong perkataannya.

"Aku ingin menghubungimu lagi, tapi posisiku sulit. Pekerjaan yang banyak membuatku harus profesional apalagi setelah itu aku pergi ke Bandung untuk pelatihan selama satu minggu." lanjutnya.

"Kamu kok tadi bilang aku kamu terus sih Nay? Kan biasanya juga kamu panggil kakak?" tanya kak Adrian kemudian.

"Emangnya salah ya? Mommy aja yang 3tahun lebih muda dari Daddy manggilnya Khana, masa aku gak boleh. Aku panggil Adrian aja ya?" tanyaku sambil memasang wajah imut.

"Gak usah so imut. Aku dan kamu itu beda 4tahun, kamu masih SMA dan aku udah kerja, jadi panggil yang sopan." tuturnya.

Aku pun memutar bola mataku malas.

"Gak enak panggilnya, kalau panggil kakak serasa kamu itu kakak aku bukan pacar aku." ucapku terus memberi alasan.

"Pokoknya gak bisa, harus tetap seperti itu." ujarnya final.

Aku pun segera berdiri dari duduk ku.

"Kemana?" tanya dia.

"Pulang. Abisnya kamu rese." ujarku sambil melangkan kaki meninggalkannya.




Tinggalkan jejak guys..

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro