BAB 5
Eunar Daphariel, seorang pangeran dari negeri ajaib bernama OZ, sekarang berada di hadapan seorang gadis buangan yang berasal dari dunia membosankan tanpa sihir. Sebenarnya logika Meia terus meyakinkan diri bahwa semua yang dirinya alami hari ini adalah mimpi. Gadis itu yakin bahwa dirinya masih berbaring di ranjang dan terlambat masuk sekolah. Ya, pasti itu kenyataannya.
"Baiklah," ucap Eunar menjeda. Pemuda bermahkota emas itu meregangkan sedikit jari-jarinya sebelum melanjutkan. "Mau tetap di sini atau sedikit jalan-jalan malam?"
Meia pun terkesiap. Karena kehadirannya, dia sampai lupa kalau sedang terkurung di dalam gudang perpustakaan. "Um, tentu saja aku ingin keluar. Nanti ibuku tidak bisa masuk ke rumah."
Huft, aneh. Lagi-lagi rasa khawatir tentang sosok wanita tidak berguna itu muncul lagi. Seharusnya Meia biarkan saja dia membusuk di luar meskipun ini hanya ada di dalam mimpi. Sekali-sekali, Meia harus membiarkan dirinya balas dendam. Namun, entah kenapa, dia tidak bisa.
Eunar mengangguk dua kali. Lalu, dia jentikkan jarinya dan seketika muncul percik-percik emas yang berterbangan ke udara. Percikan sihir itu pada akhirnya melapisi pintu gudang dan secara ajaib, daunnya terbuka lebar.
Meia pun melongo. Hebat. Meskipun gadis itu suka membaca buku-buku fantasi, tetapi belum pernah dia bermimpi yang seperti ini. Entah kenapa, semuanya sebelum ini, terasa begitu logis dan menyebalkan.
"Wah, keren," ucap Meia kagum.
"Ayo, kita pergi, Nona Meia." Eunar tiba-tiba saja meraih jemari si gadis terbuang. Dari pegangan tangan mereka, lagi-lagi keluar percikan sihir emas. Sebenarnya Meia agak dibuat takut saat melihat percikan itu turut mewarnai sekeliling tubuhnya, alih-alih hanya sekeliling Eunar.
"Kita akan sedikit jalan-jalan. Kau pasti bosan hanya berdiam diri di gudang sambil memperbaiki buku, kan?" Eunar bersuara lagi. Saat Meia mengalihkan fokus dari percikan sihir ke arah wajah sang pangeran, Meia pun tertegun. Jantung gadis itu rasanya berhenti berdetak untuk sesaat, ketika senyuman manis Eunar menyambut di antara terpaan cahaya bulan.
Perasaan apa ini? Kenapa rasanya aku bingung sekali? Memang, aku jatuh cinta dengan karakter Eunar yang ada di dalam novel, tetapi ketika melihatnya langsung seperti ini, rasanya ada kupu-kupu yang turut menari di dalam perut batin Meia mencerocos.
Apa aku ... benar-benar jatuh cinta?
Sedetik kemudian, kebingungan Meia malah bertambah. Pasalnya, dia dapati kedua kakinya yang sudah tidak lagi menapak di tanah. Refleks, Meia pun bergerak memeluk tubuh jangkung milik Eunar sambil berseru, "Astaga! Aku tidak mau jatuh!!"
Eunar pun terkekeh geli. "Maaf, aku lupa ini bukan dunia sihir. Kau pasti belum pernah terbang, ya?"
Lantas, Meia pun menggeleng cepat sambil melayangkan satu tatapan kaget ke arah Eunar. Bibirnya gemetaran, tetapi bukan karena takut melainkan sudah tidak tahan lagi untuk mengukirkan senyum tulus. Ah, sudah lama sekali aku tidak merasakan perasaan sehangat ini batin Meia merasa tenang.
"Bawa aku terbang, Eunar!" ucap Meia antusias. Dipasangnya senyuman lebar di wajah.
Eunar mengangguk sambil membalas senyuman Meia yang entah kenapa dapat membuat waktunya terasa berhenti mengalir untuk sesaat. Namun, hal tersebut tidak ia biarkan berlangsung lama karena ada seorang gadis yang harus ia bahagiakan malam ini.
👑
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro