Chapter 7 - Ke Mana Ji In Pergi?
Jamur enoki yang dimasak bumbu merah menjadi piring terakhir untuk ia taruh di meja kopi. Wangi rempah-rempah menguar kuraskan kesabaran Woo Ji akan lapar, lantas ambil cara lain supaya laparnya tertunai bersamaan dengan Ji In yang baru pulang----beres-beres kamar.
Kaleng dan botol soju dibuang; Buku-buku ukuran variasi ditata rapi ke rak buku; Pakaian kotor berakhir di mesin cuci. Saat pergi ke kamar Ji In, manik hitam Woo Ji menangkap satu rak buku. Hanya itulah yang rapi sangat. Sayang ia tak dapat berdiri di sana. Entah apa alasan Ji In pasang kamera pengawas di sudut ruang tersebut. Masa bodoh, ia sambung kemas kamar Ji In dengan pikiran semrawut.
Baik saya mati ketimbang berurusan lagi sama kamu!
Sesak menyerang organ dalam dada, timbulkan panas di mata. Tangannya terhenti tepat bantingkan bantal. Ji In berkata demikian saat Woo Ji inisiatif siapkan bekal makanan. Wanita itu memang terima pemberiannya, tapi lain tatapan dan senyumnya.
"Sebenci itukah Ji In padaku?" Woo Ji perlahan ambruk di tepi ranjang. Menyadari ekor matanya geli, ia usap dengan lengan baju. "Dengan cara apa lagi agar Ji In mau dengarkan aku?"
Namun, justru ponsel yang balas, menyala pamerkan kontak seseorang: Seung Ahn. Ia ambil napas sejenak guna suaranya netral saat bercakap.
"Halo?" Meski akhirnya suara Woo Ji masih bergetar.
"Woo Ji-ya, sunbaenim sudah marah-marah." Dia sahut langsung ke inti. Spontan Woo Ji beranjak keluar kamar. "Kamu di mana?"
"A-aku menyusul." Ia matikan teleponnya begitu saja. Langkah Woo Ji terhenti mengamati foto yang terpajang di atas meja kecil. Tertarik meraih pigura tersebut, nampak Ji In tersenyum manis bersama Na Byul dengan seragam SMA. Dua gadis itu saling merangkul, saling tempelkan pipi yang tembam.
Ingat sekali, Woo Ji amat tertarik dengan rambut Ji In yang seleher nan ikal. Kala dia berlari dan melompat, ujung helainya ikut terbang begitu imut bersama senyum yang merekah lebar.
"Apa salah saya sama kamu, Woo Ji-ya?!" Refleks lelaki berambut gondrong ini memejam kuat. Sudah ia duga akan terjadi hal tak mengenakkan.
"Mungkin kamu senang bila saya mati tepat di hadapanmu." Muncul pula caranya Ji In menatapnya di usia sekarang: terlampau tajam, menyimpan dendam kesumat.
Ia berjalan sempoyongan, memapah tembok ruangan dengan satu tangan meraba angin. Denyut nyeri di kepala kian hebat, pun denging di telinga siarkan puluhan umpatan halus dari mulut Ji In. Rasanya tak larat menatap makanan walau dengan sebelah mata.
"Jangan harap kamu bisa luluhkan hati saya yang hancur ini!" Pada akhirnya, ia ambruk meringis rasa sakit yang tertampung di kepala. Tubuh ini tak sanggup bangkit.
"Maaf, Ji In-ah...." Suara Woo Ji hilang teraniaya kekeringan di tenggorokan. Saat itu pula air mata keluar dari bekapan mengusir sakit kepala, meluncur basahi pipi.
Untuk hari ini, ia tak bisa antar makan malam milik Ji In.
****
Di ruang dance pun, Woo Ji kebanyakan melamun. Sering kali ia tumbang akibat ilusi yang mengekang kegiatannya, sampai merebut atensi mereka supaya ikut serta menuntun ke kursi panjang.
"Kamu jangan latihan dulu sampai fokusmu kembali kuat."
"Banyak-banyak minum, Woo Ji-ya."
"Kayaknya kamu kebanyakan beraktifitas. Mau pulang aja?"
Dan masih banyak kalimat bernilai cemas yang keluar menggema di ruangan ini, buat nyeri di kepala menggeliat liar. Suka tak suka, Woo Ji bersandar menatap kelap-kelip lampu di luar sana. Biarkan senyum tipis membalas keindahan negara Korea Selatan di malam hari.
Terlintas masa Woo Ji dibuat bahan bercanda oleh rekan saat pulang les. Mereka saling dorong dan meninju lengan atas, saling merangkul dan menendang bokong. Mereka berkata "Woo Ji PDKT sama Ji In!" dengan lantang, yang ia balas lewat pukulan tak sekeras menghajar musuh.
"Aku takkan gaet Ji In, sekalipun dia bersujud dan cium kakiku!" Rasanya ia ingin tertawa mengingat ucapan sendiri di masa lalu. Justru diri ini yang bersujud di hadapan Ji In, meminta izin untuk tinggal sementara, bukan nyatakan cinta.
"Bilang aja sungkan dapatkan hati Ji In karena sering bully dia! Iya, kan?" Sekalinya kalimat ini muncul timbulkan pedih di mata. Woo Ji menunduk hendak lepaskan kenangan itu.
"Selamat malam, sunbaenim!" Ia dapat mendengar suara berat teman-teman satu grup. Ia perhatikan sambil bangkit membungkuk hormat, mereka beri salam bukan sebab orang itu atasannya.
Dia datang bagai singa yang kelaparan, atau malaikat pencabut nyawa yang sering nenek dongengkan sebelum tidur, atau ... apalah. Begitulah kata mereka. Namun bagi Woo Ji, wanita berkaus training itu lebih pantas disambut dengan dampratan.
"Tetap berdiri," katanya menghentakkan sebelah kakinya dengan angkuh. "Aku akan pergi lagi."
"Baik, sunbaenim!" Hanya Woo Ji yang bungkam. Hanya Woo Ji yang lemparkan tatapan tajam nan dingin.
"Tadi aku sudah dengar lagu kalian." Dia kembali bercakap, tentu membawa tatapan yang----menurut Woo Ji----terkesan malas. "Satu kata: terlalu memuakkan. Apa hanya segitu konsep lagu kalian? Hah, emang dasarnya muka kalian lebih imut."
Tahan, Woo Ji-ya.... Hati dan pikiran terus ia redakan, tidak dengan kepalan tangan yang tersembunyi di belakang.
"Lalu iramanya juga terlalu imut," tambahnya mendesah sebal. "Bisa-bisanya tua bangka itu menerima lagu sampah kalian. Aku ingin kalian rekam ulang sebuah lagu menggunakan lirik ini."
Selembar kertas keluar dari tas jinjing, tak ada yang mau terima pemberian sang senior. Woo Ji juga yang memindahkan kuasa atas lembaran kertas itu usai berseteru lewat tatapan dingin.
"Terserah kalian ingin bagaimana iramanya, tapi kalian harus lapor padaku untuk perkembangan lagu barunya. Jangan harap bisa selesai dalam sekali coba." Wanita itu langsung pergi tanpa dapatkan penghormatan terakhir dari grup junior.
"Mentang-mentang grup dia bisa buat nama agensi melejit, Sun Lee sunbaenim bisa seenaknya atur-atur kita," cibir laki-laki berambut perak cepak segera tandaskan botol minumnya.
"Ya.... Semenjak tuan Jang minta leader grup Freely jadi CEO di agensi ini, kita jadi sengsara di bawah kuasa Sun Lee. Harus inilah, itulah."
"Dan sekarang kita harus rekam ulang?" Woo Ji berhak mengeluh. Ia langsung membanting lembaran kertas tadi dengan keras. "Dasar keparat!"
"Mau tak mau, Woo Ji-ya." Satu per satu member mulai injak kaki dari sini. Member yang terakhir minggat itulah yang bercakap. "Kita rekam ulang, dance ulang, sampai diskusi ulang segala hal tentang comeback kita."
"Sun Lee brengsek...." Seburuk apapun Woo Ji tumpahkan macam-macam umpatan, takkan berguna kalau orangnya tak ada. Namun, ini lebih baik dibanding harus melawan grup senior itu. Andai insiden di dapur rekaman tak terjadi, hari ini juga ia busungkan dada untuk sembur Sun Lee dengan caci makian.
Mereka habiskan waktu di tempatnya membuat lagu semalaman, kerahkan seluruh tenaga dan suara di depan mikrofon sampai salah satu dari grup FiveV batuk-batuk hilang suara. Belum termasuk tentukan irama, perbaikan lirik, dan gerakan untuk lagunya seperti apa. Kalau boleh jujur, Woo Ji paling muak dengan lagu yang beliau sarankan.
Dari segi lirik, isinya bercerita pasal penderitaan yang dirasakan seorang korban rundung. Secara kebetulan selaras dengan masa lalu Ji In, yang harus menerjang kerasnya hidup meski dihantam perbuatan keji Woo Ji. Ia teringin menghapus momen yang muncul tiba-tiba di kepalanya. Bukan, ia ingin gantikan momen tersebut, tapi ia tak tahu mesti ganti dengan apa.
****
Hasil lagu barunya ia setel sampai di rumah Ji In. Makanannya belum tersentuh, mengundang banyak lalat dan nyamuk. Tuan rumah belum pulang, tapi Woo Ji tak peduli. Dalam benak, mungkin pada akhirnya dia menolak atau lebih buruk lagi----diabaikan. Ia duduk di tepi ranjang. Ia elus sprei yang senantiasa menghangati tubuh Ji In jika angin musim dingin menerjang.
Cukuplah di masa lalu kita bertemu
Kau berikan mimpi buruk
Jangan hari ini kau muncul kembali
Meski kau datang bawakan mimpi indah untukku
Gitar akustik mengalun kian perlahan serasikan dengan denting piano. Hati ini makin sesak bayangkan antara lirik tadi dengan kehidupan Ji In. Woo Ji ambruk berikut kaki menggantung. Tangan direntang ibarat sayap. Biarkan air mata buncah basahi rambut.
"Kapan aku bisa buat kamu bahagia denganku, Ji In-ah?" []
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro